Honda CBR1000RR SP2 fresh bekas WSBK sampai dijual ke publik itu aneh


Ada kabar bahwa motor yang selama ini dipakai tim Ten Kate Racing di WSBK sedang dijual:
TRIPLE-M SELLS HONDA CBR1000RR FIREBLADE SP2 SPECIFICATIONS WORLDSBK

Motor dijual dengan harga 70 ribu euro atau sekitar 1,15 milyar rupiah. Harga ini rasanya termasuk murah untuk suatu motor balap sesuai peraturan yang siap pakai. Honda RC213V-S yang merupakan replika yang street legal saja dijual dengan harga 188 ribu euro. Dan aneh juga mengapa motor seperti ini langsung dijual. Karena kan biasanya bakal jadi koleksi tim dulu.

Rasanya ini tidak ada hubungannya dengan prestasi motor ini yang jeblok di WSBK. Nggak pernah podium. Posisi pabrikan di urutan kelima:

Rasanya yang bikin tim Ten Kate Racing menjual motor (katanya dalam kondisi habis dari balapan Argentina) adalah keputusan Honda untuk pakai tim baru yang akan didukung sepenuhnya oleh Honda (tidak seperti sebelumnya yang dibiarkan saja)

Honda Announces Plans for 2019 Motorcycle Motorsports Activities – Honda’s Participation in World Championship Racing and Dakar Rally 2019 –

In the FIM Superbike World Championship Series, HRC will support the team operated by Althea Racing and Moriwaki Engineering with Leon Camier and Ryuichi Kiyonari as their riders.

Motor ini kalau disebut sebagai motor lambat dan banyak masalahnya:
Truth: Roger Lee’s Suzuki Superbike Faster Than Nicky’s Honda WSBK Honda

You don’t need to be any kind of expert in reading body language to see that Nicky Hayden is massively disappointed and furious at the turn of events which have left him riding with off-kilter electronics, slow engines and even broken and unfixed frames this season. There have been slow Hondas before for Nick but this is new ground. Nicky Hayden coming into the garage with fist-sized dents in the fuel tank, or doing the ‘this thing is trying to kill me’ body language? The bike has to be really bad for the king of racetrack cool to lose his cool.

12 respons untuk ‘Honda CBR1000RR SP2 fresh bekas WSBK sampai dijual ke publik itu aneh

  1. Oh iya pak saya jawab balasannya disini ya. Sebelum pasang aki ke motor,akinya sudah di cash full pake alat cash aki. Bohlam pertama stanley 25w dan bohlam kedua stanley 32w (bawaan motor) serta sumber arus jalur lampu ngambil dari spull. Lampu dinyalain pas jalan 20 km/jam bohlam langsung putus. Sehabis tes motor sejauh 1 km, aki langsung dicabut dari motor dan di charge pake alat cash aki tapi 1 jam baru full kapasitas akinya. Berarti akinya tidak terisi aliran listrik
    selama motor dikendarai, apakah kiproknya yang rusak ? Thanks.

    Suka

    • @nex
      klo bohlam langsung putus, coba cek kiprok sm sepul na, tp biasa na kiprok na klo ky gt. udh engga bs ngebatasin arus yg keluar dr sepul, dulu pernah ky gt baru jalan ratus meter & 20an km/h langsung putus bohlam na ( klo py ane sih td na sempet d ubah kelistrikan na jd fullwave trs d balikin asal malah ky gt)

      Suka

  2. padahal. ini motor CBR1000SP2 termasuk literbike 4 silinder teringan lho dlm kondisi stock. handlingnya pun dikatakan oleh para reviewer luar negeri tergolong mengagumkan, ringan, agile, dan nimble. tapi entah kenapa prestasinya kok jeblok? masak iya soal mesin yg kurang power? sekelas Ten Kate yg udah bertahun2 berpengalaman di WSBK dg mesin CBR masak gak bisa upgrade power yg cukup untuk dapat bersaing dg motor team lain? seharusnya motor yg dari standarnya sudah punya paket yg mumpuni dari segi chassis dan engine yg potensial macam CBR ini bisa bersainglah di barisan depan, bukan penghuni papan tengah-bawah. kalo menurut ane kayaknya faktor pembalap deh yg berpengaruh, butuh pembalap yg punya skill lebih, bukan malah ngambil Jack Gagne jebolan AMA Superbike USA yg notabene tidak mengenal karakter sirkuit di eropa dan asia.

    Suka

    • Dulu pernah dikendarai mendiang nicky hayden juga.

      Untuk soal performa, mungkin kalau untuk tim terpisah sudah mentok. Kasusnya mungkin seperti CBR250RR di ARRC. Yang dapat ECU langsung dari jepang (AHRT) beda jauh performanya dibanding yang beli ECU eceran.

      Atau bisa juga traction control motornya nggak sebagus yang punya tim pabrikan lain.

      2017 Honda CBR1000RR & CBR1000RR SP – FIRST RIDE REVIEW

      On the wheelie topic, there’s a negative effect of the CBR’s wheelie-control that leaves me baffled. The feature has three levels of calibration, each one tied to TC settings 1-3, 4-6 and 7-9, respectively. Sensing a differential in front and rear wheel speed (usually) smoothly feathers power to mitigate wheelies under acceleration. A sporadic problem arose driving hard over a couple crested sections of track prompting a more abrupt electronic intervention that often maintained a reduction of power for what felt like a full second after the front tire had touched back down. Although turning off TC also defeats WC, I have to imagine there are people who will find this a deal breaker. I hope Honda will offer a software update to address the issue.

      First Ride Review: 2017 Honda CBR1000RR & SP

      Everything about the bike was impressive, until my pace picked up and the electronics started to kick in. First was the wheelie control, which gets heavy use at Portimao what with the handful of seriously dramatic elevation changes. Wheelies are mitigated using wheel-speed data, meaning that when the ECU notices the front wheel decelerating while the rear is still accelerating, it closes the throttle slightly until the front wheel is back on the ground. It’s a relatively primitive system, and doesn’t really work well enough to keep the throttle open over rises and expect the bike to keep the front wheel down. I started modulating the throttle myself, but even when I was controlling wheelies manually, the system still sees the front wheel decelerating and cuts power. Then takes a second to give it back. Frustrating.

      Suka

      • tapi dulu motor ini paling konvensional lho paling minor soal elektronik, edisi 2008-2011 klo ga salah, tapi katanya reviewer ini motor punya keunggulan pada power deliverynya yg begitu bagus, kurvanya naik teratur sesuai bukaan gas, sesuai yg terlihat pada tes dyno ini motor kurva tenaganya bisa dibilang the best lah, bisa melengkung mengkurva gitu gak ada bentuk “gergaji” atau drop ditengah atau tiba2 njengat gitu, sehingga dg segala kelebihan tersebut pernah dikatakan ini motor “almost to easy to ride”, harusnya ditangan pembalap bagus hasilnya bisa cemerlang dong?

        Suka

        • Iya, sebelumnya pernah mengulas juga. Memang aneh bila setelah pakai TBW justru jadi terkendala elektroniknya. Apa mungkin sekelas punya CBR250RR ya? Yang di mode comfort saja masih nggak bisa mulus?

          Suka

        • Itukan stock
          Ga cocok buat di sirkuit
          Cocoknya di jalan pegunungan yang butuh kontrol super presisi

          Noh di IOMTT masih berjaya

          Suka

          • Dari beberapa review bilangnya baru bisa kencang waktu traction control dimatikan. Rasanya memang Honda pantas marah waktu di MotoGP dipaksa harus pakai ECU jelek buatan Magneti Marelli. Honda jadi nggak bisa mengembangkan ECU traction control. Dan Honda CBR1000RR jadi korban.

            Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.