Politik dan monopoli paten menghalangi kemajuan teknologi dan desain motor Jepang?


Ini 100% adalah asumsi, mungkin karena dulu terlalu banyak baca komik Jepang edisi kelam.

Intinya penulis berasumsi bahwa budaya kerja di Jepang itu diwakili oleh gambar berikut:
Japan’s workplaces rethink ‘drinking with the boss’

“People are generally worried for all kinds of harassment, power harassment, sexual harassment,” he says.

Dari sisi positif kegiatan tersebut membuat hubungan karyawan menjadi dekat. Namun dari sisi negatif kegiatan tersebut menjadi tekanan terhadap bawahan, disebut harassment atau kalau istilah lokalnya lebih umum disebut bullying.

Memang tidak semua perusahaan seperti itu. Tapi pertanyaan ini jadi mencuat ketika pabrik motor Jepang jadi pada ketinggalan dari sisi motor listrik. Desain motor bukan yang disukai konsumen. Atau tim MotoGP Jepang yang selama bertahun tahun jadi semakin ketinggalan.

Mengapa pabrikan Jepang sampai ketinggalan dalam pengembangan motor listrik? Mungkin ini tidak lepas dari ketatnya penerapan paten di Jepang. Atau mungkin harga lisensi terlalu mahal sehingga pesaing tidak bisa memanfaatkan paten yang sudah ada. Atau bisa saja sang pemilik paten bersikukuh untuk tidak memperbolehkan kompetitor pakai paten mereka. Mau jelek atau bagus, konsumen disuruh beli produk mereka kalau ingin merasakan teknologi yang mereka punyai.

Penulis jadi ingat soal Bajaj terpaksa keluar dari Indonesia karena digugat Honda soal mesin dengan busi dua per silinder. Akhirnya Bajaj keluar. Tapi yang bikin nggak enak, Honda sendiri nggak buat motor yang pakai busi dua per silinder. Kalau dianggap jelek, mengapa kok dipakai sebagai alasan mengusir pesaing? Inilah politik.

Cara mendapatkan teknologi juga beda. Kalau di barat mengumpulkan teknologi bisa dilakukan dengan mengakuisisi beberapa perusahaan. Kalau di Cina mereka santai saja pakai produk buatan orang lain. Tidak memaksakan diri pakai buatan sendiri. Apalagi di India.

Kalau di Jepang rasanya sudah tidak mungkin terjadi akuisisi perusahaan lain atau pakai produk saingan. Gengsi mereka sangat kuat, mereka lebih pilih meneliti sendiri mulai dari nol. Honda pakai mesin Kawasaki? Mustahil. Benelli pakai mesin Shineray? Lifan pakai mesin Zongshen? nggak masalah.

Tapi penulis curiga juga bahwa ada unsur politik di sini. Kalau di komik Jepang kelam, diceritakan atasan itu bisa dengan mudah mengakui hasil karya anak buah. Dan anak buah pun kalau ingin maju harus rela atasan mengatas namakan karyanya. Nah kalau atasan macam begini yang berkuasa, apa ya bisa maju?

Yang membuat penulis berpikir begini adalah karena banyak pabrikan Jepang yang masih dalam taraf mengembangkan teknologi motor listrik sendiri, mulai dari nol, sendiri sendiri. Honda sendiri, Kawasaki sendiri, Suzuki sendiri, Yamaha sendiri. Sempat ada ngomong kolaborasi, tapi itu cuma standar untuk baterai, yang rasanya pun tetap adu senioritas atau adu politik.

 

Hal yang sama dalam soal desain. Nggak ada jaminan desain terbaik bisa diproduksi. Bisa jadi desain yang bakal dirilis di pasar ditentukan dari senioritas bukan oleh feedback dari konsumen. Jadi walau desain si atasan itu sudah terbukti bertahun tahun tidak disukai konsumen, maka tetap saja akan dipakai. Walau desain jelek, yang penting itu karya senior. Atau itu karya anak bos. Atau itu karya anak pejabat ini. dst.

Yang membuat penulis berpikir begini adalah neo sport berikut:

Mengapa motor sebagus itu tidak diproduksi? Motor ini diperkenalkan pada saat Honda memperkenalkan desain neo sport. Honda juga prototipe sendiri:

Padahal kalau produk eropa yang begitu pasti diproduksi. Contohnya MV Agusta:

Lalu blunder desain Yamaha dan Suzuki (produk lokal Honda sih katanya hasil desain lokal, sehingga lebih cocok dengan selera lokal). Juga blunder pemasaran atau blunder mematikan produk yang sedang laris. Sok yakin produk baru bakal lebih laris padahal desain nggak disukai lokal.

 

Budaya Jepang juga sempat terlihat di tim Yamaha. Lin Jarvis sebelumnya mengakui bahwa budaya pengkotakan membuat perkembangan tim Yamaha terhambat. Begitu semuanya dikumpulkan jadi satu, baru terasa ada perkembangan pesat. Sekarang juga sudah mau mencari solusi dari luar. Sebelumnya serba tertutup, saling merahasiakan kelemahan (karena nggak mau dianggap departemen jelek), dan semua solusi harus di internal. Itu disebut budaya Jepang.

Memang tidak semua begitu, namun penulis curiga bahwa inilah yang terjadi pada kebanyakan pabrikan Jepang, terutama pada Yamaha dan Suzuki.

Sekali lagi ini 100% asumsi. Bila ada yang lebih tahu, silahkan share.

20 respons untuk ‘Politik dan monopoli paten menghalangi kemajuan teknologi dan desain motor Jepang?

  1. ya kalo brand cap garpu bukti konkret itu tuh desain NVL yg makin ancuurr gegara selendang dan desain batok headlamp yg cupu abis, kemudian di masa lalu ya Juputer Z 110, desain everlasting 5TN yg juga sudah terkenal handal mesinnya malah diubah ke model baru yg jauh dari selera khalayak umum pada umumnya.

    Suka

  2. Kelihatannya Jepang sendiri sedang mempersiapkan kendaraan dengan bahan bakar ramah lingkungan hidrogen cair, produksi hidrogen cair massal sepertinya sudah mulai taon ini, kelihatannya untuk industri dulu trus ke arah transportasi. Kendaraan listrik hanya masa transisi.

    Suka

  3. Sy pernah baca, hp jepang (s*ny kali ya) bahwa kualitas kameranya jelek atau ketinggalan jaman
    Tetapi, hp2 terpandang lain pake komponen camera punya merk tsb, ternyata di internal mereka sendiri ada persaingan antar departemen (camera dan hp) jadi dept.camera lebih suka jual keluar drpd ke hp nya yg satu pabrik
    Aneh ya..

    Suka

    • Pasti yang dimaksud adalah Sensor, Ya Sebenarnya Sony tetap menggunakan sensor paling mutakhir dalam jajaran HP mereka. Selama setidaknya 10 tahun terakhir sensor IMX mulai dari IMX200 sampai IMX500 series memang jamak di pakai oleh HP flagship brand lain mulai dari IPhone, Samsung, Huawei, hingga Oppo, bahkan Huawei seri mate memesan sensor khusus seperti seri IMX607 ke Pabrikan Sony.
      Kekurangan produk elektronik Jepang saat ini adalah optimalisasi software. Kebetulan saya belum pernah pakai HP selain Sony, penggunaan kamera di HP Sony menuntut pengguna untuk setidaknya tahu dasar2 fotografi, karena pengaturan yang cukup banyak kadang membuat orang enggan melihat lebih jauh, saya sering membandingkan, dalam mode auto, kualitas foto kamera Sony memang tidak semenarik HP lain yang sudah mendapatkan digital touch.

      Suka

      • Iya. Hebatnya kualitasnya mirip dengan kalau pakai kamera digital khusus. Kalau hp seringnya banyak yang pakai anti noisenya berlebihan.

        Software terbaik kamera ponsel menurut saya = hedge2.

        Suka

  4. Suzuki Jepang banget ini, masukan dari konsumen dan wakilnya (blogger) untuk produk2 yang bakal diterima di Indonesia cuma didengerin, padahal Suzuki Indonesianya bener bener sudah gregetan..

    Suka

  5. Feodal emang tipikalnya begitu..
    ingat kita ini masih dijajah mereka, karena apa? ketidakinginmajuan..
    contoh : honda aja udah pada tau kualitasnya jelek, cat tipislah, mesin berisiklah, mobilnya paling mahal lah, masih aja dibeli..
    entah butuh berapa generasi buat melepas mindset ini..
    malaysia sudah mulai, korea sudah duluan, china ga mau kalah, amerika mah jangan ditanya..
    apanya??
    dari kendaraan pembantu rakyatnya alias presiden aja udah bisa dinilai.. negara2 di atas bangga dan punya hargadiri dengan produknya.. sementara kita..
    nyinyirnya dalam hati aja gan, takut ntar diciduk..

    ngoahahaem.. sori kepanjangan

    Suka

    • tp klo disuruh milih produk China vs Jepang ya tetep Jepang lah. Tp klo 3S nya Korea dan Ameriki setara ama Jepang ya pilih mereka.

      Tp masa iya mau service kudu menempuh jarak puluhan km sedangkan merek Jepang cuma 7-8km? 3S dekat adalah salah satu alasan orang membeli produk Jepang. Dan Jepang investasi disini sudah puluhan tahun sedangkan China baru aja mulai di industri mobil dan motor sempat kabur jg kan.

      Tp hype nya China vs Korea dan India itu yg buatan China lebih hype, klo beli merek Jepang dan bukan China maka akan di cap goblog, tolol dan mau aja di bohongi.

      Hahahaha

      Suka

  6. Kemungkinan besar memang begitu yah, tapi aku tetap beli Jepang karena kemudahan 4snya itu, sale, servis, spare part, standby, kalau aku bisa pilih model maka bisa dapat motor/mobil Jepang yang kualitasnya dan bentuknya bagusan walau kenyamanannya dan bq nya masih kalah dari Eropa dan mamarika,,,

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.