Ketika review tidak lagi memperhatikan kepentingan konsumen, membahas kelemahan dianggap cari duit


Review yang membahas beberapa kelemahan dari Honda ADV 150 didelete jadi hal yang memprihatinkan.
Honda ADV150 Geger di YouTube, Pembuat Video Klarifikasi, Buka Fakta Sebenarnya

Sekitar footstep Honda ADV 150 kelihatannya logam, tapi aslinya plastik

Alasan bro Ikhsan Jumaris adalah videonya lebay. Alasan di delete dijelaskan oleh bro Kobayogas sebagai berikut (penulis gabung beberapa komentar di artikel sebelumnya):

yah intinya banyak yang salah paham.. dan tujuan bikin video itu juga udah ketauan.. Udah lah, yg punya video dua duanya juga udah retreat, paling jadi menghasilkan banyak pertanyaan.. seperti biasa akan ada yang pro ada yang kontra ..

betul sharing, untuk ditonton banyak orang kan? kasarnya nyari subscriber dan viewer. Yang gampang jaring banyak orang ya tentu yang kontroversial. Keputusan diambil sebelum dilakukan dan sudah tau resikonya.. yang jelas keputusan untuk retreat diambil tanpa paksaan APM yang terkait..

Gw gak bilang cara Ikhsan dan Proleevo salah loh, itu keputusan dan pilihan mereka sejak awal. kan itu style masing masing, style gw mah gak gitu.. buat apa nge-hits tapi haters lo banyak.

Poin poin:
– membahas kelemahan itu kontroversial
– membahas kelemahan itu bikin banyak haters
– membahas kelemahan itu cari sensasi untuk nambah viewer

Hal tersebut jelas memprihatinkan karena terkesan orang jadi lebih perduli dengan pendapat haters. Padahal jelas dalam hal ini haters tidak perduli dengan kepentingan konsumen atau lebih tepatnya calon konsumen.

Dan sepertinya poin poin di atas sudah dianggap hal yang normal. Sudah jadi mindset. Sebelumnya juga pernah ada bahasan yang sama di motoblast:
Blogger Jaman Now, berdalih Kejujuran dan keterbukaan tapi Nyinyir dan Black Campaign, apakah ujung ujungnya Duit???

kali ini motoblast sedikit membahas fenomena blogger jaman now yang menurut motoblast kayaknya sudah mulai ngawur dan memakai segala cara untuk menaiikkan trafik dalam membahas sebuah permasalahan dalam artikel yang dengan dalih kejujuran dan keterbukaan tapi malah menjadi nyinyir dan black campaign…

Inti artikel tersebut adalah bila ada orang yang membahas kelemahan produk adalah orang yang cuma ingin cari sensasi, untuk meningkatkan viewer, yang tujuannya adalah untuk menambah penghasilan. Disebut nyinyir itu bukan suatu kejujuran, bukan suatu keterbukaan.

Memang artikel membahas juga tentang bahasan negatif suatu produk dengan sumber informasi yang tidak jelas. Tapi artikel juga menyinggung tentang dosa bila orang membahas kelemahan suatu produk:

kejadian diatas adalah kejujuran dan sama halnya dengan sebuah artikel yang menulis dengan dalih kejujuran tapi malah isinya menjelekkan suatu produk… itu kejujuran atau kegoblokan dan kerendahan sebuah akhlak??

Membahas kelemahan disebut tidak berkah.

apakah anda blogger jaman now yang seperti di artikel ini? insaflah… masa mau kasih makan diri sendiri, anak atau istri dengan hasil nulis kejelekan sebuah produk ke umum dan membuat beberapa orang sakit hati dengan tulisan sampean, apa gak haram itu namanya? kecuali haram tidak jadi prioritas utama anda dalam menghindarinya,, itu lain cerita…

Padahal justru sebaliknya. Justru tidak membahas kelemahan (bila tahu) itu yang haram.

Ada anggapan bahwa orang yang mengerti agama itu tidak boleh membahas kelemahan suatu produk:

Banyak juga motoblast menjumpai seorang penulis yang memiliki blog di sebuah akun facebook dengan status seperti seorang yang sangat mengerti agama, tapi di lain waktu dia menulis hal yang bersifat nyinyir, sangat bertolak belakang dengan apa yang di tulis sebelumnya, … naah ini yang sangat membahayakan…banyak orang akan terkena imbasnya dengan orang model seperti ini karena agama saja jadi mainan dan alat agar bisa menaikkan trafik, apalagi cuma sekedar nulis tentang motor….

Dari penggunaan contoh cewek yang nggak mancung, sepertinya motoblast menggunakan referensi berikut:

Padahal sebenarnya ada alasan kuat mengapa kita harus membahas kelemahan suatu produk.
Mencoba menutupi kekurangan motor atau menolong orang menutupi kekurangan motor itu dosa

Penjelasan terutama ada dari hadis:
Di Balik Kejujuran Seorang Pedagang

Dari sahabat Abu Hurairah radhiallahu ‘anhu bahwasannya Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam pada suatu saat melewati seonggokan bahan makanan, kemudian beliau memasukkan tangannya ke dalam bahan makanan tersbeut, lalu jari-jemari beliau merasakan sesuatu yang basah, maka beliau bertanya: “Apakah ini wahai pemilik bahan makanan?” Ia menjawab: “Terkena hujan, ya Rasulullah!” Beliau bersabda: “Mengapa engkau tidak meletakkannya dibagian atas, agar dapat diketahui oleh orang, barang siapa yang mengelabuhi maka bukan dari golonganku.” (Riwayat Muslim)

“Dan tidaklah mereka berbuat curang ketika menakar dan menimbang, melainkan mereka akan ditimpa kekeringan, mahalnya biaya hidup, dan kelaliman para penguasa.” (Riwayat Ibnu Majah, Al Hakim, Al Baihaqy dan dihasankan oleh Al Albany)

Menyembunyikan Cacat Barang, Transaksi Tak Sah?

“Jika penjual dan pembeli jujur serta menjelaskan cacat barang niscaya akad jual-beli mereka diberkahi. Namun, jika keduanya berdusta serta menyembunyikan cacat barang niscaya dihapus keberkahan dari akad jual-beli mereka“.—HR Bukhari dan Muslim

“Seorang muslim adalah saudara bagi muslim lainnya, maka tidak halal ia menjual suatu barang yang terdapat cacat kepada saudaranya, melainkan ia jelaskan cacatnya“.—HR Ibnu Majah; hadist ini dishahihkan oleh Al-Albani

Resume:
Penjual wajib menjelaskan cacat barang kepada calon pembeli.

Menipu dan tidak menjelaskan cacat barang merupakan dosa besar, karena termasuk memakan harta orang lain dengan cara yang batil. Akad jual-beli barang cacat yang tidak dijelaskan penjual, statusnya sah, menurut pendapat yang paling kuat. Dan ini merupakan pendapat mayoritas ulama.

Pembeli barang cacat yang tidak dijelaskan penjual, memiliki tiga pilihan (khiyar aib):
– Tidak mengembalikan barang dan tidak minta kompensasi apa pun;
– Mengembalikan barang dan meminta kembali uangnya; atau
– Tidak mengembalikan barang, tapi meminta kompensasi untuk pengurangan nilai barang disebabkan cacat (Arsy).

Dari Al Qur’an bahasanya sebagai berikut:

“Kecelakaan besarlah bagi orang-orang yang curang, (yaitu) orang-orang yang apabila menerima takaran dari orang lain mereka minta dipenuhi, dan apabila mereka menakar atau menimbang untuk orang lain, mereka mengurangi. Tidakkah orang-orang itu yakin, bahwa sesungguhnya mereka akan dibangkitkan, pada suatu hari yang besar, (yaitu) hari (ketika) manusia berdiri menghadap Rabb semesta alam.” (Qs. Al Muthaffifin: 1-6)

Sempurnakanlah takaran dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang merugikan; (182) dan timbanglah dengan timbangan yang lurus. Dan janganlah kamu merugikan manusia pada hak-haknya dan janganlah kamu merajalela di muka bumi dengan membuat kerusakan.” (Qs. As Syu’ara’: 181-183)

Jadi kalau dari sisi agama, nyinyir (membahas kelemahan) itu adalah hal yang wajib dilakukan.

Review itu bisa dibilang sebagai cara memperkenalkan suatu barang dagangan, yang dalam hal ini adalah produk motor. Kalau kita tahu kelemahan suatu produk, jangan ditutup tutupi, karena kita jadi kepanjangan tangan dari penjual saat mereview suatu produk.

Hadis yang berkaitan dengan review adalah:
Jujur dalam Jual Beli

“tidak halal seseorang menjual suatu perdagangan, melainkan dia harus menjelaskan ciri peragangannya itu: dan tidak halal seseorang yang mengetahuinya, melainkan ia harus menjelaskannya.” (riwayat hakim dan baihaqi)

 

Kita juga bisa melihat sisi lain dari poin poin di atas:

Mengapa membahas kelemahan produk menjadi populer? Apa yang lihat ingin menjadikannya bahan debat? atau itu adalah konsumen yang beneran ingin beli motornya?

Yang memprihatikan itu adalah mengapa membahas kelemahan menyebabkan banyak hater? Hater tersebut mewakili siapa? Karena jelas membahas kelemahan itu artinya keterbukaan, membuat produk jadi halal, rejeki jadi halal. Mengapa dibenci?

Membahas kelemahan jelas bukan hal yang kontroversial. Untuk yang perduli dengan konsumen, membahas kelemahan justru adalah keharusan. Jangan dianggap bahwa membahas kelemahan itu hanya untuk cari sensasi. Perhatikan juga kebutuhan dari calon pembeli. Jangan berpikir dari sisi penjualnya saja.

 

bro Kobayogas minta penulis berkomentar artikelnya 7leopold7:
Mencermati ‘Keributan’ Atas Honda ADV 150 Yang Dituduh Overpriced

Namun ga beberapa lama mulai naik ungkapan kurang puas mengenai beberapa aspek atas motor ADV ini. Beberapa hal saya kurang setuju (terutama pada caranya mengkritik yang sebenarnya masuk ke ranah hukum dan bisa diproses oleh AHM), sementara pada beberapa hal lain nampaknya kritik yang disampaikan memang perlu dipertimbangkan oleh AHM.

hentikan cara mengkritik yang sekedar sensasional, sok jagoan.

Struktur biaya marketing yang tinggi pada satu produk sesungguhnya bisa dialokasikan untuk upgrade parts/performa motor. Invest more on product, and less on marketing.

Dengan pricing position yang lebih tinggi dan marketing yang gencar: tingkat harapan/ekspektasi juga jadi tinggi. Tingkat harapan yang lebih tinggi = lebih mudah kecewa. Ini proses yang natural. Menurut saya AHM cukup melakukan adjustment pada edisi ke dua dari ADV 150 ini nantinya.

Menurut saya review pada video tidak dilakukan secara sok jagoan.

Ok, marketing penting. Ok, produk tidak bisa sempurna. Tapi ketidak sempurnaan jangan ditutup tutupi. Baik dari salesnya, dari marketingnya maupun dari review.

Adjustment seharusnya dilakukan segera setelah cacat ditemukan. Tidak menunggu produk berikutnya, seperti yang terjadi pada gredeg PCX. Harusnya seperti recall pada produk motor yang dijual selain Indonesia.

 

Maaf bila penjelasan pakai dasar agama, karena kebetulan artikel dari motoblast menggunakan dasar agama juga.

Namun pada dasarnya adalah membahas kelemahan suatu produk itu membuat konsumen tidak rugi. Bila kita menutupi cacat suatu produk maka kita akan membuat pembeli mengalami rugi.

Bagaimana dengan penjual? Memang penulis akui ada penjual yang tidak perduli soal beginian, namun kita punya pilihan. Untuk siapakah kita melakukan review?

45 respons untuk ‘Ketika review tidak lagi memperhatikan kepentingan konsumen, membahas kelemahan dianggap cari duit

  1. Nyimak.. btw kalau gw pribadi mengungkapkan kekurangannya produk saat review adalah wajib, tentu dengan style masing masing reviewer dan diusahakan berimbang, karena suatu produk gak mungkin isinya cacat atau kurang semua bukan?? Pasti ada kelebihannya hehe…

    Gaya review atau mengungkapkan kekurangan berbeda, ada yang memilih tata bahasa yang lebih baik tanpa mengurangi arti atau esensi, ada juga yang hantam kromo alias direct membabi buta yang terkesan malah konsentrasi bahas kekurangannya doang dan kelebihannya jadi tertelan atau malah hilang sama sekali ..

    Dan cara terakhir itu jangan salah, banyak disukai orang dan menyedot orang buat baca atau nonton.

    Apalagi kalau yg dibahas merupakan produk kompetitor (dari sisi manapun akan sama, fans boy nya tepok tangan)..

    Suka

      • Yak, menurut Gw begitu, jangan kan gaya direct, yang bakal pasti yaken terjamen dicap condong ke satu merek.

        Lah membeberkan kekurangan dengan tata bahasa halus aja masih kena cap condong dan dianggap usaha menjatuhkan saingan kok..

        Netizen yang boediman gitu loh 😆😆

        Suka

      • Saya kira membahas kelemahan ato kekurangan itu sebenarnya suatu keharusan, bagi seorang reviewer
        Pembahasan kelebihan jelas tujuannya adalah agar brg dgangan trsbut bisa laku,
        Tpi yg trjadi dlm pembahsan kelemahan sbuah produk, tujuannya bisa bermcam2, penjatuhan suatu produk ato bikin suati produk jadi g laku, ato skedar memberikan informasi dan pengetahuan…kdg hal ini bisa diketahui dari gaya dan cara mereview produk tersebut…
        Saya bisa katakan bahwa reviewer yg melebih2kan kelebihan suatu produk itu melakukan pembodohan, dan saya juga bisa mengatakan bahwa reviewer yg melebih2kan kekurangan suatu produk itu juga melakukan pembodohan informasi produk. Sy kira sbgau konsumen kita bisa netral ato condong ingin ikut yg mana….
        Kdg brg sudah ditangan, mau dilepas kok rasanya eman2 mengapa kita tdk mengenal lebih baik produk tersbut dengan mengetahui kelebihan dan kekurangan produk tersebut? Kdg hal yg belebih2an dan lebay itu menyebalkan….contoh kasus ini…

        Suka

        • ha ha, padahal lagi pingin omong itu juga, bahwa review pun bisa jadi yang sensional kalau pakai kata kata bombastis. Untuk netral itu susah kalau nggak punya pengalaman.

          Untuk yang sudah punya, review negatif kalau sudah sama sama tahu mungkin menyebalkan. Tapi harus ingat jangan sampai orang yang sama sama beli kemudian merasa tertipu karena tidak diberitahu.

          Suka

          • Makanya kadg dalam berbahasa dan memilih sebuah konsep kata2 kdg sangt perlu diperhatikan trutama bagi reviewer, yg saya liat kebanyakan vlooger ato motovlooger lokal cenderung lebay dan melebih2kan dalam review, ya meskipun reviewer luaran kebanyakan juga seperti, entah itu kekurangan ato kelebihan suatu produk, mgkin memang tujuannya agar menarik n banyak viewer, maka g heran akhirnya byk yg nyinyir ato memberikan tanggapan negatif, entah itu hater, fb ato konsumen sejati toh nyatanya kita g tau, smua org bisa aku2 independen mski juga smua org juga bisa aku2 sbagai antek2 pabrikan…yach dinikmati aja rame2 macam ini, Yg dah trlanjur beli dinikmati aja produknya…bagi yang ingin ato g ksampaian y mgkin blm rejeki, nikmati aja yg sdh ada…

            Suka

    • Mang kobay ayo dong bikin artikel tandingan, masa kalah sama iwb, saya geregetan pengen baca juga sudut pandang mang kobay, kalo bisa artikelnya yg panjang mang 😁

      Suka

  2. The point is simple, “YOU STAND ON THE SIDE OF THE CONSUMER OR YOU STAND ON THE SIDE OF THE MANUFACTURER?!?”

    Suka

  3. lantaran videonya viral, maka sang uploader (mungkin bisa jadi) merasa “takut”, karena mendapat intervensi dari sana sini, dapet cemoohan, atau parah2nya akun youtubenya di blokir, kalo cuma di blokir mungkin masih bisa lagi bikin baru, tapi gimana jika andaikata mendapat ancaman pidana dari pihak yg tidal suka karena dituduh mencemarkan nama baik?

    Suka

  4. Kelebihan produk mah ga akan mungkin tenggelam cuma karena review jujur negatif 10 orang bloger/vloger apalagi satu orang.

    Krn yg namanya kelebihan produk sudah pasti gaung, publikasi & pembahasannya JAUH lebih masif, gencar, sering, dan bermodal, datang dari segala penjuru dgn frekuensi tak terbatas:
    -Iklan pabrikan sendiri
    -Review bayaran penerima sponsor
    -Press release media, liputan otomotif & artikel di portal-portal berita
    -Die hard fans merk tsb, via komen, sharing, posting, ribut2an

    Yg ksemuanya resourscenya jauh lebih byk & kaya dari yg bahas REAL soal kekurangan.

    Percayalah klo ngomongin sisi positif mah udah ga kurang2, smpe mual dijejelin ‘keren, mantap jas, jes, jos’

    Jadi justru yg lebih berfaedah buat calon konsumen adalah bahasan ttg kekurangan produk, jadi calon pembeli bisa expect kemungkinan terburuknya apa saat dia putuskan utk kuras tabungan utk pilih produk ini & pke brtahun tahun. Dgn tidak overespektasi krn selalu dibanjiri informasi manisnya saja, dia bisa terhindar dari buyer remorse.

    Hak reviewer pula jika dia mau bikin review kelemahan saja atau kelebihan saja dari suatu produk secara terpisah, ga ada undang2nya review harus baik & buruk harus berimbang.

    Klo memang produk banyakan jeleknya masak mau dibagus2in biar imbang?

    Coba deh review produk first travel, harus berimbang ya positif sama negatifnya, hebat juga klo bisa berimbang.

    Suka

    • Jadi….
      Berimbang itu ada motifnya juga?
      Mungkin biar kanan kiri oke?

      Naghh…. Jangan lupa untuk selalu kasih tanda tanya di akhir opini (nyontoh politikus kemarin sih) hihihi

      Suka

    • Klo gak salah lihat, pcx lokal sudah sewirawiri aerokxz (di jangkauan saya sih). Bisa jadi lebih.

      Suka

  5. Pengalaman pribadi, waktu mau nyari mobil bekas walaupun akhirnya ga jadi beli. Waktu itu saya sudah ada inceran mobil merk dan type tertentu buatan tahun sekian…
    Yang saya lakukan pertama kali adalah menyiapkan anggaran sesuai harga pasaran mobkas tersebut.
    Hal kedua yang saya lakukan adalah bertanya pada teman dan browsing sebanyak2nya KELEMAHAN & KEKURANGAN mobil type itu.
    Masih ada yang tidak suka dengan review versi kekurangan? Bagi saya reviwer tersebut sangat menolong, saya jadi tahu penyakit apa saja yang biasa terjadi di mobil itu, dan tentunya jadi lebih siap seandainya jadi beli.
    Saya sih yakin aja kalau para haters yang menyerbu reviewers tersebut hanyalah pasukan nasi bungkus bayaran pihak tertentu.

    Suka

      • Coba review ketersediaan, harga dan keawetan sparepart, soalnya banyak yg promosi klo semakin banyak dilernya semakin mudah dan murah sparepartnya. Padahal pengalaman nggak. Pakai motor yang laris manis sparepartnya susah, mahal, dan gak awet.

        Suka

        • Susah juga buat review karena sebelumnya nggak mencatat. Tapi yang jelas pakai spare part spedo asli pun nggak awet. Motor masih 25 ribu km, sudah ganti part 3 kali. Padahal nggak dipakai kencang. Lainnya cuma omongan dari yang punya bengkel yang bilang sparepart fast moving itu justru langka.

          Suka

      • Memang itu tujuannya, akhirnya saya ngerti mobil itu daftar penyakitnya a, b, c, dst. Tapi saya siap karena dgn harga sekian itu dikompensasi dgn KELEBIHAN yg dimilki.
        Ini yg harus dimengerti, tidak semua review “negatif” akan berefek negatif pula, tidak jarang hasilnya justru positif. Misalnya jok keras, kalau saya ga masalah, tinggal ganti busa beres. Biaya yg dikeluarkan bisa dikompensasi dgn kelebihan lain (masih acceptable) misalnya shock empuk, apalagi model yg ganteng maksimal, itu aja sih simpelnya

        Suka

  6. saat ini banyak seperti kebakaran jenggot sat apa yg direview beda dengan review orang lain. Muncullah counter attack. Paling tidak itu membuka identitas sendiri.
    klo Memang beda hasil ya GA masalah lah.
    bahasa review sopan itu lebih banyak tafsir dibandingkan apa adanya, ga perlu contohlah. Cari saja artikel review.

    Suka

  7. komennya ngelantur sana sini ribet bla…bla…typikal orang2 berpolitik dan birokrat yang ribet birokrasinya dan “sok diplomatis”, tetep . . . , pada akhirnya kembali kepada dua hal saja :

    1. Kalian berdiri di pihak Pabrikan? atau . . .
    2. Kalian berdiri di pihak Konsumen?

    Suka

      • ya simple tanda “???” adalah artinya kalimat tanya, pelajaran SD Bahasa Indonesia itu, kalo responden diam maka boleh dong tentunya, sang penanya berasumsi sesuai pikiran mereka sendiri 🙂

        Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.