Nggak ada pengalaman atau statistik atau riset tapi safety riding kok dipaksakan sih?


Sekali lagi penulis dikecewakan dari yang pengajak safety riding. Penulis masih penasaran mengapa kok sampai ada ajakan untuk loncat dari motor kalau mengerem sudah nggak sempat. Yang ngajari itu siapa?

Namun sekali lagi harus kecewa karena jawabannya cuma “datang saja ke safety riding, pasti jelas semua”. Terus dikasih contoh MotoGP. Tapi ditanya lebih lanjut sumbernya darimana terus diam nggak dijawab.

Apa semua ajaran safey riding begitu semua? cuma mengandalkan teori dan pemaksaan? tanpa pengalaman, statistik atau riset?

Memang beberapa ajaran ada yang berdasarkan statistik seperti misalnya anjuran pakai helm. Statistik membuktikan memakai helm berkualitas yang benar akan meningkatkan keselamatan. Atau larangan pemakaian ban cacing.

Namun soal loncat dari motor itu apa sudah beneran ada sumber yang dipercaya?

Juga misalnya melarang jari stand by di tuas rem. Alasannya kalau menaruh jari di tuas rem refleknya kalau kaget jadi menekan rem depan dengan kuat, hasilnya ndelosor. Mengapa kok tidak diajari sehingga reflek kalau ngerem belakang dulu? Kan nggak bakalan ndelosor atau terjungkal? Lagipula apa sudah dilakukan riset tentang posisi jari di tuas rem. Kok yakin banget jari nggak standby di tuas rem itu lebih aman?

Yakin darimana?

 

Terkesan safety riding Indonesia itu sebuah klub sendiri yang eksklusif yang beda dari negara lain yang lebih maju. Ilmunya beda sendiri.

Mereka juga merasa lebih jago dari tukang ojek, sales yang kerjanya naik motor atau rider yang tiap hari kerja pulang pergi naik motor. Bila ada bantahan nggak dianggap. Selalu dipaksakan bahwa cara safety riding mereka yang paling benar. Diklaim bakal lebih aman. Tapi kalau ada apa apa, mereka nggak mau disalahkan dan menyalahkan pesertanya.

Contoh beberapa waktu yang lalu ada tukang ojek protes karena praktek caranya safety riding dengan jari tidak standy by di tuas rem. Saat kaget ia jadi susah nekan rem. Malah disalahkan dan dianggap kurang waspada. Nggak pakai dianalisa, padahal jelas masalahnya adalah jari tidak standby di tuas rem itu mengurangi respon terhadap bahaya.

Lembaga keselamatan negara lain sudah tahu kelemahan ini sehingga justru menyuruh orang standny jari di tuas rem, tapi mengapa lembaga safety riding Indonesia kok nggak tahu? Harusnya kalau tahu kan juga diberitahu resikonya. Tapi nyatanya tidak.

Apa ilmu yang diajarkan di safety riding itu dibuat bukan oleh orang yang sering naik motor? Masa yang begitu nggak tahu? Tapi mengapa kok mereka merasa lebih benar daripada yang tiap hari naik motor?

 

Fenomena pemaksaan tersebut biasanya juga disertai argumentasi kalau pabrik mendesain motor itu sudah dipikirkan matang matang.

Padahal jelas bahwa yang bikin motor itu juga manusia. Ada yang kadang kelewatan, ada yang kadang sengaja dikurangi. Nggak usah jauh jauh, skok amburadul itu kan bahaya, motor jadi nggak stabil, mengapa kok suspensi nggak diperbaiki kualitasnya padahal nambahnya cuma beberapa ratus ribu?

Juga lampu depan. Klaimnya pabrikan itu pasti sudah menuruti aturan pemerintah dan keselamatan. Tapi kok di jalan berkeliaran motor yang lampu LEDnya nyorot ke mata. Polisinya juga nggak kalah ngaco, sudah tahu lampunya bikin silau kok malah disuruh pakai lampu jauh yang dijamin bakal menyilaukan.

Selain itu juga soal posisi tombol klakson, yang oleh beberapa pabrikan dibuat susah diraih, atau soal rem belakang yang dibuat terlalu pakem.

 

Harapan penulis adalah akan lebih bagus bila lembaga safety riding melakukan riset terhadap semua ilmunya. Jangan cuma memaksa tanpa dasar.

Misal yakin bahwa klakson itu nggak penting, lebih penting lampu belok, maka harus di demonstrasikan. Misal yakin combi brake atau unified brake yang diaktifkan pakai rem belakang itu lebih aman dari yang diaktifkan pakai rem depan, juga harus di demonstrasikan. Kan bisa dibuat seperti demonstrasi cornering ABSnya bosch?

Tapi tentu jangan mencontohkan perilaku salah. Masa ya demo combi brake prakteknya pakai rem belakang saja. Jelas salah tapi kok dijadikan contoh.

12 respons untuk ‘Nggak ada pengalaman atau statistik atau riset tapi safety riding kok dipaksakan sih?

  1. Polisinya juga nggak kalah ngaco, sudah tahu lampunya bikin silau kok malah disuruh pakai lampu jauh yang dijamin bakal menyilaukan.

    Hahaha

    Ini nih yg bikin lampu motor dijalanan pake hi beam semua. bikin silau…

    Suka

  2. Beberapa kasus, loncat dari motor, sy setuju
    ini pengalaman orang bukan saya, 1.Temen turing pake thunder 250 di Banjar Jabar, lg kenceng ga nutut ngerem mau nubruk pickup yg belok, akhirnya loncat, selamat cuma lecet dimana2, motor sasis bengkok akhirnya beli sasis baru… ga kebayang kan kalo sama orangnya nabrak mobil itu
    2. sodara ibu2 pake mio adu kambing sesama motor di jalanan padat jakarta, sebelum tabrakan sempet loncat, cedera lecet2 dan keseleo, motor sisi depan remek
    sekali lagi jangan ditiru mentah2, liat sikon dan berpikir dalam nol koma nol nol sekian detik
    kadang sebel ngenes juga liat di yutub, motor dah mau nyungseb di parit, kali, sawah stang masih dipegangin aja… ya ikut nyebur orangnya
    lha kalo loncat ketabrak mobil gimana? yg diyutub biasanya jalanan sepi, cuma ga berpikir aja orangnya…

    Suka

    • Iya, untuk beberapa situasi memang loncat bisa lebih baik. Memang dilema antara keyakinan untuk bisa mengendalikan kembali motor dan kemampuan untuk loncat dari motor.

      Suka

    • klo kasus gw kek kemaren mesin MX King tau2 mau mati klo langsung loncat bisa mati kegiles truk gw, cuma gw tetep tenang mainin throttle meskipun sedikit wheelie tp aman terkendali. pada saat gw di salip ama mobil sialan di tikungan dibelakag truk tronton.

      ada beberapa kasus emang kita harus loncat, tp gak semua kasus harus loncat. klo situasi bisa di kendalikan sebaiknya jangan loncat. klo main loncat aja ya bisa fatal akibatnya.

      adu banteng gw jg pernah kok dan gw langsung loncat mae ukemi, cuma visor pecah dan tangan baret. kesigapan kita berkendara menentukan kita harus loncat atau tidak.

      Percayalah sama insting.

      Suka

  3. betul .. loncat bisa jadi safety tp kondisional. kalo saya diajari temen waktu trabas loncat/lepas setang kalo mo jatuh alhasil gda luka2 serius tp ini kondisional ya …

    Suka

    • Iya, dalam situasi mengerem nggak ada gunanya, lompat bisa jadi alternatif. Tapi memang nggak bisa sembarangan lompat dan harus lihat situasi.

      Kalau untuk situasi yang pernah saya alami, kebutuhan untuk loncat itu sangat jarang.

      Suka

  4. untuk jari stanby dituas rem sangat brguna,,
    logika saja refleknya cepat mana dengan yg harus meraih tuas rem dgn yg sudah stanby? seperdetik perbedaan sangat menentukan saat emergency.
    jari stanby khawatir menekan rem dengan kuat? ya mestilah kl situasi darurat harus menekan rem dengan kuat,,kl emang gk darurat, mana ada orang menekan rem dengan kuat? gk pake nalar kyaknya ajaran safety riding disini.

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.