Ini fakta bahwa motor bukan penyumbang polusi terbesar, jangan malah disuruh ganti


Entah mengapa kalau sudah ngomong soal polusi itu pengendara motor yang jadi kambing hitam. Dipikir dengan menyuruh orang nggak pakai motor masalah polusi bisa jauh berkurang. Ini ada contoh lagi:
Kualitas Udara Buruk, Jangan Sering Naik Kendaraan Pribadi!

founder Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), Jusri Pulubuhu mengimbau kepada pengendara motor agar jangan terlalu sering beraktivitas. Sebab seperti diketahui, asap dari sepeda motor menyumbang sekitar 44 persen polusi udara di DKI Jakarta.

“Khususnya pengendara motor, kalau nggak penting-penting amat, nggak usah mengendarai motor. Kalau ada pilihan transportasi publik yang nyaman di jalur yang ingin dilewati, gunakan aja. Ini juga berlaku untuk pengguna mobil. Jadi mereka bisa hindari bawa mobil pribadi dan sharing dengan orang lain, bisa teman, tetangga, atau keluarga, saat mau berpergian. Jadi satu mobil bisa terisi penuh oleh penumpang. Intinya kita melakukan gerakan mengurangi jumlah kendaraan di jalan,” pungkasnya.

Yang berikut ini juga sama:
Efek Ganjil-Genap, Jangan Sampai Pengguna Mobil Migrasi ke Motor

Pendapat ini didukung kajian ilmiah yang dilakukan Komite Penghapusan Bensin Bertimbal (KPBB). Menurut Direktur Eksekutif KPBB, Ahmad Safrudin, motor jadi kendaraan paling banyak mengeluarkan polusi.

“Hasil kajian kami, sepeda motor itu penyumbang emisi tertinggi sampai 44,53 persen, mobil pribadi hanya 16 persen, dan bus 21 persen, karena memang masih banyak juga bus yang pakai solar,” terang Safrudin.

Maka dari itu, Kepala Badan Pengelola Transportasi Jabodetabek (BPTJ) Bambang Prihartono menyarankan bahwa kebijakan ganjil-genap semestinya tak harus diterapkan dalam jangka waktu yang lama, supaya tidak banyak orang yang beralih ke kendaraan roda dua.

Bisa simak hal yang janggal?

1. Dianggap orang naik motor itu tidak untuk tujuan penting. Apa dipikir kerja, sekolah, belanja, dll itu nggak penting? Nggak semua orang itu naik motor untuk keperluan hobi dan main main saja. Ada yang hajat hidup bergantung pada naik motor.

2. Yang difokuskan adalah mengurangi jumlah kendaraan di jalan. Apa dipikir mobil yang dinaiki dua atau tiga orang itu polusinya lebih kecil dari motor yang dinaiki satu orang? Apalagi dibandingkan dengan motor yang dinaiki dua orang.

3. Mengapa kok takut semua orang beralih naik motor? Apa dipikir naik mobil pribadi itu lebih sedikit polusinya?

4. Mengapa penelitian kok menghitung total tanpa menghitung jumlah orangnya? Mengapa tidak dihitung berdasarkan polusi tiap orangnya kalau mereka menggunakan alat transportasi tertentu?

Tapi sayangnya seperti itu pola pikir yang lebih memasyarakat.

Perhatikan bahwa kalau di barat, polusi itu dihitung berdasarkan konsumsi bahan bakar.
How to Calculate Carbon Emission

Calculate your carbon emissions from driving your vehicle. Estimate the total number of miles you drive per month and then divide this number by the total miles per gallon your car gets. This number will be the total gallons of gas you use in a month. Multiply that number by 19.4 pounds of carbon to get your total carbon emissions from driving.

Nah sekarang, kendaraan apa yang paling irit?

Jelas bukan mobil 2000 cc.

Dan penelitian di Vietnam juga membuktikan hal ini. Penulis nggak pakai data India karena mobil cuma 60% lebih irit dari motor, mungkin karena keberadaan mobil 600 cc, nggak sesuai Indonesia. Sementara data Vietnam 2,5 kali. Lebih sesuai dengan Indonesia.

Ini angkanya:
Transport and Carbon Dioxide Emissions: Forecasts, Options Analysis, and EvaluationLee Schipper, Herbert Fabian, and James Leather, No. 9 | December 2009

Dari data tersebut terlihat bahwa motor justru yang polusinya paling kecil bila angkanya dibagi per kilometer per orang. Yang mengejutkan, bis angkanya cukup besar juga. Mungkin karena pemakaian bus tidak efektif, lebih banyak kosong atau terisi sedikit.

Kalau semua orang naik angkutan umum. Apa pemerintah bisa menjamin transportasi umum bisa efisien dan nggak banyak kosongnya? Kalau motor dilarang, dan semua orang naik mobil atau angkutan umum apa pemerintah siap dengan lonjakan pemakaian jalan?

Kalau pakai acuan itu, walau mungkin secara total polusi motor termasuk paling banyak, tapi kalau semua orang naik mobil maka bakal lebih parah polusinya.

Penulis sendiri nggak perduli polusi CO2, tapi lihat diskriminasi kok jengkel juga.

14 respons untuk ‘Ini fakta bahwa motor bukan penyumbang polusi terbesar, jangan malah disuruh ganti

  1. Baik pengguna motor atau mobil sebaiknya bila tinggal di kota besar beralihlah ke moda transportasi massal seperti negara – negara maju. Jepang produsen mobil dan motor tapi warganya banyak pake moda transportasi massal.

    Suka

    • Mestilah dilihat juga bahwa kebiasaan orang Indonesia yang ada di kota besar itu tinggalnya di area suburban bukan di area urban-nya jadi kalau hanya meningkatkan dan membenahi transportasi di area urban tidak akan mengurangi masalah polusi, karena dari rumah ke titik transportasi terdekat banyak yang memilih naik kendaraan pribadi, atau malah sekalian saja naik kendaraan pribadi sampai ke tujuan di area urban. Pembuatan trotoar yang benar dengan fungsinya sebagai tempat berjalan kaki juga diperlukan karena untuk berpindah antar moda transportasi umum ya harus jalan kaki di bagian ini justru cetak biru rencana pemerintah dan agenda politiknya tidak kelihatan…malah trotoar mau dipakai untuk jualan kaki lima segala…

      Suka

      • Yang belum siap itu kemauan untuk jalan ke terminal atau lokasi berhentinya angkutan umum. Terus di masa depan tempat berhenti angkutan umum apa bisa seenaknya seperti sekarang. Kalau harus ke terminal, apa terminal cukup tempat parkirnya? Tetap jadi masalah.

        Trotoar juga perlu dipertanyakan. Kalau nggak guna, mengapa harus dibuat lebar dan makan badan jalan?

        Suka

    • belum tentu efektif juga, kalau jam kerja seperti pabrik misalnya masuk jam 7:30 naik angkutan umum jelas tidak efisien, selain telat jga ya waktu berangkat bisa sebelum sholat subuh.

      Drpd itu bagaimana jg dengan industri dan limbah nya?

      Suka

      • Kalau masa paceklik listrik datang (karena jaman mobil harus ngecharge), bisa jadi orang bakal dilarang datang kantor lebih awal ([karena dianggap pemborosan listrik). Padahal kalau lihat solusi yang dianjurkan (dilarang pakai motor), macet bakal makin parah.

        Suka

  2. Diskriminasi untuk motor?
    Setuju
    Coba aja kalau ada razia, dengan kondisi jalananan sedang, normal, jarang banget angkot ato mobil diberhentikan. Lebih sering motor.
    Soalnya kalau mobil yang diberhentikan, akan mengganggu kelancaran jalan

    Padahal, pengemudi R4 atau lebih, yang gak punya sim ato bawa STNK, selama cara bawanya aman aja, mobil dan muatan tidak mencurigakan, di jalur normal (sedang), pasti akan aman dari setopan razia. Dan banyak supir-supir plat kuning justru gak punya/gak bawa surat-surat kendaraan lengkap. Rata-rata supir tembakan. Pengemudi R4 juga banyak yg gak punya SIM.

    Hehehe…..
    Itu dari pengalaman pribadi naik motor, atopun saat bawa mobil dan naik mobil (disupirin).
    Fakta memang menyakitkan mamen

    Disukai oleh 1 orang

    • iya betul juga, gw pernah disupirin orang dr Bekasi ke Kota lain beda provinsi padhal ybs SIM nya udh wafat. Tp tetep aman aja. Klo mobil asal gak ada rotator, sirine dan plat nomor std gak macem2 dan bawa kalem sih di jamin aman.

      Suka

  3. Saya selalu curiga dengan metode pengukurannya yang tidak akurat, pernah lihat sih beberapa waktu sebelum kebijakan ganjil genap diberlakukan di area kramat raya pihak dishub beserta pihak ketiga terkait memantau dengan semacam alat di perempatan senen kemudian melakukan pengukuran pas di titik dekat lampu lalu lintas baik saat lalu lintas berhenti maupun saat lalu lintas bergerak. Tentu disaat padat seperti itu jumlah motor akan lebih banyak karena secara ruang lebih efisien dibanding mobil. Jadi perbandingannya kalau ruang di perempatan senen itu dianggap sebuah kotak misalnya, maka kotak itu hanya muat diisi 20 mobil sementara diantara 20 mobil itu ada 60 sepeda motor. Lalu gampang saja disimpulkan motor lebih polutif karena emisi 20 vs emisi 60. Padahal baik diam maupun jalan selama mesinnya masih hidup semua kendaraan pastilah menghasilkan emisi gas buang dan itu terjadi selama perjalanan dari satu titik ke titik yang lain tidak bisa hanya diukur di salah satu titik di antara kedua titik tersebut. Sama seperti indikator average fuel consumption di kendaraan apakah angkanya akan konstan saat kita kendarai? Ataukah berubah sepanjang kondisi perjalanan yang kita lalui? Kita baru tahu angka akhirnya kalau kita sudah sampai titik tujuan bukan? Kalau lancar average fuel consumption akan lebih baik dibanding jika sering macet. Kalau mau mengukur polusi berdasarkan emisi ya pasang alatnya di ujung knalpot mobil dan motor cek hasilnya ketika sudah sampai tujuan, perhatikan kecepatan rata-rata kendaraan tersebut di jalan dan panjang perjalanan yang dilalui serta waktu tempuhnya baru kita bisa tahu berapa besar emisi polusi kendaraan tersebut.

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.