Respon gas spontan di throttle by wire semacam di CBR250RR itu bisa punya dua pengertian


Mungkin pembaca sudah sering melihat grafik berikut. Perbedaan dari mode di throttle by wire nya Honda CBR250RR:

Namun sebenarnya ada lagi di satu sisi dari throttle by wire yang seharusnya bisa disetel.

Pada gambar diatas, berbeda mode mempunyai kurva respon gas yang berbeda. Yang lebih kompleks juga ada, contohnya berikut ini:

Tujuan dari adanya setelan ini adalah untuk fine tune, untuk memperhalus transisi throttle.

Mode ekonomi mestinya dipakai untuk rpm dari rendah hingga menengah. Sehingga saat memakai di kisaran rpm tersebut, jarak main throttle jadi lebih banyak. Pemakaian jadi lebih nyaman.

Mode sport mestinya dipakai untuk rpm dari menengah hingga tinggi. Sama, untuk membuat pengendara lebih mudah mengatur kekuatan motor pada saat di kisaran rpm tersebut.

Namun ada juga yang suka sebaliknya, pinginnya gas menyentak nyentak di rpm rendah. Mereka pakai mode sport di rpm rendah. Mereka sebut itu gas spontan. Karena memang jarak main throttle jadi pendek. Di gas sedikit sudah langsung tinggi gas nya.

Untuk mereka respon gas spontan berarti rpm jadi cepat naik walau gas cuma diputar sedikit. Mirip dengan istilah gas spontan pada motor karbu.

 

Sisi yang berikutnya adalah waktu respon mesin terhadap pergerakan dari throttle.

Secara standar (untuk mobil) waktu respon dibuat lambat demi tujuan irit dan kenyamanan, seperti contohnya dijelaskan berikut ini:
Why Should I Add a Throttle Controller?

On modern vehicles that are under competitive pressure to yield high fuel economy ratings, throttle responsiveness is deliberately programmed to be more gradual (“sluggish”) in order to save us from ourselves. Truth be told, this trick does help mileage – but it also creates throttle response that feels as if Novocain has been injected into the system.

Intinya adalah bila respon dari mesin dibuat lambat, maka semprotan bensin jadi nggak ada yang terbuang percuma karena semprotan tidak ada yang berlebihan. Misalnya si pengendara kalau pakai throttle selalu nggak stabil maka ECU akan membantu menstabilkannya. Respon jadi lambat untuk membuat ECU bisa tahu rata ratanya.

Untuk kenyamanan, kan kadang kalau kita pegang throttle lalu kena jalan nggak rata atau polisi tidur, tangan yang pegang throttle kadang jadi naik turun. Kalau mesin dibuat reponsif, maka motor jadi terasa nyendal nyendal. Apalagi bila ridernya termasuk penganut aliran jari nggak di tuas rem, throttle jadi lebih mudah bergeser:
Ajaran Safety Riding yang Melarang Menaruh Jari di Tuas Rem Lebih Baik Tidak Dipatuhi

 

Namun tidak semua orang suka dengan respon mesin yang lambat. Ada juga yang ingin respon cepat. Inginnya kalau gas diputar maka mesin langsung merespon. Nggak pakai menunggu dulu. Yang mereka butuhkan adalah waktu delay yang bisa diatur.

Untuk mereka respon gas spontan adalah mesin jadi cepat bereaksi terhadap throttle.

Alat throttle response controller bisa membantu itu

Throttle controllers take information directly from the accelerator pedal position sensor, “advance” the numbers in a high-speed controller circuit, then send the new-and-improved signal to your vehicle’s ECU – bypassing checks that may cause confusion or errors when a final signal is sent to open the throttle plate. But since throttle controllers are linked in to your vehicle’s ECU, they can also take the opportunity to make useful revisions to air/fuel mixture and ignition timing to increase actual horsepower and torque in addition to speed of responsiveness.

Iklan

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s