Sudah bebaskah kita dari Corona? Tidak, kita masih banyak buang buang duit untuk hal tidak berguna


Penulis dikagetkan oleh berita bahwa ada tetangga penulis yang meninggal karena penyakit Corona di rumah sakit. Dan sepertinya meninggalnya benar karena Corona karena masuk rumah sakitnya juga karena Corona.

Ini membuat penulis jadi berpikir lagi, sebenarnya sampai kapan kita harus menghadapi masalah ini? Padahal bila kita melihat di sekitar kita, banyak sekali kegiataan buang buang duit yang dilakukakan demi untuk “mencegah” penularan Corona.

Di kantor penulis saja ada yang pakai alat ini:

Itu adalah alat untuk menghasilkan udara ozone dan sinar UV. Dikatakan bahwa alat itu bisa membersihkan virus dari suatu ruangan.

Dari sisi fungsi sebenarnya alat semacam ini meragukan karena sebenarnya yang dibutuhkan untuk membunuh virus adalah ionnya saja, bukan ozonnya, seperti penulis sudah pernah bahas sebelumnya.
Ini bukti ion listrik bisa mematikan virus di udara, tapi harus hati hati

Disebut bahwa ozone itu efeknya kecil. Yang lebih besar itu adalah efeknya udara ionnya:
The bactericidal effect of an ionizer under low concentration of ozone

ion capture dramatically reduced the bactericidal effect of the ionizer, indicating that the ozone generated had little or no bactericidal effect under these conditions, and that the ions produced were responsible for almost all the bacterial killing.

Parahnya lagi itu alat disebut buatan Amerika.

Padahal di Amerika alat penghasil ozone itu mendapat tentangan besar:
Potentially Hazardous Ozone Generators Sold as Air Purifiers

Dari petunjuk dikatakan bahwa alat itu cukup dinyalakan beberapa menit sebelum ruangan bisa kembali dipergunakan. Tapi pada kenyataannya, gas ozone yang berlebihan membuat ruangan tidak layak ditempati manusia sampai pulang kerja apabila udara tidak disirkulasikan habis.
AIR PURIFIERS THAT PRODUCE OZONE MAY BE HURTING YOUR HEALTH

Alat itu juga bukannya bikin orang makin mengisolasi diri, tapi malah jadi nimbrung ke kantor bagian lain karena kalau pas habis ketempatan alat itu, ruangan jadi tidak bisa dipakai.

Dan ruangan yang bisa dipakai adalah ruangan yang bisa menghilangkan sama sekali bau ozone dari alat, yang artinya, usaha pakai alat seperti itu sama sekali sia sia.

 

Ada juga yang menggunakan air purifier untuk beberapa ruangan.

Air purifier mungkin memang bisa menyaring virus di udara. Namun menyaring bukan berarti mematikan. Dan kalau virusnya terkumpul di filter udara, apa nggak bakalan terbang lagi?

 

Selain itu tidak lupa pula kita lihat bagaimana jalan jalan disemprot dengan disinfektan. Caranya macam macam. Ada yang pakai pemadam kebakaran,

Ada pula yang pakai alat fogging (macam macam banget kendaraannnya)

Entah apa gunanya dilakukan kegiatan ini. Apa memang ada yang ketularan karena banyak yang pegang pegang permukaan aspal? Atau barangkali di suatu tempat ada kebiasaan untuk tiduran sebentar di jalan sejenak ketika berangkat ke kantor? Barangkali ada yang punya kebiasaan menciumi aspal?

Entahlah mengapa dilakukan hal seperti itu.

 

Soal Masker penulis sudah banyak bahas bagaimana baik orang yang pakai atau nggak pakai itu sama sama tidak terlindungi. Mungkin sampai sekarang ada yang berpikir bahwa antara memakai masker dan tidak maka pakai masker akan lebih aman. Padahal sebenarnnya sama saja. Karena toh yang namanya orang batuk itu nggak kesaring masker. Orang bakal masih tetap menghirup udara bervirus walau sudah pakai masker. Lha wong yang sudah pakai N95 saja masih tetap bisa ketularan?

Penulis jadi teringat soal pengukuran suhu.

Entah mengapa orang kok yakin banget aman kalau sudah diukur suhunya. Penulis di beberapa minggu ini kurang enak badan. Kalau diukur pakai tangan, penulis yakin banget suhu tubuh penulis itu nggak normal. Tapi anehnya waktu diukur suhu tubuh saat masuk kantor kok suhunya nggak beda dengan yang lain.

Ok deh anggap itu karena sepeda motoran sehingga suhu tubuh jadi turun kena angin. Tapi terus ada razia tiap ruangan dimasuki pengukur suhu tubuh. Dan ternyata suhu tubuh penulis lebih dingin dari teman penulis yang lebih sehat. Apa apaan itu?

Penyakit corona masih berlanjut. Protokol kesehatan sepertinya lebih banyak untuk buang buang duit daripada untuk melindungi. Sebaiknya jaga kesehatan sendiri dan tidak mengangdalkan “protokol” kesehatan yang ada.

6 respons untuk ‘Sudah bebaskah kita dari Corona? Tidak, kita masih banyak buang buang duit untuk hal tidak berguna

  1. Terlepas dari segala sesuatu untuk pencegahan, cara paling efektif dan efisien mungkin mengikuti kedisiplinan lembaga pendidikan TNI AD yang baru-baru ini anggotanya sekitar 1200 orang terkena Corona dan mereka bisa sembuh lebih cepat dari orang pada umumnya. Tetapi sebagai orang yang percaya bahwa Corona ini bukan virus Alami atau hasil rekayasa, maka saya berpendapat bahwa orang dibalik senjata mematikan Corona ini adalah kaum intelektual yang sangat jenius,
    Ini adalah senjata mutakhir yang jauh lebih dahsyat dari nuklir, karena tepat sasaran, tidak merusak infrastruktur, tidak memerlukan biaya besar dan sangat efektif sebagai alasan mengontrol pergerakan setiap manusia diseluruh dunia.
    Tinggal tunggu waktu sampai kita diminta untuk menanam chip kedalam tubuh sebagai bukti kita telah di vaksin dan kemudian chip itu akan digunakan sebagai ktp atau digital money nantinya.
    Oya, sudah nonton videonya Komjen Pol Dharma Pongrekun saat seminar, silakan cari di Youtube, video itu direkam September 2019, tapi jadi sesuai dengan keadaan hari ini.

    Suka

    • Lebih cepat sembuh ataukah alat deteksinya (rapid test dan swab test) nggak akurat sehingga orang sehat dianggap ketularan?

      Sebagai senjata rasanya kurang terkendali. Tapi memang cocok sebagai alat untuk menakut nakuti.

      Untuk soal chip, rasanya chip bisa jadi sumber penyakit juga, seperti yang terjadi pada bob boyce. Tapi bisa dimatikan juga dengan EMPnya radiant charger.

      Suka

  2. Intinya memang untuk menakut-nakuti, kita tahu kan penyakit kolera, ebola atau penyakit lain yang terjadi di Afrika, penyakit tersebut banyak menimbulkan korban jiwa, namun kebanyakan menyerang penduduk miskin sedangkan orang miskin itu karena berbagai keterbatasan, mereka tidak reaktif terhadap suatu penyakit atau kalaupun iya, suaranya nyaris tidak terdengar. COVID-19 ini menyerang berbagai tingkat usia dan strata sosial, orang kaya juga bisa terkena apalagi orang kaya yang ada diusia rentan, jadi cukup 1 atau 2 saja orang tersebut meninggal karena COVID-19 maka beritanya akan lebih cepat menyebar. Inti dari “Life Engineering” ini memang total control atau kendali penuh terhadap Personal Individu. Manusia akan dijadikan seperti komoditi atau barang, pemasangan chip tujuannya bukan untuk kesembuhan, tak peduli dia akan menular atau tidak steril karena intinya adalah mengendalikan kita.

    Ini mulai terjadi gerakan di USA, dimana setiap gerakan yang menentang info WHO akan segera dihapus oleh admin medsos

    https://www.bitchute.com/video/HeC0tHZDX7dk/

    Suka

    • Iya, walau itu video agak sulit dilihat. Memang ada benarnya. Ada obat yang ampuh, bisa mencegah meninggal. Mengapa kok tidak disebar? Dan mengapa metode yang terbukti tidak efektif (masker, disinfektan, dll) mengapa kok dibesar besarkan?

      Sepertinya cara yang ampuh sengaja distop dan cara yang gagal sengaja disebar. Bahkan penularan virus lewat udara saja ditutup tutupi.

      Harusnya cara ampuh bisa lebih mudah disebar daripada rapid test atau swab test. Mengapa kok sampai sekarang masih tidak terdengar?

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.