Susahnya memahami review bila tanpa pembanding dan acuan ergonomi beda


Kita sudah tahu bahwa menilai bentuk fisik motor itu mungkin bisa lewat foto, tapi terkadang saat melihat sendiri pendapat kita bisa berubah. Yang heran itu review motor juga sama, setelah coba sendiri bisa berubah pendapat, bahkan terkadang hasil bisa bertolak belakang 180 derajat. (berdasarkan pengalaman pribadi review honda beat dan Nex II)

Mengapa itu bisa terjadi?

Yang bisa bikin salah persepsi itu adalah terkadang kita bingung dengan istilah yang dipakai. Mesin nggak ada tenaga disebut mesinnya lembut atau tarikannya halus. Padahal motor yang kalau dipakai jalan pelan nyentak nyentak itu belum tentu tenaganya lebih kuat.

Mesin halus juga bukan berarti mesinnya nggak bergetar. Juga bukan berarti suara mesinnya halus. Tapi lebih sering karena kalau sudah digas tetap nggak mau lari.

Istilah lincah juga bikin bingung. Karena ada motor yang kalau nyetir harus pakai teknik counter steer tapi dibilang lincah. Eh, ternyata lincah itu artinya diameter putar motor kecil. Yang artinya itu nggak bakal jauh beda dengan motor sekelas. Padahal kalau dipakai belok kerasa susah kalau sudah terbiasa pakai counter steering atau body steering.

Review juga kadang terasa ngambang penilaiannya karena nggak dibandingkan dengan yang lain. Padahal motor beda perilakunya tapi nilainya sama. Padahal yang satu lebih jelek tapi sama sama dibilang jos, enak, sip atau mantap. Kan bikin bingung?

Yang paling sering bikin salah paham itu kalau sudah pakai kata kata nyaman atau soal ergonomi. Nyaman seringnya dipakai hanya menilai sebagian sisi saja. Kalau kaki bisa selonjor dibilang nyaman walau punggung terpaksa harus tegak karena jok bertingkat. Setang getar atau ruang kaki sempit pun dibilang nyaman asal joknya empuk. Posisi duduk melelahkan pun dibilang nyaman asal lutut nggak kena depan.

Padahal sebenarnya nyaman itu bisa dinilai dari hasil selama perjalanan. Apa yang bikin capai selama perjalanan maka itu yang jadi sumber nggak nyaman, termasuk lelah di bahu, panas di pantat atau juga suara menjengkelkan yang masuk telinga. Motor baru pantas dibilang nyaman bila sampai tujuan bisa tetap sehat, nggak pusing, nggak capai, nggak emosi dan nggak perlu istirahat dulu walau perjalanan agak jauh.

Kalau motor nggak nyaman terus terusan dibilang nyaman, maka ya wajar bila standar kenyamanan motor jadi turun.

Tapi mungkin karena orang Indonesia memang hobinya modif, maka cuek saja ya?

Iklan

6 respons untuk ‘Susahnya memahami review bila tanpa pembanding dan acuan ergonomi beda

  1. Nyaman nggak nyaman itu relatif, kalau kata mayoritas konsumen Indonesia: yang penting merknya H***a karena harga jual kembali paling tinggi (mitos yang sudah mendarah daging 7 turunan). Karena sebagian besar konsumen disinyalir berprofesi pedagang motor bekas, beli motor bukan untuk dipakai dan dinikmati tapi untuk dijual lagi.

    Suka

  2. aku kalo mw beli motor pun pasti tipe motor tsb gw test harian dulu.
    biasanya minjem ke tetangga atau test drive di dealer.
    klo review fisik dan fitur motor biasanya baca di web

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.