Asumsi asumsi MotoGP yang salah, jangan mengandalkan analisa pengamat MotoGP


Bagi yang mengikuti postingan penulis, pasti tahu bahwa analisa penulis itu sering beda dari kebanyakan. Dan jadi warning besar juga karena banyak yang mendasarkan ilmunya dari analis MotoGP. Seperti contoh seorang analis lokal MotoGP berikut:

Ini yg sy baca dari pengamat2 motogp Mat Oxley, David Emmett dll.

Masalahnya, apa analisa mereka bisa 100% dipercaya? menurut penulis tidak.

Berikut beberapa contoh analisa yang menurut penulis keliru.

Soal beda handling motor Honda, Yamaha dan Ducati:

Kalau chassis M1 didesign pada faktor lateral flexibility yaitu tetap stabil pas lagi high corner speed. Posisi motor miring lebih lama, racing line radius melebar big classic line. Dg itu Lorenzzo ngak pake rem belakang bawa M1.

Karakter DNA Ducati & Honda bukan utk high corner speed melainkan faktor kestabilan brake late -hard braking sampai ke dalam tikungan kemudian motor ditekuk miring dan segera ditegakkan lgi di area dekat apex utk akselerasi full throttle keluar tikungan memakai racing line yg lurus

Menurut penulis sebenarnya ini berhubungan dengan grip ban depan. Dengan ban yang sama, motor Yamaha atau Suzuki bisa punya grip ban depan yang lebih baik daripada Honda dan Ducati. Ini membuat motor Yamaha dan Suzuki jadi bisa mengambil tikungan dengan jalur yang ideal.

Ducati dan Honda nggak bisa begitu. Sehingga mereka jadi lebih mengandalkan kemampuan untuk stop and go, mengambil tikungan dengan model V.

Menurut penulis yang menyebabkan hal ini adalah konfigurasi mesin. Mesin inline yang ramping membuat mesin beratnya jadi lebih banyak di depan, membuat grip ban depan lebih baik. Sementara itu mesin V yang beratnya jadi mengarah lebih kebelakang, membuat grip ban depan kurang baik.

Dan ingat bahwa ketika di tahun ini Michelin memperkenalkan ban belakang yang lebih ngegrip, yang mengeluh kesulitan adalah Ducati dan Honda. Ini karena perbedaan grip depan dan belakang jadi makin ekstrem. Jadi understeer karena kurang beban. Coba baca komentar Marc Marquez atau Dovizioso soal ini.

 

ini memang di inginkan Dorna supaya ngak ada ketimpangan alat2 electronic/software antara tim. Jdi memang harus pinter2 nya ahli electronik masing2 tim memeras potensi se maksimal mungkin utk digunakan pembalapnya. Sekarang skill si pembalap jdi lebih bnyk atau mayoritas berperan mengkontrol motor

Menurut penulis pembalap sekarang ini sangat mengandalkan ECU. Sehingga ketika setelan ECU nggak pas, performa mereka anjlok. Ini yang sebelumnya terjadi pada Yamaha. Nggak perduli ridernya jago atau tidak, kalau ECU ngaco, mereka nggak akan menang.

 

Kekurangan Yamaha musim kemaren seperti di beritakan yaitu di power. Kurang cepat akselerasi keluar corner dibandingkan Ducati & Honda. Di trek lurus kesusul meskipun M1 dapat manfaatkan high corner speed klau melewati tikungan kecepatan menengah – atas.

Kurangnya power puncak Yamaha sudah terjadi semenjak dulu sekali ketika Rossi memutuskan bahwa Yamaha harus pakai cross plane. Yang menjadi masalah di motor Yamaha adalah power delivery. Power delivery itu kata kuncinya bukan di “power”nya tapi di “delivery”nya. Delivery itu adalah bagaimana tenaga disalurkan ke roda sehingga pada saat akselerasi nggak terjadi wheelie ataupun selip ataupun kurang banyak tenaganya. Istilah pas nya adalah traction control.

Power itu tidak bisa sembarangan dirubah karena hubungannya dengan spek mesin (yang nggak boleh dirubah sepanjang musim). Sementara power delivery itu bisa dirubah dengan memprogram ECUnya (Magneti Marelli, yang harus dirubah tergantung lintasan).

Selama ini Yamaha kesulitan karena ngeyel nggak mau pakai ahli profesional tapi memilih ditangani sendiri. Dan setelah akhirnya Yamaha mau pakai ahli di luar Yamaha, pembalap pun puas.

 

Engine brake tetap menjadi kendala tapi lebih ke motor V4 Honda dan Ducati yg lebih powerful.

Penulis nggak pernah dengan masalah engine brake di Ducati. Justru Ducati itu unggulnya pada waktu pengereman???

Penulis juga nggak paham, mengapa kalau tenaga lebih besar maka engine brake jadi kendala? Kalaupun pengereman terpengaruh, maka sumbernya bukan dari engine brake tapi dari misalnya counter rotating camshaft, balancing, dst.

Motor mana lagi yang punya masalah di engine brake nggak reliable?

 

Yamaha M1 pakai sistim firing interval big bang, bukan crossplane sperti di Yamaha R1

Menurut penulis crossplane adalah cara untuk bisa menjadikan interval pengapian menjadi big bang. Inline 4 yang non crossplane itu screamer. Dan crossplane di R1 itu muncul setelah crossplane dipakai di MotoGP.

 

Masih banyak sebenarnya contoh lain.

Maaf penulis nggak sebut sumbernya, bisa digali di artikel lama sih. Yang harus diperhatikan adalah kebanyakan sumber penulis adalah bukan dari analisa media atau blogger. Sumber utama adalah dari rider MotoGP, manajernya, teknisinya, atau bosnya.

Penulis utamakan yang diucapkan oleh pembalapnya langsung daripada translasi atau asumsi dari penulis media/blog/vlognya.

Contoh pernyataan berikut, asumsi bahwa Lorenzo pakai rem belakang itu untuk belok saja:

Waktu JL bawa Ducati dia harus pake rem belakang supaya ban belakang skidding ke samping utk membantu motor berbelok ke sisi dalam ke apex di mid corner

Hal ini dibantah sendiri sama Lorenzo:
Lorenzo: Rear-brake use key to progress with Ducati

“With the other bike that I used for nine years, I didn’t need to use the rear brake, ESPECIALLY ON BRAKING, TO STOP THE BIKE. With this one, I need to use it, or it helps much more to stop the bike.

Jadi salah bila dibilang Lorenzo pakai rem belakang cuma untuk belok. Lorenzo pakai rem belakang di Ducati itu juga untuk bisa menghentikan motor. Lagipula kan katanya beloknya Ducati pakai model V?

Yang menjadi masalah dari informasi yang diberikan oleh analis MotoGP itu, baik lokal maupun internasional, adalah mereka ini jarang memberikan pernyataan klarifikasi bahwa apa yang mereka kemukakan sebelumnya itu salah (ketika sudah ada informasi yang lebih akurat). Sehingga orang jadinya berpikir bahwa analisa sebelumnya itu tetap benar, padahal enggak.

Jadi, sebaiknya kalau cari info, maka lebih afdol langsung dari apa yang dinyatakan oleh ridernya.

4 respons untuk ‘Asumsi asumsi MotoGP yang salah, jangan mengandalkan analisa pengamat MotoGP

    • Honda = resiko crash, mencari cara biar nggak mudah crash, apalagi karena Marc habis operasi
      Yamaha = power delivery dalam perbaikan
      Suzuki = masih mengembangkan tenaga puncak
      Ducati = makin pelan di lintasan lurus, Holeshot device = sarana biar stop and go lebih baik
      KTM = setingan masih dikembangkan dengan bantuan Pedrosa
      Aprilia = mesin baru, butuh setingan, tapi ahlinya nyeting kena kasus doping

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.