Liputan vs selfie dan pamer pengalaman pribadi


Pada pemberitaan acara otomotif kadang kita lihat pada selfie.

Sebenarnya nggak masalah melakukan selfie atau cuma sharing nikmatnya diundang acara otomotif. Karena namanya blog, bukan media, maka nggak kasih informasi soal acara juga sah sah saja. Yang jadi masalah itu kalau ada pembaca yang ingin cari informasi. Pingin tahu sebenarnya ada apa saja di acara tersebut. Pingin tahu situasinya bagaimana. Pingin tahu serame apa. Pingin tahu kegembiraan pesertanya bagaimana.

Tapi kok yang penulis rasakan, makin lama unsur liputan ini kok makin berkurang. Event di acaranya juga kadang nggak disebutkan, cuma disebut: rame banget, acaranya macem macem.

Yang lebih banyak atau gambar satu satunya adalah foto selfie.

Kalau ada yang bilang penulis iri. Iya, yang begitu itu memang bikin iri. Tapi apa membikin pembaca iri itu tujuan menulis artikelnya? Nggak salah sih, karena bikin pembaca iri juga salah satu cara untuk menarik pembaca. Tapi kan nggak semua pembaca ingin dibuat iri?

Ada juga kan pembaca yang beneran butuh informasi? Nggak butuh lihat selfienya?

Nggak masalah menceritakan bagaimana rasanya atau bagaimana enaknya ketika diundang di suatu acara otomotif. Namun kalau bisa ceritakan juga informasi yang didapat di acara tersebut.

Misalnya pada acara review atau touring bareng atau uji produk. Jangan cuma selfie naik motor kek. Walau misal blog lain sudah pernah buat galeri, nggak ada salahnya motornya di foto foto lagi. Dan nggak harus ada modelnya. Jangan karena nggak ada model seksi lalu nggak difoto motornya.

Misalnya diundang di acara safety riding. Jangan cuma cerita bisa datang, dapat pelajaran, pakai baju safety riding, merasakan sendiri safety riding, dll, tapi jangan sampai caranya safety riding bagaimana, caranya prakteknya bagaimana, informasi keselamatannya bagaimana nggak disebut.

Khusus safety riding, penulis sampai berpikir apa ya di acara safety riding cuma dikasih praktek slalom, narrow plank sama ngerem. Sementara itu teknis untuk di dunia nyata nggak diajarkan? Malah kadang caranya praktek tersebut juga nggak disebut.

Bila seandainya pemberitaan untuk acara tersebut merupakan suatu konsekuensi karena sudah diundang dengan difasilitasi, maka tentunya porsi berita dari acaranya sendiri diharapkan sama yang mengundang akan lebih banyak daripada sharing pengalaman ketika di acara.

Atau yang ngundang sudah maklum blog bakal cuma sharing selfie pengalaman saja?

Nggak tahu deh.

Media lebih netral, nggak ada selfie. Tapi beritanya minim banget. Foto juga minim.

Yang lebih detil itu bila penyelenggara bikin dokumentasi berita. Tapi jarang banget. Foto lebih sering cuma satu.

Mungkin dokumentasi peserta beneran (yang datang atas biaya sendiri dan keinginan sendiri) bisa jadi jauh lebih rame, nggak cuma dua atau tiga foto saja.

2 respons untuk ‘Liputan vs selfie dan pamer pengalaman pribadi

  1. kemungkinan besar mereka males nulis detail acaranya kali ya?

    saya juga sering lihat yg seperti ini sih

    memang benar, yg jadi masalah kalo ada 1 orang yg butuh detail acara secara lengkap, meskipun ada 1000 orang yg ngeliat sekilas aja, kalo nulis ulang apa ngga ribet ya?

    Suka

    • kalau dibilang malas mungkin tidak. Karena ada yang buat berita soal acara tertentu tapi sebagian besar tulisan isinya perjalanan berangkat atau pulangnya.

      kalau soal tulis ulang, liputan juga bisa gambar.

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.