Mudik dan kabur VS mengucilkan petugas medis dan korban kecelakaan, memprihatinkan


Perilaku masyarakat Indonesia ini bisa dibilang standarnya ganda. Kalau melihat berita perlakuan masyarakat terhadap petugas medis dan korban kecelakaan, seakan masyarakat sangat hati hati tidak tertulari.

Penulis baca di bonsaibiker, petugas medis sampai dilarang kos (walau sudah direvisi peraturannya):

Orang kecelakaan dibiarkan:

Mungkin orang luar negeri bakal takjub, wah orang Indonesia itu saking hati hatinya sampai seperti itu.

Padahal ………. serampangan banget. Ho oh pakai masker, tapi pakainya sembarangan dan dianggap sebagai jimat anti ketularan. Jadinya sembrono seenaknya kumpul kumpul, ketemuan, dalam satu ruangan atau kendaraan.

Sudah tahu sendiri ketularan, eh masih nyelonong ke mana mana. Bikin sekampung dikarantina:

Atau bikin satu rumah sakit ketularan:

Lalu terakhir dengar ada yang kabur. Juga pada berjuang untuk bisa mudik.

Bahkan sampai berjuang duduk di bagasi, atau sembunyi sembunyi misal pakai truk atau bahkan tronton:

Itu kalau satu ketularan, maka bisa dipastikan satu kendaraan bakal ketularan semua. Pakai masker aman? Hah. kayak nggak tahu saja cara orang Indonesia pakai masker. Apalagi itu satu kendaraan. Yang dokter dan perawat saja bisa ketularan. Apalagi yang seenaknya.

Padahal penyebaran sudah merata:
Radar penyebaran virus Corona

Bisa dipastikan dengan perilaku seperti itu bakal lebih merata lagi.

Penderita di Jakarta menurun?

Lha iya lah. Lha wong pada mudik semua. Korbannya pada kabur ke daerah daerah untuk menularkan penyakit kepada keluarga dan semua orang di kampung. Masa lupa bahwa kalau pas lebaran Jakarta jadi kota mati? Apalagi “liburan bersama” terjadi lebih awal.

Padahal karena lock down ini semua orang jadi susah. Dan karena perilaku seperti ini rasanya lockdown bisa berkepanjangan.

Mau menyalahkan siapa?

Mungkin akan lebih sip kalau mulai dari awal dibilang virus bisa menular lewat udara. Tapi sudah telat.

Yang sabar saja, sama berjuang pakai cara sendiri. Berjuang nggak ketularan. Berjuang tetap bisa makan. Jangan berpikir 2 Juni pasti bisa kerja lagi. Bikin deadline sendiri yang lebih lama.

Kacau.

8 respons untuk ‘Mudik dan kabur VS mengucilkan petugas medis dan korban kecelakaan, memprihatinkan

  1. Mungkin untuk membatasi agar penduduk tidak pulang kampung selain di jaga petugas butuh pagar kawat & di jaga baracuda,dan yg saya dengar warga DKI (pendatang) yg pulang kampung tidak boleh kembali sampai virus covid mereda di seluruh indonesia

    Suka

  2. Mudik sudah jadi peradaban. Sudah nggalih keras kayak aki. Aslinya memang suka berkumpul. Jalan kaki pinggir jalan saja berjajar menyamping karena bisa sambil ngobrol.

    Suka

  3. Mudik itu kebudayaan baru secara nasional…ada setelah tahun 90an, sebelum2nya hanya perantau ‘kelas bawah’ aja yg PULANG KAMPUNG karena di jakarta hanya bekerja dan rumah/keluarga inti di ‘Jawa’
    Makanya dulu TV2 hanya menyorot terminal Pulogadung dan sta.Pasar Senen yg berjubel2, tapi ga pernah liputan jalan raya… Tapi tahun2 terakhir kebalik, liputan terminal/stasiun hampir hilang (sistem membaik) dan kebanyakan liputan jalan raya hehe

    Suka

  4. Siap2 bercocok tanam pak, ditanah dan jg hidroponik. Kalau bisa sambil ternak jg, takutnya sampai akhir tahun masih exis itu virus 😦

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.