Berdamai dengan Corona padahal banyak kasus penularan masal di pasar dan supermarket?


Lagi lagi soal masker yang useless. Penulis coba baca baca soal yang reaktif virus Corona dan kaget juga karena ternyata banyak juga kejadian penularan masal di supermarket atau pasar. Ada contoh di supermarket pajajaran, banjar, jawa barat. 162 orang di pasar Bojonegoro. 5 orang di pasar Simo Surabaya. 19 di kotamubagu sulut. 6 di pasar pangkalanbun pangkalaraya. 15 di supermarket di brastagi. 25 di pasar di Jambi. 21 orang di pasar di Makasar. Juga supermarket Indogrosir di Sleman, Yogyakarta. 57 dari 300 karyawan positif, 20 dari 461 pengunjung positif. Rasio penularan 5-10% seperti kasus kasus lain.

Perlu diingat juga bahwa katanya alat ujinya nggak reliable. Bisa jadi yang postif Corona tidak terdeteksi.

Dari kasus kasus ini nggak pernah ada analisa. Nggak dilihat protokol apa yang salah. Nggak dicari tahu bagaimana caranya walau tetap buka tapi nggak ketularan. Wajar sih, jawaban dokter untuk soal penularan masal tenaga medis saja pada ngaco semua. Seperti contohnya:

Itu yang ngomong wakil ketua umum Ikatan Dokter Indonesia. Dokter beneran. Ditanya soal mengapa pakai APD masih tetap ketularan jawabannya muter muter. Mulai dari menyalahkan kurangnya pengetahuan hingga kurangnya masker N95 (padahal sebelumnya sempat bilang APDnya nggak masalah), dan tidak adanya standar pelayanan. Lha, yang ngasih pengetahuan memangnya siapa? Lha katanya tenaga medis cukup pakai masker medis? Terus yang pakai masker kain nasibnya bagaimana dong? Standar pelayanan kok belum bikin?

Yang berikut sama saja, oleh dokter paru. Yang makin nggak jelas lagi penjelasannya. Ngomong nggak ada pembedaan antara pasien yang kena Corona dan tidak, ngomong soal perjalanan pulang ke rumah,

Intinya sih bakal tetap ketularan walau sudah melakukan pencegahan. Asli nggak jelas. Pede tapi salah. Dan tidak mengakui kesalahan.

Sekelas WHO pun melakukan revisi kebijakan:

Pakai N95 aman katanya. Padahal kalau dari koar koar sebelumnya, antara masker bedah dan masker N95 katanya cuma beda sedikit kemampuannya. 95% vs 90%. Nanti kalau sudah pakai N95 ta[o tetap tertular pasti bikin alasan nggak jelas lagi.

WHO sebenarnya juga menyarankan ventilasi udara. Tapi soal ini pada pura pura nggak dengar.

Pada sok pede, nyuruh pakai ini itu, tapi akhirnya ketahuan salah dan menimbulkan banyak kasus penularan. Dengan kondisi seperti ini mau bakal dibuka lebih banyak lagi? Pede banget bilang pakai masker, sering cuci tangan, pakai pengukur suhu tubuh dan menjaga jarak dipastikan bisa mencegah penularan virus Corona?

Sudah jelas salah kok masih ngeyel sih?

7 respons untuk ‘Berdamai dengan Corona padahal banyak kasus penularan masal di pasar dan supermarket?

  1. Ngeri ya… kita emang gak siap dgn Pandemi di Rezim ini. Tp awal tahun mengatakan siap dgn COVID-19, pakai Thermoscan di semua bandara dan pelabuhan. Udh di kasih tau kudu Karantina semua wisatawan tp ngeyel akhirnya kena Virus dah. Yg jelas BuzzeRp itu dosa nya besar karena mereka membuat stigma bahwa COVID-19 itu gak berbahaya dan bisa sembuh sendiri.

    Suka

    • Iya jelas om roy,karena kalo mereka ngumumkan d awal perekonomian bakal melesu, mereka g mau investor cabut, makanya buzzer2 ngomongnya covid aman,pemberlakuan social distancing sendiri sebenarnya banyak diajukan lebih dlu oleh warga kita sendiri dan pemerintah daerah kerimbang pusat,..seiring berjalannya waktu ternyata perekonomian makin menurun akhirnya d buat lagi kebijakan berdamai dgn corona,akhirnya keliatan bahwa petinggi2 negara ini sama sekali g peduli dgn warganegaranya yg penting cuan2 masuk,..

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.