Kewajiban uji emisi pasti merugikan rider dan membuat jelek nama pabrikan dan pemerintah


Wacana wajib uji emisi untuk perpanjangan STNK itu menurut penulis tidak tepat.
Lolos Uji Emisi Bakal Jadi Syarat Perpanjang STNK

Seandainya nanti diimplementasikan sekalipun, pasti tidak akan serius atau pakai standar rendah sekali.

Walau klaimnya seperti berikut ini:

“Jadi, nggak ada lagi yang dulu pakai stiker palsu,” ujarnya.

Rasanya yang asli sekalipun bisa jadi masih termasuk palsu.

Dari sisi standar mungkin bakal pakai Euro 3. Di Euro 3 yang diuji diantaranya adalah kebisingan dan gas buang. Yang bisa melakukan itu terbatas:
Ketersediaan SNI dan Lembaga Penilaian Kesesuaian Serta Kesiapan Industri Sektor Otomotif Menghadapi Regulasi UNECE (Biatna D.T., Suminto, Ary Budi M., Utari A.)

Jadi rasanya nggak mungkin uji kebisingan dilakukan sesuai dengan standar nasional Indonesia. Bisanya diuji ala bengkel modifikasi. pasang meteran di mulut knalpot:
Simulasi Tes Kebisingan Knalpot, Standar Aja Bisa Melanggar Nih!

Sebagai pembanding, dites Honda Blade 110 tahun 2007 dengan knalpot bawaan pabrik. Posisi langsam menghasilkan tingkat kebisingan sebesar 89,1 dB dengan jarak 50 cm. Sedangkan pada putaran 2.500 rpm, hasilnya 96,4 dB (50 cm), serta 91,4 dB (1 m).

Standar nasional itu seperti berikut ini:
METODE PENGUJIAN TINGKAT KEBISINGAN SECARA DINAMIS UNTUK KENDARAAN BERMOTOR TIPE BARU

Standar kebisingan sekarang (sudah tahap 2):

Dari yang penulis tahu, berisiknya mesin motor sekarang ini kebanyakan sudah lebih berisik daripada suara knalpot Honda Blade. Suara Honda Blade justru malah lebih enak didengar daripada suara mesin yang jelas merusak telinga.

 

Dari sisi uji emisi juga nggak gampang dipenuhi. Kalau mesin baru sih dijamin ok. Tapi nggak ada jaminan emisi gas buang motor bisa bakal memenuhi syarat bila oli mesin resmi pabrikan itu kualitasnya di bawah standar. Sudah beberapa kali motor penulis dibuat berisik sama oli resmi pabrikan. Emisi pasti bakal jadi parah juga.

Nggak ada jaminan motor bakal bisa terjaga kondisinya walau sudah servis rutin. Yang setiap kali servis ditodongi bengkel untuk ganti part yang sebenarnya masih layak pakai.

Kualitas bensin juga mempengaruhi.

 

Yang terutama jadi korban itu adalah motor. Kalau pemerintah menerapkan standar pengujian sesuai dengan standar nasional maka bisa jadi mayoritas motor bakal nggak lulus semua. Pasti pemerintah kena protes masyarakat.

Dari sisi pabrikan juga begitu, pasti bakal banyak dapat protes dari masyarakat. Masa buat motor nggak bisa terjaga emisinya. Bakal juga ada protes kepada bengkel resmi yang walau biayanya mahal tapi nggak bisa membuat emisi tetap standar.

Tapi bila menggunakan pengujian jauh di bawar standar, pasti jadi nama jelek pemerintah Indonesia di mata dunia. Dari pabrikan motor sendiri tentu sangat mendukung uji emisi dilakukan jauh di bawah standar. Sama seperti uji tipe. Biar jelas tidak memenuhi aturan tetap saja diluluskan.

 

Coba bayangkan seandainya motor sudah rajin dibawa ke bengkel tapi masih tidak lulus uji emisi. Mau diapakan? Di bawa ke bengkel, apa bengkelnya mampu membuat motornya jadi lulus uji emisi?

Walau mungkin ada cara alternatif misalnya pakai aditif oli penambal celah untuk mengurangi knalpot berasap. Atau pakai aditif bensin biar bensin lebih mudah terbakar dan permbersih karbon lebih baik. Atau pakai aditif macam cemenite atau pro capacitor untuk membuat pembakaran lebih bersih. Knalpot disumpal kaos kaki biar senyap. Tapi tetap ada keterbatasannya. Mesin Honda Beat penulis suara sudah halus, tapi CVT masih tetap saja ngeselin berisiknya.

Atau macam yang terjadi di Suzuki Spin. Suara yang tahun lalu halus, jadi kasar sekarang gara gara sempat diisi oli resmi Suzuki. Walau sudah dua kali ganti oli mesran super, ada suara baru yang nggak hilang.

 

Rasanya keputusan untuk wajib uji emisicuma untuk memberi kesan sudah ramah lingkungan secara lokal saja. Nggak mungkin bakalan pakai standar nasional, apalagi pakai standar internasional. Bakal diprotes sama rider dan pabrikan motor. Lha wong untuk menerapkan standar Euro 4 saja nggak mampu.

16 respons untuk ‘Kewajiban uji emisi pasti merugikan rider dan membuat jelek nama pabrikan dan pemerintah

  1. Mungkin pemerintah bisa bikin program KIR untuk kendaraan roda 2,meliputi knalpot standar,lampu standar,spion standar,kondisi rem,warna kendaraan sesuai stnk,pajak yg masih hidup,jadi motor yg bodong gampang di musnahin,ngga ada yg namanya telat bayar pajak

    Suka

  2. Nice article! 👍

    Nggak kebayang klo nanti jadi,, apalagi klo kyk uji kir gitu diterapkan dimotor.. Belum ngantrinya ha..ha..

    Wassalam

    Suka

  3. mau bayar pajak aja di persulit dengan harus begini dan begitu. giliran gak bayar pajak pada kebakaran, bilangnya orang Indonesia malas bayar pajak. Serba bingung dengan negara ini. paling aman sih gak bayar pajak. pun di tilang dan di angkut cukup kredit motor baru kelar urusan. bayar pajak ama denda tilang sama mahalnya. DP 500rb dah dpt motor baru.

    Suka

      • giliran sektor Pajak ini berkurang pasti akan ada pajak lain yg di galakkan. tujuannya sih bagus2 aja kayak di LN mungkin ngikutin Jepang. tp ya apa bisa seperti itu? Transportasi umum aja masih acak kadut.

        Kerja dari Bekasi ke Cikarang taruh lah, berapa duid biaya nya tanpa motor? Gw pribadi klo naik kendaraan umum bisa lebih dr 50rb perhari. Naik motor cuma 10rb PP.

        dr rumah naik ojek ke jalan umum udh 20rb, PP udh 40rb. Dr situ naik elf ke tempat tujuan udh minimal 8000 PP udh 16.000, blm ke tempat kerja udh 5000 PP udh 10rb. udh 66rb perhari.

        Suka

        • iya… sisanya 50rb di kali 30 aja udh 1.5jt. jelas orang sekrang mending beli matic toh kreditan paling 600-700rb an. tau sendiri kan matic sekarang jauh lebih irit drpd matic karbu. Vario istri aja bisa 1:49km, itu untuk jarak dekat yg notabene buat wara wiri dibawah 10km perhari. klo matic karbu borosnya udh amid2 itu. dengan asumsi uang 40rb untuk Mio itu udh seminggu, sedangkan Vario udh buat 2 mgg. selisihnya klo gw hitung manual sekitar 10rb per minggu. itu untuk jarak dekat ya.

          Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.