Bom waktu motor listrik soal nggak ada keringanan impor yang potensi bikin harga sangat mahal dan resiko seputar antri isi bahan bakar yang nggak dipikirin


Berita soal pabrik kendaraan di India yang ketir ketir karena adanya pemaksaan untuk segera pindah ke produksi kendaraan listrik membuat penulis jadi teringat untuk membahas bom waktu lain dari kendaraan listrik.
E-switchover call puts auto makers in a jam

Sebelumnya penulis sudah membahas bagaimana pemerintah berencana untuk melarang kendaraan yang pakai BBM:
Rencana pelarangan kendaraan yang pakai BBM di tahun 2040 itu kok diusulkan oleh produsen kendaraan listrik?

Memang sih yang dilarang cuma penjualannya saja.
Penjualan Mobil BBM Dilarang

“Tadi [dalam diskusi] muncul usulan mengenai larangan penjualan, bukan penggunaan, kendaraan berbahan bakar fosil pada pada 2040. Kami akan usulkan ini kepada Presiden,” kata Menteri Energi & Sum ber Daya Mineral Ignasius Jonan, Kamis (24/8).

Tapi itu artinya saat itu kita tidak bisa beli motor yang pakai bensin lagi. Masalah dari sisi konsumen sudah penulis bahas di artikel berikut:
Beberapa hal yang nggak enak dan mitos bohong dari motor listrik dibanding dengan motor bensin

Dari sisi harga, dari aslinya motor listrik itu sudah mahal. Jadi untuk konsumen akan lebih memberatkan. Dan dalam hal ini pemerintah tidak memberikan keringanan:
Kemenperin: Sepeda Motor Listrik CBU Tak Dapat Insentif

Direktur Jenderal Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika Kementerian Perindustrian, I Gusti Putu Suryawirawan, mengatakan motor listrik completely build up (CBU) tak akan mendapatkan insentif impor. Alasannya volume dan industri sepeda motor sudah cukup besar.

Ok deh, produk yang utuhan nggak di diskon. Tapi ternyata yang perotolan pun nggak didiskon:

Pemerintah tinggal membuat aturan main motor listrik, utamanya tak memberikan insentif masuknya komponen impor. “Sebagian besar sudah dibuat di sini komponennya,” ucapnya.

Komponen motor listrik yang paling mahal itu batrenya. Hampir separuh dari harga motornya. Batre ini justru yang paling berbahaya. Resiko terbakar besar bila tidak ada teknologi tinggi untuk mengendalikan pemakaian batre. Resiko batre terbakar bisa terjadi kapan saja, bisa saja waktu di charge, waktu di pakai atau waktu di parkir. Dengan kebiasaan masyarakat Indonesia yang sembarangan, maka batre wajib harus pakai yang teknologi tinggi.

Mestinya memang ada alih teknologi. Harusnya dipaksakan. Menurut pemerintah sih begini:

Ketika ditanyakan soal industri pendukung seperti baterai, Putu menjawab pemerintah akan mendorong industri baterai kendaraan yang sudah ada, membangun lebih besar lagi kapasitasnya. “Harus bisa menarik investor membangun industri baterai besar, dan bisa dipakai untuk keperluan lain juga kan,” tuturnya.

Semoga buat batrenya bukan dari nol.

 

Lalu soal pengisian. Penulis jadi berpikir lagi karena setiap isi bensin itu sering harus antri. Dengan jumlah SPBU segitu banyak, mereka jarang sepi. Selalu ada kendaraan yang mengisi.

SPBU di jalan tol saja yang isi bensin bisa 8000 kendaraan per hari:
Pengusaha Tuntut Larangan Premium SPBU Jalan Tol Dicabut

“Itu dilihat dari perkirakan semua 28 rest area yang ada. Contohnya, lokasi rest area milik saya. Mobil pribadi yang masuk per hari hanya mencapai 4 ribu kendaraan. Padahal, sebelum aturan itu jumlahnya mencapai 8 ribu kendaraan per hari. Padaha, konsumsi premium di SPBU saya sebenarnya tak mendominasi. Hanya 35 persen dari semua BBM. Bayangkan yang komposisi konsumsinya 85 persen premium,” terangnya.

Kalau motor dihitung sebagai tiga kalinya. Anggap saja ada 25 ribu motor yang isi bensin tiap hari di tempat yang sama.

Coba bayangkan kalau mereka itu pada isi listrik semua. Isi listrik kan nggak bisa cuma satu menit macam isi bensin? Untuk antri jelas tidak bakalan sempat.

Solusi yang ditawarkan GESITS agar orang bisa beli batre cadangan itu bagus. Tapi itu berarti kan di stasiun pengisian harus punya stok minimal 25 ribu batre? Itu padahal cuma di satu tempat.

Penulis juga nggak bisa bayangkan bagaimana pegawai bisa mengatur stok, ambil barang baru, taruh yang lama dengan jumlah batre sebanyak 25 ribu. Kalau orangnya ngawur pasti sudah di lempar lempar batrenya. Padahal kalau lihat di klub hobi RC, mereka ngecharge batre dari pesawat remot yang jatuh selalu pakai wadah besi biar kalau kebakar nggak bahaya.

Bisa bisa ambil batrenya itu justru yang bikin lama. Gudang yang bisa menyimpan 25 ribu batre tentu nggak kecil ukurannya.

Belum lagi soal charging. Itu berarti tiap hari di stasiun pengisian harus mengisi minim 25 ribu batre sekaligus. Kalau per batre 6 KWh, berarti stasiun pengisian nya butuh listrik 150 ribu kwh. Itu per stasiun pengisian, per hari.

Dari sisi pengguna pun serba dilema karena ngisinya nggak bisa ngecer. Mau tinggal separuh atau hampir habis belinya sama harganya. Bakal ribet bila dihitung selisih. tinggal stasiun pengisiannya mau atau tidak.

Mengapa nggak isi di rumah?

Apa ya cukup watt nya rumah? Harus diingat bahwa kebanyakan listrik dirumah itu cuma 1300 watt. Banyak juga yang pakai 900 watt. Sementara itu kalau dihitung hitung, ngecharge motor listrik itu butuh sekitar 500 watt. Nggak bakalan mau rasanya.

Mengapa nggak isi di kantor / parkiran?

Apa parkirannya mau? Apa pabrik / kantornya mau?

Mereka tidak hanya harus menyediakan tempat pengisian listrik yang jelas biayanya nggak murah. Mereka juga harus menyediakan listrik yang jelas nggak murah. Belum lagi kalau mikiri hujan. Mereka harus mau membuat tempat yang teduh bebas hujan, bebas banjir. Bisa bisa biaya parkir itu bakal jadi seperti biaya hotel.

Mereka parkir tanpa ngecharge mungkin bisa parkir murah. Tapi tetap resiko bila parkirannya kepanasan. Karena kalau motor kepanasan maka batre bisa cepat rusak atau bahkan terbakar.

Belum lagi kalau ada orang ngawur satu kabel dikasih percabangan ratusan. Listrik yang disedot oleh satu motor saja nggak kecil, apalagi kalau puluhan. Kalau kabel kekecilan, maka bisa panas dan melelehkan insulatornya. Ngeri banget.

 

Semoga ini bisa jadi bahan pemikiran. Motor listrik itu jelas nggak bisa diperlakukan sama dengan motor bensin.

6 respons untuk ‘Bom waktu motor listrik soal nggak ada keringanan impor yang potensi bikin harga sangat mahal dan resiko seputar antri isi bahan bakar yang nggak dipikirin

  1. seharusnya nggak perlu dipaksa, tapi biar masyarakat yg menilai. kalau masyarakat menilai mobil/motor listrik lebih baik, otomatis mesin bakar akan berkurang dengan sendirinya

    Suka

    • Untuk saya sih lebih suka motor bensin. Tapi memang trennya negara negara pada memaksa sesegera mungkin kendaraan dijadikan pakai listrik semua.

      Sebaiknya macam transisi kompor minyak tanah ke kompor gas. Di beri kompor dan tabung gasnya, diberi motor listrik dan batrenya gratis dulu :).

      Suka

    • Saya setuju, biarkan rakyat memilih. Kaya dulu aja transisi ke Android. Dulu digdaya Nokia dengan produknya, tapi kalau ada yang lebih baik. Nanti juga pindah sendiri.

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.