Dengan polusi dihitung pakai CO2, Euro diterapkan, motor jadi listrik, apa bumi beneran jadi hijau? Jelas enggak


Sehubungan dengan komentar bro OeMJie, penulis tertarik membahas efektifitas adanya penerapan standar emisi Euro dan gerakan harus motor listrik.

Sekarang ini kita sebagai rider makin dikhawatirkan dengan keharusan pakai motor listrik dan standar Euro yang makin lama makin nggak masuk akal. Yang jadi sumber masalah katanya adalah greenhouse gas atau gas yang bikin efek rumah kaca, CO2. Katanya Indonesia termasuk yang peringkat nomor 6:
AIR POLLUTION AND ITS IMPLICATIONS FOR INDONESIA: CHALLENGES AND IMPERATIVES FOR CHANGE

Penulis termasuk yang skeptis tentang efektifitas pengurangan CO2 terhadap pemanasan global. Tapi dibahas paling belakang saja. Kita lihat dulu dari efektifitas solusi yang ditawarkan.

Dari grafik di atas terlihat bahwa transportasi memegang peranan sebesar 30% dari 35% = 10,5%. Dari 10,5%, kebanyakan adalah jumlah motor:
Transportasi di DKI Jakarta, Macet Masih Jadi Kendala Utama

Tentu tabel tersebut tidak memperhatikan kapasitas mesin, dimana kapasitas mesin mobil biasanya 10 kalinya motor, dan kendaraan besar bisa 20 kali kapasitas mesin motor. Belum juga ukuran kendaraannya.

Dengan membuat transportasi menjadi lebih “hijau” dengan memenuhi aturan Euro apa polusi akan berkurang?

Dari logika polusi di gambar pertama jelas tidak. Karena kan polusi yang paling dianggap serius adalah CO2. Sementara itu dari rumus kimia jelas bahwa jumlah CO2 itu tergantung bensin yang terpakai:

Keluaran CO2 akan banyak kalau kendaraannya boros. Keluaran CO2 akan sedikit kalau kendaraannya irit.

Kalau mau mengurangi polusi, maka harusnya kendaraan dibuat makin irit. Namun ironinya, menerapkan standar Euro lebih tinggi justru mengurangi efisiensi kendaraan:
WHY EURO 4 HAS RUINED ALL NEW BIKES (AND HOW YOU CAN FIX IT)

The first mod was to get a fully decatted system from the lovely guys at GPR. The catalytic converter is one of the main culprits in preventing the bike from performing properly. If you want power, go with a decat. Screw the environment! With the exhaust out of the way I was also blessed with a ten kilo saving!

Penerapan juga makin susah dan bikin motor makin mahal:
What does Euro 4 really mean?

“As emissions get more severe up to Euro 4 and then to Euro 5, the contribution of cold start emissions becomes much more significant. The emissions produced in the first 60 seconds from cold become a much larger proportion of the total emissions over the cycle. The obvious thing to do is to move the catalyst further forward because you need to get the catalyst alight and working as soon as possible. Look at cars and you’ll see the catalyst right up by the exhaust manifold. You can’t do that on a motorcycle – it kills the performance, it kills the look of the vehicle and then you’ve got thermal problems to deal with as well. So it’s not so easy on a motorcycle. You want to do it, you want to move the catalyst forward. It’s no good having an enormous catalyst in the muffler if it doesn’t light off for three or four minute – you’ve failed the test before you’ve even got the catalyst alight. There are a lot of technologies being applied to making catalysts light off as soon as possible by other strategies, other than just putting the catalyst as far forward near the engine as you can. It’s a particular problem with motorcycles.”

 

Selain itu coba perhatikan standar ganda dari Euro 4. Masa ya kendaraan boros ambangnya dibuat tinggi? Kalau mau beneran niat mengurangi, maka harusnya kendaraan boros itu justru kena penalti lebih parah. Jelas kebijakan yang aneh.

Lihat tabel berikut, bandingkan nilai ambang antara Class I dan Class III. Mengapa kok kendaraan boros dibiarkan ada? Jelas nggak masuk akal.

Category Stage Date CO HC NOx
g/km
Positive Ignition (Gasoline)
N1, Class I=1305 kg Euro 3 2000.01 2.3 0.20 0.15
Euro 4 2005.01 1.0 0.10 0.08
Euro 5 2009.09b 1.0 0.10g 0.06
N1, Class II 1305-1760 kg Euro 3 2001.01 4.17 0.25 0.18
Euro 4 2006.01 1.81 0.13 0.10
Euro 5 2010.09c 1.81 0.13h 0.075
N1, Class III >1760 kg Euro 3 2001.01 5.22 0.29 0.21
Euro 4 2006.01 2.27 0.16 0.11
Euro 5 2010.09c 2.27 0.16i 0.082
N2 Euro 5 2010.09c 2.27 0.16i 0.082
Euro 6 2015.09 2.27 0.16i 0.082

Ini kalau untuk motor:
EU: MOTORCYCLES: EMISSIONS

Euro 4 Tailpipe Emission Limits After Cold Start
Vehicle Category Vehicle category name Propulsion class CO
(g/km)
THC
(g/km)
NOx
(g/km)
PM
(g/km)
Test Cycle
L1Ae Powered cycle Positive Ignition (PI) /Compression Ignition (CI) /Hybrid 0.56 0.10 0.07 UNECE R47
L1Be Two-wheel moped PI/CI/Hybrid 1.00 0.63 0.17
L2e Three-wheel moped PI/CI/Hybrid 1.90 0.73 0.17
L3e
L4e*
L5Ae
L7Ae
• Two-wheel motorcycle w/ & w/o sidecar
• Tricycle
• Heavy on-road quad
PI/PI Hybrid, vmax<130km/h 1.14 0.38 0.07 WMTC, phase 2
PI/PI Hybrid, vmax≥130km/h 1.14 0.17 0.09
CI/Cl Hybrid 1.00 0.10 0.30 0.08
L5Be Commercial tricycle PI/PI Hybrid 2.00 0.55 0.25 UNECE R40
Cl/Cl Hybrid 1.00 0.10 0.55 0.08
L6Ae
L6Be
Light on-road quad
Light quadrimobile
PI/PI Hybrid 1.90 0.73 0.17 UNECE R47
Cl/Cl Hybrid 1.00 0.10 0.55 0.08
L7Be
L7Ce
Heavy all terrain quad
Heavy quadrimobile
PI/PI Hybrid 2.00 0.55 0.25 UNECE R40
Cl/Cl Hybrid 1.00 0.10 0.55 0.08
Note:
* Only the base two-wheel motorcycle to which the side-car is fitted must meet the appropriate emission limits.
† CI only, also if e.g. a hybrid concept includes a CI engine.

Klasifikasi untuk motor:

alternatif

 

Perhatikan juga di gambar pertama, power generation (listrik PLN) nilainya 42%, sementara itu transportasi 30%. Bila nantinya semua transportasi disuruh pakai listrik maka dari logika di atas justru malah makin parah polusinya. Jelas bertentangan kan?

 

Di gambar pertama juga ditunjukkan bahwa yang paling banyak berpengaruh untuk “polusi” CO2 itu adalah LULUCF (land use, land-use change and forestry). Intinya adalah penebangan hutan dan dimanfaatkan dianggap CO2 jadi lebih susah berkurang dan justru menambah CO2.

Padahal alasan utama penggundulan hutan itu adalah untuk pembuatan ladang kelapa sawit. Sementara kelapa sawit itu jadi bahan utama pembuatan bio solar. Jadi negara Eropa sendiri nggak mau pakai CPO Indonesia karena dianggap jadi penyebab penggundulan hutan.
Resolusi Minyak Sawit Uni Eropa & Isu Deforestasi | Indonesian Palm Oil Association (GAPKI IPOA)

Uni Eropa kembali merencanakan ancaman kepada minyak sawit Indonesia. Setelah tanggal 17 Maret 2017, pada tingkat Komite Lingkungan, Kesehatan Masyarakat dan Keamanan Pangan telah melakukan voting rekomendasi kebijakan baru yakni merencanakan pembatasan impor minyak sawit dan penghentian penggunaan minyak sawit untuk program biodiesel Eropa. Salah satu alasannya adalah proses produksi minyak sawit penyebab deforestasi.

Sementara itu di Indonesia bio solar dianggap bahan bakar hijau karena pakai sumber bahan baku tanaman dan bukan dari minyak bumi. Kalau dari gambar pertama, penggundulan hutan itu efeknya 50% dan mobil diesel mungkin sekitar 2%?

Kalau seperti itu maka keberadaan bio solar justru menambah polusi CO2.

 

Dan menurut penulis walau semua permintaan Eropa untuk menerapkan Euro sekian atau mengkonversi semua kendaraan jadi versi listrik, keadaan nggak akan berubah.

Efek rumah kaca katanya menyebabkan pemanasan global. Pemanasan global terjadi karena panas menjadi terperangkap. Siang mungkin jadi tidak terlalu panas, namun hawanya nggak enak. Malam hari juga jadi nggak dingin. Namun justru yang jadi sumber utama pemanasan global, polusi yang disebabkan pesawat terbang sampai sekarang tidak diperdulikan.

Awan yang ditimbulkan oleh pesawat yang lewat akan membuat awan rendah hilang dan awan tinggi muncul:

Padahal awan tinggi itu yang justru jadi penyebab pemanasan globa:

Dan itu bisa diukur juga:

 

Makhluk hidup juga menghasilkan CO2 juga. Lama lama program beginian akan membatasi makhluk hidup juga. Termasuk manusia.

btw, cemenite lumayan efektif untuk mengurangi efek awan penyebab pemanasan lokal, sekaligus bikin motor lebih irit. Pro capacitor fokusnya lebih ke motor, efek ke awan sedikit.

Tahunya efektif adalah siang makin panas dan malam makin dingin. Langit jadi lebih biru dari sekitar.

28 respons untuk ‘Dengan polusi dihitung pakai CO2, Euro diterapkan, motor jadi listrik, apa bumi beneran jadi hijau? Jelas enggak

  1. Power generator klo yang ramah lingkungan itu sedikit jumlah dan produsen tertentu, bisa2 kita gak kebagian listrik…. Hehehe

    Suka

    • Mungkin kebagian, tapi bakal muahal. Katanya ditawarkan swasta 2500 rupiah per kwh saja pada nggak mau. Mungkin kalau sudah mau listrik rumah bisa jadi 3 ribu rupiah per kwh.

      Suka

  2. Benar yang penulis sampaikan, menerapkan standar Euro lebih tinggi tujuan sebenarnya membuat kendaraan lebih irit, tetapi opsi yang diambil pabrikan justru mengurangi efisiensi kendaraan.

    Suka

    • Benar populasi kendaraan masalah tersendiri dari meningkatnya polusi, menurut saya tergantung dari kebijakan pemerintah, tentang syarat kendaraan yang masih layak jalan, paket upgrade emisi kendaraan tua dan spesifikasi produksi kendaraan yg boleh dijual disini misalnya:
      desain musti keren, everlasting
      mesin musti powerfull, kalo pelu semua mesin baik matik, bebek, sport pake mesin tegak 45°. Port in out termasuk valve besar dan durasi camshaft dibatasi ngak boleh retard.
      mobil >7seater body musti besar pake mesin 1000cc s/d max 1500cc,
      mobil <7seater pake mesin <1200cc
      ….dst

      Suka

      • ada apa dengan desain mesin semi tegak 45°? apakah ini desain mesin yang terbaik diantara mesin tegak lain yg sudutnya diatas 45° sampai vertikal 90°?

        Suka

      • Tergantung treknya bro.
        Dijalan datar Desain mesin semi tegak 45° punya potensi powernya dan torsi terbesar.
        Desain mesin horizontal dijalan menanjak akan membentuk sudut semi tegak, makanya banyak motor trail dipermalukan motor bebek saat trabas menanjak.

        Suka

        • Ok ini masuk akal karna mesin motor trail yg tegak macam KLX dan CRF 150 memang pake sudut 50 derajat keatas? (dari garis horisonta) sehingga jika dipake trabas nanjak dg sudut kemiringan katakanlah 30-45 derajat maka mesin yg tadinya tegak berubah jadi sudut tumpul yg bisa lebih dari 90 derajat, artinya bahan bakar yg seharusnya masuk ke ruang bakar dibantu gravitasi jadi berkurang tekanannya karna posisi karburator atau injeksi arah semburan kabut BBMnya jadi malah mendongak keatas sebelum masuk ruang bakar, jadinya motor brebet tenaga berkurang buat nanjak jadi agak loyo? Kalo begitu desain motor dengan silinder rear slanted dg posisi lubang exhaust dibelakang dan lubang intake didepan macam mesin yamaha yz250/450F lebih menguntungkan dong ketika buat nanjak?

          Suka

      • Iya. Itu harus didukung dengan bensin yang lebih bagus. Dan sepertinya bensin jadi mahal karena pertamina nggak buat sendiri.

        Yang sangat penting untuk pabrikan lokal itu adalah keawetan mesin

        Suka

  3. There are a lot of technologies being applied to making catalysts light off as soon as possible by other strategies, other than just putting the catalyst as far forward near the engine as you can.
    Apa yang penulis pahami dari kalimat tersebut?

    Suka

    • Itu hubungannya dengan aturan untuk bisa mengurangi polusi pada saat katalis masih dingin. Bila ingin katalis cepat panas, maka katalis harus dibuat lebih dekat ke moncong knalpot. Masalahnya ruang depan moncong knalpot sempit, juga kehalang radiator, dst.

      Kita bisa lihat solusi ini di motor India atau Cina, dimana katalis sudah tidak lagi di knalpot tapi di taruh di bawah bodi kalau knalpotnya panjang.

      Suka

  4. ok, sebenarnya saya mendukung kendaraan listrik namun jika opsinya spt ini:

    Power: PLTU dengan bahan bakar batubara
    Baterai: bahan tambang cobalt dengan teknologi lawas (LI-Ion/Li-Polymer)

    pesimis bisa mengurangi pemanasan global

    kalau opsinya spt ini:

    power: PLTS/PLTB/PLTA dengan daya tinggi serta efisiensi baik
    baterai: LCBs battery, atau setidaknya batrerai yg tahan suhu lingkungan tinggi

    mungkin bisa mengurangi pemanasan global

    kenapa pesawat tidak digubris karena setahu saya belum ada teknologi pengganti avtur, mungkin jika kendaraan darat (motor, mobil, bus, truk, kereta) sudah listrik semua baru dipikirkan kembali

    Suka

  5. Hahaha….
    akhirnya pancingan saya untuk memunculkan polemik ini dibahas juga. Makasih om.
    Standar euro mungkin bisa bermanfaat di eropa, tapi kita ini Asia. Harusnya aplikasi standarisasi dan teknologi itu juga harus melihat wilayah suatu negara.
    Sering saya lihat mereka (negara asing) menyebarkan standar dan teknologi mereka ke negara kita. Akhirnya, karena iklim yang berbeda, banyak alat-alat canggih dan mahal dari negara mereka yang justru secara nilai ekonomi vs pemanfaatan jadi tidak efisien.

    Belum lagi di negara mereka peraturan dan pengelolaan limbah B3 dari batre, dll sangat canggih dan mendukung. Sedangkan di negara kita, batre bisa masuk ke tanah, sungai, dll yang bisa mencemari lingkungan dan berefek ke tubuh manusia juga. Hal ini disebabkan penegakan peraturan lingkungan, pengelolaan limbah dan kesadaran masyarakat yang rendah.
    Belum lagi pembangkit yang dipakai masih berbahan bakar fosil. Kincir angin, tenaga ombak, tenaga panas laut, dll masih belum dimanfaatkan maksimal.
    Semakin banyak kita memakai alat listrik, maka pembangkit akan semakin haus energi. Otomatis butuh BBM lebih. Dan asap-asap industri tidak ada standar euro sekian dan sekian. Termasuk jasa transportasi udara.

    Intinya jika kita terlalu mengikuti standar luar, tanpa mengindahkan atau menghitung secara benar nilai “kearifan lokal”, kita hanya akan jadi mangsa mereka. Dan uang kita akan banyak terbuang untuk hal-hal yang mungkin tidak terlalu kita butuhkan.

    Jika kita benar-benar ingin energi hijau, kenapa beberapa penemu dan ilmuwan yang mengklaim bisa membuat irit BBM, atau bahkan energi dari air, energi gelombang elektromagnetik alam semesta, dll, justru nasib dan kisah hidup mereka mengenaskan? Kenapa tidak ada penelitian dan pengembangan lebih lanjut?

    Mungkin saja mereka tahu, tapi memang mereka sadar, jika energi murah dan bebas itu dikuasai banyak manusia, maka mereka yang memiliki modal dan perusahaan besar akan kolaps, karena tidak bisa menjual produk maupun teknologinya.

    Disukai oleh 1 orang

    • Benar untuk memenuhi standar emisi serta efisiensi bbm, teknologi yg digunakan diwilayah iklim tropis dan subtropis harusnya berbeda.

      Suka

    • Sip, iya, setuju. Di eropa pengembangan kendaraan listrik disertai juga dengan diskon yang disubsidi pemerintah dan pembangunan stasiun pengisian sehingga pakai kendaraan listrik jadi benar benar mudah. Rasanya masih sangat jauh untuk Indonesia bisa melakukan itu atau bahkan tidak akan mungkin pernah.

      Iya, penanganan limbah sangat penting selain itu kesadaran dan kewaspadaan terhadap bahaya dari motor listrik dan limbahnya memang sangat kurang.

      Iya, Indonesia yang kebutuhan normal listriknya saja masih kurang apalagi kalau harus ditambah konversi motor / mobil listrik.

      Suka

  6. klo saya tetep yakin, kendaraan listrik adalah masa depan kita, dan saya yakin bumi akan tambah biru coz emisi CO2 akan menurun… itu suatu saat nanti tp insyaalloh tdak sampai 50thn lg.
    cuman mmg msih ada beberapa kendala..

    asumsi mas Cahyo di tulisan di atas mmg bnr utk keadaan steady state saat ini, tp wlopun bgitu ada beberapa koreksi .
    1. Pembangkitan energi listrik dg mesin modern skrg semakin efisien.. melebihi efisiensi msin bakar di kendaraan saat ini yg sangat fluktuatif menurut kondisi setempat.
    2. Tidak ada buangan BBM saat mesin iddle… di lampu merah semua mesin mati.. gak ada BBM terbuang percuma…
    3. Nanti akan muncul teknologi baru, baterai baru, pembangkit listrik yg lebih efisien, superfast charger, Dinamo super effisien. Apalagi klo pembangkit listrik Nuklir PLTN berbahan bakar Thorium sdh bnr2 diaplikasikan, energi listrik akan sangat murah n bersih coz PLTN Thorium limbah radioaktifnya jauh lebih aman dibanding PLTN Uranium-Plutonium
    4. Panel surya super efisien… saya rasa tidak lama lagi akan muncul dg harga murah… bayangkan kita bs ngecas energi kendaraan scra gratis dg panel surya sendiri… It’s Amazing…

    5. Masih banyak peluang… percayalah…seperti komunikasi lewat smartphone yg 30thn lalu yg sgt mgkin blm ada dalam bayangan kita saat itu..

    Suka

    • Untuk masa depan mungkin juga. Tapi menunggu teknologi baterai berkembang atau paling tidak pakai yang aman dan bisa untuk segala kondisi. Kalau yang sekarang terlalu riskan dan power to weight ratio masih jelek.

      1. pembangkit listrik tidak butuh yang lebih efisien tapi yang bisa nggak pakai BBM. pembangkit listrik yang aman, murah dan efisien masih tetap jadi dilema sampai sekarang.
      2. kendaraan boros tetap saja akan memberikan polusi lebih banyak saat sudah jalan. Contoh di motor saja ISS efeknya 7%. Dan selisih 7% itu kecil kalau kita bandingkan satu motor dengan yang lain.
      3. intinya adalah baterai baru belum pernah muncul dan tidak ada perkembangan walau sudah beberapa puluh tahun. Harus diingat bahan pembuatan baterai dan motor penggerak listriknya itu dari bahan langka. teknologi perlu dibuktikan. Dan bila mahal yang harus menanggung adalah konsumen.
      4. sebenarnya tidak butuh panel surya yang lebih efisien, karena bisa digantikan dengan jumlah lebih banyak. yang lebih penting adalah penyimpanan energi atau baterainya.
      5. yang sudah terjadi juga harus kita perhatikan juga. Beda jauh dengan smartphone yang teknologinya berubah pesat, teknologi kendaraan listrik bisa dibilang tidak banyak berkembang.
      6. problem yang utama adalah apa benar global warming gara gara CO2? Kalau iya, mengapa kok bisa terjadi cuaca bisa jadi lebih ramah saat malam setelah pakai cemenite. Kan cuaca ekstrem itu katanya disebabkan oleh perubahan iklim global atau pemanasan global. Tapi kok setelah pakai cemenite cuaca langsung jadi baik? Dan ini terjadi secara lokal, dengan radius beberapa km. Jadi satu tempat hujannya ekstrem, beberapa km hujannya tidak ekstrem.

      Yang coba bukan cuma saya saja tapi ada belasan yang lain. Jadi menurut saya global warming bukan karena CO2 tapi faktor lain.

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.