Save The Resource, tapi kok trik menambah minyak goreng ke oli mesin ditolak mentah mentah?


Penulis nemu website tentang tujuan dari LDIC dan jadi bingung juga mengapa kok trik menambah minyak goreng ke oli mesin itu mendapat penolakan yang keras baik dari member ataupun admin dari LDIC atau grup semacam.

Berikut penjelasannya:
Long Drain Interval Community Indonesia “Save The Resource”

Long drain interval community Indonesia adalah sebuah gerakan komunitas untuk menghemat penggunaan pelumas pada kendaraan bermotor. LDIC berbagi cara mengenai bagaimana memperpanjang usia pakai pelumas pada mesin, gearbox ataupun pelumasan lain. Komunitas ini dibentuk atas kepedulian pada lingkungan dengan cara meminimalisir limbah sisa dari pelumas kendaraan bermotor. Sebagai contoh rata-rata penggunaan pelumas kedaraan roda dua di Indonesia adalah paling tidak hanya sampai dengan 2000KM, padahal jika kita menggunakan metodologi yang baik dalam pengecekan pelumas penggunaan pelumas bisa sampai dengan 4000KM.

Komunitas ini terdiri dari member dari sabang sampai dengan merauke atau dari ujung barat Indonesia sampai dengan ujung timur Indonesia. Begitu pula dengan kendaraan yang ada, dari honda lawas sampai dengan BMW 1200r, dari angkot sampai dengan Mercedes ada juga disana. LDIC selalu terbuka untuk hal baru selama itu sesuai dengan misi komunitas, yaitu “Save The Resource”.

Penggunaan Oli Mobil (PCMO/HDEO) untuk Motor

Apa alasan lebih memilih Pelumas Mobil/Diesel dibandingkan Pelumas Motor (MCO)?
– Longer Drain Interval.
– Better Performance.
– Better Protection.
– Better Fuel Efficiency.
– Low Evaporation.

Tetapi tidak menutup kemungkinan Pelumas Motor (MCO) juga.

Tujuan utama dibuatnya thread ini yaitu Resources Saving by Longer Drain Interval Lubricant.

Tujuan utama dari grup LDIC adalah agar oli yang bisa awet. Kalau lihat di grup yang disarankan adalah pakai oli PCMO atau HDEO. Ada juga yang menyarankan oli encer (0W20), oli mahal (AMSOIL, dll), atau beli aditif tertentu.

Namun yang penulis heran adalah besarnya penolakan mereka terhadap trik untuk menambah minyak goreng ke oli mesin. Setiap ada topik tentang minyak goreng sebagai aditif oli mesin, pasti ada saja yang menyeletuk menyesatkan atau minta thread ditutup.

Komentar yang sering muncul itu minyak goreng itu cocoknya untuk menggoreng dan oli mineral itu untuk mesin. Padahal oli mineral itu nggak dipakai menggoreng karena bakal bikin sakit perut / jadi pencahar:
MINERAL OIL VS. OLIVE OIL

Mineral oil is laxative that is used to relieve constipation and bowel irregularity, according to the Drugs.com. Mineral oil works by slowing the absorption of water from your intestine, which then softens the stool and relieves constipation.

Hasil makan makanan yang dimasak dengan parafin cair:

My Father and my Mother’s oldest brother who was serving in West Africa both got leave together and came home to stay with my Mum. Because of rationing she had a recipe for a cake using liquid paraffin instead of butter or margarine. As a celebration she baked this cake with of course predictable results, both my Dad and my Uncle spent the rest of their leave on the toilet!

Parafin itu salah satu komponen oli mesin.

Ada yang bilang kalau pakai minyak goreng jadi gosong, dst. Padahal dari uji berikut pakai MG malah jadi tidak gosong:

 

Penulis hanya bisa berspekulasi mengapa penolakan keras bisa terjadi. Salah satu spekulasi adalah di LDIC standar untuk oli yang masih layak pakai itu rendah. Seperti contohnya yang dijelaskan di artikel sebelumnya.

Diklaim bahwa mesin jadi panas dan suara mesin kasar adalah bukan gejala jelak. Dengan menggunakan standar yang rendah maka oli jadi bisa dipakai lebih lama.

Sementara itu dengan minyak goreng sebagai aditif standarnya jadi makin tinggi. Oli yang selama ini dianggap LDIC bagus menjadi oli yang tidak layak pakai. Otomatis masa pakai oli jadi lebih pendek. Tapi dengan pemakaian minyak goreng maka oli jadi bisa lebih panjang masa pakainya, walau standar sudah ditinggikan.

Standar yang sama:
– uji tetes oli
– reaksi bagus dari kopling
– tarikan

Standar yang berbeda:
– warna oli butiran
– suara mesin
– halusnya mesin
– respon setelah atau saat motor dipakai gas pol

Kalau sampai LDIC menerima standar uji oli yang lebih tinggi maka bisa jadi oli yang selama ini dianggap bagus akan jadi dianggap jelek. Oli yang di standar rendah bisa untuk 4 ribu km jadi bisa cuma untuk 4 ratus km. Perubahan bisa drastis.

Apa itu penyebab penolakan kerasa terhadap aliran aditif MG?

Kalau alasannya untuk mengurangi pencemaran lingkungan, menurut penulis sih dari unsur racunnya sama saja. Oli 4 ribu km racunnya 2 kali dari oli 2 ribu km. Karena racun dari oli itu sumbernya dari pembakaran mesin.

Malah kalau pakai terlalu lama, gram dari besinya mesin jadi lebih banyak karena oli sudah tidak lagi bisa melapisi oli dengan baik.

Kalau memakai oli sampai oli jadi encer banget tentu mesin yang bakal aus. Kalau memakai oli sampai oli jadi kental lagi maka mesin bakal berkerak atau berlumpur, masalah kalau sudah keterusan.

Aliran aditif MG itu oli dibikin awet agar mesinnya awet. Fokusnya ke mesinnya. Kalau aliran LDIC itu terkesan nggak perduli mesin bagaimana yang penting oli harus dipakai lama. Fokusnya ke olinya.

Iklan

6 respons untuk ‘Save The Resource, tapi kok trik menambah minyak goreng ke oli mesin ditolak mentah mentah?

  1. yang penting bisa 3.000 km saja udah bagus itu, karena hitungannya sudah setara 3.500-4.000 km, karena ditambah saat kondisi idle manasin dipagi hari, saat macet2an, saat lampu merah, dlsb, apalagi kalo makek motornya ala pembalap ya jadwal pergantian oli mustinya malah dipercepat. dan kebanyakan orang2 mengabaikan faktor ini, pokonya asal bisa long drain sampei 10.000 km brati joosss…., hahahaha…..

    Disukai oleh 1 orang

      • kalo saya kepengen banget coba oli Total Quartz 7000 SAE 10W-40, kabarnya ada yg udah pake di satria FU ngga slip kopling. oli terswbut di olshop harganya ngga mahal ngga nyampe 85 ribu, katanya olinya bagus perlindungan mesinnya, tapi kendalanya susah banget carinya di offline shop. sementara masih bertahan dengan fastron techno hijau SAE 10W-40 karna yang paling mudah dapetinnya, hehehe…

        Suka

  2. Menurut ane, grup tersebut terlalu terpatok pada data sheet tanpa uji lab.
    Seandainya tiap anggota perorangan menyumbang 5rb, cukuplah buat uji lab.
    Artinya pembuktian real itu lebih penting dibanding data sheet dan feeling rider serta drop test diatas tissue…. Apalagi jika oli dicampur minyak goreng, tanpa uji lab udah nyinyir…. Karakter orang jadul. (Kasusnya mirip dengan naik honda ninja, honda nmax, honda satria, pokoknya semua motor honda)

    Suka

    • Uji lab ada kok. Tapi menurut saya mereka terlalu cepat mengambil kesimpulan dari uji labnya. Faktor seperti film strength atau shear stability kan susah di cek lewat uji lab.

      Berikut contoh uji lab yang justru faktor penting dilewatkan:

      Tapi iya, datasheet sangat dipuja, angka selisih sedikit antara dua spec oli berbeda dianggap signifikan. Padahal dari uji oli luar saja ada yang menemukan bahwa kekentalan tidak sesuai dengan spesifikasi. Kalau disini percaya banget sama spesifikasi.

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.