Akhirnya nemu juga penjelasan rasio pengereman 70:30 di safety riding itu mengacu ke apa, tapi tetap terasa tidak masuk akal


Yang selama ini dianut di safety riding itu pengereman dengan rasio berikut:
Braking on a Motorcycle – Part One

Namun penulis sangat penasaran sebenarnya 70% dan 30% itu angka apa? cara mengukurnya bagaimana? Sebelumnya penulis juga sudah ungkapkan:
Rasio rem harus 70/30 atau 75/25 atau 60/40 itu menipu dan membuat orang yang ngeremnya lembek pun dianggap sudah benar

Penulis bingung juga, angka 70, 60, 50 persen diatas itu sebenarnya mengacu ke apa.

Penulis coba cari referensi untuk Indonesia susah banget, ketemunya info dari blogger. Mestinya ada dua kemungkinan, yaitu:

– 70:30 itu kekuatan tangan waktu menekan rem
– 70:30 itu kekuatan pengereman di roda

Akhirnya ketemu juga. Penulis rasa sumber sudah cukup resmi. Chief intruktur yang di posting di media nasional. Berikut penjelasannya:
Teknik Mengerem yang Benar buat “Bikers” (20/10/2011)

Agung Surya, Chief Instructor PT Astra Honda Motor (AHM), yang juga lulusan kursus safety riding di Rainbow Saitama, Jepang, mau membagi tekniknya, terutama saat melaju dalam kecepatan menengah, 60 kpj sampai 100 kpj.

Ketika berniat mengerem, segera tutup putaran gas dan tarik tuas rem tangan dan injak pedal rem kaki secara bersamaan. Terus, daya tarik tuas rem 70 persen, sedangkan daya tekan kaki cukup 30 persen.

“Tekniknya mirip saat kita berjabat tangan, disesuaikan dengan seberapa cepat kita mau menghentikan motor,” jelas Agung.

Dari penjelasan itu berarti angka 70:30 itu adalah kekuatan tangan waktu menekan rem.

Menurut penulis itu tetap tidak masuk akal.

Penulis pernah memiliki beberapa motor Honda bebek yang rem depan masih tromol. Teori tarik tuas 70% itu nggak bisa dipraktekkan karena seringnya rem nggak pakem. Rem cuma pakem selama seminggu baru ganti kampas rem. Selain itu nggak pakem. Menekan tuas rem depan ya 100% kalau butuh berhenti cepat. Kalau ditotal jadinya lebih dari 100%.

Aneh?

Justru kalau totalnya harus pas 100% itu yang aneh. Masa kalau tahu rem depan nggak pakem menekan rem tetap 70%? Kan harusnya kalau rem depan ditekan penuh, rem belakang ditekan penuh totalnya jadi 200%? Kan katanya chief instruktur angka itu adalah seberapa kuat kita menarik tuas rem atau menekan tuas rem?

Begitu juga bila kedua rem terlalu pakem, masa ya harus digenapkan 100%? Nggak masuk akal.

Saat naik motor sport, matik atau bebek Honda yang depannya sudah pakai cakram penulis juga nggak pakai acuan 70% tekanan tangan. Tiap motor beda beda, walau itu jenis tahun tipe sama. Apalagi kalau sudah berumur.

Terus pakai acuan apa?

Acuan penulis adalah suara decit ban. Bila ngerem tidak berdecit maka rem nggak maksimal. Bila sampai decitnya berubah suara geser, maka kekuatan rem kebablasan. Kalau di jalan beton atau paving lebih mudah mengenalinya. Di jalan aspal mulus lebih susah. Makin susah kalau jalan basah.

Setelah penulis mulai menganjurkan untuk pakai rem belakang dulu, penulis cuma sempat membandingkan di motor matik. Penulis tetap nggak pakai rasio 70:30. Mengerem masih tetap menyesuaikan dengan suara. Membuat kedua ban berdecit maksimal itu sulit sekali, jadi biasanya paling tidak depan saja atau belakang saja yang berdecit.

 

Saat boncengan penulis juga nggak pakai aturan aneh tersebut. Ada yang bilang kalau boncengan rasionya harusnya 50:50 (sori nggak nemu link lokal). Kesannya kekuatan rem depan dikurangi, kekuatan rem belakang ditambah. Yang penulis lakukan tidak begitu.

Penulis justru menambah kekuatan rem depan pada saat sedang boncengan. Namun penulis menemukan hal yang unik. Saat penulis mengerem dengan mendahulukan rem depan, lalu diikuti rem belakang, maka rem depan Honda Beat ESP jadi nggak pakem. Jadi penulis ngerem pakai rem depan 100%.

Hasilnya beda bila mengerem dengan mendahulukan rem belakang, lalu diikuti rem depan. Rem depan jadi pakem. Entah prosentase berapa, yang jelas penulis tidak menggunakan rem depan 100%.

 

Kekuatan yang dipakai pada rem belakang juga jadi pertanyaan. Masa ya dibuat sama 30% pada motor dengan rem belakang tromol ataupun cakram?

Menurut penulis aturan pengereman 70% depan dan 30% belakang itu tidak bisa diterapkan.

Mungkin ada yang nggak setuju dengan chief instruktur diatas. Pakai cara hitungan lain, menganggap angka 70:30 bukan ukuran kekuatan tangan tapi kekuatan daya pengereman di roda. Jadi 70:30 artinya 70% kekuatan pengereman ban depan, dan 30% pengereman ban belakang.

Penulis ingin tahu itu ngukur pakai apa? Tahu darimana kekuatan pengereman ban depan bisa pas 70%? Kok sakti sekali bisa mengukur kekuatan pengereman ban? Jangan ngomong kira kira ya. Kira kira kan harus ada dasarnya. Ciri apa yang dipakai dasar untuk kira kira?

 

Bagaimana soal jabat tangan?

Dari pengalaman penulis berjabatan tangan, biasanya kalau nggak keras ya terusan nggak keras. Yang keras ya terusan keras. Menurut penulis pakai analogi orang berjabatan tangan itu nggak pas.

Menurut penulis pakai rem depan itu harusnya mulai dari lemah dulu lalu makin lama makin kuat. Saat penulis mencoba membandingkan kedua cara, kekuatan tarikan awal bila ngeremnya pakai belakang dulu sepertinya bisa lebih kuat daripada kalau ngeremnya pakai depan dulu.

Iklan

9 thoughts on “Akhirnya nemu juga penjelasan rasio pengereman 70:30 di safety riding itu mengacu ke apa, tapi tetap terasa tidak masuk akal

  1. wah kalo ane 80:20…. sampe 22.500 km motor ane menghabiskan 4 kampas rem depan (80%) dan 1 kampas rem belakang (20%) cakram masih bawaan pabrik 🙂

    Suka

  2. Kalo pake motorsport enak banget cukup rem depan saja
    Kalo panic brake baru tambah rem belakang

    Kampas rem depan udah ganti, cakram belakang belum terkikis seluruhnya
    Hahaha

    Suka

  3. Apakah ini berarti teknik pengereman tergantung dari banyak variable om ?

    Tipe motor (sport, matik, superbike, dll), kondisi jalan (basah, lumpur, beton, aspal, kerikil), speed ketika pengereman mendadak (40, 80, 120, 400 :D), kondisi kampas rem, kondisi ban, tekanan ban, kualitas selang rem, dll.

    Suka

    • Iya, setuju. kalau tekanan ban lebih menentukan keamanan sepertinya. Ban empuk ngerem bisa nggak stabil. Perawatan rem terutama yang tromol penting. Skill mekanik yang melakukan ganti kampas rem juga penting.

      Suka

  4. Om tlg bahas ttg oli rembes di cbr250 kemarin dong….kok bnyk pro kontranya…mlh konsumen yg kena lg… Kok bisa motor sport dikasih knalpot aftermaret jd rembes olinya…kasihlah pencerahan…

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s