Penulis berkesempatan datang langsung ke pelatihan safety riding Astra Honda, klarifikasi langsung tenyata nggak sama dengan kutipan di luar


Penulis lega karena akhirnya berkesempatan untuk bisa berbicara dan mendapat jawaban langsung dari perwakilan safety riding Astra Honda di pelatihan safety riding Astra Honda untuk Jawa Timur yang berada di MPM Sedati, Sidoarjo.

Dari kesempatan tersebut penulis mendapat jawaban yang menurut penulis berbeda dengan yang selama ini dikesankan di kutipan kutipan soal safety riding.

Penulis di undang oleh pak Nyoman dari Astra Honda untuk membicarakan soal safety riding. Tidak disangka, penulis ternyata bertemu tim safety riding tidak hanya dari Jawa Timur namun juga dari Jakarta. Di kesempatan itu ada juga mas Johanes Lucky (kanan) instruktur safety riding yang datang dari Jakarta dan mas Dimas Satria (kiri) instruktur safety riding Jawa Timur:

Yang dibahas adalah seputar materi safety riding.

 

Untuk soal pengereman ternyata Astra Honda tidak menggunakan paham rem depan dulu. Safety riding Astra Honda mengajarkan bahwa pengereman yang benar adalah bersamaan. Ini sesuai dengan yang tercantum di website astra-honda.com dan di brosur safety riding untuk konsumen (maaf lupa foto). Jadi metode pengereman safety riding Astra Honda tidak sama dengan metode pengereman ala Inggris. Ini benar benar membuat penulis lega. Ternyata Astra Honda juga pakai cara yang menurut penulis aman.

Mas Johanes Lucky memang pernah mengatakan untuk mengutamakan rem depan, namun sebenarnya tidak boleh ada jeda waktu diantara pemakaian rem depan dan rem belakang. Jadi secara teknisnya akan menjadi bersamaan.

Berikut praktek yang dilakukan oleh mas Dimas Satria. Sebenarnya ada praktek rem belakang saja dimana ban sampai terkunci, dan praktek rem depan saja. Namun menurut penulis sudah cukup mewakili bila ditunjukkan pengereman yang benar saja. Mas Dimas mengkonfirmasi bahwa saat melakukan pengereman dilakukan bersamaan:

Untuk jalan licin dan tikungan, mas Lucky setuju untuk menggunakan hanya rem belakang.

 

Mas Lucky juga mengatakan bahwa sebenarnya pengereman yang benar dilakukan dengan makin lama makin keras. Kalau bahasa inggrisnya “squeeze do not grab”, sayangnya kalau diterjemahkan ke bahasa Indonesia jadi “diremas jangan diremas”, jadi nggak ada bedanya, malah membuat orang salah paham. Dari instruktur sendiri sudah mencoba untuk menjelaskan pentingnya melakukan pengereman dengan tidak langsung kuat tapi dari lemah ke kuat, namun sepertinya susah untuk ditangkap peserta.

Cara pengereman progressive ini yang sangat penting untuk mencegah ban depan terkunci.

 

Untuk soal rasio pengereman, mas Lucky mengatakan bahwa intinya adalah kekuatan pengereman ban depan harus lebih kuat dari pengereman ban belakang. Jadi rasio 70:30 itu hanya gambaran dan bukan sesuatu yang mutlak. Dari pihak safety riding Astra Honda sendiri sudah tahu bahwa dari sisi desain rem ban depan dibuat jauh lebih pakem daripada rem belakang. Jadi 70:30 bukan ukuran kekuatan tangan. Dikatakan bahwa tidak mungkin menggunakan rasio kekuatan tangan ataupun memperkirakan sendiri, karena memang tidak ada cara untuk mengukurnya. Yang penting pengendara tahu bahwa rem depan harus lebih kuat daripada rem belakang.

Metode untuk tahu apakah pengereman sudah dilakukan maksimal di cek dengan menggunakan jarak pengereman. Jarak pengereman yang terlalu panjang berarti pengereman tidak maksimal. Di kesempatan itu penulis juga sempat menyebutkan cara penulis mengecek yaitu dari suara ban, antara dekat limit (cit cit jarang), sudah limit (cit cit banyak) dan over limit (bunyi berkepanjangan).

 

Soal kecepatan latihan pengereman yang cuma 40 km/jam, mas Lucky menyebutkan tidak akan terus di kecepatan seperti itu. Nantinya akan dibuat sesuai dengan kecepatan pengendara di jalan. Namun masih akan dirumuskan bagaimana pelaksanaannya. Karena juga akan mempertimbangkan resiko dan keamanan penyelenggaraan.

Penggunaan engine brake pada saat pengereman juga disinggung. Tidak ada larangan pada penggunaan engine brake untuk harian. Namun untuk materi pengereman sementara tidak melibatkan penggunaan engine brake. Masih akan dipertimbangkan praktek pengereman dengan engine brake. Penulis menyinggung bahwa ada yang main setengah kopling pada saat shiftdown karena shiftdown tidak pakai throttle blip.

 

Untuk soal penempatan jari di tuas rem, untuk pengendara yang mudah panik disarankan untuk tidak menaruh jari di tuas rem karena beresiko membuat ban depan ngelock. Ini berdasarkan hasil penelitian di Jepang. Namun masih akan dikaji atau diteliti efek bila pengendara panik tidak menaruh jari di tuas rem. Belum ada penelitian apa reaksi pengendara yang mudah panik saat jari tidak di tuas rem. Saran tidak menaruh jari di tuas rem adalah saran sementara yang bisa berubah tergantung hasil penelitian nantinya.

Untuk pengendara yang sudah terlatih mas Lucky membolehkan pengendara untuk menempatkan 2 atau 4 jari di tuas rem.

 

Untuk soal berkendara ala narrow plank, mas Lucky tidak setuju bila itu dilakukan di jalan. Narrow plank disebutkan untuk menambah kemampuan namun tidak untuk diterapkan di jalan. Bila berjalan lambat atau berhenti maka kaki perlu turun. Mas Lucky mengatakan jangan sampai ada yang praktek melakukan mengendarai narrow plank di jalan karena itu bukan peruntukannya.

Narrow plank adalah salah satu praktek latihan safety riding dimana pengendara harus membawa motor melewati jalan lurus selebar 30 cm.

Mas Lucky bilang karena motor hanya punya dua roda di depan dan belakang, motor akan cenderung rebah ke kiri atau ke kanan. Pengendara motor wajib punya kemampuan atau skill untuk bisa menjaga keseimbangan motor. Narrow plank disebutkan adalah media untuk melatih keseimbangan tersebut.

 

Untuk mengendarai boncengan, disebutkan yang utama adalah yang dibonceng harus bisa membantu pengendara. Yang dibonceng harus bisa mengikuti gerakan pengendara. Pegangan harus kokoh. Tidak harus pegang pengendara. Tidak masalah memegang pegangan belakang yang penting bisa mengikuti gerakan pengendara. Penumpang tidak boleh membuat motor tidak seimbang.

Posisi duduk di matik yang benar disebutkan kaki harus lurus menghadap ke depan dan kaki tidak terbuka. Oleh karena itu penting mempergunakan motor yang sesuai dengan postur tubuh.

 

Untuk soal Combi Brake, ternyata apa yang terjadi pada motor Honda Beat penulis adalah salah setelan. Karena seharusnya sistem CBS di Honda Beat itu tidak boleh terjadi cakram depan dulu yang berfungsi, harus rem belakang dulu.

Berikut penjelasan cara kerjanya, terlihat jelas tahap tahapnya:

Berikut cara penyetelan yang benar, disebutkan acuan apa yang dipakai dalam menyetel. Bagian dari knocker disetel sehingga hampir tertarik.

Dan memang benar, saat penulis mencoba rem CBS dari Honda Scoopy yang baru, saat menekan tuas rem kiri maka yang kanan tidak bergerak, walau itu sedang ngerem. Bila menekan tuas rem kanan maka tuas rem kiri tidak banyak bergerak. Ini berbeda dengan yang terjadi pada motor Honda Beat penulis sebelum CBS dimatikan. Saat itu ditawarkan untuk menyetel lagi CBS namun penulis kebetulan lebih suka rem belakang independen.

Disebutkan bahwa sistem CBS menuntut bahwa konsumen melakukan setelan secara periodik. Disebutkan bahwa saat ganti oli di bengkel resmi AHASS maka rem dan rantai akan juga secara gratis menjadi keharusan untuk dicek oleh mekanik.

Motor yang penulis coba tes itu motor yang dipakai mas Dimas demo pengereman.

Konsumen yang menjumpai sistem CBS motornya mengerem yang depan dulu disarankan untuk melakukan penyetelan ke bengkel resmi. Bukan hanya penyetelan di rem belakang saja namun penyetelan di knocker seperti yang di tunjukkan diatas.

 

Untuk penulis ini jadi pelajaran berharga untuk jangan mudah percaya dengan kutipan kutipan di website. Karena bisa jadi tidak sesuai dengan aslinya. Baik itu liputan soal safety riding atau laporan dari pesertanya, jangan gampang percaya. Lebih baik konfirmasi langsung dengan sumbernya langsung. Penulis sebelumnya pesimis banget namun ternyata setelah diklarifikasi hasilnya beda jauh dari yang dikutip orang orang.

Penulis puas dengan pertemuan ini.

Dari keterangan keterangan diatas, penulis lega, ternyata Honda juga mencoba memberikan yang terbaik untuk safety riding. Menurut pak Nyoman, Astra Honda capek capek mendatangkan Marquez itu khusus untuk mempromosikan hashtag #cari_aman, diharapkan bakal sama populernya dengan semboyan satu hati. Pelatihan safety riding juga diberikan mulai dari TK. Di pusat safety riding Jawa Timur di Sedati juga ada sepeda kecil untuk anak TK latihan. Untuk SMP materi yang diberikan adalah awareness tentang keselamatan namun tanpa praktek. Di SMA materi safety riding juga menyertakan praktek. Pak Nyoman bilang sedih juga bila melihat di sinetron ada yang menunjukkan pemain sinetron berkendara tanpa helm dan sembarangan. Sedih karena itu yang akan ditiru masyarakat dan mementahkan usaha mengajarkan berkendara yang lebih aman.

Sarana pelatihan untuk safety riding disebutkan sebagai usaha Astra Honda untuk serius memberi pendidikan keselamatan berkendara bagi masyarakat. Semua konsumen dipersilahkan untuk mengikuti pelatihan. Di pusat pelatihan safety riding untuk Jawa Timur di Sedati, kegiatan pelatihan sering dilakukan di hari Kamis. Konsumen yang ingin ikut dipersilahkan untuk mendaftar terlebih dahulu dan lebih baik bila tidak sendiri namun bersama teman atau rombongan.

Penulis juga baru tahu ada jalur kalau mau tanya tanya soal begini. Bisa lewat jalur berikut:
telpon nasional: 1500989
sms nasional: 08119500989
telpon jatim: 08001146632, akan ditangani mas Eko dan mas Taufan.
email: customercare@astra-honda.com

Terima kasih untuk Astra Honda yang bersedia sudah meluangkan waktu datang ke Jawa Timur untuk memberi klarifikasi tentang materi yang diajarkan pada safety riding. Terima kasih juga untuk tim safety riding Jawa Timur. Penulis tidak menyangka mendapat sambutan yang hangat dari Astra Honda.

Terima kasih banyak.

Iklan

15 respons untuk ‘Penulis berkesempatan datang langsung ke pelatihan safety riding Astra Honda, klarifikasi langsung tenyata nggak sama dengan kutipan di luar

  1. Akhirnya di baca juga sama pihak safety riding Honda,,,
    Biar puas & ngga penasaran di gelandang masuk dunia safety riding,langsung praktek bukan teori,,,

    Jangan lupa pak bikin patent sendiri biar dapet 1 unit motor Honda secara gratis,,,

    Suka

    • Soal tombol klakson setuju bahwa itu penting. Pemakaian disimpulkan disesuaikan dengan situasi. Bisa rem dulu, atau bisa klakson dulu atau bersamaan. Tidak mengharuskan rem dulu.

      Soal posisi tombol klakson tidak saya tanyakan, karena itu kebijakan global yang lebih tahu mestinya Honda Jepang. Nanti saya coba tanya langsung ke bagian safety riding Jepang.

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.