Alasan mengapa merek terkenal “bego banget” nggak bikin oli mesin yang bisa huebat pol di uji timken


Saat perkenalan suatu produk oli mesin atau aditif oli mesin, kadang kita didemokan pakai uji alat timken macam berikut ini:

Kalau ingin tahu detil pengujian bisa lihat video berikut:

Anehnya di uji semacam itu, oli oli merek terkenal malah pada jelek hasilnya. Mau yang harga puluhan ribu atau yang ratusan ribu sama saja, pada jeblok semua. Oli mesin yang huebat huebat hasilnya itu justru oli yang seringnya nggak terkenal.

Kenapa sih merek terkenal kok tidak buat oli mesin yang bisa bagus hasilnya di uji tersebut? Padahal kan tentunya gampang banget?

Menurut penulis ada dua penjelasan.

Yang pertama itu adalah aditif yang bisa bikin oli hasilnya huebat di uji tersebut punya kelemahan fatal. Dijelaskan sebagai berikut:
Oil film strength of Mobil 1™ compared with Royal Purple

There are certain oils in the market today that use EP (extreme pressure) additives in their engine oil that are really designed for gear oils and not engine oils. Extreme pressure additives are typically not used in engine oils for a number of reasons, but the most important reason is that they can cause engine corrosion over time. The rigs being used in these demonstrations are primarily designed for industrial applications like gear oils where extreme pressure is a necessary and important performance feature. These demonstration rigs have very little to do with modern engines, which is why market leading oils in the industry perform poorly in these tests.

The Critical Role of Additives in Lubrication

If a high concentration of an anti-wear agent is added to the oil, the corrosion inhibitor may become less effective. The result may be an increase in corrosion-related problems

Dijelaskan bahwa aditif yang berguna untuk bisa menahan tekanan yang besar itu (aditif extreme pressure) punya kelemahan bisa mengurangi kerja dari aditif pencegah korosi. Sebagai akibatnya, problem yang berkaitan dengan korosi jadi meningkat.

Mungkin efeknya seperti yang dialami bro Arieftc yang di mesin jadi muncul karat setelah diberi tambahan ATF (oli untuk transmisi otomatis).

 

Yang kedua adalah soal seberapa realistiskah hasil uji tersebut? Mengapa kok kita tidak mengalami mesin macet walau pakai oli merek terkenal dalam situasi sehari hari walau dipakai bonceng istri anak sambil bawa barang barang? Padahal di uji tersebut bisa sampai macet.

Untuk bisa lebih jelas, silahkan baca dulu artikel berikut:
Mengenal dasar pelumasan, ada saat dimana perlindungan tidak ditentukan oleh anti wear

Namun penulis beri ringkasan juga.

Intinya kondisi pelumasan itu umumnya dibagi tiga. Saat logam ketemu langsung dengan logam, saat cuma sebagian saja yang ketemu dan saat sama sekali terpisahkan sama oli mesin:

Hambatan bisa terjadi karena gesekan antar logam, yang terjadi parah bila logam ketemu langsung dengan logam. Hambatan juga bisa terjadi karena olinya, yang makin besar bila olinya kental atau gerakan mesin cepat. Digambarkan sebagai berikut:

Itu kalau diringkas jadi grafik yang namanya stribeck curve:

Stribeck curve itu dipengaruhi oleh 3 hal, yang diperlihatkan pada sumbu X. Kalau misal kondisi sekarang dalam keadaan EHL:
– bila tekanan ditambah maka yang terjadi adalah logam ketemu logam, jadi keadaan boundary.
– bila mesin bergerak lebih cepat maka jadi keadaan hydrodinamic
– bila oli lebih kental maka jadi keadaan hydrodinamic.

 

Uji timken itu menguji terutama keadaan logam ketemu logam. Karena beban ditambah maka otomatis kondisi dipaksa menjadi logam ketemu logam dan memaksa aditif EP bekerja. Dalam kondisi ini aditif EP memang mempunyai peran sangat besar. Aditif EP bisa mengurangi hambatan pada saat kondisi logam ketemu logam:

Masalahnya, dalam dunia nyata kondisi logam ketemu logam itu jarang terjadi. Seringnya kondisi logam ketemu logam terjadi waktu menyalakan mesin atau pas dipaksa jalan dengan rpm rendah:

Oli mesin berkualitas bagus dan dengan kekentalan yang cukup akan mampu melindungi mesin dengan baik tanpa butuh aditif EP. Harus diingat juga waktu mesin dingin oli juga lebih kental dan bisa lebih melindungi asal nggak sampai padat.

 

Lagipula aditif extreme pressure itu baru bekerja pada suhu yang tinggi (terjadi akibat gesekan logam dengan logam):

Referensinya:
LUPROMAX-EA

Lupromax-EA is a Premium Quality Engine Oil Additive with metal Conditioner designed to provide excellent automotive lubrication. LUPROMAX-EA is a proprietary engine oil additive that contains Heat Activated Technology.

The Role of Extreme Pressure Additives in Gear Oil

There are two main types of extreme pressure additives: those that are temperature dependent and those that are not. The most common temperature dependent are boron, chlorine, phosphorus, and sulfur EP additive types. They are activated by reacting with the metal surface when the temperatures are elevated due to the extreme pressure.

Artinya kalau gesekan logam ketemu logam tidak sampai menimbulkan panas ekstrem, itu aditif nggak akan aktif. Jadi nganggur dan bikin korosi. Untuk mengurangi gesekan pada kondisi setengah setengah tersebut, pabrik oli menambahkan aditif anti wear semacam ZDDP yang walau nggak sebaik aditif EP, tapi sudah bisa aktif duluan.

Solusi yang lebih baik (bila tujuannya melindungi mesin) adalah dengan menggunakan oli mesin dengan kekentalan yang cukup atau menggunakan aditif FM (sesuai grafik di atas). Ini salah satu alasan mengapa penulis nggak pakai aditif aftermarket dan memilih pakai minyak goreng dan pro capacitor 🙂 .

 

Tapi kan sekarang pabrikan oli buat oli mesin khusus matik yang mengandung molybdenum?

Nah, itu alasan mengapa penulis nggak pakai oli matik di motor matik.

7 respons untuk ‘Alasan mengapa merek terkenal “bego banget” nggak bikin oli mesin yang bisa huebat pol di uji timken

  1. Wah, mantep Mas ulasannya, pantes ada yg pakai oli …. Setlh di uji bagus, dbndngkn dgn merek oli …. & …. & …. Merek yg lmyn terknal

    Suka

  2. nah ini dia, makanya di youtubenya piotr tester biasanya sering di test timken oli dg merk dan type yg sama, saat oli kondisi dingin baru dibuka dari botol dan saat dipanaskan pada 100° Celcius, ada oli yg saat kondisi panas malah justru hasil gesekannya lebih rendah saat oli kondisi dingin, ada yg hampir sama, ada juga yg kebalikannya. hmmm….makin bingung nyari oli yg tepat jadinya 😦

    Suka

      • iya ada merek oli tertentu yang pada saat dingin hasil gesekannya besar namun saat panas justru berkurang, apakah ini mengindikasikan bahwa olinya pake aditif ekstrim pressure? hehehe….
        BTW Piotr Tester juga terima request oli merek apa gitu klo mau minta di test, barangnya bisa dikirim ke tempat dimana dia tinggal yakni Polandia, ada alamatnya di deskripsi video dia. jadi penasaran ane gimana kalo misalnya yg di test Fastron Techno ijo, secara ini oli termasuk sejuta umat buat pemakai oli sesat baik itu motor matic atau motor persneling, hehehe….

        Suka

        • Hambatan rasanya bisa terjadi karena olinya kental saat dingin atau aditif anti wear ZDDP (bukan EP) mulai bekerja saat mesin hangat.

          Kalau soal fastron tehcno, mengingat yang 15W50 saja diberi minyak goreng perbedaannya masih ekstrem, maka yang fastron hijau hasil harusnya kalah bila dibanding oli dengan aditif ester di dunia nyata. Entah di Piotr tester.

          Kirim cairan itu susah. apalagi ke luar negeri. di kantor pos saja kirim barang padat 500 ribu untuk satu kilo kalau ke luar negeri.

          Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.