Enaknya beli motor apa?


Pembaca ada yang tanya soal apa saja motor terbaik di tiap kelas versi penulis sekalian menjelaskan alasannya. Mungkin lebih cocok bukan yang terbaik tapi motor yang mana yang penulis bakal beli berdasarkan kelasnya.

Yang jelas penulis nggak akan beli motor listrik.

Honda PCX Electric

Alasannya karena ngechargenya masih lama, khawatir soal baterai, harganya bakal mahal dan performa juga nggak sesuai harga. Wah, jadi ingat belum menyelesaikan artikel yang menjelaskan problematika balapan GP motor listrik. Intinya performa motor balap listrik antara Moto3 dan Moto2.

 

Untuk kelas “yang penting punya motor”, pilihannya motor seharga sekitar 13 juta yaitu skuter Suzuki Nex dan bebek Suzuki Smash. Agak mahalan ada bebek Honda Revo Fit. Heran mengapa Yamaha nggak punya model di kisaran harga ini. Penulis juga mempertimbangkan TVS, pabrik yang membuat BMW tentu bisa terjamin besok besok, ada produk seperti skuter TVS Dazz, bebek TVS Neo dan sport TVS Max. Untuk Viar enggak tertarik.

Kalau enggak butuh jarak, kalau mau yang irit, maka pilihan penulis jatuh pada Suzuki Smash.

Kalau butuh minim perawatan, maka pilihannya Suzuki Nex. Suspensi mungkin nggak seempuk Honda tapi nggak terlalu keras juga. Bengkel mungkin jarang tapi kalau oli bagus mesin bakal awet. Untuk TVS, mungkin bisa jadi pilihan kalau bengkelnya dekat.


 

Untuk kelas “cari yang agak mendingan”, pilihannya sampai ke 20 juta. Pilihan banyak banget.

  • Di Honda ada bebek Blade 125, Supra X, dan Revo X, skuter Spacy, Vario 110, Vario 125, Scoopy, Beat Sporty, Beat Pop dan Beat Street, sport Verza.
  • Di Suzuki ada skuter Address.
  • Di Yamaha ada bebek Vega Force, Jupiter Z1, dan Jupiter MX 150, skuter Mio S, X-Ride, M3, Mio Z, Fino, dan Soul GT.
  • Di TVS ada bebek Rockz dan sport Max.

 

  • Di kelas ini kalau mau untuk jarak maka pilihannya ada pada TVS Max dan Honda Verza.
  • Untuk performa ada Jupiter MX 150 dan Honda verza. Performa matik 11-12 nggak beda jauh.
  • Untuk irit ada Supra X dan Vega Force. Kalau mau irit dan praktis ada Mio Blue Core.

  • Untuk praktis harian, butuh irit nggak butuh tenaga, ada Address dan Beat. Nggak pilih Yamaha karena takut suspensinya keras.
  • Untuk gaya ada Blade 125 karena Repsolnya, X-Ride dan Scoopy karena DRLnya. Vario 125 perlu pikir pikir dulu, bakal menyesal atau tidak bila setelah ada yang tanya mereka lalu membatin dalam hati “ooo, bukan yang 150 toh”.

Video (Full HD) review body Yamaha X-Ride 125…..casing banyak bermain dual layer !

 

Untuk kelas “sudah bisa gaya” pilihannya hingga mendekati 30 juta.

  • Di Honda ada skuter Vario 150, bebek Supra GTR dan Sonic, sport Megapro, CB150R dan CBR150R, trail CRF150L
  • Di Kawasaki ada sport mini Z125 Pro dan KSR Pro, sport W175 dan D-Tracker, trail KLX150BF.
  • Di KTM ada sport Duke 200 dan RC 200
  • Di Suzuki ada bebek Satria, sport GSX-S150 dan GSX-R150
  • Di TVS ada sport Apache 200.
  • Di Yamaha ada skuter NMax dan Aerox, bebek MX King, sport Byson, Vixion, Xabre dan R15.

 

  • Untuk bebek rasanya cuma soal selera. Penulis lebih pilih Satria Predator.
  • Untuk sport naked low-endnya, Byson itu rasanya kemahalan. Tenaganya kurang, tampilannya bukan retro bukan modern, mungkin cuma ngejar irit tapi kalah harga sama Verza. Megapro juga nggak jelas peruntukannya apa.

Motor naked kelas yang paling all rounded.

  • Di motor naked kalau untuk sendirian GSX-S150 bisa dilirik. Tapi tampilan nanggung kalau untuk gaya, kurang gagah. Dipakai gaya kurang, kalau untuk keluarga nggak cocok, irit juga nggak. Performa lumaayan tapi tampilan depan nggak sporty.
  • Model Vixion R rasanya lebih mengacu ke selera India. Lampu depan aneh, shroud aneh. Memang berkesan cepat / sporty, tapi nggak elegan. Winglet terkesan dipaksakan. Nggak cocok untuk gaya naked, terkesan seperti motor half fairing, cocok untuk yang suka half fairing. Pegangan tangan nanggung banget.
  • TVS Apache gayanya selera India. Agak kekar namun performa patut diperhitungkan. Sudah split tapi paling tidak masih ada pegangan tangan.
  • Untuk model retro W175 cuma satu satunya. Tergantung selera. Menurut penulis terasa kurang. Untuk harian ribet juga nggak ada meteran bensin dan untuk boncengan kurang pegangannya dan tutup rantai. Nggak cocok untuk bonceng nyonya.
  • Xabre mungkin cocok untuk gaya. Selain itu menurut penulis nggak ada kelebihannya. Mending D-Tracker, sekalian sudah mirip supermoto, nggak nanggung seperti Xabre.
  • KTM Duke nggak suka lampu depannya. Mungkin kalau nanti lampunya sudah ceper atau bulat bakal lebih keren. Performa pastinya ok.
  • Penulis memilih antara CB150R terutama karena tampilan dan kepraktisan, juga karena yang lain nggak ada yang sip. Tenaga urusan nanti, bawa ke bengkel bisa 25 hp kalau mau.

Di kelas skuter mesinnya pada berisik.

  • Vario menurut penulis sudah tidak lagi menarik. Lampu belok yang menyatu dengan lampu utama. Saat lampu menyala terlihat tampilan smiley yang membuatnya jadi nggak elegan lagi. Padahal kalau lagi diparkir kelihatan bagus, begitu sudah jalan jadi jelek. Mungkin kalau facelift mending dipisah saja. Bagian belakang kurang sip. Ergonomi juga kurang, nggak cocok untuk yang pendek, nggak cocok untuk yang tinggi. Seat height agak tinggi, pijakan kaki agak tinggi, lutut kepentok bagasi depan.
  • Nmax menurut penulis sudah mulai berakhir umurnya. Sudah waktunya facelift atau diganti model baru. Bagian lampu terutama nggak mencerminkan musim. Kotak nggak kotak, bulat nggak bulat, sipit nggak sipit. Nanggung. Buktinya modif banyak yang merubah lampu depan atau belakang. Suspensi juga katanya keras.
  • Aerox menurut penulis ok. Dari samping lampu depan kayak model moge yang lagi “ngetrend“, ha ha. Suspensi dibilang lebih empuk, atau bahkan terlalu empuk.

Motor fairing pada menyiksa penumpang semua.

  • Di KTM RC 200 nggak suka bagian bodi belakangnya yang cuma tulang. Lampu depan bolehlah. Harga sekitar 40 juta cocok bila melihat tenaga dan ABS nya.
  • Yamaha R15 kurang suka bagian depan. Terasa proporsi kurang pas. Pernah lihat yang modif warna dan lampu malah kelihatan jelek banget. Harapannya yang seperti berikut:
    Kardesign:

  • Bagian belakang sih cakep.
    Fitur Terbaru All New Yamaha R15

    Harga R15 terasa terlalu mahal gara gara ada GSX-R150. Tapi dibanding CBR150R atau RC 200 terasa pas.

  • Honda CBR150R terlihat sporty. Tapi saking sportynya jadi nggak terkesan seperti motor balap. Apa windshieldnya terlalu hemat ya? Terkesan seperti bukan motor fairing kalau dari sisi pengendara. Sebagai motor fairing dapat looknya, nggak dapat feelnya.

  • Kalau harus beli karena butuh looknya fairing maka GSX-R150 saja, hemat, kalau enggak maka mending naked CB150R saja.

     

    Untuk kelas “berwibawa” penulis bahas di artikel lain.

    Sumber:
    http://www.astra-honda.com/price-list/
    http://www.suzuki.co.id/pricelist
    http://www.yamaha-motor.co.id/products
    http://product.kawasaki-motor.co.id/street.html
    Harga motor TVS Makassar

    19 respons untuk ‘Enaknya beli motor apa?’

      • soal pijakan kaki lebih tinggi sudah saya ungkapkan juga waktu diskusi safety riding. Yang untuk Vario yang sempit untuk orang tinggi, sehingga mereka tidak bisa duduk sesuai standar safety riding, mereka disarankan untuk beli PCX saja.

        Suka

    1. sesuai kebutuhan saja, klo mw gaya naik sedikit klo mw nya irit2 ya beli yg murah meriah dan tidak murahan contohnya Shooter atau Vega Force. Klo matik sih jangan karena rewel klo udh diatas 2thn mending bebek. Klo mw kebut2an mending cari sport DOHC Overbore. Tp gw sih fokus ke harian yg irit dan lebih torque, makanya skrg pake MX King, lumayan lah buat nyalip2 angkot n truk2.

      Suka

    2. Mau nanya, di range 20-25 juta-an mending beli motor matic apa sport, jika ditinjau dari segi perawatannya, lebih sering “jajan spare-parts” mana Om diantara keduanya?

      Suka

      • Wah susah juga ya. Part sepertinya berarti oli, coolant, busi, filter udara mesin, filter udara CVT, rantai, belt CVT, kampas rem, dst.

        Kalau oli saya banyak mendengar kalau motor Yamaha itu haus oli. Oli cepat habis. Kalau Honda haus di coolant radiator. Repot juga karena matik dan sport sama sama ada filter olinya sekarang.

        Untuk filter dan busi tergantung kemampuan nego sama mekanik bengkel. Kalau pasrah bisa tiap servis diganti.

        Untuk kampas rem, motor makin berat dan makin kencang tentu makin cepat habis remnya. Di rentang tersebut rasanya berat matik nggak beda jauh dari berat sport.

        Untuk konsumsi bensin kebiasaan orang kebanyakan kalau pakai motor sport pakainya rpm tinggi walau jalan pelan sementara itu kalau di matik memang dipaksa pakai rpm rendah kalau pelan, jadi konsumsi bensin biasanya sama. Tapi kalau niat ngirit pakai rpm rendah, maka motor sport bisa lebih irit.

        Suka

    Bagaimana menurut bro?

    Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

    Logo WordPress.com

    You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

    Foto Google

    You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

    Gambar Twitter

    You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

    Foto Facebook

    You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

    Connecting to %s

    This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.