Safety riding: JDDC dan RDL ngawur banget, teknik pengereman squeeze kok diterjemahkan jadi rem dikocok


Kesalah pahaman soal urutan pengereman dengan AHM sudah lama kelar. Terima kasih banyak karena bisa ketemu langsung dengan perwakilan dari AHM Jakarta. AHM ternyata secara resmi menganut aliran kalau mengerem harus bersamaan, aliran yang sama dengan yang dipakai di Jepang, beda dari yang dikutip di media/blog lokal. Tapi penulis tetap pakai aliran kalau mengerem didahulukan rem belakang sebelum pakai rem depan.

Nah yang sama JDDC yang belum, padahal banyak ajaran yang menurut penulis ngawur. Dan kali ini nemu ajaran mereka yang tidak kalah ngawur waktu lagi cari bahan vlog. Soal teknik “squeeze”.

Kalau di luar negeri itu biasanya ada slogan “squeeze don’t grab”.

Nah di versi JDDC, squeeze itu dijelaskan oleh direktur pelatihannya, Jusri Pulubuhu, sebagai berikut, artikel 1/6/2020:
Cara Rem Mendadak pada Motor yang Belum ABS

Jusri Pulubuhu, Training Director Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC), menjelaskan, pengereman darurat yang dilakukan pada saat kecepatan tinggi dilakukan dengan cara dikocok terhadap rem roda depan. Teknik ini dikenal juga dengan istilah squezee.

“Jadi, pengereman tidak boleh dilakukan dengan cara menarik tuas satu kali sekaligus. Sebab, cara ini berbahaya karena bisa membuat pengendara terlempar ke arah depan,” ujar Jusri, saat dihubungi Kompas.com, beberapa waktu lalu.

Squeeze ini dijelaskan sebagai teknik mengerem dengan cara dikocok, atau di tekan lepas. Dan menarik tuas rem dengan sekali tarik itu dilarang.

Contoh kutipan lain, artikel 25/2/2018:
Memahami Cara Melakukan Pengereman saat Mengendarai Sepeda Motor

Instruktur Jakarta Defensive Driving Consulting, Jusri Pulubuhu kepada kumparanOTO.
“Pengereman darurat ketika motor melaju dengan kecepatan tinggi, lakukan dengan metode squeeze (mengocok rem roda depan). Jangan ditarik sekaligus. Lalu, ketika kecepatan sudah mulai berkurang, kombinasikan dengan menggunakan rem belakang, kalau dirasa masih kurang juga, maka dapat dibantu dengan mengganti transmisi, ke transmisi yang lebih rendah atau engine brake,” jelasnya

Artikel 4/8/2020:
Tips Pengereman Sepeda Motor Dari JDDC

Berikut tips safety riding yang dipimpin oleh kepala instruktur Jusri Pulubuhu dari JDDC, mengenai teknik pengereman: Untuk menyikapi agar kedua ban tidak terkunci, lakukan kedua pengereman dengan cara squeeze (remas-lepas-remas-lepas sebagaimana cara kerja rem ABS).

Cara dikocok ini disebut efektif, artikel 13/2/2013:
TEKNIK PENGEREMAN SEPEDA MOTOR

chief instructor Jakarta Defensive Driving Consulting, Jusri Pulubuhu.

Pengereman yang efektif adalah dengan cara mengerem : tekan-lepas-tekan-lepas, teknik ini mirip dengan teknik ABS (Air Break System), dan jarak berhentik akan lebih pendek dan motor tetap dalam kendali.

Disebut cocok kalau musim hujan, artikel 29 Februari 2012:
Pentingnya Adaptasi Setelah Ganti Rem Cakram Besar

Jusri Pulubuhu, Training Director, Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) juga mengingatkan kondisi jalan turut menentukan teknik mana yang mesti digunakan. Jusri menjelaskan “Ada dua cara untuk pengereman yaitu ideal dan darurat. Ideal maksudnya saat pengereman harus dilakukan secara bertahap. Sedangkan darurat menggunakan teknik meremas atau squeeze,” papar pria bertubuh sedang ini. Saat kemarau bisa menggunakan teknik ideal, saat hujan harus pakai jurus squeeze.

Metode dikocok ini juga diajarkan di sekolah safety riding RDL juga, artikel 4/7/2016:
Teknik Pengereman Sepeda Motor dalam Kondisi Mendadak

Kepala Instruktur Rifat Drive Labs, Herry Wahyudi, berbagi ilmu soal jurus yang bisa diterapkan oleh pemotor. Pertama, bila melaju pada kecepatan di bawah 30 km/jam, tidak disarankan mengurangi penggunaan rem depan. Kemudian, bila melaju pada kecepatan di atas 30-80 km/jam harus mengombinasikan rem pada roda belakang dan depan. Bila melebihi 80-100 km/jam idealnya memperbanyak penggunaan rem depan. “Remnya harus dipompa dalam artian dikocok. Ini supaya roda tidak terkunci. Bila terkunci akan selip,” jelas dia.

Artikel 25/11/2015:
Ini Teknik Pengereman Sepeda Motor yang Tepat

“Ketika laju motor di bawah rata-rata atau pelan dalam kondisi jalanan yang licin, penggunaan rem depan justru berpotensi membuat pengendaranya terjatuh. Rem depan sebaiknya dioptimalkan ketika kecepatan motor di atas 80 Km per jam sambil sedikit menekan rem belakang,” ujar Kepala Instruktur Rifat Drive Labs (RDL), Herry Wahyudi. Apabila kecepatan kendaraan berada di rentang 30-80 Km per jam, teknik yang disarankan Herry adalah menggunakan rem depan dan belakang secara bersamaan, bukan mengoptimalkan salah satunya. Sementara itu dalam keadaan darurat, lanjut Herry, handel rem sebaiknya “dipompa” atau “dikocok” untuk menghindari roda-rodanya terkunci.

 

Menurut penulis cara mengerem tidak bisa dipilahkan dengan kecepatan. Penulis tetap pakai satu teknik yang sama, baik itu kecepatan tinggi atau kecepatan rendah. Jalan kering atau basah. Belakang dulu, lalu yang depan, dengan kekuatan lebih banyak di rem depan setelah motor condong ke depan.

Dibilang kecepatan 30 km/jam nggak butuh rem depan? Pakai rem depan bisa jatuh? Justru kalau di kecepatan 30 km/jam itu kalau pakai rem depan resiko jatuh kecil. Dan walau kecepatan cuma 30km/jam, kalau pakai rem belakang saja tetap saja nggak efektif, motor sulit berhenti.

Dan ini sudah penulis coba di akhir video berikut:

Padahal motornya matik, yang notabene beban lebih banyak di belakang. Di rem belakang full sehingga ban ngelock (lupa kalau rem belakang motornya terlalu pakem), motor tetap sulit berhenti. Sementara itu penulis coba tekan rem depan saja seberani mungkin, walau ada rasa selipnya, motor masih bisa dikuasai.

Penulis sebelumnya sudah membuat artikel yang meragukan keampuhan mengerem pakai dikocok:
Safety riding motor itu beda dari mobil, jadi keampuhan dan keamanan teknik mengerem pakai tekan lepas atau mengocok rem perlu dipertanyakan .

Ada beberapa tambahan (yang juga penulis bahas di video di atas). Bila orang harus melakukan pengereman sambil dikocok:
– apa orangnya masih bisa konsentrasi kalau harus melakukan teknik dikocok juga? misalnya untuk belok menghindar?
– tenaga pengereman jelas harus pas. Tidak lebih dan tidak kurang. Apakah orangnya bisa selalu pas tenaga ngeremnya saat mengocok remnya?
– seberapa cepat orangnya bisa mengocok remnya?
– apa sudah dibuktikan mengocok rem itu yang paling efektif?

Disebut bahwa mengocok rem itu cocoknya dilakukan di kecepatan di atas 80 km/jam. Penulis tidak menemukan bukti bahwa JDDC maupun pak Jusri pernah mencontohkan cara pengereman tersebut. Penulis curiga itu mereka mengajari seperti itu tapi dalam kenyataan tidak pernah menerapkan. Penulis berharap ada pembuktian untuk itu tapi sepertinya mustahil.

Nggak perduli dikatakan penakut, penulis tidak berani melakukan pengereman dengan dikocok di kecepatan di atas 80km/jam. Apalagi sama JDDC / pak Jusru disuruh pakai rem depan saja. Sama sekali nggak pakai rem belakang. Ngeri.

Kalau ada yang beneran mempraktekkan ajaran JDDC ini, barangkali bisa membantu membuatkan vlog rekaman praktek pengereman cara pakai dikocok?

 

Squeeze sendiri sebenarnya artinya bukan mengocok rem atau tekan lepas tekan lepas rem. Squeeze dijelaskan sebagai teknik mengerem sekali tekan (yang oleh JDDC justru dilarang) dengan menekan rem makin lama makin keras:
How To Use Your Brakes

Like your instructors taught you in your MSF class all those years ago, your braking should be progressive. That means that you squeeze, and do not grab, your brakes. Squeezing the front brake lever (and stepping on the rear brake pedal) slightly at first and then harder and harder the longer you have to brake, gives your motorcycle a chance to transfer weight to the front wheel and compress the suspension. All of that makes your braking much more effective.

Good Braking Techniques

Squeeze the front brake lever
Smoothly and firmly – don’t grab, but don’t be shy, either
With increasing pressure – since the weight shifts forward as you brake and presses more weight onto the front tire, you have increasing available traction. Take advantage of this by smoothly and quickly increasing the amount of your squeeze.
Rear brake

Apply the rear brake with light to lighter pressure. As stated above, the weight is shifting to the front, so the rear is getting lighter. This means there is a decreasing amount of traction available at the rear tire. To avoid a rear wheel skid, decrease the amount of pressure you are applying to the rear brake.

How to use your motorcycle’s brakes
If you take an MSF course, they’ll tell you not to grab the brake lever and instead squeeze it slowly

Di penjelasan itu dijelaskan pula bahwa weight transfer atau perpindahan beban itu mempunyai pengaruh besar pada grip ban. Harus nunggu beban motor pindah ke depan baru pengereman yang depan bisa dilakukan dengan tenaga lebih kuat. Sementara yang belakang dikurangi tekanannya.

Weight transfer ini juga yang membuat penulis lebih memilih mengawali rem dengan rem belakang:

Kekeliruan dalam menterjemahkan squeeze ini, bisa jadi karena orang salah dalam menterjemahkan modulate the brake dalam melakukan squeeze, seperti yang sudah pernah penulis bahas. Padahal modulate the brake itu artinya adalah menyesuaikan tenaga sehingga bisa pas, nggak kurang dan nggak lebih:
What does “modulate” mean when referring to brakes?

Modulate = Lightly feathering the brakes. Brake modulation is how much fine control you have to apply a range of braking power distributed over the pull of your brake levers.

 

Uniknya, JDDC pernah juga bilang bahwa squueze itu menekan rem dengan makin lama makin keras. Tapi itu ditahun 2009, lebih dari 10 tahun yang lalu:
Presentasi 10/11/2009:
Persembahan untuk bikers indonesia

Versi web diposting di website berikut, artikel 10/11/2009 :
Knowledge Sharing : Safety Riding Clinic JDDC

Berikut penjelasannya:

Cuma jadi aneh ketika ada penjelasan berikut:

Jalan kecepatan konstan dilarang pakai squeeze?

Perlu diketahui bahwa yang namanya threshold braking adalah mengerem dengan maksimal, dengan memanfaatkan grip dari ban. Grip dari ban itu paling maksimal ketika ban agak selip sedikit.
Berapa sebenarnya beda grip antara ban racing dengan ban jalanan?

Bisa melakukan pengereman di titik kritis ini jadi threshold braking.

Yang perlu jadi catatan adalah grip maksimal ini bisa berbeda beda tergantung situasi:
Trail braking dan memanfaatkan rem belakang saat menikung agar bisa cepat atau aman di beda situasi beda caranya .

Squeeze sebenarnya adalah usaha mengerem agar bisa mencapai threshold braking. Tujuannya sama, mencapai daya pengereman maksimal. Jadi hal yang aneh ketika ada sekolah berkendara yang melarang melakukan squeeze.

Mungkin karena saat itu JDDC jadi satu satu nya sekolah berkendara di dunia yang melarang melakukan squeeze, sementara yang lain pada bilang justru harus squeeze, maka mereka jadi merevisi deskripsi squeeze. Tapi sayangnya tetap salah.

19 respons untuk ‘Safety riding: JDDC dan RDL ngawur banget, teknik pengereman squeeze kok diterjemahkan jadi rem dikocok

  1. Kalo saya memang cenderung untuk rem belakang saya tekan sekuatnya baru dibantu dengan depan dengan cara di kocok kenapa saya kocok ? Menurut feel saya saat mengerem secara tiba2 lebih pas seperti itu, mungkin karena sudah terbiasa.

    Suka

  2. pembahasan teknik mengerem ini kayaknya kok hampir selalu luput dari satu hal yang penting yang langsung berpengaruh terhadap pengereman itu sendiri, yaitu bagaimana karakter dan feeling di saat melakukan pengereman daripada perangkat rem itu sendiri.
    Contohnya seperti kebanyakan Rem Cakram depan bebek Yamaha dan Honda yg masih pake 2 kaliper, secara umum punya Yamaha feeling pengeremannya lebih enak dan karakternya lebih dapat diprediksi, kita lebih dapat “merasakan front end feeling” ketimbang punya Honda.

    intinya sistem pengereman yg bagus adalah yang dapat memberikan feedback dan feeling yg baik bagi pengendara akan kondisi perputaran ban dengan permukaan jalan CMIIW

    Suka

    • Kok serasa membahas MotoGP (Quartararo bisa feeling, Marc andalkan kesaktian cegah jatuh). maksudnya fron feeling ini apa saat mau belok (sambil ngerem) atau selagi ngerem?

      Suka

      • hehehe…., intinya gimana karakter “gigitan kampas terhadap cakram” itu yg mempengaruhi behaviour pada saat pengereman, yg bagus ya yg lembut namun pakem (yg ini gimana jelasinnya ya susah sih, pokoknya pas ngerem itu feeling jepitan rem harus bisa terdosis)

        Suka

  3. saya juga malah aneh kalo ngerem dengan cara “dikocok” malah lebih jauh cara pengeremannya.
    makanya dari dulu lebih suka ngerem pake rem belakang tipis tipis, kalo butuh daya pengereman lebih baru dibantu rem depan

    Suka

  4. Pas lagi speeding trus jarak 100 meter di depan ada kendaraan stop biasanya sy
    Lepas gas dibarengin injak pedal rem blakang

    Bobot berpindah kedepan dibarengin rem depan yg mantap , trus pedal rem blakang dibikin injak angkat injak

    Tp hati2 klo ada kendaraan dibelakang

    Suka

    • Sip. Kalau rem belakang rasanya tidak masalah dikocok. Kalau rem depan, rasanya ngeri. Penasaran banget pingin tahu siapa yang beneran menerapkan ilmunya JDDC.

      Kalau untuk saya, selama mengerem, bakal sulit banget konsentrasi tekan lepas rem belakang. Lebih fokus mengatur kekuatan rem depan.

      Suka

  5. Ane udh 2 kali ikut rdl, terakhir akhir thn 2018. Waktu itu instruktur demo cara mengerem full rem blkg, full rem depan, dan rem depan dgn cara dikocok. Motor yg digunakan honda verza (rem blkg tromol). Poin yg ditekankan, bagaimana dalam posisi rem mendadak (panic breaking) motor tetap bisa dikendalikan dan tidak sampai menbarak objek di dpn. Pertama full rem blkg, gas full throtl seingat ane sampe gigi 2 doang krn ktrbatasan trek, walhasil walaupun kendali kemudi (motor masih bisa dibelokkan agar tidak menabrak objek di depan) tapi udh pasti ban belakang slip motor ngeloyor terus (berbahaya dan tidak dianjurkan). Percobaan kedua full rem depan, dgn titik pengereman yg sama, motor bisa berhenti tidak sampai menabrak objek, tapi kendali motor hampir nol persen krn stang kemudi berat untuk dibelokkan, dan ban depan rawan slip juga apabila jalanan basah atau berpasir (tidak dianjurkan). Percobaan terakhir metode rem depan dikocok, dgn titik pengereman yg sama, titik henti lebih jauh daripada metode full rem depan, tapi poin nya, kendali motor masih bisa diatas 50% sehingga masih bisa menghindari objek di dpn (metode yg dianjurkan).

    Suka

    • Demo itu jelas tendensius, ngawur dan tidak mencerminkan kenyataan. Ujinya juga tidak representatif karena cuma pakai gigi 2.
      – rem belakang full bisa ngelock, rem depan full kok tidak ngelock? Kalau saya yang praktek, bakal sama sama ngelocknya, baik rem belakang maupun rem depan kalau ngeremnya diteken full.
      – nggak ada sekolah berkendara di luar negeri yang mengajarkan untuk menekan rem belakang dengan full. Dan inilah jelas ada niat jelek dari instruktur. Sehingga kalau pakai rem belakang dibuat ngelock dan kalau pakai rem depan dibuat tidak ngelock.
      – jelas motor nggak bisa belok kalau motor ngeremnya cuma pakai rem depan saja. Coba lihat prinsip kerja cornering ABS, agar bisa tetap belok, sistem bisa secara otomatis mengaktifkan rem belakang juga:
      Continental Optimized Curve Braking (oCB)

      The Motorcycle Integral Brake system actively ensures that there is always an optimum ratio between the braking pressures on the front and rear wheels.

      Survival Skills|FREE better biking tips for all motorcycle riders

      avoid applying the front brake harshly mid-corner – as well as grip issues, the forks compress, steering geometry changes and most bikes attempt to sit up which makes them want to run straight on. This is a common cause of running wide incidents in bends, and cornering ABS won’t help here.

      – saya pernah secara real life melakukan manuver belok menghindar sambil menekan rem depan dan rem belakang. Sayangnya saat itu saya kemudian ketabrak dari belakang sama vixion lambat yang ngeremnya mengandalkan rem depan saja. Saya yang lebih cepat bisa mengerem lebih pendek jaraknya daripada orang itu. Padahal saya juga melakukan manuver menghindar. Mengandalkan rem depan saja itu nggak maksimal, apalagi kalau nggak latihan.

      Dan ini lah yang membuat saya berkali kali bikin artikel melarang orang pakai rem depan saja.

      Dari sistem cornering ABS saja sudah terbukti bahwa ngerem pakai dikocok itu tetap juga bakal sulit belok kalau ngeremnya cuma pakai rem depan saja. Sayangnya ajaran ngawur begitu yang masih terus dipakai oleh JDDC. Di atas 80 dilarang pakai rem belakang. Padahal itu justru kunci penyelamatnya.

      Suka

  6. Kalo saya rem pake depan belakang(porsi bnykn depan), trus klo salah satu mulai kerasa ngunci (terutama pas panic braking) ya saya lepas bentar banget trus tarik lagi,,, begitu seterusnya, kyk abs lah,,,
    tpi kalo ban ga ngunci ya ngapain dikocok.
    Klo harus menghindar ya remnya lepas atau kurangin tekanannya biar bisa manuver…
    Memang harus udh reflek sih, tapi sangat berguna karna saya sering liat org jatoh karna ban ngunci (terutama depan) tapi tuas rem tetep ditarik.
    Intinya harus bs ngontrol kendaraan pas panic brake

    Suka

    • Iya. Waktu saya manuver mendadak sebelumnya, saya hanya mengurangi tenaga rem depannya saja. Mengocok nggak perlu

      Iya, pembiasaan itu penting untuk mengembangkan reflek.

      Suka

  7. […] Selama ini penulis sudah sering bahas betapa ngawurnya ajaran JDDC (Jakarta Defensive Driving Consultant, Jusri Pulubuhu) atau RDL (Rifat Drive Lab, Herry Wahyudi). Yang jadi pertanyaan besar adalah teknik squeeze yang oleh mereka itu diterjemahkan sebagai teknik rem dikocok: Safety riding: JDDC dan RDL ngawur banget, teknik pengereman squeeze kok diterjemahkan jadi rem diko… […]

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.