Motor pasar luar negeri lebih nyaman dan aman dari lokal? Kayaknya ini salah reviewer kita juga


Bro purwoko adhi widhi Nugroho menanyakan pendapat penulis soal perbedaan motor ekspor dan lokal, soal motor brand Jepang dan brand Eropa.

Memang jelas ada beda antara konsep pabrikan motor Jepang dan pabrikan motor Eropa. Keamanan dan keselamatan itu bukan fokus utama pabrikan Jepang kecuali kalau sudah diniati akan dijadikan fitur mulai dari awal, seperti misalnya soal CBS. Pasti diklaim lebih aman walau sebenarnya kurang cocok kalau untuk cara berkendara ajaran JDDC atau RDL yang memaksa rider untuk ngerem depan dulu di kecepatan tinggi. Kalau pas lagi nggak fit, pas lagi ngerem belakang bisa menambah tenaga pengereman depan, alias bikin malapetaka. Sementara itu biasanya dari pabrikan Eropa akan memperhatikan keamanan walau tidak disebut sebagai fitur.

Berikut ini contohnya pabrikan Jepang tidak memperhatikan keamanan:
Honda PCX125 review: Dan Sutherland rides the UK’s best-selling bike | MCN Reviews

Penulis arahkan ke bagian yang menyebut handling motor di kecepatan 60 mph. Disebut bahwa handling jadi sangat sangat nggak stabil atau bergoyang naik turun.

Perilaku ini sama persis dengan desain suspensi lokal merek Jepang yang sebelumnya sudah penulis jelaskan sebagai suspensi ketinggalan jaman tapi dijual mahal:
Mitos skok empuk bikin nggak stabil di tikungan itu trik pabrik skok teknologi kuno menutupi kelemahan

Dari review tersebut penulis jadi harus mengkoreksi pendapat penulis sebelumnya, karena ternyata yang dijual di luar negeri pun sama sama parahnya.
Sekali lagi, suspensi empuk nggak stabil di 100 km/jam itu cuma penyakitnya merek Jepang lokal bawaan motor lokal

Sementara itu motor misalnya Peugeot Django disebut mantap untuk kecepatan tinggi, juga mantap untuk kecepatan rendah:
SLUK | Peugeot Django Evasion road test

Memang sepertinya standarnya beda.

Bisa jadi perbedaan ini juga karena beda review antara lokal dan luar negeri. Karena kalau di pasar lokal itu getaran mesin di rpm berapa apa dibahas? Grip ban bawaan apa di bahas? penyakit penyakit bawaan / keluhan umum motor apa dibahas (misal bahas setelah 1 tahun memiliki)?

Yang dibahas itu seringnya adalah beda fitur, beda performa, beda model, beda warna, dst.

Untuk soal kualitas, sudah jelas bahwa dari sisi build quality menjadi andalan baik dari pabrikan Jepang dan Eropa kalau untuk penjualan di pasar Eropa. Sementara itu untuk pasar lokal, kualitas menggunakan yang acceptable kalau menurut kebijakan dari Jepang. Dari Jepangnya tentu ada juga keputusan apakah layak motor buatan lokal dengan kualitas lokal untuk diekspor atau tidak.
Persoalan kualitas yang bikin pikir pikir untuk beli motor Honda

7 respons untuk ‘Motor pasar luar negeri lebih nyaman dan aman dari lokal? Kayaknya ini salah reviewer kita juga

  1. Selamat malam pak, semoga selalu diberikan kesehatan. Melihat video review oleh dan sutherland kelihatan sekali bahwa build quality pcx lebih baik yang di inggris daripada pcx lokal. Asumsi saya dahulu bahwa setiap motor global maka standarnya sama, baik dibikin lokal maupun impor. Agar harga bisa ditekan mungkin dengan mengurangi beberapa fitur.

    Ternyata pada faktanya beda jauh ya pak, walaupun motor global ternyata tidak sama standarnya.

    Disukai oleh 1 orang

    • semoga selalu diberikan kesehatan juga :).

      Wah tidak perhatikan soal build quality, baru tahu kalau beda. Terima kasih infonya. Iya ya, padahal itu yang kelihatan. Yang nggak kelihatan bakal diturunkan lagi pastinya.

      Suka

  2. Jujur saja, dulu saya suka konten dari blog ini karena pak cahyo sering memberikan pengetahuan dari sisi akademis dan teknis data yang sulit dicari di blog lain, tapi entah kenapa jujur saya merasa kurang nyaman dengan model artikel yang sekarang karena terlalu banyak sisi subjektivitas yang kerap kali berkebalikan dengan saya. Awalnya jujur saya tidak ingin banyak berkomentar tetapi kali ini ingin rasanya buka suara

    1. Terlalu banyak generalisir disini. Kenapa harus dibandingkan secara general pabrikan jepang dan eropa? Menurut saya tiap pabrikan baik dari eropa, jepang, as, atau bahkan taiwan/tiongkok punya arah pendekatan yang tidak selalu sama, namun juga tidak terus selalu berbeda. Saya tidak setuju statement keselamatan pabrikan jepang yang diutarakan diatas. Fitur CBS itu milik honda, dan sekarang dipakai di mayoritas keluarga maticnya, dan mungkin yang pak cahyo coba adalah milik beat atau vario yang merupakan kelas entry level. Pertanyaan saya apakah fitur soal keselamatan semisal ABS yang ada di ZX25R sudah dicoba? Atau assist-slipper clutch di Yamaha R15v3 (walau ini ada kaitannya dengan performa tpi akan sangat membantu soal keselamatan). Menurut saya ini fitur keselamatan yang sangat baik dari pabrikan jepang karena saya sudah mencobanya keduanya baik di zx25r maupun yamaha r15v3 sendiri. Jangan salah, saya juga memiliki vario dirumah jadi tahu perilaku cbs, tpi apakah apple-to-apple membandingkan produk entry level (merk jepang) dengan entry level (merk eropa) yang dari segi harga menurut saya sudah tidak seimbang. Lagipula motor tidak hanya matic yang bisa menggambarkan arah perkembangan suatu pabrikan, walau matic saat ini jadi pasar terbesar.

    2. Yang pak cahyo soroti diatas adalah soal suspensi, karena kebetulan menemukan masalah ini di NMAX. Disebutkan bahwa suspensi empuk tapi gk stabil itu salah merknya. Ok disini ada kesalahan generalisir lagi, kenapa salah merknya? jadi yang empuk tpi bisa dipakai cornering gk limbung itu suspensi merk non-jepang yang bagus? Oke saya berikan pengalaman. Saya cukup suka main-main ke sirkuit, tepatnya di boyolali. Disana ada sirkuit karting yang cukup sering dipakai latihan trackday. Kebutulan saya punya komunitas motor yang punya jenis motor cukup beragam dan sering main kesana pula. Saya mencoba 2 buah aerox, yang pertama masih cukup standar, yang kedua sudah modifikasi cukup hedon. Suspensi dari aerox hedon memakai ohlins kalo tidak salah tipe S36PR1. Sebagai informasi, sirkuit karting itu lebih sempit sehingga butuh effort cornering jauh lebih sulit, jadinya settingan suspensi sangat sangat berpengaruh. Saat mencoba Aerox standart, bisa cornering dengan cukup nyaman karena settingnya yang memang cukup keras, efeknya saya bisa dapat kemiringan dan apex yang cukup tajam. Kemudian saya meminjam aerox hedon yang satunya, dan sebagai informasi, sang pemilik ini punya badan yang cukup kecil dan berat badan cukup jauh lebih ringan dari saya. Dan yang saya rasakan adalah motor benar-benar limbung tak hanya saat dipakai cornering, tetapi saat accelerating juga. Saya sering melebar dan gk bisa dapet apex yang tepat. Hanya 1 lap kemudian saya kembali untuk minta disetelkan supaya suspensi bisa lebih keras, dan teman saya pun memperbolehkan dan mensettelnya. Alhasil setelahnya saya bisa dapet racing line yang jauh lebih baik serta cornering dan apex yang sangat nyaman, dan juga kelebihnnya punya kestabilan yang diatas aerox standar. Disini saya juga mencoba R15v3 saya yang sudah pakai suspensi YSS tapi lupa seri apa, dan suspensi cukup keras juga dan saya juga lebih nyaman ketika cornering pakai sport fairing dengan setting ini. Oh iya ketika R15 ini saya gunakan untuk cornering high speed contohnya di Selo, boyolali atau di Tawangmangu, karanganyar terasa stabil, tetapi ketika di polisi tidur, geronjalan, atau jalan berlubang akan sangat tidak nyaman. Jadi memang stiffness ini sangat membantu di cornering high speed serta bikin pede ketika rebah, beda ketika pakai MX King kawan yang pakai YSS juga tpi tetap dibuat lembut dan soft, saking limbungnya saya hampir crash di Selo, karena tidak stabil. Ini merupakan pengalaman real mengenai keras-empuknya suatu suspensi dari merk lokal bawaan-thailand-hingga sekelas ohlins sekalipun.

    3. Pernyataan soal reviewer indo yang nggk membahas beberapa teknis yang disebutkan seperti “getaran mesin di rpm berapa apa dibahas? Grip ban bawaan apa di bahas? penyakit penyakit bawaan / keluhan umum motor apa dibahas (misal bahas setelah 1 tahun memiliki)?”. Jujur saja, review yang dilakukan para reviewer lokal, itu adalah “IMPRESI” produk baru yang dilaunching dan mereka mencobanya sendiri. Ingat, setiap reviewer juga punya standar serta preferensi yang berbeda sehingga gak bisa disamaratakan. Ada yang bisa detail, ada yang cuma memberikan garis besarnya saja. Review yang bagus biasanya memberikan test ride. Kemudian apa yang dibahas setelah test ride? Jelas fitur jadi hal utama untuk dibahas, kemudian baru dari segi desain, performa, dll. Sangat masuk akal kalau itu yang dibahas setelah mereka test ride gak sampai 1 tahun. Soal fitur, tentu haru mengikuti perkembangan zaman. Soal desain, ini “SELERA” apa yang menurut dia bagus, belum tentu bagus buat yang lainnya. Termasuk apa yang menurut pak cahyo gk sip, bisa jadi sip buat orang lain, ini juga terjadi pada saya. Memang desain harus mengikuti kondisi pasar yang ada, tetapi apakah selera reviewer menjadi patokan selera pasar? belum tentu, atau bahkan selera pasar yang diyakini reviewer itu belum tentu berupa selera pasar yang sesungguhnya, sebab tim pabrikan punya R&D sendiri yang secara cakupannya masih jauh lebih luas ketimbang cakupan seorang reviewer. Tentu yang bisa dibahas adalah sisi ergonomi, walau ini subjektif, tapi setidaknya memberikan gambaran dari sang reviewer yang sudah mencoba sendiri motor tersebut. Sedangkan asumsi yang hanya melihat seperti posisi duduk, posisi kaki atau dll itu lebih tidak bisa menggambarkan situasi sebenarnya, dan ini yang jadi kritik saya buat pak cahyo supaya tidak menilai sisi ergonomi dari asumsi saja. Lebih baik apabila tidak menilai hal ergonomi sampai mencobanya untuk test ride dijalan karena postur yang terlihat sama belum tentu sama juga. Kemudian dari sisi grip ban, sebenarnya sudah banyak yang mereview ini, bahkan tak hanya grip ban, agility pun sudah banyak dibahas bahkan sampai radius putar, jarak sumbu roda, hingga saat cornering. Soal grip banyak juga reviewer mengeluhkan grip jika memang cukup parah, contohnya di CBR150R dengan IRC Road Winner nya, yang saya juga sudah mencoba dan punya grip cukup mengerikan. Tapi kembali lagi grip itu faktornya banyak sehingga cukup sulit disama ratakan. Bagi saya grip NMAX itu termasuk lumayan, dan grip suatu ban menurut saya sendiri saat basah tidak selalu terkait dengan alurnya tetapi dari lebih dari kualitas rubbernya sendiri. Contohnya saya pernah pakai Battlax S21, slihkan liat alurnya dan itu tetap punya grip yang bagus saat basah atau bahkan sedikit bertanah, bahkan cor yang kurang rata pun masih dapat grip yang lumayan. Kemudian soal getaran. Sebenarnya ini cukup kasar tapi pada dasarnya para reviewer itu punya pengalaman yang sangat banyak dengan berbagai jenis motor. Getaran di tiap rpm pada dasarnya jika motor 1 silinder tidak akan beda jauh, dan kondisi motor dalam standart atpm (termasuk oli yang sering pak cahyo jadikan salah satu penyebab utama). Tapi ketika motor tersebut punya kemampuan redaman getaran yang bagus, biasanya akan disampaikan. Contoh GSX-R150 termasuk motor yang punya redaman dan mesin yang paling halus di kelas 150cc, dan banyak reviewer menerjemahkannya dengan mesin yang “rileks”. Dan menurut saya, halusnya GSX 150 itu sesuatu di kelas 150 cc yang pernah saya coba. Tetapi kembali lagi, getaran 1 silinder tidak akan terlalu jauh berbeda satu sama lain di kondisi standar atpm. Tetapi akan berbeda cerita jika dengan 4 silinder contohnya zx25r. Perbedaannya akan terlalu jauh sehingga benar-benar bisa dirasakan dan bisa diyakinkan (bukan sekedar perasaan), dan menurut saya memang benar-benar lebih bisa dibedakan ketimbang sama-sama motor 1 silinder yang kerap mix feeling. Tentu set-up seperti jumlah cam, jumlah valves, square, overbore, overstroke akan juga berpengaruh, tapi menurut saya dan mungkin sebagian reviewer itu tidak akan terlalu berbeda jauh ketimbang perbedaan getaran yang benar-benar terasa yang bisa disampaikan. Kemudian soal penyakit, seperti yang sudah saya sampaikan, kebanyakan review merupakan impresi setelah para reviewer melakukan test ride, tentu hal soal penyakit jelas tidak bisa dijelaskan. Untuk yang seperti ini, “Review Pemakaian setelah …” biasanya akan juga menjelaskan soal suka duka sang pengguna termasuk kemungkinan penyakit yang timbul. Lalu jika kemudian berpendapat “Kan bisa dilihat dari penyakit generasi sebelumnya atau hal kasat mata yang kemungkinan akan jadi masalah?”. Ya memang bisa seperti itu, tapi itu justru review yang subjektif karena tidak mencerminkan apa yang dirasakan reviewer selama periode review, serta asumsi-asumsi menurut reviewer itu sendiri. Dan menurut saya, reviewer lokal saat ini masih cukup bisa dipercaya tetapi harus jeli dan cukup selektif. Dan kembali saya mengkritik pak cahyo yang kerap seakan2 memberikan impresi dan gambaran sebuah motor secara subjektif menurut selera. Hal ini sah-sah saja tapi kerap memberikan image yang buruk terhadap motor tersebut kepada pembaca. Alangkah lebih baik jika ketika memberikan penilaian terhadap suatu motor memberikan sisi plus minus secara general daripada menyataan pendapat secara subjektif.

    4. Pernyataan soal “build quality” untuk pasar eropa jujur saja masih sulit untuk saya terima. Sebab setidaknya saya, belum pernah memegang motor eropa, atau motor jepang untuk pasar eropa. Karena menurut saya, experience atau pengalaman sendiri adalah patokan menentukan suatu build quality dan akan lebih bijak jika pak cahyo juga memiliki experience yang cukup dengan motor eropa untuk kemudian bisa menilai build qualitynya. Walau menurut saya, build quality akan cenderung berbanding lurus dengan harga. Perawatan juga merupakan hal yang penting. Saya jujur merasa kurang nyaman di statement pak cahyo yang mengatakan “ADV 150 yang mahal dikelasnya pun plastiknya bisa mbulak”. Menurut saya ini hal yang wajar apabila perawatannya kurang atau bahkan tidak dirawat. Sebagai contoh Honda Vario yang sudah 4 tahun dirumah masih punya plastik hitam yang bagus karena memang perawatan yang baik. Hal ini jelas berbeda dengan vario milik saudara yang kurang dalam perawatan. Walau dilihat dari durability tiap pabrikan, ada yang bisa lebih unggul, tetapi akar permasalahannya selalu kembali ke perawatan. Ninja 250 teman saya pun ada yang sudah mbulak plastik fairing dan fendernya dan memang dia mengakui kurang perawatan terutama di musim hujan, jadi kembali lagi ke perawatan masing-masing dan tidak bisa dipukul rata.

    5. Saya merasa pak cahyo cukup sering memberikan statement yang menggeneralisasi suatu merk sehingga menciptakan stigma yang negatif ataupun positif terhadap suatu produk. Sebagai contoh pak cahyo selalu merasa tidak menyukai produk honda, tetapi apakah secara umum honda apa yang pernah anda coba? Memang saya cukup setuju terkait beberapa pernyataan mengenai honda, tapi tidak semuanya, membuat honda menjadi pabrikan yang buruk. Contoh menurut saya, CBR250RR motor yang bagus dari honda sehinggga tidak serta merta membuat honda selalu jelek dan bisa bagus. Kemudian saya dulu punya kenangan yang buruk dengan suzuki smash titan tetapi GSX R nya terasa bagus sehingga tak membuat Suzuki menjadi selalu bagus, tetapi juga tidak jelek. Saya berharap kedepannya pak cahyo bisa menilai produk secara lebih spesifik dan tidak sering menggeneralisasi. Hal ini juga ketika menilai merk suspensi ataupun rem, contohnya bremboo. Saya sendiri sudah mencoba beberapa motor hedon milik kawan yang memakai bremboo dan memang punya kemampuan pengereman berbeda dengan merk seperti nissin dan ktc. Kemudian soal suspensi, terlihat pak cahyo cukup puas dengan kemampuan suspensi dbs dan sempat memberikan statement tentang mengapa “MotoGP tidak pakai DBS kalau dalemannya sama dengan Ohlins?” Menurut saya sendiri, kalau membandingkan DBS dengan Ohlins itu terlalu jauh. Saya juga sudah mencoba DBS di beberapa motor kawan komunitas walau tidak hafal seri dan tipenya, mungkin juga tidak terlalu ingat, tetapi yang jelas saya ingat adalah ketika susoensi ohlins aerox hedon teman saya memliki set up yang pas dengan saya, itu merupakan suspensi ternyaman yang pernah saya pakai di matic. Menyinggung soal MotoGP, saya percaya ada politik di dalamnya, tetapi statement soal honda punya engine ghoib atau mungkin ban ghoib, saya bisa dengan lantang membantah. Dalam sebuah balapan, ada banyak variabel dan faktor yang menyebabkan pembalap jadi lebih kencang atau tidak, dan itu tidak semata-mata masalah engine. Anggapan limiter alex marquez juga jelas saya tentang. Ada banyak variabel kenapa dia seakan-akan terlihat lebih kencang, ingat teknis penting tetapi di motogp itu racing line, grip, braking point, throttle release, apex, rolling speed itu juga sangat penting yang mempengaruhi kecepatan rider. Belum lagi engine mapping, gear ratio, traction control, Geometry set up dll. Ini menjelaskan kenapa rider bisa kencang di satu sirkut tapi bisa lambat disirkuit lain. Di kasus marc, seorang Nakagami saja memuji kemampuan dan ketrampilannya secara langsung ketika saya mengikuti live dengannya. Begitu juga pengamat MotoGP veteran seperti Matteo Guerinoni yang secara jelas dan gamblang menjelaskan bagaimana marc begitu terampil dengan motor honda ditambah pengembangan honda yang membuatnya lebih cocok dengan motornya. Matteo juga memiliki relasi dengan internal team dan beberapa orang penting di MotoGP dan dia dengan jelas menyatakan tidak ada hal ghoib seperti mesin ataupun ban di MotoGP saat ini. Intinya saya mengkritik pandangan pak cahyo yang kerap menggeneralisasi kan sesuatu. Alangkah baiknya apabila mampu menilai secara spesifik dan netral, sehingga tidak kerap mencampur adukkan asumsi dengan experience, karena keduanya bisa jadi sangat berbeda. Setidaknya ini menurut saya sendiri dengan pengalaman yang saya alami sejauh ini.

    6. Jujur saya menyukai konten-konten yang lebih memberikan pengetahuan dan wawasan secara lebih luas soal permotoran contohnya seperti soal beberapa penelitian mengenai minyak goreng sebagai aditif, kemudian tentang peroli an juga. Saya berharap kritik dan saran yang saya berikan dapat membangun. Saya sama sekali tidak berniat untuk menjadi haters, tetapi saya merasa mungkin perlu untuk memberikan uneg-uneg yang mungkin bisa membangun agar blog ini semakin baik kedepannya. Mengenai masalah di NMAX seperti fuel dilution, bisa disebabkan beberapa faktor. Saya kurang mengetahui masalah fuel dilution lebih dalam tetapi berdasarkan pengalaman kawan-kawan saya pengguna NMAX lain, mereka ada yang sudah mengganti ring piston di km awal (kebetulan dia cukup ahli soal teknis mesin) dan masalah seperti oli hijau atau ngebul tipis di rpm tinggi hilang. Untuk oli, Pak Cahyo sering menekankan menggunakan oli yang berkualitas, tapi saya jarang melihat pak cahyo menggunakan oli yang memang dipercaya kualitasnya oleh para “anak motor”. Contohnya seperti Motul, Liqui Moly, Ipone, Total, Elf. Mungkin pak cahyo bisa mencoba Motul 7100 atau Ipone RS4000/Katana yang menurut saya sendiri punya performa benar-benar sepadan dengan harganya. Atau Liqui Moly Street Race 10w-50 yang benar-benar terasa senyap. Karena menurut saya jika oli ada di range harga under 100k punya performa dan suara yang tidak terlalu jauh satu sama lain. Jika memang beralasan secara teori tentang oli grup I dan grup III atau yang lainnya, saya menyarankan untuk dicoba terlebih dahulu supaya mengetaui impresinya secara langsung di NMAX tersebut, supaya juga memperkaya experience, sebab di dunia otomotif experience sangatlah penting. Anggapan pak cahyo soal oli yamalube yang jelek apakah karena hanya mencoba Yamalube Super Matic? Apakah sudah mencoba Yamalube RS4GP? Saya sendiri sudah mencobanya dan memang punya kualitas jauh diatas yamalube lain dan bisa bersaing dengan Motul 5100 atau 7100. Memang benar anggapan kalau ada yang murah tapi bagus kenapa tidak? tetapi akan juga lebih baik apabila memiliki cukup pengalaman dengan oli-oli yang memang berharga tinggi sebab saya belum pernah dikecewakan dengan oli-oli tersebut.

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.