Back to the future, data jaman eco racing masih model cair masih dipakai sampai sekarang


Sebelumnya penulis sempat nyeletuk bahwa ada kemungkinan data yang dipakai untuk unjuk kemampuan eco racing itu bisa jadi data lama. Dan rupanya memang benar seperti itu. Informasi penulis temukan di halaman resmi sinergy world archive tahun 2017:

Gambar pada website punya resolusi tinggi sekali:

Jadi kelihatan yang unik unik:

Seperti nisal beda font:

Penempatan nama produk yang tidak pas:

zoom:

Atau perbedaan nama:

detilnya:

 

btw dari hasil uji dyno tersebut di Beat naik 3,4 %, di KLX naik 10%, di SLK naik 2%, di fortuner naik 1,6%. Ditunjukkan ada kenaikan tenaga.

 

Di atas disebut dyno pakai DBS Pro. Itu barangnya seperti berikut ini:

Kita bisa melihat contoh testimoni seorang pembalap yang kebetulan nama panjangnya sama persis dengan CEOnya eco racing. Tidak usah dihiraukan posisi 5 nya kosong:

btw, ia benar urutan ke 1 di kelas EXE A. Berikut daftar campuran EXE PRO dan EXE A:
Hasil QTT Kejurnas Motocross 2015 Seri 2 Purwokerto

 

Ia pada saat itu menggunakan 2 ml eco racing untuk tiap 1 liter pertamax plus:

Mungkin ini semacam dengan saat CEO eco racing pakai pertamax turbo dan eco racing di mobil Lamborghininya:
Bos eco racing sendiri ternyata nggak berani pakai bensin oktan rendah di Lamborghininya

Lepas dari itu, barang yang sama juga terlihat pada testimoni supervisor gojek Bandung:

Juga testimoni berikut ini:

Namun mungkin yang paling pas itu saat motor didyno oleh motorplus:

Ada peningkatan tenaga:

Berikut lebih lengkap. Yang penulis beri garis hijau abaikan saja, itu cuma untuk catatan.

Nggak usah dipelototin, yang versi online masih ada kok. Jelas disebut itu eco racing model cairan:
Bensin Pertamax Lawan Premium Oplosan

Eco Racing yang merupakan merek dari cairan oplosan tadi. Per kemasannya isi 10 ml seharga Rp 25 ribu.

Sepertinya memang di eco racing, cerita lama dipergunakan kembali menjadi salah satu tema. Tidak hanya produk, bahkan orang pun demikian. Seperti contoh cerita sukses dari rendu sekti wibowo. Ia menyebutkan dengan fokus di sinergy world, dan tidak bekerja sama sekali, ia sukses bisa mempunyai mobil sport sendiri:

Ia sebelumnya sempat disebut menjadi member DBS yang paling sukses:

Dipuji sebagai orang dengan pasif income yang sukses.

Rupanya kuncinya sukses di MLM adalah menjadi member yang awal. Dan bila melihat yang berikut ini, sepertinya memang begitu:
PROFIL PERUSAHAAN PT. DUTA FUTURE INTERNASIONAL

Ada kabar ia adalah adik dari CEO:

Walau ada member terkenal yang menyebut eco racing bukan MLM. Sekarang ini eco racing telah resmi menjadi anggota dari lembaga pewadah MLM:

Walau secara APLI, eco racing itu termasuk skema piramida:

Resep berubah juga diterangkan oleh Ridwan Soleh Suriadi Nata:

Ridwan Soleh Suriadi Nata: Yg di luar negeri udah ada testimoninya belum? Yg box nya pake aksara Arab beneran dipake di sana apa gak? Dulu pernah ada gosip dari ex leader2 senior mereka yg skrg udah pada pindah ke MLM lain.. beberapa kontainer ER ditolak di Cina & jazirah Arab.. karena produk yg dikirim beda kualitas dgn sampel awal yg ditawarkan bos ER 😊

Aji Condro: waduh, berani banget ya ekspor beda kualitas

Ridwan Soleh Suriadi Nata: Aji Condro khan udah sukses praktek itu ke member2 nya.. ujicoba pake bikinan Pak Hedy, lempar ke member dioplos pake bikinan dia sendiri 😎

Ridwan Soleh Suriadi Nata: Banyak kok member2 yg bilang, “bagusan produk yg lama, kang”
Member2 baru yg lebih kekinian yg pada gak tahu

9 respons untuk β€˜Back to the future, data jaman eco racing masih model cair masih dipakai sampai sekarang’

    • wah cuma kebetulan. Ada yang informasikan bahwa mereka sekarang tidak menammpilan eco racing sebagai produknya:

      Saat mau cari informasi kapan itu terjadi, jadi lihat yang unik unik.

      Suka

  1. Ntar ada anti thesis nya..
    ‘Saya tidak bekerja sama sekali, tetapi hanya fokus di Kupasmotor.web akhirnya sekarang saya bisa membeli mobil sport 1 pintu dan rumah mewah di tengah hutan’
    NB: pengakuan Sucahyoaji sang komisaris utama Kupasmotor..

    Boleh juga tuh bro..
    Buruan ah bikin.. Ntar aye daftar jadi direksi..

    Suka

  2. Saya pernah bekerja dibidang Investasi beresiko tinggi, pernah di Bank dan sekarang kerja di manufaktur, dari pengalaman kerja ini saya memiliki sedikit dasar/basic pengetahuan tentang konsep kesatuan bisnis yang Well Establish dan Sustain.
    Jadi selama di Invest Company saya belajar tentang Risk, di Bank saya belajar mengenai Financing dan di Manufaktur saya tidak di core bisnis (meski latar belakang saya teknik) tapi bagian pengelolaan budget skala kecil eksekusi small project perusahaan sesuai standar baku ISO, SNI dll.
    Bisnis MLM yang dikenal di Indonesia selama ini lebih berbasis pada member reqruitment dibanding Sales produk, namun beberapa MLM yang mengejar Sales tidak pernah secara terbuka memberi penjelasan kepada member mengenai
    1. Produk, berapa banyak MLM yang memberikan detail produk kepada member? Terutama produk barang. Amat sangat sedikit, silakan cari Produk MLM itu dimana Pabriknya? Apakah Pabriknya berstandar ISO, SNI, Halal MUI (untuk obat, makanan dan kosmetik) dll? Berapa kapasitas produksinya? Berapa penyerapan produk mereka dalam setahun.
    2. Sales, dalam hal ini adalah kaitannya dengan posisi produk di market, siapa kompetitor, produk ada diposisi mana (Sharing) dan berapa total marketnya dalam 1 tahun?

    Lalu apakah ada MLM yang baik secara produk? Tentu saja ada, contohnya seperti Oriflame dan Tupperware, namun disini member juga tidak diberikan pengetahuan yang cukup mengenai produk ataupun sistem bisnis mereka.
    MLM yang secara terbuka dalam hal informasi usaha dan ketat dalam standar bisnis yang saya tahu adalah Asuransi Prudential.

    Suka

    • terima kasih sharingnya. Iya sayangnya begitu. Tidak hanya MLM saja, yang bukan MLM juga kurang memberikan pengetahuan produk pada salesnya.

      Iya, yang jadi contoh ini juga tidak disebut standar ISO di perusahaan, bahkan sertifikat halal untuk produk yang dikonsumsi atau kosmetika tidak ada. Kapasitas produksi ada, data yang diserap member ada. Data yang dibeli konsumen tidak ada.

      Untuk produk, sering dikatakan bahwa produk merupakan yang satu satunya, tanpa ada kompetitor dan pasar terbuka lebar.

      Iya, pernah dengar produk yang bermanfaat dan tetap berjalan hingga sekarang.

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.