Tanda aus di ban itu mubazir dan banyak tanda lain yang juga nggak kepakai


Penulis lihat ada artikel penjelasan ban yang bagus:
Membaca Kode Ban Motor

Tapi membaca itu rasanya kok banyak tanda di ban yang nggak ada gunanya untuk kita ya? Contohnya:

Dari tanda tersebut rasanya yang kepakai cuma dua kelompok, yaitu yang 90/90:

Ukuran velg itu mubazir karena kan jarang banget kita ganti velg. Bahkan yang jualan ban pun sudah apal ukuran velgnya asal nggak salah sebut merek motornya.

Jenis ban, beban maksimum ban dan kecepatan maksimum juga mubazir. Memang kalau kita beli ban bisa milih? Rasanya nggak mungkin kita bilang: “mau ban yang kecepatan maksimumnya 100km/jam bang”. Karena biasanya yang begitu itu tergantung kerelaan dari yang buat ban. Kalau yang beneran perhatikan pasti opsinya kalau enggak ganti model ya ganti merek.

Kalau bannya nggak terkenal, juga nggak ada jaminan yang ditulis itu beneran sesuai dengan kemampuan.

Atau ridernya yang cuek. Ban ratingnya L, maksimal 120 km/jam, tapi si ridernya berani genjot motor hingga 150 km/jam. Yang sering mungkin mobil. Ban standar, limiter dilepas, lalu mobil dilarikan lebih dari limiter.

 

Lalu berikutnya tanda arah rotasi ban.

Tanda rotasi kadang diabaikan. Ada yang menuruti, ada yang enggak. Pernah ada yang coba mengukur ketika beda ban dibalik atau enggak itu di pengereman bedanya cuma sekian persen (sori, link hilang). Untuk menikung jelas lebih susah lagi mengukurnya. Ada yang bilang dibalik ban masih pakem. Ada yang bilang sesuai petunjuk ban masih pakem.

Mungkin karena faktor ban yang paling penting itu umurnya. Di ban ada tanda waktunya produksi. Berikut kalau ban keluaran minggu ke-45 tahun 2017:

Disitu kelihatan segitiga. Katanya kalau ban sudah mencapai tanda itu ausnya maka ban harus ganti.

Berikut contoh lain:

Saran tersebut masuk akal tidak? Menurut penulis nggak masuk akal.

Mengganti ban menuruti tanda itu jelas nggak masuk akal karena pada umumnya jalan di Indonesia itu tikungan cuma sedikit sekali. Bila motor dipakai harian, maka yang habis pasti yang tengah dulu. Kalau harus menunggu ausnya mencapai segitiga itu ya bakalan meletus duluan bannya karena habis total di bagian tengah.

Entah apa ada yang bannya habis tepinya dulu. Barangkali ada pembaca yang master of cornering sehingga ban motor habis pinggirnya dulu? Atau punya kebiasaan waktu jalan lurus motor tetap dalam posisi miring?

13 respons untuk ‘Tanda aus di ban itu mubazir dan banyak tanda lain yang juga nggak kepakai

  1. Soal segitiga penulis sepertinya salah mengerti. Segitiga itu bukan indikator habisnya ban.

    Segitiga itu PENUNJUK dimana tempat indikator ban habis berada melintang di tapak bannya. Fungsinya cuma memudahkan orang utk lihat ditapak ban sebelah mana garis melintang itu ada. Kalo udah abis garis melintang akan keliatan menyambung dari ujung ke ujung.

    Semua ban motor & mobil saya yg sudah sampe botak keliatan kawat sekalipun juga ga pernah mentok kena gambar segitiganya, krn emang bukan utk itu fungsinya.

    Byk orang salah paham soal ini krn konten edukasi ga mutu dr media lokal juga, sy bbrp kali baca artikel di berbagai portal web lokal otomotif tentang ban juga penjelasannya dangkal bgt & rancu, kya nulis asal jadi. bikin orang salah ngerti. Sy sndiri baru ngeh maksudnya segitiga itu karena ban sendiri yg udah sampe botak.

    Soal keterangan lain yg dianggap ga perlu, selama ga ada ruginya, biar sajalah, info itu kan ada disana ada maksud teknisnya bagi pihak2 yg membutuhkan. Toh saya beli mi instan juga ga liat2 tabel belakang yg kadar proteinnya sekian, vitamin b nya sekian, dsb, yg dilihat rasanya tok, tapi biar aja tabelnya tetep ada.

    Suka

    • Oya utk ban motor, justru dengan adanya indikator itu pakai lurus terus habis tengah akan makin gampang ketahuan & jadi ingat harus ganti.

      Klo kita tarik garis lurus dari segitiga ke tapak ban, akan nemu garis melintang di tapak ban, padahal samping masih tebal, sesuai anjuran semua pabrikan, klo sudah keliatan garis lintang tadi di manapun (ga peduli merata, di samping, ditengah doang) maka sudah harus ganti.

      Suka

  2. Indikatornya bkn segitiga itu pak…tapi segitiga menunjukkan letak indikator keausan ban y biasanya bentuknya tonjolan di tengah tapi rada samping ban,segitiga cuma buat memudahkan nyari tonjolan itu aja

    Suka

  3. Buat konsumen mungkin tanda-tanda tersebut ada yang tidak berguna, tapi cobalah main ke pabrik ban, yang memproduksi puluhan jenis ban, dengan spesifikasi mirip-mirip, terus ngobrol sama adm produksi yang mencatat produksi ribuan ban, baru akan merasakan fungsi masing-masing kode tersebut, ga semua kode yang ada itu berguna untuk konsumen tapi pasti sangat berguna untuk produsen

    Suka

    • Ok.

      Iya, saya memang mempertimbangkan dari orang yang beli.

      Katanya kode di ban sekarang ada yang ditempatkan di RFID juga. Sehingga misalnya bos armada truk bisa kontrol ban yang dipakai di armadanya. Bisa cek bannya ditukar atau tidak, bisa juga untuk cek kadaluarsa secara cepat.

      Suka

      • klo ban ditukar ato gak gak perlu RFID sih, karena ketika ban masuk ke bengkel udh psti beda dgn yg ada disistem. klo pake RFID biaya mahal mentok paling grafir.

        Suka

        • Nggak mahal kalau dibanding dengan harga bannya. RFID rasanya seharga 10 ribu per butir.

          Yang ngomong itu bakul RFID. Katanya beberapa perusahaan transportasi kalau beli ban milih dari merek tertentu karena sudah ada RFIDnya. Sama pabriknya butiran RFID di jahit di dalam ban. Pengecekan jadinya bisa cepat, alat lewat langsung kedeteksi.

          Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.