Sering dipakai pelan motornya nggak bisa kencang? Itu pasti olinya jelek


Elangjalanan posting artikel berikut:
Bikin Motor Harianmu Berkarakter Kencang? Tanpa Bore up Cukup Begini

Hal ini Elang berdasarkan pengalaman sendiri di motor Linea (Honda ADV 150) semakin kesini tarikannya makin enteng. Begitu juga dengan MX Strada, akselerasinya tetap terjaga.

Yang pertama adalah bagaimana memperlakukan motor sejak dari inreyen. Menurut Elang kalau dari sejak masa inreyen motor selalu dibawa pelan, maka cetakan karakter motor seterusnya akan jadi pelan, akselerasi berat. Namun kalau motor sejak baru dibiasakan kencang (secara bertahap sejak masa inreyen) maka selanjutnya motor akan berkarakter kencang.

Kencang disini bukan soal top speed, tapi lebih ke akselerasi. Untuk mencetak karakter motor punya akselerasi ringan, biasakan gunakan 80% kemampuan motor untuk berlari. Artinya kalau kemampuan top speed motor bisa 100kpj, maka sering-seringlah rolling speed di batas kecepatan 80kpj.

Penulis nggak setuju dengan anjuran tersebut.

Penulis agak nggak jelas maksudnya bertahap sejak masa inreyen. Mungkin maksudnya nggak pernah gas pol?
Apakah Honda ADV Bebas Gredek? Ini Pengalaman di Linea

Setelah unit turun di awal Nopember kemarin, seperti biasa Elang lakukan proses inreyen, bawa motor secara linear bertahap dan top speed batasi sampai 80kpj.

Soal harus dibawa kencang terus sejak inreyen, apa benar kalau itu tidak dilakukan maka motor nggak bisa kencang? Enggak. Dan penulis beberapa kali punya pengalaman pribadi dalam hal ini yang jelas mematahkan mitos ini.

Yang jelas, saat motor baru, penulis pernah hingga 1500 km bawa motornya pelan banget. Apa motornya pelan? Enggak. Kencang banget. Crystal Tune 135 km/jam bisa. Dan penulis tidak pernah menemukan motor crystal tune yang lebih kencang dari motor penulis.

Juga pembiasaan motor selalu dipakai kencang. Itu juga tidak benar. Motor yang tiap hari dibawa istri tiap hari dengan top speed cuma 40 km/jam, setelah penulis pakai kerja masih bisa tetap dipanteng di 100 km/jam kok. Motor yang tiap hari dibawa anak, dengan top speed seringnya 60 km/jam, setelah penulis pakai kerja masih bisa tetap dipanteng di 100 km/jam kok. Jadi motor kebiasaan dibawa pelan bakal nggak bisa kencang itu cuma mitos.

Lalu mengapa itu terjadi?

Penulis curiga itu gara gara olinya.

Untuk Honda ADV, bro elang pakai SPX-2:
Riwayat Linea ADV

turun dari dealer (5/11/2019)
677 km service gratis KSG 1, free oli SPX2
2640 km ganti oli SPX2
3808 km ganti oli SPX2
4813 km ganti oli SPX2
5034 km service gratis KSG 2, free oli SPX2
7369 km ganti oli SPX2
9326 km ganti oli SPX
11.651 km KSG3, free oli SPX2
13.900 km ganti oli SPX2

Sepertinya bukan termasuk aliran long drain. Karena ganti olinya tiap 1500 km sekali.

Untuk Yamaha Jupiter MX 135, pakai X-ten sepertinya, dengan ganti oli per 1500 km juga:
Cerita Restorasi MX Strada (New Jupiter MX 135 2011)

Keduanya merupakan oli yang tidak penulis rekomendasikan. SPX-2 itu Repsol. X-Ten itu walau ada esternya tapi bahan dasar oli jelas gampang rusak. Dan itu juga yang sepertinya ganti oli dibuat per 1500 km..

Motor lambat karena jarang dipakai kencang itu dulu pernah penulis alami saat punya motor Honda. Di motor Suzuki dulu tidak terjadi karena saat itu olinya Suzuki masih sip (alias sekarang sudah nggak sip). Dan memang bisa terjadi motor lambat ketika jarang dipakai kencang. Motor sering dibawa lambat jadi nggak mau lari.

Tapi semenjak penulis memperhatikan betul kualitas oli, hal tersebut tidak terjadi lagi. Tiap hari dipakai lambat? no problem. Tinggal gas pol pasti kencang lagi. Nggak perlu ribet tiap hari ada kewajiban gas pol. Akhir bulan bawa motor eco riding max 60 km/jam, lalu tanggal muda gas pol? no problem. Langsung kencang.

Bila olinya jelek, kualitasnya di bawah standar, motor nggak bisa kencang lagi setelah sering dipakai pelan karena gel, endapan, lumpur, keraknya jadi banyak. Ada banyak penghambat di ruang mesin karena oli tidak bersirkulasi dengan cepat. Sampah sampah pada numpuk. Saluran saluran oli jadi buntu.

Dan sepertinya inilah yang membuat engine flush jadi populer. Dan bahkan kalau tidak salah pernah ada yang testimoni tarikan jadi enteng setelah melakukan engine flush. Banyak banget sampahnya.

Padahal kalau olinya bagus, maka di ruang mesin nggak akan terjadi sampah sampah walau motor nggak pernah dipakai kencang. Oli sudah bagus nggak butuh engine flush.

Jadi semua itu bermula dari oli. Kalau olinya bagus nggak akan mengalami seperti itu. Performa motor sebelum dan sesudah ganti oli ya nggak berubah drastis. Malah mungkin jadi turun karena oli baru lebih kental.

Tapi ingat juga bahwa walau oli encer bisa meningkatkan akselerasi, oli yang terlalu encer itu akan merusak akselerasi sekaligus bikin komponen mesin aus. Harus pilih yang pas. Jangan menuruti anjuran dari pabrik tapi eksperimen sendiri. Coba cek apa beneran setelah pakai oli tersebut suara mesin saat dipakai kencang dan sesudah dipakai kencang sama halusnya? Cek apa benar setelah dipakai macet macetan suara mesin tetap sehalus sebelum macet macetan? Cek apa benar suara mesin saat pertama dinyalakan pagi pagi sama halusnya sesudah dipakai jalan? Coba cek apa suara mesin sama halusnya hari ini bila dibanding dengan kemarin?

Kalau enggak ya waktunya ganti merek oli. atau barangkali tambah minyak goreng untuk memperbaiki yang sekarang.

Jangan sembarangan menghina atau melecehkan yang pakai minyak goreng sebagai aditif ya. Penulis yang sampai sekarang masih tetap pakai minyak goreng tidak lagi mengalami seperti yang terjadi di bro Elang.

Dan karena pengalaman bro Elang itu maka jadi makin yakin untuk menghindari oli repsol SPX-2 dan X-Ten. Karena kalau olinya bagus, nggak akan senasib dengan bro Elang.

18 respons untuk ‘Sering dipakai pelan motornya nggak bisa kencang? Itu pasti olinya jelek

  1. Analisis yg ngaco…mungkin terbawa sugesti..

    Saya sering bgt jalan pelan make fufi saya,hampir dr inreyen kalo santai cuma maen rpm 6000,..

    Kalo pas lagi pengen kenceng ya kenceng aja,yg pnting bbm sesuai kompresi,oli terserahlah,kalo saya kebanyakan coba2 oli mobil+migor…g ada kendala…udah 3th mesin masih bisa ae dpt top 142km/h…(jl.nganjuk-kertosono)…

    Kalo buat daily mah ngapain kenceng2,di rpm 6000 top gear aja serasa bawa matic ni fufi saya,alussssss no geterrr.

    Suka

  2. pak mau nanya, klo pakai oli gardan GL5 sae 80w90 itu udah sip blm ya? soal nya beat saya pake itu tiap ganti oli 30 ribu km sekali selama ini sih ok2 aja ga ada gejala apa2. tapi apakah pemilihan oli spek tersebut sudah tepat?
    nb : oli gardan castrol gl5 80w90

    Suka

  3. Oke ini saya ngomongin mesin Injeksi aja ya, yang ada ECU-nya.

    Injeksi close loop itu adalah sistem PID, (Proporsional Integral Derivatif) Control yang dikendalikan oleh ECU, dalam ECU ada memory untuk fine tuning atau self learning mulai dari, throttle respons untuk yang pakai TBW dan juga untuk adjust advance atau retard timing ignition.
    Saya ga tahu di Motor ADV itu ada self learning di ECU-nya atau ga, tapi Kalau di mobil saya itu terasa sekali beda karakter mobil dan perubahan dari cara saya bawa kendaraan,
    Contohnya begini, mobil saya geared matic, seumpama saya jalan 100km atau kalau dalam waktu sekitar 2 jam dengan cara yang sama yaitu buka gas perlahan, sedikit rem, maka biasanya mobil akan menyimpan data log itu, dan berikutnya mobil akan terasa lambat, mobil akan sedikit revving (slip TC) untuk kail torsi tapi gear tetap diposisi tinggi gear 4 atau 5. Gear berpindah di 2.000-3.000rpm.
    Tapi begitu saya jalan lagi 100km dengan gaya agresif, gas pol dan rem pol, nanti setelah 100km berikutnya, itu injek gas dikit aja langsung downshift, bahkan saya jalan di 100kpj saja, kalau di flatout itu bisa downshift ke gear 3 dan Shifting di 6.000rpm.
    Di R25 saya juga terasa sedikit beda karakternya waktu saya bawa dengan cara Cruising dan Cara agresif tapi di motor saya ga pernah jalan nonstop lebih dari 100km, jadi mungkin data logger nya belum banyak jadi perubahan bagi sebagian orang tidak terasa.
    Bahkan di mobil saya kalau Aki di cabut, itu data ECU ter reset, untuk setting idle ECU dan throttle positon harus learning ulang, mobil dibiarkan nyala idle tanpa AC selama 30 menit.

    Suka

    • Biasanya ada, tapi ga sampe 100km juga

      Contoh karisma aja, bisa pindah2 mapping (cdi bawaan ada 2 mapping) dalam 5 menit.
      Jadi kalo bawa pelan, trus kencang selama 5 menit nanti pindah mapping ke yang kencang

      Kalo 100km baru pindah tu namanya lemot ECU nya

      Setau saya, mesin yang biasa digeber kencang itu akselerasi memang lebih spontan, tapi topspeednya ga sebaik yang jarang digeber

      Suka

    • Rasanya sistem yang mempelajari gaya berkendara cuma ada di mobil saja. Dan di mobil matik yang lebih murah, sistem self learning juga nggak ada, digantikan oleh tombol kick down yang aktif kalau gas ditekan sampai mentok.

      Harus diingat bahwa CVT di motor matik itu rasionya tidak dikendalikan oleh ECU, beda dengan mobil. Rasio nya akan bergantung pada putaran mesin. Rasio ini dikendalikan oleh berat roller, panjang belt, kerasnya per CVT, dst. Sama sekali lepas dari ECU. Jadi sama sekali tidak ada smartnya.

      Suka

  4. Pake MX King oli std Yamaha, so far fine2 aja. Maen ama Megapro Fi or Vixion jg msh enak. Top speed 125kph jg enteng di raih (klo niat dan itu belum mentok).

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.