Tuh kan, motor “berbahaya” jadi andalan utama pemerintah, YLKI dan pengamat untuk menolak motor masuk tol


Memang mudah ditebak bahwa motor “berbahaya” jadi senjata utama para pendukung pemerintah untuk menolak kehadiran motor di jalan tol. Sebelumnya sudah penulis bahas Menteri Perhubungan Budi Karya Sumadi ngomong soal itu.
Soal Motor Masuk Tol, Menhub: Belum Urgent

Ada fakta motor itu risiko kaitan keselamatan. Sekarang 70% kecelakaan karena motor

Ternyata YLKI juga ngomong begitu. Walau bilang yang mendukung itu kolusi dengan pemerintah, tapi anehnya yang diomongkan senada dengan pemerintah, Ketua Pengurus Harian Yayasan Lembaga Konsumen Indonesia (YLKI) Tulus Abadi:
Ketua DPR Wacanakan Motor Masuk Tol, YLKI: Sesat Pikir!

Alasannya, pertama ini wacana kontra produktif terhadap aspek safety yang menjadi basis utama dalam bertransportasi. Mengizinkan sepeda motor masuk ke jalan tol, apa pun formulasi di lapangan, adalah sama saja menyorongkan nyawa pengguna sepeda motor

Apakah Ketua DPR dan pemerintah tidak membaca data bahwa per tahunnya 31 ribu orang Indonesia meninggal di jalan raya karena kecelakaan lalu lintas, dan 71 persennya adalah pengguna sepeda motor? Mendorong sepeda motor masuk jalan tol adalah ‘karpet merah’ untuk melambungnya kecelakaan lalu lintas dengan korban fatal (meninggal dunia, cacat tetap) yang melibatkan pengguna sepeda motor

Apalagi wacana ini berkelindan dengan Peraturan OJK No. 35/2018 tentang uang muka nol persen untuk kredit sepeda motor. Wacana tersebut bisa juga atas lobby aplikator ojek online. Apalagi ojek online kini semakin mendapatkan angin dari pemerintah.

Oleh karena itu wacana tersebut tidak layak dilanjutkan, apalagi diwujudkan. Janganlah Ketua DPR dan pemerintah mewacanakan sesuatu yang irasional, bahkan sesat pikir. Stop wacana sepeda motor masuk jalan tol!

Juga ada dari Direktur Jenderal Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Budi Setiadi:
Motor Masuk Tol, Kemenhub: Bahaya!

Coba bayangkan seandainya tol dari mulai Cikampek mau ke Cirebon, mungkin ada orang Karawang mau ke Cirebon, menggunakan sebelah kiri jalan tol dengan kondisi katakanlah hanya dibuat marka saja, seperti apa, bahaya kan,

Kita tahu semua bahwa motor itu kan bukan untuk jarak jauh. Kalau kita jadikan itu untuk jarak jauh kan bahaya. Apalagi kalau misalnya jalan tol itu untuk sepeda motor tidak ada barikade atau tidak dipisahkan

Apalagi jalan tol kan terbuka, anginnya besar

Dari pengamat Djoko Setijowarno, pengamat transportasi dari Universitas Katolik Soegijapranata:
Tak Mudah Bikin Lajur Khusus Motor di Tol, Biayanya Mahal

Investasinya mahal. Apalagi yang lewat terowongan atau jembatan. Harus bangun sendiri lagi. Sepeda motor penyumbang angka kecelakaan terbesar, sekitar 80%. Lebih bijak DPR mengusulkan Program Transportasi Umum sebagai Program Strategis Nasional (PSN)

 

Seperti penulis jelaskan sebelumnya, angka penjualan motor itu 85% dari gabungan penjualan motor dan mobil. Kalau motor lebih bahaya, harusnya prosentase motor sebagai penyebab kecelakaan lebih besar. Tapi nyatanya tidak. Angka malah lebih kecil dari populasi motor. Ini artinya motor lebih aman.

Lalu soal pengendara motor yang sembrono. Mungkin ini bisa terjadi kalau jalannya lempeng bebas merdeka boleh lewat mana saja walau jalan kayak siput. Tapi kan motor cuma bakal diberi jalan seperti gang sempit?

Kan juga sudah ada contohnya:

Kecelakaan yang terjadi di jalan seperti itu biasanya karena serempetan atau senggolan karena memang jalan tidak memadai. Dalam kondisi seperti itu motor dipaksa untuk pelan. Di jalan seperti itu juga bakal sulit kalau ada orang yang mau niat sembrono.

Soal angin bikin celaka itu jelas mengada ada, memang yang jalannya terbuka cuma jalan tol saja?

Iklan

4 respons untuk ‘Tuh kan, motor “berbahaya” jadi andalan utama pemerintah, YLKI dan pengamat untuk menolak motor masuk tol

  1. boleh saja asal ada jalur khusus dan di batasi separator. klo tanpa separator ya ngeri juga lg 80kph tau2 ada yg ambil kanan atau kiri tanpa sein (kebiasaan pemotor). atau di jalan mepet2 bemper belakang. ya klo malem sepanjang gw nge toll antar kota provinsi biasanya bus dan truk itu kencang2 bisa diatas 130kph. cuma 250cc keatas yg bisa main diangka ini. sport 150cc di 100kph marathon ya bisa jebol motornya karena udh di gear 5 8000rpm.

    Suka

  2. Nah udh jelas..
    harus buka lajur baru, harus pake separator, jelas susah. misal cipularang yg cuma 2 lajur (searah) jd cuma sisa selajur karena motor, ikut2an lelet bareng truk.. pasti jadi ogah bayar tol soalnya kenyamanannya jadi ga ada beda dgn jalan nasional, sekalian aja lewat jalan nasional (gratis)
    Ujung2nya perputaran ekonomi malah melambat. Usaha travel mandul.. apalagi pemandu moda, bisa bubar.
    Macet total sampe kecelakaan di tiap rest area, pas kendaraan r4 atau lebih mau masuk/keluar rest area motong lajur motor

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.