Bocoran draft perpres motor listrik melindungi merek impor?


Rasanya keluhan yang diungkapkan oleh Garasindo (motor listrik GESITS) itu memang perlu didengar:
Sepeda ‎Motor Listrik Boleh Diimpor, Bos Garansindo: Sama Saja Bunuh Diri

CBU dibolehkan untuk mobil saya setuju, itu untuk tarnsisi. Tapi kalau motor CBU diperbolehkan sementara GESITS sudah mulai produksi, ya sama saja bunuh diri,

Draft aturan ini terasa amburadul.

Motor listrik impor itu nantinya akan bebas pajak maupun bea masuk:
Ini Isi Draft Final Perpres Kendaraan Listrik, Tak Ada Hybrid

Insentif berupa fiskal yang diberikan mulai dari pembebasan bea masuk impor kendaraan listrik (roda dua maupun roda empat atau lebih) baik yang berwujud komplit terurai (CKD) maupun utuh secara komplit (CBU), hingga pembebasan pajak masuk mesin-mesin – sebagai barang modal – yang dibutuhkan industri pembuat/perakit kendaraan listrik tersebut.

Ini jelas kabar gembira bagi yang suka motor listrik impor. Motor impor bakal murah. Jadi Honda PCX Electric kemungkinan besar akan masuk tanpa pajak. Akan bagus juga bila ini berlaku juga untuk motor listrik buatan Cina. Motor listrik harga 5 hingga 12 juta dengan performa setara PCX Electric (yang harganya setara mobil) kan sangat lumayan.

Bagi pembuat motor listrik lokal ada senangnya ada susahnya. Senangnya komponen motor listrik (mungkin) akan jadi murah karena tanpa pajak. Susahnya harus bersaing dengan motor impor yang tanpa pajak.

Apalagi kalau mau buat motor listrik di Indonesia disyaratkan harus pakai komponen lokal, baik untuk merek lokal maupun merek global::
Bocoran Draf Terakhir Program Percepatan Kendaraan Listrik Indonesia

Tabel Tingkat komponen TKDN buat Kendaraan Listrik di Indonesia:

I. Sepeda Motor (roda dua atau tiga)
a. 2019-2023 TKDN Minimum 40%
b. 2023-2025 TKDN Minumum 60%
c. 2025 dan seterusnya TKDN Minumum 80%

II. Mobil (kendaraan roda empat atau lebih)
a. 2019-2021 TKDN minimum 35%
b. 2021-2023 TKDN minumum 40%
c. 2023-2025 TKDN minumum 60%
d. 2025 dan seterusnya TKDN minimum 80%

Medianya berpendapat itu mencegah orang rebranding:

Penulis berpendapat, pasal ini dikeluarkan untuk menjaga komitmen setiap industri lokal yang mau ikut KBL berbesis baterai bermerek nasional, tetap kompetitif, bisa bersaing dengan merek asing. Jadi, bukan sekadar perusahaan menciptakan merek lokal, kemudian semua komponen atau kendaraannya diimpor, tanpa membangun pabrik di Indonesia.

Kalau menurut penulis, kalau aturannya begitu, pengimpor tentu memilih nggak usah rebranding tapi mocin dijual dengan merek apa adanya. Itu malah lebih menguntungkan. Sekalian CBU karena toh dikesankan bea masuk sama.

Toh kalau buat motor listrik sekarang, komponen motor listrik sumbernya juga masih dari luar negeri. Beli yang sudah jadi jelas lebih murah. Pajak untuk impor motor pasti lebih cepat turun dan terlaksana daripada pajak barang elektronik dan baterai yang bisa jadi pemerintah lupa dan dikategorikan barang mewah.

Pemerintah bisa lupa karena kan komponen untuk motor listrik macam – macam. Barangnya juga nggak selalu dijual sebagai komponen khusus motor listrik.

 

Dibanding motor listrik luar negeri dari Cina atau bahkan India, motor listrik lokal lebih mahal walau sudah pakai banyak komponen lokal macam GESITS. GESITS pun masih bergantung komponen impor (yang bisa jadi masih dipajaki):
Gesits Cuma Impor Sel Baterai, Sisanya Asli Indonesia

Sel baterainya sama kumparannya saja yang diimpor. Sel baterai (disuplai) dari Panasonic.

Motor listrik India yang jarak jangkaunya 110 km harganya 9,5 juta rupiah:
Avan Xero Plus Electric Scooter Launch Price Rs 47k – 110 Kms Drive Range, 45 Kmph Top Speed

Sundiro Honda mono harganya 9,9 juta rupiah:

Tahu sendiri harga Viar Q1 dan GESITS berapa. Padahal cita cita GESITS bisa bersaing di luar dengan jarak jangkau 100 km:
Sepeda ‎Motor Listrik Boleh Diimpor, Bos Garansindo: Sama Saja Bunuh Diri

Kami enggak mau barang abal-abal. Barangnya harus bisa berkompetisi sampai luar negeri, jangkauan sampai 100 kilometer

Iklan

9 respons untuk ‘Bocoran draft perpres motor listrik melindungi merek impor?

  1. Ini bukti pemerintah tidak memperhatikan buatan anak bangsa.ngapain sekolah tinggi tinggi kalo gelarnya cuma buat syarat masuk perusahaan saja,sementara kecerdasannya tidak untuk kemajuan bangsa di bidang pembuatan mesin,jadi lebih baik impor sebanyak banyaknya masalah potensi anak bangsa ngga usah ikut campur

    Suka

  2. Sayang sekali ya, kemampuan SDM di negeri kita tidak bisa maksimal mengembangkan industri yg hi-tech. Kebanyakan justru dimanfaatkan pihak asing untuk kemajuan negara mereka sendiri. Sementara kita harus menerima kenyataan hanya bisa menjadi pasar tempat mereka berjualan (mahal pula) 😦

    Suka

  3. Masih “draft” kan? Positif dan optimis dlm berfikir lah… masih bisa direvisi kan? Atau bocoran draft itu dah final?

    Suka

  4. Kendaraan listrik itu sebenernya gak murah murah amat. Apalagi kalau TDL naik.
    Perhitungan biaya pengisian yg murah juga hanya hitungan kasar. Tanpa memperhitungkan losses yg ada.
    Satu lagi, baterai adalah bahaya baru yang akan menjadi boomerang jika tidak ada pembuangan, tempat recycle dan aturan mengenai pembuangan baterai yang rusak. Karena baterai rusak adalah limbah B3.

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.