Sekali lagi, suspensi empuk nggak stabil di 100 km/jam itu cuma penyakitnya merek Jepang lokal bawaan motor lokal


Postingan penulis tentang suspensi di sebuah grup fb besar mendapat banyak respon, sampai penulis kewalahan menjawab. Banyak juga yang nggak setuju dengan pendapat penulis. Bahkan ada yang berpendapat bahwa suspensi bawaan motor itu adalah suspensi yang terbaik di pasaran untuk harga yang sama. Sesuatu yang mustahil bagi penulis.

Perdebatan terjadi cukup panjang. Dan penulis konfirmasi lagi, yang debat tersebut menganggap bahwa suspensi Honda Beat eSP, Honda Vario New dan Yamaha NMAX itu suspensi bawaannya adalah yang terbaik.

Nggak jelas alasannya apa. Saat ditanya motor beliaunya ini apa, suspensi afermarket yang pernah dicoba apa, nggak dijawab lagi. Mungkin kabur, padahal sebelumnya intens banget dan terkesan ahli.

Kebanyakan yang merespon juga tidak membedakan antara fungsi per dan shock breaker di suspensi. Terbukti dari ada yang bilang bahwa per itu makin lama makin lembek bila terus dipakai. Dibilang bahwa per yang diduduki gajah itu akan makin lembek.

Ini merupakan sesuatu yang aneh bagi penulis. Per itu kan baja. Kok bisa bisanya jadi lembek? Penulis juga pernah lihat ada truk mangkrak puluhan tahun, tapi kok pernya masih kelihatan keras dan nggak lembek ya?

Juga terbukti ada yang bilang bahwa per lembek itu nggak nyaman dipakai di jalan tidak rata di kecepatan tinggi. Per lembek disebut bikin motor nggak stabil di tikungan juga. Mobat mabit, mantul mantul, goyang goyang, dst.

Ada juga yang bilang suspensi ori motornya masih ok sampai sekarang.

Padahal sebenarnya bila kita memilah suspensi menjadi per dan shockbreaker maka hal tersebut akan mudah dijelaskan. Kebanyakan orang itu terlalu fokus pada pernya. Padahal di suspensi ada shockbreaker juga. Per sudah banyak yang tahu fungsinya apa. Shockbreaker banyak yang nggak tahu.

Ilustrasi paling jelas itu bila kita pakai acuan game. Game bisa menunjukkan bagaimana si programmer menterjemahkan fungsi suspensi.

Fungsi dari shock breaker adalah menghambat lajunya suspensi. Saat suspensi memendek karena benjolan di jalan maka gerakan suspensi akan terhambat oleh daya tolak per dan daya hambat shockbreaker. 1 + 1 = 2. Saat per berusaha mengembalikan suspensi ke posisi semua maka shockbreaker akan mencoba menghambat. 1 – 1 = 0.

Yang bilang per makin lama makin lembek itu sebenarnya menjelaskan perilaku shockbreaker. Dan tentunya ini bukan shockbreaker orisinil tapi shockbreaker aftermarket. Shockbreaker ori itu kan pakai teknologi kuno single action. Lumrahnya hambatannya sangat minim. Sementara itu shockbreaker dari suspensi aftermarket itu kadang terlalu banyak hambatannya. Seperti misalnya kasus orang salah setel Scarlet 9002-R. Dan memang kalau shockbreaker sudah mulai rusak hambatan akan berkurang. Jadi suspensi jadi terasa makin letoy atau lembek itu karena hambatan suspensi, shockbreakernya yang letoy atau lembek, bukan karena pernya. Per nggak akan makin empuk bro.

Per lebih empuk juga bukan penyebab motor nggak stabil. Yang bikin motor nggak stabil itu adalah shockbreaker. Kalau hambatan minim atau dihambat cuma sebelah seperti ilmunya suspensi merek Jepang buatan lokal, maka motor akan nggak stabil.

Jangankan yang empuk, yang pernya keras seperti misalnya suspensi bawaan Yamaha NMAX, yang tabungnya cuma tampang doang nggak ada manfaatnya, nggak stabil juga. Padahal tidak manusiawinya suspensi bawaan NMAX itu sudah terkenal sekali. Dipakai boncengan pun masih terasa kerasnya.

Nih contoh bukti betapa nggak stabilnya suspensi ori NMAX:
Mulai wakti 9:00

Mulai waktu 8:30:

Keras lebih stabil itu cuma terjadi di suspensi ketinggalan jaman macam bawaan motor lokal. Di suspensi aftermarket, itu tidak akan terjadi (asal nggak ketipu sales). Empuk pun bisa stabil. Bahkan bisa lebih stabil daripada suspensi keras merek Jepang bawaan motor.

Setelah ganti DBS, yang penulis setel lebih empuk dari bawaan, lewat jalan yang sama jadi lebih stabil, lebih sedikit guncangannya dan yang lebih penting lagi, motor jadi lebih mudah dikendalikan. Ngerem dan belok justru lebih mudah dilakukan dengan suspensi empuk double actionnya DBS daripada suspensi keras single action hambatan dilemahkan punya KYB orinya NMAX.

Berikut contohnya, di jalan yang sama setelah ganti suspensi dan ganjal stopper engine mounting, mulai waktu 13:00:

Penulis sebelumnya juga sudah mencontohkan suspensi ori Honda Beat dengan YSS DTG. Walau empuknya per nggak beda jauh, kestabilan berkendara di jalan nggak enak ataupun saat kencang itu ibarat langit dan bumi dengan suspensi merek Jepang bawaan motor. Kenyamanan ala sedan itu jadi memungkinkan di motor yang cuma Honda Beat.

Ada juga yang bilang, bila suspensi tersebut lebih baik dan murah, mengapa kok pabrikan tidak pakai itu? Langsung penulis jawab sejak kapan pabrikan memikirkan yang terbaik untuk konsumen? Pabrikan itu kan selama laku, nggak perduli konsumen dapat barang jelek? Bahkan memberikan barang yang bikin motor nggak awet pun no problem.

Lalu bilang mengapa kok MotoGP nggak pakai merek DBS saja bila DBS itu dalamannya 100% sama dengan Ohlins? Penulis pun jelaskan dulu soal malpraktek MotoGP soal ECU yang malah bikin motor mudah crash dan sampai sekarang masalahnya nggak selesai selesai. Lalu soal kasus winglet di swing arm yang diklaim nggak menghasilkan efek aerodinamika, tapi belakangnya akhirnya tanpa malu bilang ada. Lalu penulis jelaskan juga bahwa di MotoGP itu bukan beli produknya tapi butuh tenaga ahli pendamping dan kemampuan buat suspensi custom.

Memang sih kebanyakan orang itu sering ketipu sales. Ketipu sama penjual toko yang jualan suspensi dengan digantungkan di emperan. Nggak ada merek, bentuk sporty banget tapi dalamnya hancur hancuran. Harga juga mahal. Belum lagi yang ketipu beli suspensi mahal yang ukuran pernya nggak jelas. Ada yang beli terlalu empuk. Ada yang beli terlalu keras.

Namun bila penjualnya paham barang jualannya, menjual dengan jujur, maka pastinya suspensi aftermarket itu lebih nyaman dari merek Jepang bawaan motor. Sesuatu yang harus disayangkan karena untuk bisa bikin nyaman itu tidak butuh effort yang besar. Nggak perlu mengundang Dani Pedrosa seperti yang dilakukan KTM, tapi cukup copas dalaman suspensi motor yang nyaman. Memodifikasi dalaman nggak butuh teknologi tinggi kalau cuma copas saja. Toh saling copy satu sama lain itu sudah biasa di pabrikan motor.

12 respons untuk ‚ÄėSekali lagi, suspensi empuk nggak stabil di 100 km/jam itu cuma penyakitnya merek Jepang lokal bawaan motor lokal‚Äô

  1. Mantap ulsannya om,
    Oia om, minta referensi skok aftermarket untuk vario 110 karbu dong, terimakasih sebelumnya om

    Suka

    • terima kasih. Menurut saya alternatifnya 2 kalau ingin murah. Kalau badan termasuk berat YSS DTG dan kalau ringan pakai DBS. Badan berat pakai DBS bisa asal pilih yang preloadnya bisa banyak.

      Disukai oleh 1 orang

  2. Karena di motor itu Shock dan Per jadi 1, kalau di Mobil terutama suspensi belakang itu Per dan Shock pisah dan beberapa malah ga kelihatan Per nya. Jadi wajar kalau banyak yang salah kaprah juga.

    Kalau di mobil kan orang ganti Shock tapi jarang ganti Per kecuali mau rubah spring rate atau ketinggian mobil.

    Suka

  3. Pemakai setia motor laki nyimak
    Walopun sy termasuk pelopor pemakai matik (beli nouvo dari awal) sy mengamati selain kepraktisan dan tarikan yg aduhai, motor matik ada kemunduran banding motor gigi: konsumsi bbm dan kerasnya shock
    Konsumsi bbm jelas urusannya susah, tapi pelan² ada perbaikan
    Kerasnya shock? Apa susahnya ya hehe
    Paling kentara waktu berkendara ada motor matik melewati poldur, gila mereka hampir berhenti banget waktu mau lewat poldur, kadang sy dibelakang sampe kaget
    Sy operasional harian juga pake matik xride old, berasa keras dibanding shock motor laki yg standar – tapi mumpuni lah dibanding matik kebanyakan yg hampir berhenti lewat poldur, tapi sayangnya xride ga bisa kencang jadi ga tau manuvernya

    Suka

  4. Berat saya 60 kg, kalau naik Blade KWB dengan sokbreaker standar rasanya enak, empuk. Cuma limbung klo buat jalan diatas 80 km, jadinya diganti YSS (lupa serinya, lebiih keras dikit daripada sokbreaker standar tapi pas dengan kontur jalan sehari-hari. Sekarang sudah agak bocor dan mentul mentul enak buat ngetrip ke jalan yang jelek wkwkwkwkwk)

    Kalau naik Scoopy K14, terasa keras banget dengan tekanan ban standar di 32 (ini sendirian). Baru enak klo ketambahan bini dan anak, yah nambah beban sekitar 60 kg. Hanya saja karakter handling malah kaku klo buat belok tajam.

    Suka

    • sip terima kasih infonya. Blade itu impor tidak ya? Kalau impor biasanya suspensi masih enak.

      Iya, suspensi kalau sudah bocor nggak bakal enak :).

      Baru tahu scoopy itu ada nggak enaknya. Apa karena ban lebar ya?

      Disukai oleh 1 orang

  5. Yss top up 340 yang saya pakai di Supra X 125 terasa lebih nyaman sesudah diservis. Di daerah saya Bekasi tarifnya 90 ribu sepasang. Sebelum diservis pantulan baliknya bunyi kasar (srok.. seperti kurang oli) dan terasa kurang stabil meski tidak bocor. Tambah keras jika dipakai lebih dari 2 jam. Sesudah diservis kompresi dan rebound sedikit lebih lambat tapi halus suaranya psst. Buat nikung kecepatan tinggi lebih pede. Kalau dipakai agak lama tambah empuk. Malah shock depan jadi terasa keras dan bikin tangan pegal.

    Suka

    • Iya, sepertinya memang dari kendali kualitas YSS kadang kelolosan. Suspensi masih baru pun kadang kurang beres.

      Iya, sama, sejak saya pakai suspensi empuk juga jadi sering terasa suspensi depan kurang enak ūüôā .

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.