Walau disebut bikin oli rusak, mengapa penulis tetap yakin pakai minyak goreng sebagai aditif oli mesin?


Contoh kombinasi nggak sip

Di grup oli ada postingan berikut tentang penggunaan minyak kelapa sawit sebagai aditif oli mesin:

Cauthelia Nandya:
Minyak goreng komposisi dr 10% – 50% per sequence. Cm bisa dua sequence cycle soalnya dua sequence ajah udah rusak ๐Ÿ˜ . Boro2 kuat ratusan jam. Ga sampe 10 jam ajah komposisi udh berubah

Kalo ada yg bilang “Tambah migor FE meningkat” Qo hasil tes aq malah blg sebaliknya yah ๐Ÿค”
Fuel economy index itu bs diuji dengan metode Sequence VID ato ASTM D7589. D sana pengujiannya malah dapetin hasil sebaliknya. Pas udah sequence terakhir malah base oli jd rusak. Baik Base II apalagi Base III k ats. Penambahan migor hanya berdampak positif at least 100 Km ato 5 jam maksimum. Selebihnya pasti putus2 rantainya. Abis putus pasti galau n gangguin hubungan yg laen. Udah gitu aja

Penggunaan satu bulan ga merepresentasikan apakah sebuah teori itu layak dipertahankan. Apalagi cm droptest yg bukan d Blotter Paper ๐Ÿ˜ฎ. Oli + Migor ajah udh keok d ILSAC sequence. Apalagi Exxon Sequence
September 12, 2017

Tapi penulis tetap yakin mempergunakan minyak goreng sebagai aditif oli mesin. Mengapa?

Alasan utama adalah penulis tidak pernah pakai sampai olinya hitam apalagi sampai rusak. Oksidasi itu sesuatu yang sifatnya jelek untuk mesin. Oleh karena itu penulis selalu mengingatkan untuk yang coba pakai minyak goreng sebagai aditif oli mesin untuk sering mengecek oli mesin. Kalau sudah mendekati hitam ya segera ganti. Jangan ditunggu sampai hitam.

Di uji diatas disebutkan bahwa pengetesan dilakukan sampai olinya rusak.Itu ujinya juga ekstrem banget, 10 jam oli sudah rusak. Padahal penulis bisa 6 bulan waktu pakai Mesran Soper + 10% MG, dengan jarak lebih dari 5 ribu km.

Oli itu bila rusak diiringi dengan oli yang makin kental. Oli jadi makin kental karena oksidasi:

Sebelum oli jadi kental, oli akan jadi encer terlebih dahulu. Encer karena fuel dilution atau karena ke sobek sobek mesin (VI Improvernya jelek). Pengalaman paling jelek saat menggunakan minyak goreng sebagai aditif itu saat pakai oli X-Ten (gambar diatas). Oli dalam beberapa minggu sudah jadi sangat encer. Pas diganti olinya hitam sekali, padahal cuma sebulan. Bila diteruskan bisa jadi olinya bakal jadi kental lagi. Tapi sudah nggak betah.

Penulis ganti oli pakai acuan yang berikut. Nggak harus menunggu olinya kental untuk ganti oli. Tahu olinya jadi terlalu encer langsung ganti.

Entah uji diatas ngetesnya di rpm berapa, yang jelas kalau di kedua motor penulis, mesin jadi terasa lebih enteng setelah ditambah minyak goreng. Kalau nggak gas pol (rpm > 9000) mungkin nggak bisa merasakan.

 

Disebut bahwa fuel economy cuma tahan 100km atau 5 jam maksimum. Selama ini penulis nggak pernah ngukur fuel economy. Yang penulis rasakan itu kalau oli masih baru nyis + MG itu tarikan motor berat (sesuai SAE). Makin lama dipakai makin ringan. Satu minggu dipakai setelah ganti oli ya tarikan makin enteng, bukan makin berat. Itu kira kira sudah menempuh jarak 250 km.

Kalau sampai tarikan sudah mulai berat, maka itu ganti olinya sudah telat. Harus segera ganti oli. Tarikan jadi berat bisa karena oli sudah mulai kental atau film strength olinya sudah payah.

 

Uji diatas itu sangat menguji daya anti oksidasi oli. Jadi faktor fuel dilution dan rpm tinggi sepertinya tidak dirasakan. Mungkin ini juga yang membuat hasilnya berbeda. Di kedua motor penulis, oli sudah lebih dulu nggak enak sebelum warna sempat jadi hitam.

Waktu penulis mengganti oli yang bikin Honda Beat suaranya kasar, warna oli masih seperti baru. Tapi oli sudah seperti oli rusak. Walau oli masih bening begitu, penulis nggak merasa sayang ganti oli lebih cepat. Karena menurut penulis olinya sudah nggak layak.

 

Jadi penulis masih akan terus pakai minyak goreng sebagai aditif. Namun dengan tetap memperhatikan warna oli dan performa motor. Penulis nggak termasuk orang yang pakai oli sampai olinya hitam pekat. Nggak termasuk yang membiarkan olinya tinggal separuh. Nggak termasuk yang menambahkan aditif extreme pressure (nano,ZDDP,WS2, dll).

Iklan

14 thoughts on “Walau disebut bikin oli rusak, mengapa penulis tetap yakin pakai minyak goreng sebagai aditif oli mesin?

  1. Sebetulnya untuk pemakaian minyak gorengnya itu bisa bersamaan saat penuangan oli baru (pas ganti oli) atau saat motor sudah dipakai hingga jarak tertentu katakanlah 1000 km setelah penggantian oli baru, lalu dikasih migornya?

    Suka

      • owh sip Om!

        Sorry OOT, oh ya di artikel ini

        https://kupasmotor.wordpress.com/2016/10/12/pilihan-merek-radiator-coolant-dengan-rasio-glycol-lebih-sedikit-lebih-cocok-untuk-cuaca-panas-indonesia-akan-bisa-menambah-tenaga-mesin-juga-mengurangi-knocking/

        Om Cahyo kan bahas soal Radiator Coolant dimana disitu intinya air radiator yg bagus buat iklim tropis macam indonesia ini justru adalah yg lebih sedikit prosentase “glycol”nya karena punya daya hantar panas yg lebih bagus, naahhh disitu dikasih beberapa merek coolant yg punya glycol lebih rendah, dan yg paling sedikit kayaknya adalah yg bermerek TOP 1 POWER COOLANT karna punya 20% glycol, apakah ini artinya kemungkinan dia yg paling bagus daya hantar panasnya?
        kalo mau beli kira2 barangnya masih diproduksi ngga ya Om?

        Suka

        • Iya, yang glycol 20% lebih baik daya hantar panasnya. Ada juga yang air ditambah anti karat yang daya hantar panas lebih baik lagi.

          Ketersediaan barang sepertinya tergantung tokonya. karena kalau online sepertinya masih ada yang jual.

          Suka

          • Soalnya gini Om, selidik punya selidik ternyata coolant bawaan Aerox 155, Yamaha Coolant, itu ratio Glycol dg Air Sulingnya 50 : 50 (tau speknya dari bukalapak, hehehe) yg menurut artikel tersebut justru kurang bagus daya hantar panasnya bukan? makanya ane pengen ganti punya Top One Power Coolant yg punya Glycol 20% saja itu, tapi ane belum tau apakah dg mengganti coolant bawaan pabrik akan menggugurkan garansi atau tidak. Klo iya, ane mau ganti di bengkel dealer lain aja supaya ngga ketauan orang dealer tempat ane ambil motornya, hehehe๐Ÿ˜

            Atau apakah dengan menambahkan sejumlah air suling gitu apakah berarti juga bisa menurunkan kadar glycol dalam radiator Om? Klo iya belinya dimana ya air suling, kan katanya pake air kran/aqua bahaya bisa karatan :v

            Suka

            • Iya, biasanya kalau ganti coolant merek lain nggak boleh sama bengkel resmi. Setuju, mending ganti coolant saja atau nambah air suling. Iya, menambah air suling mengurangi konsentrasi glykol. Saya coba di mobil terasa sekali efeknya.

              Air suling rasanya lebih mudah dicari di apotik atau di toko kimia.

              Ada yang mengumpulkan air tetesan AC. Problemnya wadah atau selang pengumpul air tetesan AC nya kotor.

              Suka

          • Om, ternyata air suling bisa mudah didapat, dari merek air minum CLEO, di kemasannya tertulis dia itu adalah air demineral, berbeda sama produk air minum kemasan lain yg disebut air mineral

            Suka

  2. Mas Aji, request artikel side gap dong .. atau plasma igniton.. plkus minusnya juga bagaimana plasma ignition untuk diterapkan dikendaraan harian. tks

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s