Sama orang bengkel dan grup oli, PAO dibilang licin, sama lembaga oli tidak


Maaf di penjelasan soal oli sebelumnya penulis lupa menjelaskan khusus tentang oli mineral vs PAO
PERBEDAAN PELUMAS SYNTHETIC DAN MINERAL

Penjelasan versi lokal kata orang bengkel Honda itu sebagai berikut:
Oli Semi Sintetik Vs Full Sintetik, Ini Bedanya

Sementara itu oli full sintetik yang murni mengandalkan unsur-unsur kimia sebagai bahan dasar pembuatannya. Ada beragam bahan kimia yang bisa digunakan untuk membuat oli full sintetik seperti ester, diester hingga polyolester.Daya pelumasan lebih bagus, lebih kuat terhadap gesekan, dan juga membuat suara mesin lebih halus,” ujar Imam Santoso Service Advisor Honda Fatmawati, Jakarta Selatan.

Kutipan ada yang huruf miring karena jelas bahwa nggak semua oli PAO pakai ester. Jadi oli yang mencantumkan ester tidak selalu daya pelicinnya bagus, seperti dijelaskan sebelumnya. Ini artinya yang huruf tebal itu juga tidak berlaku.

Seperti kita ketahui, orang Indonesia itu percaya bahwa yang mahal itu yang terbaik:
Oli Mineral dan Sintetik, Mana yang Lebih Baik?

Head Retail Division Astra Autoparts Indra Nugraha menyatakan, oli sintetik memiliki formula yang lebih baik dibanding oli mineral. Para produsen oli juga selalu memberikan garansi proteksi dan jangka waktu pemakaian yang lebih lama dibanding oli mineral. Sehingga harganya juga lebih mahal.

“Jadi untuk yang punya kemampuan membeli (dengan harga lebih mahal) dan kendaraannya juga teknologi terbaru, sebaiknya belilah oli dengan teknologi terbaik (oli sintetik),” ucap Indra.

Padahal belum tentu oli dengan bahan PAO pakai teknologi terbaik, karena bisa jadi mahalnya karena bahan PAOnya saja dan aditifnya pakai ecek ecek.

Oli PAO dipercaya sangat licin:
Penggunaan Oli Mobil (PCMO/HDEO) untuk Motor

admapower64: PAO juga sangat licin apabila ditambahkan additive Boron Nitride sehingga sangat baik untuk mesin-mesin berbahan dasar Aluminum Silicon.

Penggunaan Oli Mobil (PCMO/HDEO) untuk Motor

KT610-lover: Full pao dgn daya tahan yg kuat, lbh licin jg.

78deka.com – Review Awal Oli Fully Synthetic 5-40 Di Suzuki GSX-R150….Crunchy Sexy

Analisanya karena formula G walaupun punya sae belakang sama, namun oil base fully synthetic plus keberadaan pao. Jadi walaupun punya kekentalan yang sama saat panas, namun sifatnya lebih licin, sehingga kerja mesin lebih enteng walau oli punya viscosity lebih kecil.

Saking licinnya oli sintetik, disebut sampai bikin mesin gancet pada saat break in:
78deka.com – Kenapa Oli Fully Synthetic Lebih Baik Dihindari Saat Inreyen?

Yang pertama, penggunaan oli bahan dasar mineral ini terbukti cara yang paling aman sejak dahulu sampai sekarang. Masih sangat hafal statment lama mr. Widman yang mengatakan

“Gunakanlah oli mineral saat masa break in, ini adalah cara yang paling aman, karena dengan penggunaan oli fully synthetic saat break in memperbesar resiko mesin ” gancet” saat masa break in tersebut “

Dengan pemakaian oli fully synthetic yang pada umumnya sangat licin, maka ada kekhawatiran ” keausan ideal” saat inreyen tidak terjadi. Masa inreyen justru butuh waktu yang lebih lama, serta resiko piston macet karena celah antara ring dengan permukaan liner belum ideal. Apalagi karakter oli fully synthetic yang sangat mengandalkan hydrodinamic lubrication atau flow dan tekanan oli begitu dominan. Film strength sangat lama terbentuk di lapisan film oli. Berbeda dengan oli mineral yang gampang dalam membentuk lapisan film strength. Itulah landasan, kenapa oli mineral direkomendasikan untuk masa inreyen.

Pengertian film strength pada artikel tersebut berbeda dari yang penulis pahami. Tapi sebenarnya profesor Widman sendiri melarang pemakaian oli sintetik bukan karena alasan jadi bikin gancet. Begini kutipan sebenarnya:
Selection of the Right Motor Oil for the Corvair and other Engines By Richard Widman

27. After rebuilding an engine, always return to the original viscosity recommended by the factory. If done right you will have the original clearances. The use of a high viscosity oil, especially during break-in, may cause engine seizure on startup and will cause a high wear rate. This is the moment when the clearances are the tightest they will ever be.
28. Don’t believe the myth that you can break in a rebuilt engine with synthetic oils. The argument that new cars come with synthetics so you can break in a rebuilt engine is totally false. None of us has the same work conditions, torque wrench calibrations or parts that the factory has. Use high quality mineral oil until the consumption stops; then switch to synthetic if you want maximum protection. Note: The use of Chrome or Moly rings in your rebuild will extend the break-in period. Don’t switch over to synthetics until oil consumption has (basically) stopped.

Nomor 27 menjelaskan bahwa kalau habis bore up atau semacamnya jangan pakai oli yang kental. Dianjurkan pakai kekentalan sesuai rekomendasi pabrik. Kalau tidak begitu bisa menyebabkan engine seazure (macet / gancet). Macet ini bikin aus.

Nomor 28 menjelaskan jangan percaya bahwa break in mesin habis dibore up ata semacamnya bisa pakai oli sintetik. Disuruh pakai oli mineral yang berkualitas sampai oli nggak berkurang lagi. Baru setelah itu ganti oli sintetik.

Jadi nggak ada hubungannya dengan lebih licin. Itu jelas sekali salah kutip.

Untuk licin, profesor Widman menyebut hanya ester dan fatty acid yang bisa:

Friction Modifiers: Every oil is designed for a specific purpose. In general, motor oils are designed to be as slick as possible and to reduce friction as much as possible. These are generally esters (group V synthetic) and fatty acids whose molecules also attach to the metallic surfaces to reduce friction during sliding action. If the contact is heavy, they are pulled off, allowing friction and wear unless there are enough anti-wear additives to take over.

Dan website lembaga oli Noria menyebut oli PAO kalah licin dengan oli mineral:
Noria Corporation – Polyalphaolefin (PAO) Lubricants Explained

Lower natural lubricity than mineral oil. Polyalphaolefin base oil not necessarily less wear than mineral base oil (additive-dependent property)

Disebut juga lubricity payah:

Problems – very non-polar (low natural solvency, additive solubility, lower lubricity and film strength)

Penulis lebih percaya dengan lembaga oli. Juga karena yang bilang oli PAO licin sepertinya salah kutip. Salah kutip beberapa kali penulis temui di grup oli, contohnya:
Oli yang bagus untuk mesin itu tidak butuh viscosity index yang tinggi tinggi amat, banyak yang salah mengerti soal VI dan HTHS
HTHS dikenal bukan sebagai viscosity di grup LDIC?
Soal “Kesalahan Persepsi Awal Coba Oli Sesat” (HDEO/PCMO) sebenarnya karena beda standar dan implementasi berdasar info dari Prof Widman

Satu respons untuk “Sama orang bengkel dan grup oli, PAO dibilang licin, sama lembaga oli tidak

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.