Jawaban soal penulis terlalu menggeneralisasi, menjelekkan suatu merek motor atau produk, update #2


Penulis sangat berterima kasih pada bro Bagas Aji yang sudi meluangkan waktu untuk memberikan kritik kepada penulis. Isi komentar sangat panjang dan menurut penulis hal ini penting dibahas sendiri dalam sebuah artikel. Memang penulis sering lupa tidak menjelaskan apa yang penulis maksud. Karena banyak yang penulis ungkapkan itu sebenarnya ruang lingkupnya terbatas, dan iya memang ada pengecualian.

Komentar bro Bagas Aji dimulai dari pembukaan berikut:

Jujur saja, dulu saya suka konten dari blog ini karena pak cahyo sering memberikan pengetahuan dari sisi akademis dan teknis data yang sulit dicari di blog lain, tapi entah kenapa jujur saya merasa kurang nyaman dengan model artikel yang sekarang karena terlalu banyak sisi subjektivitas yang kerap kali berkebalikan dengan saya. Awalnya jujur saya tidak ingin banyak berkomentar tetapi kali ini ingin rasanya buka suara

Penulis akan jawab tiap bagian karena komentar sangat panjang. Mulai dari yang pertama:

1. Terlalu banyak generalisir disini. Kenapa harus dibandingkan secara general pabrikan jepang dan eropa? Menurut saya tiap pabrikan baik dari eropa, jepang, as, atau bahkan taiwan/tiongkok punya arah pendekatan yang tidak selalu sama, namun juga tidak terus selalu berbeda. Saya tidak setuju statement keselamatan pabrikan jepang yang diutarakan diatas. Fitur CBS itu milik honda, dan sekarang dipakai di mayoritas keluarga maticnya, dan mungkin yang pak cahyo coba adalah milik beat atau vario yang merupakan kelas entry level.

Pertanyaan saya apakah fitur soal keselamatan semisal ABS yang ada di ZX25R sudah dicoba? Atau assist-slipper clutch di Yamaha R15v3 (walau ini ada kaitannya dengan performa tpi akan sangat membantu soal keselamatan). Menurut saya ini fitur keselamatan yang sangat baik dari pabrikan jepang karena saya sudah mencobanya keduanya baik di zx25r maupun yamaha r15v3 sendiri.

Jangan salah, saya juga memiliki vario dirumah jadi tahu perilaku cbs, tpi apakah apple-to-apple membandingkan produk entry level (merk jepang) dengan entry level (merk eropa) yang dari segi harga menurut saya sudah tidak seimbang. Lagipula motor tidak hanya matic yang bisa menggambarkan arah perkembangan suatu pabrikan, walau matic saat ini jadi pasar terbesar.

Maaf memang saya tidak menjelaskan bahwa kebanyakan generalisasi yang saya lakukan itu lebih mengacu ke motor matik kelas 200 cc ke bawah.

CBS memang diterapkan di banyak motor. Honda juga bukan yang pertama pakai CBS. Dan sekarang CBS itu diwajibkan oleh Euro 4 (untuk mesin 125 cc dan lebih kecil) yang Indonesia masih tidak menerapkan. Namun memang Honda yang mempopulerkan pertama kali di Indonesia. Yang saya kritik di sini adalah cara implementasi CBS di motor Honda yang kurang reliable.

Saya pernah bandingkan di dealer (maaf tidak direkam), dan saya menjumpai perbedaan perilaku CBS di motor yang berbeda. Seharusnya CBS yang benar itu rem belakang mengigit dulu baru rem depannya ketarik, tapi saat saya mencoba, di Honda Beat Pop dan Beat Street yang saya coba malah rem depan dulu yang ketarik. Di Vario dan Scoppy tidak.

Berikut cara kerja CBS yang benar:

Setahu saya, CBS sudah tidak lagi diterapkan di motor cc tinggi. Digantikan oleh fitur cornering ABS, yang akan secara otomatis mengoveride urutan pengereman bila rider salah. Saya tidak mempermasalahkan ABS Honda atau merek Jepang lainnya, kecuali implementasi yang cuma depan saja. Karena ABS untuk rem belakang juga penting.

Saya bandingkan motor entry level merek Jepang dengan entry level merek Eropa karena saya anggap harga produksinya sama bila dikurangi biaya impor. Sebagai contoh harga PCX 125 CBS di Inggris adalah £3049, sementara Peugeot Django ABS adalah £3199. Menurut saya itu tidak berbeda jauh harganya. Memang sih harga Vespa mahal, di £4149 .

Memang PCX juga bukan contoh yang tepat sih, karena di CBS di PCX 150 pastinya sudah ada delay valvenya.

Kebetulan contoh motor Eropanya pakai ABS, sementara yang Honda nggak ABS.

 

2. Yang pak cahyo soroti diatas adalah soal suspensi, karena kebetulan menemukan masalah ini di NMAX. Disebutkan bahwa suspensi empuk tapi gk stabil itu salah merknya. Ok disini ada kesalahan generalisir lagi, kenapa salah merknya? jadi yang empuk tpi bisa dipakai cornering gk limbung itu suspensi merk non-jepang yang bagus?

Oke saya berikan pengalaman. Saya cukup suka main-main ke sirkuit, tepatnya di boyolali. Disana ada sirkuit karting yang cukup sering dipakai latihan trackday. Kebutulan saya punya komunitas motor yang punya jenis motor cukup beragam dan sering main kesana pula. Saya mencoba 2 buah aerox, yang pertama masih cukup standar, yang kedua sudah modifikasi cukup hedon. Suspensi dari aerox hedon memakai ohlins kalo tidak salah tipe S36PR1.

Sebagai informasi, sirkuit karting itu lebih sempit sehingga butuh effort cornering jauh lebih sulit, jadinya settingan suspensi sangat sangat berpengaruh. Saat mencoba Aerox standart, bisa cornering dengan cukup nyaman karena settingnya yang memang cukup keras, efeknya saya bisa dapat kemiringan dan apex yang cukup tajam. Kemudian saya meminjam aerox hedon yang satunya, dan sebagai informasi, sang pemilik ini punya badan yang cukup kecil dan berat badan cukup jauh lebih ringan dari saya. Dan yang saya rasakan adalah motor benar-benar limbung tak hanya saat dipakai cornering, tetapi saat accelerating juga. Saya sering melebar dan gk bisa dapet apex yang tepat. Hanya 1 lap kemudian saya kembali untuk minta disetelkan supaya suspensi bisa lebih keras, dan teman saya pun memperbolehkan dan mensettelnya. Alhasil setelahnya saya bisa dapet racing line yang jauh lebih baik serta cornering dan apex yang sangat nyaman, dan juga kelebihnnya punya kestabilan yang diatas aerox standar.

Disini saya juga mencoba R15v3 saya yang sudah pakai suspensi YSS tapi lupa seri apa, dan suspensi cukup keras juga dan saya juga lebih nyaman ketika cornering pakai sport fairing dengan setting ini. Oh iya ketika R15 ini saya gunakan untuk cornering high speed contohnya di Selo, boyolali atau di Tawangmangu, karanganyar terasa stabil, tetapi ketika di polisi tidur, geronjalan, atau jalan berlubang akan sangat tidak nyaman. Jadi memang stiffness ini sangat membantu di cornering high speed serta bikin pede ketika rebah, beda ketika pakai MX King kawan yang pakai YSS juga tpi tetap dibuat lembut dan soft, saking limbungnya saya hampir crash di Selo, karena tidak stabil. Ini merupakan pengalaman real mengenai keras-empuknya suatu suspensi dari merk lokal bawaan-thailand-hingga sekelas ohlins sekalipun.

Untuk suspensi, bila saya mengkritik, maka sebenarnya saya mengacu ke suspensi motor matik. Saya menganggap suspensi motor sport itu tidak masalah. Saya sering bahas soal suspensi, sehingga sering lupa menyebutkan bahwa yang saya maksud adalah suspensi motor matik.

Keluhan saya soal suspensi itu tidak dimulai dari NMAX, tapi dari suspensi Honda Beat:
Beda suspensi matik Honda dengan YSS DTG ibarat langit dan bumi, mengapa nggak buat versi YSS sih?

Di saat motor masih umur di bawah 500 km, saya juga pernah pakai di jalan beton. Di jalan itu motor jadi seperti ngerem saking parahnya reaksi suspensi (yang masih baru). Nggak beda dengan suspensi ori NMAX yang memang harus diakui lebih mendingan karena disetel amit amit kerasnya. Dengan suspensi aftermarket (tentu saya pilih pilih), motor NMAX jadi lebih stabil melewati jalan itu walau suspensi dibuat lebih empuk

Saat menyetel suspensi sehingga jadi lembut dan soft maka harus diperhatikan juga hambatan suspensi. Kalau sampai limbung dan nggak stabil, maka itu underdamped. Idealnya pilih suspensi yang bisa menyesuaikan dua arah gerakan suspensi. Mending pilih yang tidak ada setelannya daripada beli yang cuma satu setelan.

Harus diingat bahwa suspensi aftermarket itu seringnya didesain generik untuk banyak motor. Sehingga memang banyak yang tidak pas. Ada juga seperti yang terjadi pada YSS, salesnya malah sengaja pilih pernya yang keras:
Suspensi YSS itu keras jelas karena salesnya bodoh, tapi sama tukang skok dibilang YSS nya yang ngawur?

Memang ada suspensi merek Jepang buatan lokal yang bagus, seperti pada matik Suzuki jaman dulu atau yang impor. Yang terutama saya keluhkan di suspensi merek Jepang buatan lokal sekarang ini adalah karena teknologi yang masih ketinggalan jaman. Di saat suspensi aftermarket sudah pakai tabung bagus ukuran besar, merek Jepang bawaan motor masih pakai tabung kecil dan parahnya masih single action, padahal harganya termasuk mahal. Selain itu “refinement” nya juga kurang.

 

3. Pernyataan soal reviewer indo yang nggk membahas beberapa teknis yang disebutkan seperti “getaran mesin di rpm berapa apa dibahas? Grip ban bawaan apa di bahas? penyakit penyakit bawaan / keluhan umum motor apa dibahas (misal bahas setelah 1 tahun memiliki)?”. Jujur saja, review yang dilakukan para reviewer lokal, itu adalah “IMPRESI” produk baru yang dilaunching dan mereka mencobanya sendiri. Ingat, setiap reviewer juga punya standar serta preferensi yang berbeda sehingga gak bisa disamaratakan. Ada yang bisa detail, ada yang cuma memberikan garis besarnya saja.

Review yang bagus biasanya memberikan test ride. Kemudian apa yang dibahas setelah test ride? Jelas fitur jadi hal utama untuk dibahas, kemudian baru dari segi desain, performa, dll. Sangat masuk akal kalau itu yang dibahas setelah mereka test ride gak sampai 1 tahun. Soal fitur, tentu haru mengikuti perkembangan zaman.

Soal desain, ini “SELERA” apa yang menurut dia bagus, belum tentu bagus buat yang lainnya. Termasuk apa yang menurut pak cahyo gk sip, bisa jadi sip buat orang lain, ini juga terjadi pada saya. Memang desain harus mengikuti kondisi pasar yang ada, tetapi apakah selera reviewer menjadi patokan selera pasar? belum tentu, atau bahkan selera pasar yang diyakini reviewer itu belum tentu berupa selera pasar yang sesungguhnya, sebab tim pabrikan punya R&D sendiri yang secara cakupannya masih jauh lebih luas ketimbang cakupan seorang reviewer.

Tentu yang bisa dibahas adalah sisi ergonomi, walau ini subjektif, tapi setidaknya memberikan gambaran dari sang reviewer yang sudah mencoba sendiri motor tersebut. Sedangkan asumsi yang hanya melihat seperti posisi duduk, posisi kaki atau dll itu lebih tidak bisa menggambarkan situasi sebenarnya, dan ini yang jadi kritik saya buat pak cahyo supaya tidak menilai sisi ergonomi dari asumsi saja. Lebih baik apabila tidak menilai hal ergonomi sampai mencobanya untuk test ride dijalan karena postur yang terlihat sama belum tentu sama juga. Kemudian dari sisi grip ban, sebenarnya sudah banyak yang mereview ini, bahkan tak hanya grip ban, agility pun sudah banyak dibahas bahkan sampai radius putar, jarak sumbu roda, hingga saat cornering.

Soal grip banyak juga reviewer mengeluhkan grip jika memang cukup parah, contohnya di CBR150R dengan IRC Road Winner nya, yang saya juga sudah mencoba dan punya grip cukup mengerikan. Tapi kembali lagi grip itu faktornya banyak sehingga cukup sulit disama ratakan. Bagi saya grip NMAX itu termasuk lumayan, dan grip suatu ban menurut saya sendiri saat basah tidak selalu terkait dengan alurnya tetapi dari lebih dari kualitas rubbernya sendiri. Contohnya saya pernah pakai Battlax S21, slihkan liat alurnya dan itu tetap punya grip yang bagus saat basah atau bahkan sedikit bertanah, bahkan cor yang kurang rata pun masih dapat grip yang lumayan.

Kemudian soal getaran. Sebenarnya ini cukup kasar tapi pada dasarnya para reviewer itu punya pengalaman yang sangat banyak dengan berbagai jenis motor. Getaran di tiap rpm pada dasarnya jika motor 1 silinder tidak akan beda jauh, dan kondisi motor dalam standart atpm (termasuk oli yang sering pak cahyo jadikan salah satu penyebab utama). Tapi ketika motor tersebut punya kemampuan redaman getaran yang bagus, biasanya akan disampaikan. Contoh GSX-R150 termasuk motor yang punya redaman dan mesin yang paling halus di kelas 150cc, dan banyak reviewer menerjemahkannya dengan mesin yang “rileks”. Dan menurut saya, halusnya GSX 150 itu sesuatu di kelas 150 cc yang pernah saya coba.

Tetapi kembali lagi, getaran 1 silinder tidak akan terlalu jauh berbeda satu sama lain di kondisi standar atpm. Tetapi akan berbeda cerita jika dengan 4 silinder contohnya zx25r. Perbedaannya akan terlalu jauh sehingga benar-benar bisa dirasakan dan bisa diyakinkan (bukan sekedar perasaan), dan menurut saya memang benar-benar lebih bisa dibedakan ketimbang sama-sama motor 1 silinder yang kerap mix feeling. Tentu set-up seperti jumlah cam, jumlah valves, square, overbore, overstroke akan juga berpengaruh, tapi menurut saya dan mungkin sebagian reviewer itu tidak akan terlalu berbeda jauh ketimbang perbedaan getaran yang benar-benar terasa yang bisa disampaikan.

Kemudian soal penyakit, seperti yang sudah saya sampaikan, kebanyakan review merupakan impresi setelah para reviewer melakukan test ride, tentu hal soal penyakit jelas tidak bisa dijelaskan. Untuk yang seperti ini, “Review Pemakaian setelah …” biasanya akan juga menjelaskan soal suka duka sang pengguna termasuk kemungkinan penyakit yang timbul. Lalu jika kemudian berpendapat “Kan bisa dilihat dari penyakit generasi sebelumnya atau hal kasat mata yang kemungkinan akan jadi masalah?”. Ya memang bisa seperti itu, tapi itu justru review yang subjektif karena tidak mencerminkan apa yang dirasakan reviewer selama periode review, serta asumsi-asumsi menurut reviewer itu sendiri.

Dan menurut saya, reviewer lokal saat ini masih cukup bisa dipercaya tetapi harus jeli dan cukup selektif. Dan kembali saya mengkritik pak cahyo yang kerap seakan2 memberikan impresi dan gambaran sebuah motor secara subjektif menurut selera. Hal ini sah-sah saja tapi kerap memberikan image yang buruk terhadap motor tersebut kepada pembaca. Alangkah lebih baik jika ketika memberikan penilaian terhadap suatu motor memberikan sisi plus minus secara general daripada menyataan pendapat secara subjektif.

Kemarahan saya terhadap reviewer motor dimulai ketika saya membeli motor Honda Beat 6 tahun yang lalu. Saat itu saya biasanya mengendarai motor Suzuki Spin. Saat itu saya merasakan bahwa mengendarai motor Honda Beat itu secara ergonomi bikin capai paha pada saat dipakai perjalanan lebih 10 km, karena tempat duduk yang lebih rendah dari lutut. Suara mesin terasa sangat mengganggu ketika berkendara, sangat tidak mengenakkan. Kemudian getaran mesin membuat tangan saya menjadi kesemutan, yang saking parahnya, saya selalu bernapas lega ketika berhenti sejenak di lampu merah dan mesin mati sendiri karena ISS. Kemudian diperparah dengan CBS yang ternyata membuat istri saya sempat jatuh dan saya hampir celaka. Dan ternyata cukup banyak juga keluhan dari pengguna CBS:
Combi brake system penyebab celaka, naik matik Honda dengan CBS harus extra hati – hati!

Baru belakangan setelah saya diundang langsung oleh AHM saya baru tahu bahwa CBS di motor saya itu tidak sesuai desain.
Penulis berkesempatan datang langsung ke pelatihan safety riding Astra Honda, klarifikasi langsung tenyata nggak sama dengan kutipan di luar

btw saat itu juga jadi jelas bahwa secara resmi Honda baik lokal maupun internasional itu cara pengeremannya adalah depan dan belakag bersamaan.

Kemarahan kedua adalah ketika beli Suzuki Nex II, disebut mesin sangat halus tapi ternyata setelah saya kendarai sendiri, saya juga mengalami getaran yang mengganggu, walau cuma separuhnya dari Honda Beat.

Kemarahan ketiga adalah ketika beli Yamaha NMAX 2018. Karena suspensi yang disebut sudah lebih nyaman dari versi 2015 oleh para reviewer ternyata masih termasuk tidak nyaman. Saya sampai harus berkendara di bawah 60 km/jam di jalan yang kurang rata karena persoalan sakit pinggang. Juga tidak ada reviewer yang mention soal bearing transmisi yang ternyata butuh trik pakai oli 2 kali kapasitasnya. Bearing belakang mudah oblak saya ketahui tidak dari review tapi dari hunting dan tanya tanya. Hal hal tersebut menurut saya sangat serius dan perlu disertakan di review, agar konsumen tahu. Karena review harusnya diperuntukkan untuk konsumen dan bukan untuk mengulang apa kata pabrikan.

Menurut saya adalah hal yang salah bila soal getaran tidak disebut ketika motor bergetar dan hanya bila mesinnya halus maka disebut. Tapi memang ada hal yang tergantung dari ridernya, seperti soal agility. Rider yang berkendara dengan mengandalkan body steering tentu akan menganggap motor yang nggak mau belok ketika badan miring sebagai motor yang nggak lincah. Rider yang jalan nya di jalan mulus terus tentu tidak bisa dipercaya pendapatnya tentang kemampuan suspensi motor. Akan baik juga bila ada review sambil touring si reviewer menjelaskan apa saja yang membuat badan capai ketika sampai tempat tujua.

Bila sekarang review sudah lebih membantu konsumen maka saya bersyukur, karena konsumen yang merasa tertipu akan jadi berkurang.

Saya tidak paham dengan sebuah review yang obyektif. Bila konsumen merasa tertipu ketika akhirnya membeli karena review tersebut, maka review tersebut tidak obyektif. Tentu review juga jadi tidak obyektif ketika konsumen merasa tidak ada kejelekan yang disebut di sebuah review.

 

4. Pernyataan soal “build quality” untuk pasar eropa jujur saja masih sulit untuk saya terima. Sebab setidaknya saya, belum pernah memegang motor eropa, atau motor jepang untuk pasar eropa. Karena menurut saya, experience atau pengalaman sendiri adalah patokan menentukan suatu build quality dan akan lebih bijak jika pak cahyo juga memiliki experience yang cukup dengan motor eropa untuk kemudian bisa menilai build qualitynya. Walau menurut saya, build quality akan cenderung berbanding lurus dengan harga. Perawatan juga merupakan hal yang penting.

Saya jujur merasa kurang nyaman di statement pak cahyo yang mengatakan “ADV 150 yang mahal dikelasnya pun plastiknya bisa mbulak”. Menurut saya ini hal yang wajar apabila perawatannya kurang atau bahkan tidak dirawat. Sebagai contoh Honda Vario yang sudah 4 tahun dirumah masih punya plastik hitam yang bagus karena memang perawatan yang baik. Hal ini jelas berbeda dengan vario milik saudara yang kurang dalam perawatan. Walau dilihat dari durability tiap pabrikan, ada yang bisa lebih unggul, tetapi akar permasalahannya selalu kembali ke perawatan. Ninja 250 teman saya pun ada yang sudah mbulak plastik fairing dan fendernya dan memang dia mengakui kurang perawatan terutama di musim hujan, jadi kembali lagi ke perawatan masing-masing dan tidak bisa dipukul rata.

Iya, kualitas memang bergantung dengan harga. Namun harga juga perlu mempertimbangkan harga impornya juga.

Untuk Honda ADV, menurut saya tidak wajar plastiknya tidak dicat. Apa ninjanya umur kurang dari satu tahun? Ingat Honda ADV dirilis tahun lalu.

Dan bukannya bagian belakang Vario 150 itu dicat? Wajar dong bila masih kelihatan bagus?

 

5. Saya merasa pak cahyo cukup sering memberikan statement yang menggeneralisasi suatu merk sehingga menciptakan stigma yang negatif ataupun positif terhadap suatu produk. Sebagai contoh pak cahyo selalu merasa tidak menyukai produk honda, tetapi apakah secara umum honda apa yang pernah anda coba? Memang saya cukup setuju terkait beberapa pernyataan mengenai honda, tapi tidak semuanya, membuat honda menjadi pabrikan yang buruk. Contoh menurut saya, CBR250RR motor yang bagus dari honda sehinggga tidak serta merta membuat honda selalu jelek dan bisa bagus.

Kemudian saya dulu punya kenangan yang buruk dengan suzuki smash titan tetapi GSX R nya terasa bagus sehingga tak membuat Suzuki menjadi selalu bagus, tetapi juga tidak jelek. Saya berharap kedepannya pak cahyo bisa menilai produk secara lebih spesifik dan tidak sering menggeneralisasi. Hal ini juga ketika menilai merk suspensi ataupun rem, contohnya bremboo. Saya sendiri sudah mencoba beberapa motor hedon milik kawan yang memakai bremboo dan memang punya kemampuan pengereman berbeda dengan merk seperti nissin dan ktc.

Kemudian soal suspensi, terlihat pak cahyo cukup puas dengan kemampuan suspensi dbs dan sempat memberikan statement tentang mengapa “MotoGP tidak pakai DBS kalau dalemannya sama dengan Ohlins?” Menurut saya sendiri, kalau membandingkan DBS dengan Ohlins itu terlalu jauh. Saya juga sudah mencoba DBS di beberapa motor kawan komunitas walau tidak hafal seri dan tipenya, mungkin juga tidak terlalu ingat, tetapi yang jelas saya ingat adalah ketika susoensi ohlins aerox hedon teman saya memliki set up yang pas dengan saya, itu merupakan suspensi ternyaman yang pernah saya pakai di matic.

Menyinggung soal MotoGP, saya percaya ada politik di dalamnya, tetapi statement soal honda punya engine ghoib atau mungkin ban ghoib, saya bisa dengan lantang membantah. Dalam sebuah balapan, ada banyak variabel dan faktor yang menyebabkan pembalap jadi lebih kencang atau tidak, dan itu tidak semata-mata masalah engine. Anggapan limiter alex marquez juga jelas saya tentang. Ada banyak variabel kenapa dia seakan-akan terlihat lebih kencang, ingat teknis penting tetapi di motogp itu racing line, grip, braking point, throttle release, apex, rolling speed itu juga sangat penting yang mempengaruhi kecepatan rider. Belum lagi engine mapping, gear ratio, traction control, Geometry set up dll. Ini menjelaskan kenapa rider bisa kencang di satu sirkut tapi bisa lambat disirkuit lain.

Di kasus marc, seorang Nakagami saja memuji kemampuan dan ketrampilannya secara langsung ketika saya mengikuti live dengannya. Begitu juga pengamat MotoGP veteran seperti Matteo Guerinoni yang secara jelas dan gamblang menjelaskan bagaimana marc begitu terampil dengan motor honda ditambah pengembangan honda yang membuatnya lebih cocok dengan motornya. Matteo juga memiliki relasi dengan internal team dan beberapa orang penting di MotoGP dan dia dengan jelas menyatakan tidak ada hal ghoib seperti mesin ataupun ban di MotoGP saat ini. Intinya saya mengkritik pandangan pak cahyo yang kerap menggeneralisasi kan sesuatu. Alangkah baiknya apabila mampu menilai secara spesifik dan netral, sehingga tidak kerap mencampur adukkan asumsi dengan experience, karena keduanya bisa jadi sangat berbeda. Setidaknya ini menurut saya sendiri dengan pengalaman yang saya alami sejauh ini.

Saya terima masukannya, saya akan mencoba lebih netral. Maaf saya lupa menjelaskan, bahwa konotasi jelek motor Honda terutama adalah untuk motor matik Honda/

Untuk soal akselerasi motor Hondanya Marc atau Alex. Pendapat tersebut muncul semenjak saya melihat bahwa motor Marc atau Alex bisa meninggalkan musuhnya di saat sudah lepas dari tikungan. Saat Marc belum jatuh di Jerez, motornya bisa dengan mudah meninggalkan lawan saat sudah lepas dari tikungan. DI tikungan dan sebelum tikungan Marc tidak unggul kecuali saat ia merangsek dengan paksa pembalap di depan. Perlu diingat bahwa pembalap Honda sendiri mengakui bahwa keunggulan di engine brake jadi hancur di motor versi 2020.

Saat di balapan jerez tersebut aya heran karena dengan motor yang sama sama dari Honda, motor Alex tidak bisa meninggalkan lawan dengan mudah lepas dari tikungan. Hal ini baru terlihat di dua balapan di Aragon dimana Alex bisa dengan mudah meninggalkan lawan saat lepas dari tikungan. Ini bisa dilihat sekilas di balapan pertama dan sepertinya sengaja tidak di shoot di balapan kedua. Kamera selalu pindah ketika ALex mencoba meninggalkan lawannya. Kamera baru kembali menyorot Alex ketika ALex berhasil menyusul yang depan. ALex tidak seberani kakaknya dalam menyalip lawan.

Itu pengamatan saya. Bagaimana menurut pendapat mas? Apa yang menyebabkan Marc bisa merangsek dari belakang hingga bisa di baris depan di Jerez? Di titik mana Marc bisa meninggalkan dan mengejar lawan?

 

6. Jujur saya menyukai konten-konten yang lebih memberikan pengetahuan dan wawasan secara lebih luas soal permotoran contohnya seperti soal beberapa penelitian mengenai minyak goreng sebagai aditif, kemudian tentang peroli an juga. Saya berharap kritik dan saran yang saya berikan dapat membangun. Saya sama sekali tidak berniat untuk menjadi haters, tetapi saya merasa mungkin perlu untuk memberikan uneg-uneg yang mungkin bisa membangun agar blog ini semakin baik kedepannya.

Mengenai masalah di NMAX seperti fuel dilution, bisa disebabkan beberapa faktor. Saya kurang mengetahui masalah fuel dilution lebih dalam tetapi berdasarkan pengalaman kawan-kawan saya pengguna NMAX lain, mereka ada yang sudah mengganti ring piston di km awal (kebetulan dia cukup ahli soal teknis mesin) dan masalah seperti oli hijau atau ngebul tipis di rpm tinggi hilang.

Untuk oli, Pak Cahyo sering menekankan menggunakan oli yang berkualitas, tapi saya jarang melihat pak cahyo menggunakan oli yang memang dipercaya kualitasnya oleh para “anak motor”. Contohnya seperti Motul, Liqui Moly, Ipone, Total, Elf. Mungkin pak cahyo bisa mencoba Motul 7100 atau Ipone RS4000/Katana yang menurut saya sendiri punya performa benar-benar sepadan dengan harganya. Atau Liqui Moly Street Race 10w-50 yang benar-benar terasa senyap. Karena menurut saya jika oli ada di range harga under 100k punya performa dan suara yang tidak terlalu jauh satu sama lain.

Jika memang beralasan secara teori tentang oli grup I dan grup III atau yang lainnya, saya menyarankan untuk dicoba terlebih dahulu supaya mengetaui impresinya secara langsung di NMAX tersebut, supaya juga memperkaya experience, sebab di dunia otomotif experience sangatlah penting. Anggapan pak cahyo soal oli yamalube yang jelek apakah karena hanya mencoba Yamalube Super Matic? Apakah sudah mencoba Yamalube RS4GP? Saya sendiri sudah mencobanya dan memang punya kualitas jauh diatas yamalube lain dan bisa bersaing dengan Motul 5100 atau 7100. Memang benar anggapan kalau ada yang murah tapi bagus kenapa tidak? tetapi akan juga lebih baik apabila memiliki cukup pengalaman dengan oli-oli yang memang berharga tinggi sebab saya belum pernah dikecewakan dengan oli-oli tersebut.

Terima kasih masukannya. Saya sangat menghargai.

Saya masih mencoba standar dan mencoba cari solusi selain bongkar mesin. Untuk sekarang merasa aneh juga karena oli Repsol dan bensin shell sepertinya mengurangi fuel dilution sehingga sampai lebih dari 600 km sekarang ini mesin masih halus. Mungkin bensinnya yang bikin fuel dilution?

Saya sebenarnya ada rencana tersebut, cuma sayang Spin keburu diganti dengan NMAX. Dan untuk NMAX saya tidak berani menggunakan oli tanpa minyak goreng. Ini tentu membuat review oli jadi tidak bagus. Review di NMAX pun sulit karena fuel dilution tentunya membuat oli apapun jadi pendek umurnya.

Motul saya sudah coba tapi yang untuk matik, dan tidak puas karena kalah bagus dengan Mesran Super. Total dan liquimoly jadi ragu karena ada yang pernah coba dan komentarnya jelek.

Terima kasih infonya soal Yamalube RS GP. Akan saya coba juga, begitu pula yang lain. Cuma nunggu masalah fuel dilution di NMAX selesai. Selesai = Fastron Techno bisa minim 7500 km sesuai percobaan pertaminaracing di Suzuki Satria. Atau mungkin cuma bisa membandingkan performa saja, nunggu bensin sudah 100% v-power.

Sekali lagi terima kasih semua masukannya.

 

+

 

Ada masukan lagi:

Kebetulan baru bisa mampir lagi, dan sepertinya ada beberapa pertanyaan yang mungkin bisa saya jawab hehehe.
1. Terimakasih tentang sharing dan klarifikasi mengenai suspensi om, sebenarnya juga yang ingin saya tekankan adalah bahwa hukum setelan suspensi yan lebih stiff memang memberikan kestabilan lebih dalam hal cornering, ini tentu diiringi dengan settingan yang tepat seperti preload dan compression damping serta berat dari rider itu sendiri. Bila terlalu keras sekali akan sulit dapat grip dan kalau terlalu empuk bisa limbung dan melebar terus. Menurut saya ini berlaku untuk semua merk suspensi, hanya saja kemampuan setiap suspensi itu memang berbeda dan bisa saja yang dialami om cahyo adalah karena kemampuan suspensi yang memang standar kemudian diiringi ketidakcocokan dengan suspensi tersebut. Contoh saya yang memiliki berat 75kg merasa suspensi nmax itu cukupan untuk penggunaan sehari-hari, test ride nmax 2019 abs milik teman.

Saya mengkritik suspensi ori NMAX bukan karena tidak cocok tapi karena suspensi tersebut setelannya ngawur. Di suspensi NMAX tidak ada yang namanya compression damping. Oleh karena itu saya sebut suspensinya single action. Bisa dilihat di video bongkar suspensi. Contohnya di menit 14:20 berikut ini:

Di video berikut menit 2:15, terlihat sekali hambatan suspensi sangat tidak imbang antara compression dan rebound:

Tidak usah diperhatikan mengapa yang DBS bisa balik sendiri, cuma suspensi Spin rasanya yang punya reaksi sama, di suspensi matik lain tidak pernah lihat yang begitu:

Perhatikan bahwa ketika suspensi NMAX ditekan masuk ke dalam, terlihat minim sekali hambatannya. Beda misalnya dengan DBS yang ketika ditekan terihat terhambat, menit 3:15 video berikut:

Atau juga di suspensi YSS, yang jadi bahan vlog tersendiri karena ada tukang skok yang menganggap reaksi seperti suspensi YSS itu adalah desain salah:

Suspensi NMAX terasa nyaman (ini stopper sudah diganjal) ketika boncengan. Namun jadi pertanyaan yang sangat sangat besar karena motor mengayun lebih dari 1 kali, malah sampai kadang 5 kali setelah lewat polisi tidur. Itu ciri suspensi underdamped. Ini bikin motor tidak stabil. Padahal saat itu, motor masih 400 km! Saya juga pernah mengikuti motor NMAX lain, dan motor terlihat terhambat di bagian jalan yang banyak keritingnya:

2. Menanggapi juga soal review sepertinya masih ada beda konsep om. Review yang saya maksud disini adalah review yang sering dilakukan reviewer seperti otomotif tv, gridoto, kemudian dari cak Iwan Banaran, dan TMC Blog. Maksud saya, review yang mereka lakukan kan termasuk dalam test ride, artinya mereka mencoba motor tersebut dalam kondisi standar atpm, dan melakukan perjalanan yang hanya hitungan jam. Dari pengalaman tersebut mereka memberi impresi bagaimana feel mereka mengendarai motor tersebut. Ini akan memberikan gambaran secara umum bagaimana motor tersebut secara general. Ketika sudah harus membahas hal yang spesifik seperti penyakit motor ini apa atau hal yang membutuhkan observasi lebih lama, maka jelas review seperti ini kurang cocok dijadikan patokan.

Review orang-orang yang telah membeli dan memiliki motor tersbut baru bisa menjawab pertanyaan tersebut. Selain itu pandangan reviewer awam yang membeli dan memiliki motor tersebut jelas akan lebih cocok untuk para pengguna sebab memiliki sudut pandang awam yang lebih mirip, seperti user experience sehari-hari, kenyamanan, reliability dsb. Sedangkan menurut saya, sudut pandang reviewer yang saya sebutkan diatas tadi akan lebih banyak menuju ke teknologi yang dipakai, performa, fitur, dsb. sebab mereka telah mencoba berbagai jenis motor secara langsung dan bisa saja memiliki standarisasi serta toleransi yang berbeda pula. Contoh om cahyo merasa bahwa getaran dari suzuki nex II cukup terasa, saya sendiri jujur malah belum pernah mencoba nex II jadi saya belum berani berkomentar. Namun disisi lain, menurut saya, getaran nex ii masih bisa ditoleransi oleh para reviewer tersebut mengingat mereka memiliki pengalaman yang lebih banyak mengendarai motor yang menurut mereka lebih bergetar lagi.

Mungkin bisa saya beri contoh seperti ini, getaran R15v3 masih bisa ditoleransi ketika saya sudah pernah mencoba CBR250R. Tetapi bila saya belum pernah mencoba cbr250r atau sebelumnya memakai motor seperti GSX-R150, maka saya bisa bilang R15v3 tidak begitu nyaman getarannya. Kemudian juga soal suspensi keras nmax, setidaknya menurut saya sendiri masih bisa saya wajarkan dan toleransi, walau pada kenyataannya om cahyo merasa sangat tidak nyaman.

Masih soal review, kritik saya sebelumnya mengacu kepada statement om cahyo seperti ketika memberikan pandangan atau preview untuk motor yang belum pernah dicoba secara langsung. Contohnya Honda Forza soal ergonominya. Kemudian soal review objektif dan subjektif, maksud saya adalah untuk preview seperti yang saya sebutkan tadi, sebab om cahyo kerap berpendapat misal soal bodi tidak proporsional Ducati Multistrada, atau contoh mudahnya new scoopy yang menurut om cahyo seperti minion. Menurut saya pendapat-pendapat seperti inilah yang alangkah lebih baik dihilangkan kedepannya, sampai akhirnya bisa mencoba dan memilki experience sendiri mengenai motor tersebut. Akan lebih baik apabila preview2 tersebut menggambarkan motor tersebut secara umum seperti teknologi yang dibawa, mesin, harga, dll. Sebab berdasarkan pengalaman, saya mengira nunggingnya GSXR150 itu akan sangat menyiksa, namun setelah saya coba sendiri, ternyata cukup nyaman juga setidaknya untuk saya. Ingat bahwa pendapat orang itu cenderung berbeda, namun bisa juga sama. Ketika misal reviewer yang sudah mencoba dan menemukan misal kekurangan, itu bisa dijadikan referensi, tetapi tidak bisa dijadikan patokan pasti.

Contoh soal PCX 125 yang om cahyo share dan kritik soal ketidakstabilan corneringnya di kecepatan tinggi. Ini akan menjadi sangat subjektif (ini yang saya maksud) mengingat om cahyo mungkin belum mencoba pcx 125 tersebut sendiri.

Saya merasakan ketidaknyamanan, getar, ergonomi, dan suspensi langsung dalam satu kali perjalanan sejauh 20 km dan sekitar 40 menit. Review otomotif tv, dst tersebut menurut saya bukan review yang baik. Ini dasarnya adalah karena menurut saya itu review adalah untuk memperkenalkan produk kepada konsumen. Dan untuk saya, tidak memberitahukan cacat produk itu tidak baik. Dan oleh karena sudah sering tertipu review mereka, akhirnya saya lebih cenderung cari review pemilik. Namun sayang pemilik itu jarang review atau kurang lengkap.

Tidak adanya reviewer yang mengeluhkan getaran di Nex II, IWB malah bilang motor tanpa getaran, membuat saya heran mengapa mereka tidak mengeluh. Tapi memang bisa saja mereka tidak pernah naik motor yang minim getaran atau memang semua motor sekarang pada getar begitu semua. Beda dengan motor 1 dekade yang lalu, yang halus halus suara mesinnya dan sangat minim getaran. Bahkan dulu bebek mocin pun lebih baik dari motor sekarang.

Memprediksi ergonomi saya lakukan berdasarkan pengalaman yang pernah saya rasakan ketika mengendarai motor lain. Saya bandingkan dengan hasil analisa saya terhadap motor yang pernah saya kendarai tersebut.

Mirip minion bukanlah hinaan, tapi lebih ke kesan ke arah mana motor tersebut dijual. Eksplisitnya adalah motornya selera sama dengan motif ultraman atau one piece di negara lain. misal filipina dan thailand.

Untuk soal nungging, biasanya saya tidak bilang ridernya yang tersiksa tapi lebih ke penumpangnya. Yang saya protes di motor sport itu keleluasaan joknya. Untuk mas sendiri, naik GSX-R150 apakah muka bisa dibelakang fairing? dagu nempel tangki? Saat duduknya di jok ridernya?

Untuk PCX, memang saya akui soal kestabilan tidak lepas terhadap pesimisme saya terhadap kualitas suspensi merek Jepang. Tapi mohon lihat contoh video di jawaban pertama. Menurut saya itu njomplang sekali.

3. Mengenai ADV, jujur saja om saya termasuk yang tidak suka hehe, overly priced. Maksud saya ini sebenarnya ada kaitannya soal review tadi om, Intinya kan kita belum pernah mencoba dan punya experience sendiri terhadap ADV 150, jadi tidak bisa juga menganggap bahwa plastik build qualitynya itu tidak sepadan dll. Mungkin bila om cahyo sudah punya pengalaman seperti test ride atau mencoba sendiri ADV 150 statement saya mungkin bisa dikoreksi. Walau begitu melihat dijalan atau mungkin milik tetangga masih belum bisa dijadikan acuan. Walau saya bilang ADV overprice, tpi saya tidak berani menganggap ADV jelek atau bagaimana, sebab saya jujur belum pernah mencobanya secara langsung.

Mengenai Ninja ini sudah lama om, Ninja 250r versi karbu. Tapi memang dianya mengakui perawatannya terutama untuk body sewaktu hujan kurang, dia fokus ke sektor mesin dan performa. Kembali lagi saya menekankan perawatan, bisa saja ADV tersebut memang kurang dalam perawatan di bodinya? walau bisa saja juga itu memang build qualitynya buruk. Intinya lebih mengacu kepada experience sendiri, dan tidak menjustifikasi sesuatu berdasarkan hanya melihat atau dari pengalaman orang lain. Misal apabila memang ada keluhan user ADV yang plastiknya jelek, maka alangkah lebih baik apabila bisa dijadikan referensi bahwa “adv ini ada keluhan di plastiknya yg jelek menurut salah seorang usernya, tetapi karena saya belum mencobanya sendiri maka saya belum tahu kepastiannya”. Ttng info plastik vario dicat saya baru ngeh juga, terimakasih infonya om.

Ok. Soal tampilan saya setuju itu soal selera. Termasuk juga harga.

Mohon dijelaskan yang dimaksud perawatan apa? Karena pengalaman saya di Suzuki Spin, Tidak pernah pakai treatment, hanya modal kalau kena lumpur dicuci, plastik bisa awet, tidak mbulak, umur motor saat difoto sekitar 8 tahun, tiap hari dipakai:

Harga spin kira kira setara Scoopy saat ini. Namun kembali lagi, saya tetap bertanya tanya mengapa plastik Honda ADV tidak dicat. Terlepas apakah plastik tersebut tahan oksidasi atau tidak. Saat saya lihat, motor ADV tersebut tidak berdebu.

4. Mengenai soal motoGP terlebih balapan di Jerez, jujur saya juga tidak bisa memastikan secara 100%, tetapi berdasarkan pengalaman saya sendiri trackday di sirkuit karting boyolali, ada benar benar banyak variabel mengenai kecepatan di lintasan. Pada dasarnya balapan terlebih di MotoGP itu tidak bisa hanya dikatakan mengandalkan power, misal powernya honda bisa sangat besar sedang yang lainnya ketinggalan. Saya contohkan saja misal, ketika saya pakai R15v3 yang memang motor harian dan saya sudah paham betul, saya bisa tau dimana posisi peak power, yang artinya kalau saya ada di suatu tikungan dan masuk dengan apex, kecepatan dan gigi yang pas, maka saya bisa keluar tikungan dengan memprediksi rpm berapa yang bisa saya capai untuk dapat peak power tersebut. Tapi itu cukup sulit untuk bisa konsisten pula (berhubung saya juga belum jago). Itu baru dengan motor 150cc standar.

Di motoGP ada jauh lebih banyak variabel seperti gear ratio, engine mapping, tcs, dll. Belum termasuk bagaimana kemampuan dan skill ridernya sendiri seperti sebarapa dalam late-brakingnya, apex dan racing line mana yang diambil. Ini semua pengaruhnya sangat besar. Contoh ketika di jerez, ingat alex adalah seorang rookie. Dia baru pertama bawa motor MotoGP 1000cc honda pula yang notabene power memang diatas kertas besar. Dan kalau kemudian anggapannya motor power besar dia juga bisa ninggal lawan di exit corner maka saya berani bilang itu tidak semudah itu.

Contoh saya ketika bawa motor ninja 250r di sirkuit boyolali itu justru exit corner saya terhitung lebih lambat karena belum terbiasa dan power ninja 250r yang jauh lebih besar diatas R15v3, aplagi saya belum hafal betul peak power nya serta ergonomi ridingnya. Ini hanya contoh dari amatiran seperti saya, dan memang alex adalah pembalap profesional tetapi ingat motor power besar tidak semata-mata bisa dipush, malah bisa juga rider belajar kontrol dan malah tidak bisa keluarin potensi motor tersebut. Kemudian soal marc, saya merasa cukup jelas dia itu cepat di semua sektor, tapi paling gila di sektor 1 turn 1 dan di turn 6.

Alasan dia cepat adalah saya yakin dia pakai engine mapping yang keluarin max power motornya and dia bisa push motornya over the limit. Ducati pun kalau memang ridernya lagi pakai engine map rendah, ketemu suzuki lagi pakai engine map max bisa aja kalah di powernya. Belum lagi setting dari gear ratio, tcs, serta teknik ridernya sendiri. Marc, jelas dia hard brake sering sekali dan keras sekali hampir di setiap tikungan, apalagi jelas dia sering pakai rem belakang. Efeknya ban belakang sering sliding yang akhirnya jadi lebih cepat habis. Belum lagi cara dia masuk ke tikungan yang menurut saya late brake banget dan dalem banget yang tentu efeknya dia dapet laptime jauh lebih cepat, sehingga dia bisa ninggal dibelakang dan ngejar didepan lebih cepat. Tapi ini resikonya besar. Maping max power artinya dia pasti maksimalkan engine revving, tapi juga menurunkan traction control, belum lagi kalau seandainya gear ratio juga tinggi. efeknya ketika ban sudah mulai aus, langsung highside yang akhinya kejadian di turn 3.

Motor MotoGP itu sangat advance dan sangat banyak pengaturannya. belum lagi riding di sirkuit itu benar-benar berbeda dibanding ketika riding dijalanan dan asumsi seperti mesin ghoib itu jujur bagi saya gak make sense. Bahkan ban ghoib pun sudah diklarifikasi dan disebutkan tidak ada. Kemudian menanggapi soal shoot kamera, saya sama sekali tidak berpikir ini relevan dengan motor honda yang punya mesin ghoib, saya tidak punya ilmu tentang multimedia dan broadcasting sehingga saya tidak mau dan tidak berani komentar soal shoot kamera, Kalau memang seandainya memang mesin ghoib, saya pikir taka nakagami pun tidak mungkin blak-blak an komentar tentang gimana dia banyak belajar dari datanya marc bahkan diapun bilang sendiri sewaktu saya ikut zoom meet dengan nakagami. (ini di acara yang diselenggarain idemitsu indonesia)

Mungkin cukup panjang juga kali ini om tapi setidaknya ini bisa kembali menjelaskan secara terperinci lagi mengenai pendapat saya.

Terima kasih penjelasannya. Iya, memang banyak yang mempengaruhi performa mesin. Baik karakteristik motor, gaya berkendara, maupun kondisi lintasan.

Saya mengamati dari hasil akhirnya, terlepas itu karena mapping, gaya berkendara atau karakteristik motor, Marc pada saat itu bisa meninggalkan lawan tidak saat mau masuk tikungan (adu pengereman) dan tidak saat di tengah tikungan. Ia menyalip dengan mengambil dari dalam yang kadang memaksa pengendara lain minggir. Sempat bisa dilihat kekagetan pembalap lain. Tapi yang jelas kelihatan adalah ia bisa meninggalkan lawan setelah benar benar keluar dari tikungan. Motor Marc jelas menjadi motor yang akselerasi di lintasan lurus paling hebat dari motor lain.

Soal kamera, terutama di balapan saat Alex bisa di depan, saya jadi tahu keanehan kamera karena saya benar benar ingin membuktikan bahwa motor Alex itu jauh lebih hebat akselerasinya dari semua motor lain di balapan yang sama (Marc juga). Tapi saya benar benar kaget karena sama sekali tidak bisa mendapat kesempatan. Lihatnya adalah Alex berhasil menyalip, tapi lalu kamera pindah pembalap lain, lalu saat kembali ke Alex, tiba tiba alex sudah di belakang pembalap yang di satu atau dua tikungan sebelumnya termasuk jauh di depannya. Padahal kalau kita lihat adu kencang pembalap depan, untuk bisa begitu itu mustahil.

Padahal sebelum alex berhasil menyalip, kamera selalu menyorot ke motor Alex di banyak tikungan. Kamera langsung pindah ketika Alex berhasil menyalip dan yang diperlihatkan itu nggak penting.

Terima kasih masukannya. Saya akan mencoba menjelaskan lebih detil bila melakuan review lagi.

15 respons untuk ‘Jawaban soal penulis terlalu menggeneralisasi, menjelekkan suatu merek motor atau produk, update #2

  1. Mantap lah…soal CBS matic menurut saya haram hukumnya dipakai di pegunungan yg curam karena rem depan tidak bisa istirahat dan banyak kasus,hampir semua malah,matic blong itu yg CBS,contoh kasus blong di B29,cemoro sewu,pacet

    Suka

  2. Klo sya seneng sama yg brani kasih kritik sama pabrikan, krn pabrikan itu dikritik aja nggk peduli, apalagi dipuji2

    Suka

  3. kl saya malah setuju dgn bang cahyo. Intinya teruskan saja, kl emang ada keluh kesah ttg motor sampaikan saja biar pengguna lain tau.. kita sbg pengguna taunya mmg secara general.. kecuali tau dr omongan2 pengguna yg sdh mengalami. sy sndiri muak dgn kata2 “semua tergantung perawatan”.. org yg peka & sering coba2 motor pun tau kl kualitas plastik honda itu kiwir2 kcuali tipe2 tertentu. Contoh lain kualitas mesin yamaha matik 115-125cc skrg memang bs dibilang relatif gmpg jebol dibanding merk sebelah.. kaya gitu bilangnya “semua tergantung perawatan”.. muak lama2..

    Suka

  4. intinya, kalo ada kejelekan/kelemahan yg dapat langsung dilihat dan atau dirasakan, ya bilang aja terus terang, gitu aja kok repot protas protes, jangan malah lantas dipelintiirrrr bahasanya, seperti jok keras dibilang cukup empuk, getaran mesin terasa tapi dibilang haluuusss karakter suaranya, dlsb

    reviewer juga harus dilihat dulu, mereka berdiri beside manufacturer atau beside comsumer, cara simplenya, lihat aja iklan di blognya apa yg mendominasi (klo ybs punya blog)

    Suka

    • Setuju 🙂 Diceritakan tanpa diperhalus karena tujuannya biar konsumen tidak salah tangkap.

      Iya memang, kadang reviewnya bisa jadi adalah promo produk dan bukan review beneran :).

      Suka

  5. Hargailah musuhmu.. karena ia rela mencurahkan waktu siang malam untuk mengingat dan memikirkan kamu..
    Itu kira2 yg harus dilakukan pabrikan terhadap blog2 kritis.. mereka bisa berbenah tanpa harus riset lama2.. bukan malah terbuai oleh pujian bloger amplop yg justru bikin inovasi stuck..
    Ingat mereka dagang bukan nyumbang..

    Suka

  6. Wah, terimakasih atas tanggapannya om, bahkan sampai menjadi artikel tersendiri. Terimakasih juga telah menerima uneg2 dari saya. Kebetulan baru bisa mampir lagi, dan sepertinya ada beberapa pertanyaan yang mungkin bisa saya jawab hehehe.
    1. Terimakasih tentang sharing dan klarifikasi mengenai suspensi om, sebenarnya juga yang ingin saya tekankan adalah bahwa hukum setelan suspensi yan lebih stiff memang memberikan kestabilan lebih dalam hal cornering, ini tentu diiringi dengan settingan yang tepat seperti preload dan compression damping serta berat dari rider itu sendiri. Bila terlalu keras sekali akan sulit dapat grip dan kalau terlalu empuk bisa limbung dan melebar terus. Menurut saya ini berlaku untuk semua merk suspensi, hanya saja kemampuan setiap suspensi itu memang berbeda dan bisa saja yang dialami om cahyo adalah karena kemampuan suspensi yang memang standar kemudian diiringi ketidakcocokan dengan suspensi tersebut. Contoh saya yang memiliki berat 75kg merasa suspensi nmax itu cukupan untuk penggunaan sehari-hari, test ride nmax 2019 abs milik teman.

    2. Menanggapi juga soal review sepertinya masih ada beda konsep om. Review yang saya maksud disini adalah review yang sering dilakukan reviewer seperti otomotif tv, gridoto, kemudian dari cak Iwan Banaran, dan TMC Blog. Maksud saya, review yang mereka lakukan kan termasuk dalam test ride, artinya mereka mencoba motor tersebut dalam kondisi standar atpm, dan melakukan perjalanan yang hanya hitungan jam. Dari pengalaman tersebut mereka memberi impresi bagaimana feel mereka mengendarai motor tersebut. Ini akan memberikan gambaran secara umum bagaimana motor tersebut secara general. Ketika sudah harus membahas hal yang spesifik seperti penyakit motor ini apa atau hal yang membutuhkan observasi lebih lama, maka jelas review seperti ini kurang cocok dijadikan patokan. Review orang-orang yang telah membeli dan memiliki motor tersbut baru bisa menjawab pertanyaan tersebut. Selain itu pandangan reviewer awam yang membeli dan memiliki motor tersebut jelas akan lebih cocok untuk para pengguna sebab memiliki sudut pandang awam yang lebih mirip, seperti user experience sehari-hari, kenyamanan, reliability dsb. Sedangkan menurut saya, sudut pandang reviewer yang saya sebutkan diatas tadi akan lebih banyak menuju ke teknologi yang dipakai, performa, fitur, dsb. sebab mereka telah mencoba berbagai jenis motor secara langsung dan bisa saja memiliki standarisasi serta toleransi yang berbeda pula. Contoh om cahyo merasa bahwa getaran dari suzuki nex II cukup terasa, saya sendiri jujur malah belum pernah mencoba nex II jadi saya belum berani berkomentar. Namun disisi lain, menurut saya, getaran nex ii masih bisa ditoleransi oleh para reviewer tersebut mengingat mereka memiliki pengalaman yang lebih banyak mengendarai motor yang menurut mereka lebih bergetar lagi. Mungkin bisa saya beri contoh seperti ini, getaran R15v3 masih bisa ditoleransi ketika saya sudah pernah mencoba CBR250R. Tetapi bila saya belum pernah mencoba cbr250r atau sebelumnya memakai motor seperti GSX-R150, maka saya bisa bilang R15v3 tidak begitu nyaman getarannya. Kemudian juga soal suspensi keras nmax, setidaknya menurut saya sendiri masih bisa saya wajarkan dan toleransi, walau pada kenyataannya om cahyo merasa sangat tidak nyaman.
    Masih soal review, kritik saya sebelumnya mengacu kepada statement om cahyo seperti ketika memberikan pandangan atau preview untuk motor yang belum pernah dicoba secara langsung. Contohnya Honda Forza soal ergonominya. Kemudian soal review objektif dan subjektif, maksud saya adalah untuk preview seperti yang saya sebutkan tadi, sebab om cahyo kerap berpendapat misal soal bodi tidak proporsional Ducati Multistrada, atau contoh mudahnya new scoopy yang menurut om cahyo seperti minion. Menurut saya pendapat-pendapat seperti inilah yang alangkah lebih baik dihilangkan kedepannya, sampai akhirnya bisa mencoba dan memilki experience sendiri mengenai motor tersebut. Akan lebih baik apabila preview2 tersebut menggambarkan motor tersebut secara umum seperti teknologi yang dibawa, mesin, harga, dll. Sebab berdasarkan pengalaman, saya mengira nunggingnya GSXR150 itu akan sangat menyiksa, namun setelah saya coba sendiri, ternyata cukup nyaman juga setidaknya untuk saya. Ingat bahwa pendapat orang itu cenderung berbeda, namun bisa juga sama. Ketika misal reviewer yang sudah mencoba dan menemukan misal kekurangan, itu bisa dijadikan referensi, tetapi tidak bisa dijadikan patokan pasti. Contoh soal PCX 125 yang om cahyo share dan kritik soal ketidakstabilan corneringnya di kecepatan tinggi. Ini akan menjadi sangat subjektif (ini yang saya maksud) mengingat om cahyo mungkin belum mencoba pcx 125 tersebut sendiri.

    3. Mengenai ADV, jujur saja om saya termasuk yang tidak suka hehe, overly priced. Maksud saya ini sebenarnya ada kaitannya soal review tadi om, Intinya kan kita belum pernah mencoba dan punya experience sendiri terhadap ADV 150, jadi tidak bisa juga menganggap bahwa plastik build qualitynya itu tidak sepadan dll. Mungkin bila om cahyo sudah punya pengalaman seperti test ride atau mencoba sendiri ADV 150 statement saya mungkin bisa dikoreksi. Walau begitu melihat dijalan atau mungkin milik tetangga masih belum bisa dijadikan acuan. Walau saya bilang ADV overprice, tpi saya tidak berani menganggap ADV jelek atau bagaimana, sebab saya jujur belum pernah mencobanya secara langsung. Mengenai Ninja ini sudah lama om, Ninja 250r versi karbu. Tapi memang dianya mengakui perawatannya terutama untuk body sewaktu hujan kurang, dia fokus ke sektor mesin dan performa. Kembali lagi saya menekankan perawatan, bisa saja ADV tersebut memang kurang dalam perawatan di bodinya? walau bisa saja juga itu memang build qualitynya buruk. Intinya lebih mengacu kepada experience sendiri, dan tidak menjustifikasi sesuatu berdasarkan hanya melihat atau dari pengalaman orang lain. Misal apabila memang ada keluhan user ADV yang plastiknya jelek, maka alangkah lebih baik apabila bisa dijadikan referensi bahwa “adv ini ada keluhan di plastiknya yg jelek menurut salah seorang usernya, tetapi karena saya belum mencobanya sendiri maka saya belum tahu kepastiannya”. Ttng info plastik vario dicat saya baru ngeh juga, terimakasih infonya om.

    4. Mengenai soal motoGP terlebih balapan di Jerez, jujur saya juga tidak bisa memastikan secara 100%, tetapi berdasarkan pengalaman saya sendiri trackday di sirkuit karting boyolali, ada benar benar banyak variabel mengenai kecepatan di lintasan. Pada dasarnya balapan terlebih di MotoGP itu tidak bisa hanya dikatakan mengandalkan power, misal powernya honda bisa sangat besar sedang yang lainnya ketinggalan. Saya contohkan saja misal, ketika saya pakai R15v3 yang memang motor harian dan saya sudah paham betul, saya bisa tau dimana posisi peak power, yang artinya kalau saya ada di suatu tikungan dan masuk dengan apex, kecepatan dan gigi yang pas, maka saya bisa keluar tikungan dengan memprediksi rpm berapa yang bisa saya capai untuk dapat peak power tersebut. Tapi itu cukup sulit untuk bisa konsisten pula (berhubung saya juga belum jago). Itu baru dengan motor 150cc standar. Di motoGP ada jauh lebih banyak variabel seperti gear ratio, engine mapping, tcs, dll. Belum termasuk bagaimana kemampuan dan skill ridernya sendiri seperti sebarapa dalam late-brakingnya, apex dan racing line mana yang diambil. Ini semua pengaruhnya sangat besar. Contoh ketika di jerez, ingat alex adalah seorang rookie. Dia baru pertama bawa motor MotoGP 1000cc honda pula yang notabene power memang diatas kertas besar. Dan kalau kemudian anggapannya motor power besar dia juga bisa ninggal lawan di exit corner maka saya berani bilang itu tidak semudah itu. Contoh saya ketika bawa motor ninja 250r di sirkuit boyolali itu justru exit corner saya terhitung lebih lambat karena belum terbiasa dan power ninja 250r yang jauh lebih besar diatas R15v3, aplagi saya belum hafal betul peak power nya serta ergonomi ridingnya. Ini hanya contoh dari amatiran seperti saya, dan memang alex adalah pembalap profesional tetapi ingat motor power besar tidak semata-mata bisa dipush, malah bisa juga rider belajar kontrol dan malah tidak bisa keluarin potensi motor tersebut. Kemudian soal marc, saya merasa cukup jelas dia itu cepat di semua sektor, tapi paling gila di sektor 1 turn 1 dan di turn 6. Alasan dia cepat adalah saya yakin dia pakai engine mapping yang keluarin max power motornya and dia bisa push motornya over the limit. Ducati pun kalau memang ridernya lagi pakai engine map rendah, ketemu suzuki lagi pakai engine map max bisa aja kalah di powernya. Belum lagi setting dari gear ratio, tcs, serta teknik ridernya sendiri. Marc, jelas dia hard brake sering sekali dan keras sekali hampir di setiap tikungan, apalagi jelas dia sering pakai rem belakang. Efeknya ban belakang sering sliding yang akhirnya jadi lebih cepat habis. Belum lagi cara dia masuk ke tikungan yang menurut saya late brake banget dan dalem banget yang tentu efeknya dia dapet laptime jauh lebih cepat, sehingga dia bisa ninggal dibelakang dan ngejar didepan lebih cepat. Tapi ini resikonya besar. Maping max power artinya dia pasti maksimalkan engine revving, tapi juga menurunkan traction control, belum lagi kalau seandainya gear ratio juga tinggi. efeknya ketika ban sudah mulai aus, langsung highside yang akhinya kejadian di turn 3. Motor MotoGP itu sangat advance dan sangat banyak pengaturannya. belum lagi riding di sirkuit itu benar-benar berbeda dibanding ketika riding dijalanan dan asumsi seperti mesin ghoib itu jujur bagi saya gak make sense. Bahkan ban ghoib pun sudah diklarifikasi dan disebutkan tidak ada. Kemudian menanggapi soal shoot kamera, saya sama sekali tidak berpikir ini relevan dengan motor honda yang punya mesin ghoib, saya tidak punya ilmu tentang multimedia dan broadcasting sehingga saya tidak mau dan tidak berani komentar soal shoot kamera, Kalau memang seandainya memang mesin ghoib, saya pikir taka nakagami pun tidak mungkin blak-blak an komentar tentang gimana dia banyak belajar dari datanya marc bahkan diapun bilang sendiri sewaktu saya ikut zoom meet dengan nakagami. (ini di acara yang diselenggarain idemitsu indonesia)

    Mungkin cukup panjang juga kali ini om tapi setidaknya ini bisa kembali menjelaskan secara terperinci lagi mengenai pendapat saya.

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.