Satu lagi kejelekan ECU “canggih” Magneti Marelli, launch control, sampai Vinales saja emoh pakai


Pembaca mungkin sudah paham bahwa penulis ini termasuk yang menganggap ECU di MotoGP, merek Magneti Marelli itu ecu bobrok. Karena tim sekelas Honda dan Yamaha saja sampai sekarang masih nggak bisa memprogram dengan sempurna. Mungkin itu ECU dirancang cuma cocok untuk Ducati sehingga sepertinya cuma Ducati yang nggak pernah mengalami masalah seputar ECU.

Ketika pertama diperkenalkan (bersamaan dengan penggunaan ban Michelin), disebutkan para pembalap saling berjatuhan di lintasan. Sesuatu yang seharusnya membuat ECU ini didiskualifikasi, tapi nyatanya tetap hidup sampai sekarang.

Sampai sekarang ECU ini membuat penyakit bagi Honda, seperti misalnya engine brake yang angin anginan. Beberapa putaran ok, lalu mendadak rewel. Kalau sudah rewel ya crash. Dan ini disebut jadi biang cedera para pembalap Honda. Sebelumnya Honda juga berkutat di masalah wheelspin.

Yamaha juga sepertinya masih berjuang sampai sekarang. Mesin crossplane yang dulu diagung agungkan sebagai mesin yang power deliverynya hebat di tikungan menjadi mesin yang power deliverynya payah. Sehingga konfigurasi crossplane yang mengorbankan power demi power delivery pun jadi senjata makan tuan banget.

Dan kali ini penulis baru tahu juga bahwa dari sisi launch control memang beneran ECU ini nggak canggih. Yang cerita itu Vinales.

Vinales cerita bahwa ia baru tahu bahwa kalau nggak pakai launch control itu justru makin kencang startnya. Ini ia ketahui setelah melihat Dani Pedrosa mempraktekkannya:
Aragon MotoGP: Vinales turned off launch control after watching Pedrosa

“Di Portimao saya melihat Pedrosa start tanpa elektronik. Sepertinya begitu cepat. Saya mencoba, mencoba dan mencoba. Dalam latihan itu benar-benar bagus. Lebih baik dari start normal. Tapi di balapan itu sangat sulit,” kata Vinales di Aragon. Kamis. “Saya membutuhkan lebih banyak latihan untuk mulai menjadi kompetitif. Saya akan terus berusaha. Saya akan mencoba melakukannya dengan cara saya dan saya akan mencoba untuk menjadi lebih kompetitif daripada balapan terakhir.”

Sungguh sesuatu yang aneh bila seorang pembalap sampai menganggap motor bisa lebih kencang startnya bila tanpa pakai sistem launch control. Ini pertanda ada yang salah pada launch controlnya.

Karena kalau di dunia mobil itu, launch control jadi sesuatu yang wajib bila ingin kencang.

Mungkin salah kalau perbandingannya BMW ya? Beda level.

Menurut Crutchlow, launch controlnya Magneti Marelli itu cuma rev limiter saja:

Ditanya tentang taktik Vinales, Cal Crutchlow dari LCR Honda menjelaskan bahwa kontrol peluncuran hanya membatasi putaran yang tersedia. “Ini hanya rev limiter. Ini seperti pitlane limiter, tidak lebih dari itu,” kata orang Inggris itu.

“Apa yang akan kami golongkan sebagai kontrol peluncuran hanyalah pembatas yang berarti Anda tidak dapat memutar motor lebih dari titik tertentu dan saat Anda melepaskan kopling, motor tetap pada tingkat itu dan tidak melaju melewati itu hingga kecepatan tertentu. “Ini adalah hal yang cukup mudah untuk dilakukan, karena itu. Saya sering bermain dengan milik saya, RPM. Tergantung pada keadaan saat start. Saya mungkin mengatakan saya perlu 500 RPM lebih banyak, atau lebih atau kurang torsi, tergantung seberapa jauh Anda harus pergi.

OOOoooooo, pantas Honda CBR1000RR-RR itu disebut pakai teknologi MotoGP, karena launch control punya CBR1000RR-RR itu juga cuma rev limiter.
AHM Mulai Pasarkan Honda CBR1000RR-R Fireblade di Indonesia

Satu hal lagi yang menjadikan Honda CBR1000RR-R Fireblade semakin naik kelas, adanya fitur Start Mode. Fitur ini menjaga putaran mesin (rpm) tetap konstan saat melakukan start, memungkinkan pengendara berkonsentrasi pada pengoperasian kopling agar start semakin optimal. Peranti ini mampu membatasi putaran mesin maksimal sesuai keinginan (6.000-10.000 rpm).

Sementara Kawasaki sudah move on dari yang cuma rev limiter dan sudah pakai yang lebih canggih, pakai AI:
Dua kali lebih mahal, fitur CBR10000RR-R lebih primitif dari yang separuh harga, ZX-10R

Bagi penggemar Honda pastinya yang lebih mirip MotoGP yang lebih canggih. Kalau untuk penulis sih, punya Kawasaki lebih canggih. Nggak perlu disetel manual lagi. Jadi yang seperti Vinales pun nggak perlu takut salah setel atau blunder saat start lagi.

Banyak orang yang memaksa Kawasaki untuk ke MotoGP. Tapi melihat kondisinya sekarang, menurut penulis jauh lebih menguntungkan rider bila Kawasaki nggak ke MotoGP. Nanti teknologinya jadi mundur lagi dong? Nanti rider akan dapat teknologi ketinggalan jaman dong?

19 respons untuk ‘Satu lagi kejelekan ECU “canggih” Magneti Marelli, launch control, sampai Vinales saja emoh pakai

  1. Karena kan memang untuk kebiri kemampuan motornya pabrikan Jepang
    Lorenzo atau Rossi kan pernah bilang ini jadi kaya M1 2008 alias mundur 4-5 tahun. Waktu itu aja masih pakai algoritmanya Yamaha sendiri. Apalagi setelah pakai Algoritma dan IMU diseragamkan, ya makin mundur aja.

    Suka

    • Iya betul karena terlalu timpang perbedaan antara tim pakbrikan yang bisa jor²an di ecu dibantingkan tim satelit apalagi tim privater.

      Suka

        • Tapi kan dengan di kebiri seperti ini honda yang begitu digdaya dengan sumberdaya yang di punya gapnya jadi terpangkas ya walaupun dengan adanya marc menjadi pengecualian, karena kalo teknologinya terlalu canggih pasti ada yang bilang menang karena teknologinya dan sekarang pake teknologi jadul juga di bilang tidak lebih canggih dari superbike (ecunya) ya memang jika pengen nyenengin semua orang sulit pilihannya tinggal yang mana yang paling banyak lebih suka motor canggih tapi balapan membosankan apa kembali dikebiri tetapi menarik yang mengakibatkan semua pabrikan harus memutar otak memaksimalkan segala hal yang masih di bolehkan aturan.

          Suka

          • Bukannya Honda termasuk yang punya dana banyak untuk merekrut teknisi ahli magneti marelli? Sehingga Honda bisa punya motor yang tenaganya paling kuat di MotoGP sekarang ini. Dan untuk saya, Marc itu jelas menang karena motornya punya tenaga paling hebat. Karena terbukti Marc pun kemampuan beloknya kalah dari motor lain. Ia cuma bisa menyalip dengan kasar, memaksa yang lain kasih jalan. Saat ia posisinya drop setelah keluar lintasan di balapan terakhirnya, motornya juga terbukti sangat hebat. Ia meninggalkan lawan tidak dengan skill tapi dengan kemampuan motor.

            Alasan Marc jadi pembalap terkencang Honda adalah karena pembalap lain Honda tidak berani terlalu kencang. Karena takut ndelosor karena engine brake yang tidak reliable. Sementara Marc sendiri bisa menyelamatkan diri, walau memang di balapan terakhirnya gagal karena kemampuannya hilang.

            Suka

  2. “Satu hal lagi yang menjadikan Honda CBR1000RR-R Fireblade semakin naik kelas, adanya fitur Start Mode. Fitur ini menjaga putaran mesin (rpm) tetap konstan saat melakukan start, memungkinkan pengendara berkonsentrasi pada pengoperasian kopling agar start semakin optimal. Peranti ini mampu membatasi putaran mesin maksimal sesuai keinginan (6.000-10.000 rpm”

    Kalimat Bahasa AHM sangat hiperbola banget, dikira yang mau beli superbike itu konsumen di level nya Pario dan mBeat, tapi ya bisa jadi AHM sengaja melakukan itu karna fans dan calon konsumennya dianggap sekelas Cebong otaknya.🤣🤣🤣🤣

    #AbaikanSaja

    Suka

    • Iya, ini membuat yang baca berpikir, wah ternyata sulit sekali ya untuk bisa membatasi rpm di motor sekelas CBR1000RR-RR. Jadi berpikir itu motor gasnya spontan, cuma bisa on dan off saja. Mau diajak nyantai nggak bisa sehingga harus mengandalkan limiter kalau mau membatasi rpm.

      Karena kalau mengatur rpm pakai gas gampang, ngapain harus ada fitur membatasi rpm?

      Suka

    • Tidak juga, saya hanya menyoroti bahwa QS CBR250RR dicampaign seolah lebih advance dari punya ZX25R.
      CBR250RR QS memang bisa 4 mode, Up+down shift, up saja atau down saja dan off.
      ZX25R setahu saya hanya On dan Off, tapi include auto blipper, TC dan mayoritas yang pernah coba kedua bilang punya ZX25R lebih smooth.
      ZX25R versi standar bisa pasang QS OEM kawi dan hanya program di ECU untuk penyesuaian. Sementara CBR250RR standar yang mau pasang QS OEM ada artikel dari lek IWB/wak haji Taufik yang bilang perlu bongkar mesin. Mungkin si Om bisa gali lebih dalam, sepertinya juga belum ada artikel detil yang bahas keduanya.

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.