Suspensi yang bagus ternyata nggak butuh pakai setelan rebound atau compression


Orang punya banyak pendapat tentang bagaimana suspensi yang ideal. Seperti contohnya bro Oreo yang berkomentar seperti ini:

ga ada shock atau pun kendaraan yg bisa/cocok dipakai disemua medan. kalau nyaman di highspeed, (biasanya) ga nyaman di lowspeed… harus ada yg dikalahin….

Untuk Shock Ohlins (dan saya yakin dengan Shockbreaker mid-high lainnya) juga ada ‘range’ kenyamanannya… kita mau setting buat apa, dimana… semakin banyak item yg bisa disetting (preload, compresion rebound dll) makin akurat hasil yg dapat dicapai (klo bisa ngerasain/ngebedain), berbanding lurus juga dengan kesulitan men-setting nya…

jadi jangan berharap, tanpa rubah settingan bisa nyaman di aspal mulus dan nyaman di jalan kasar…kalau om bisa nyaman dengan 1 settingan shock, berarti trek / jalanan yg dilalui memang masih dalam range nyaman shock tsb

Dari komentar tersebut terkesan suspensi dengan setelan banyak itu paling ok (berarti suspensi Ohlins nggak ok karena setelan cuma separuh). Juga diasumsi bahwa suspensi itu cuma bisa disetel enak di satu situasi saja. Untuk bisa nyaman di situasi berbeda butuh ganti setelan.

Sepertinya banyak yang berpendapat seperti ini. Malah bisa jadi semua penjual suspensi punya pendapat seperti ini. Mereka kan sering bilang bahwa makin banyak setelan makin bagus. Pakai semboyang “harga memang nggak bohong” atau “mau yang paling sip ya yang paling mahal”, dst. Tapi penulis tidak setuju.

Mungkin memang benar ada suspensi seperti yang harus disetel dulu biar enak dalam satu situasi. Namun ada juga suspensi tetap nyaman dalam kondisi bagaimanapun walau tanpa dirubah lagi setelannya.

Sebelumnya penuls sudah membahas bahwa hal yang harus disesuaikan pertama kali untuk suspensi adalah per atau spring ratenya.
Suspensi itu terdiri dari per dan penghambat gerakan suspensi
Beda cara menyetel suspensi YSS lokal dengan di Amerika, yang vital di Amerika, dicueki di Indonesia
Ciri suspensi bagus itu mudah diketahui dari tujuannya, nggak perlu tabung, nggak harus mahal

Spring rate atau kerasnya per merupakan faktor yang penting. Spring rate harus disesuaikan dengan berat badan pengendara atau sesuai dengan pemakaiannya. Setelah spring rate ketemu baru disesuaikan hambatan shockbreakernya.

Hambatan shock breaker ini ada nilai idealnya. Bukan dari setelan click dari rebound atau compression, tapi dari profil hambatan shock breakernya. Berikut contoh profil hambatan suspensi:
Translating shock dynos to real world behavior

Itu grafik perbandingan antara nilai hambatan suspensi dengan kecepatan pergerakan suspensi.

Terlihat bahwa grafiknya sangat kompleks. Sementara itu setelan yang disediakan cuma sedikit. Untuk kompresi cuma ada satu, rebound ada dua, padahal itu suspensi yang setelannya paling komplit:

Lebih mudah bila menganalogikan nilai hambatan suspensi seperti audio equalizer. Jadi seperti membandingkan kendali suara yang cuma ada volume, bass dan treeble:

Dengan 10 band equalizer:

Tentu 10 band equalizer yang lebih mantap. Tapi kan mustahil kasih 10 setelan di suspensi kan? Oleh karena itu fungsi suspension tuner jadi penting.

Hal ini dijelaskan juga oleh Shaikh dari Suspension Truth berikut:

Ia adalah pemilik bengkel suspensi yang berani diadu dengan suspensinya mobil BMW, Ferrari, Prosche, Lamborghini, dst. Juga lawan Ohlin:
The Miata Suspension – A Quest for Truth

Dijelaskan pada 2 video tersebut bahwa setelan dari suspensi bisa saja tidak merubah yang kita inginkan. Atau bisa saja bisa memberikan apa yang kita inginkan hanya pada situasi tertentu saja. Ini karena dengan setelan yang sedikit, nilai yang lain juga ikut berubah walau itu tidak kita inginkan.

Gampangannya kalau pakai contoh audio. Kita ingin treeble terdengar lebih jelas. Tapi saat diputar setelan treeble, suara penyanyinya jadi terdengar cempreng atau terlalu keras. Tapi kalau suara penyanyi dipelankan, treeblenya jadi kurang sip. Serba dilema dan inilah keterbatasan setelan dari suspensi. Hanya bisa pas di satu situasi dan harus disetel lagi untuk situasi yang lain. Kadang malah setelan jadi mubazir ketika kita tidak bisa dapat yang dibutuhkan.

Setelan juga disebut kadang kurang presisi. Misal disetel 2 click terlalu empuk, disetel 3 click terlalu keras.

 

Setelan itu katanya nggak perlu. Kalau setelan suspensi sudah pas, nggak perlu disetel setel lagi. Kalau sudah pas, baik kenyamanan, handling maupun grip bisa lebih baik dalam kondisi jalan apapun. Untuk balapan (level nasional Amerika) di sirkuit maupun di offroad. Dan ini terjadi pada kendaraannya sendiri atau kendaraan konsumennya.

Suspensi dibiarkan saja tanpa dirubah apa apa saat dipakai dalam banyak kondisi, bahkan termasuk balapan di offroad atau sirkuit.

Untuk bisa bikin mobil kencang suspensi itu nggak harus keras. Tapi harus pas. Dan suspensi dari mobil sport (keluaran dari pabrikan) itu kadang justru terlalu berlebihan kerasnya sehingga harus disetel lagi. Setelah disetel pas, selain handling jauh lebih bagus, kenyamanan juga bisa meningkat. Dan setelah itu tidak perlu nyetel suspensi lagi. Ini juga diterapkan bahkan pada pembalap profesional:
THE ANSR! Deana’s Thoughts after the 2017 Solo National Championships

The FCM Elite KBO and Ripple Reducer-equipped Bilstein dampers for their ND Miata have *no* damping adjustment! We’ve worked our ‘magic’ so you can get maximum grip and excellent control without needing to fiddle with knobs.

Berikut ini contoh pelanggannya, yang bilang setelah dimodif suspensi mobil bisa jadi lebih kencang di lintasan tapi saat dipakai istri malah dipuji lebih halus dan lebih nyaman.

btw harga nyetel skok versi FCM::
– rubah nilai compression, rebound dan tekanan gas = $325 per skok
– tambah pengurang ripple = $110 per skok
– Kerb Blow-Off valve = $400 per skok

Untuk nyetel nilai hambatan suspensi per satu skok saja setara dengan harga satu set shock breaker YSS DTG untuk mobil Kijang Innova.

 

Kesimpulannya, kalau suspensinya sudah nggak pas, percuma ada setelan. Malah buang buang duit.

Ini penulis setuju. Kalau suspensi sudah punya bakat nggak nyaman, ada setelannya pun percuma. Karena bakal tetap saja tidak nyaman. Handling juga belum tentu lebih baik.

Berikut alamat untuk tuner suspensi lokal”
Suspension tuner lokal nggak punya shock breaker dyno?

 

Yang penulis alami juga begitu. Memang penulis cuma membandingkan sedikit, yaitu suspensi standar Suzuki Spin, Suzuki Nex II dan Honda Beat eSP. Lalu suspensi aftermarketnya YSS DTG, DBS tanpa tabung dan DBS dengan tabung.

Dalam kondisi standar dan masih fungsi, punya Suzuki Spin terasa agak keras daripada punya Beat. Paling terasa ketika lewat polisi tidur. Namun kenyamanan di jalan tidak rata, apalagi kalau dipakai kencang jauh lebih unggul Spin.

Suspensi Honda Beat itu sama sekali nggak enak kalau dipakai kencang. Dalam kondisi motor masih km sedikit, saat dibawa kencang laju motor kadang terasa terhambat oleh gerakan suspensi belakang. Enaknya cuma waktu dibuat melibas polisi tidur. Dan sayangnya ini yang jadi senjatanya para reviewer. Kontras banget dengan di Suzuki Spin.

Suzuki Nex II itu empuk. Tapi suspensinya terasa sporty. Cuma nyaman kalau dipakai boncengan. Untuk dipakai sendirian nggak enak. Belum lagi hambatan rebound yang sepertinya terlalu kecil.

Suspensi Honda Beat terasa jauh lebih nyaman ketika berpindah dari aslinya ke YSS DTG. Drastis. Motor jadi anteng dan stabil. Nyaman di banyak kondisi. Dibanding standar kenyamanan meningkat jauh di berbagai kecepatan. Lebih nyaman di jalan mulus ataupun nggak rata.

Suspensi Suzuki Spin jadi beda rasanya ketika berpindah dari aslinya ke YSS DTG. Ada kondisi yang sama nyamannya. Ada kondisi yang sebelumnya lebih nyaman, atau sebelumnya lebih tidak enak. Ada perbedaan karakter. Untuk handling penulis lebih pilih YSS DTG.

Honda Beat eSP jadi lebih tidak nyaman ketika pindah dari YSS DTG ke DBS tanpa tabung. Terutama di bump. Tapi tetap jauh lebih nyaman dari suspensi aslinya. Per DBS tanpa tabung terasa kurang keras sehingga harus pakai preload sampai habis. Hambatan suspensi juga terasa kurang besar / terlalu ngeslong.

Suzuki Nex II menjadi jauh lebih nyaman dan stabil ketika pindah ke DBS dengan tabung. Apalagi karena alasan penggantian adalah suspensi sudah soak (baru 6 ribu km). Di bump pun terasa nyaman. Lagi lagi per DBS terlalu empuk. Motor menjadi lebih nyaman ketika preload disetel sebanyak DBS tanpa tabung.

Dari sisi kenyamanan suspensi DBS dengan tabung hampir mendekati suspensi YSS DTG. YSS DTG terbaik dari yang penulis pernah coba. Sayangnya suspensi YSS DTG kadang jadi kacau saat tekanan ban terlalu keras. Jadi seperti loss. Bisa kembali normal ketika suspensi di gerakkan maksimal beberapa kali.

 

Menurut penulis walau tanpa setelan shock breaker (cuma ada preload) baik suspensi DBS dengan tabung dan suspensi YSS DTG sudah memuaskan. Penulis tidak yakin kedua suspensi akan lebih nyaman bila ada setelan.

Lagipula dari artikel sebelumnya juga sudah jelas bahwa banyak yang mengeluh suspensi dengan setelan banyak itu tidak nyaman. Penyebabnya terutama karena kerasnya per nggak manusiawi. Kalau kondisinya seperti ini, percuma mengeluarkan uang lebih demi membeli suspensi yang ada setelannya. Ini juga jelas membuktikan bahwa kenyamanan tidak bergantung pada ada atau tidaknya setelan.

Jadi kalau mau coba coba suspensi, beli yang tanpa setelan dulu. Kalau yang tanpa setelan nggak terasa enak, nggak usah beli yang versi pakai setelan. Percuma.

Yang penting pastikan per nya sesuai dengan motor atau berat rider atau kebutuhan. Setelan preload tetap penting.

11 respons untuk ‘Suspensi yang bagus ternyata nggak butuh pakai setelan rebound atau compression

    • Suspensi sendiri ada yang tingkat kekerasannya cuma atau atau ada yang sampai 3 seperti di PCX. Tapi ini tidak merubah hambatan dari suspensi. Jadi preload juga tidak merubah ini walau sudah pakai elektronik.

      Suka

  1. Shock motor saya mah gak ada yang enak kalau lewat polisi tidur meski sudah ada setelan-nya tapi cukup-sangat baik di kondisi jalan bumpy dan rata….yang salah sih polisi tidur-nya karena sering gak standar bentuk dan wujudnya…mungkin faktor itu yang penting untuk penjual shock di Indonesia gimana bikin shock yang enak buat lewat poldur karena jumlah dan ragam bentuknya yang luar biasa….:-D

    Suka

    • Iya, memang kebanyakan skok tidak dirancang untuk enak lewat polisi tidur. Mungkin karena pertimbangan harga. Sehingga aneh ketika polisi tidur jadi acuan kemampuan suspensi. Dan memang polisi tidur kita inovatif 🙂

      Suka

  2. Suspensi yg bagus itu bukan yg mahal tapi yg ga perlu disetel.. Mw jalan mulus atawa makadam dia kalem aja.. Kalo yg minta disetel2 mah buang waktu, uang, tenaga.. Yah malah ngeblangsakin..

    Suka

  3. om cahyo mau nanya dong klo misal shock skywave kan aslinya dual shock,
    nah trus klo saya beli satu biji aja trus saya pasang ke mio misalnya, apa bakal oke atau malah nggk enak?

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.