Garansi, bukan hal yang mudah didapat, malah jadi ajang bohong pabrikan


Garansi memang sesuatu yang sulit untuk bisa diklaim. Ini sudah penulis rasakan sendiri. Harus butuh pengorbanan. Tapi yang penulis alami jauh dari yang dialami siboen chanel, diceritakan di menit 55:50 di video berikut:
Aerox Korban Variasi

Jadi ceritanya si mas boen ini beli Honda Beat baru. Motor yang baru diterima dicoba, tapi ternyata muncul suara ngung. Ini jelas masalah. Karena itu motor langsung di bawa ke dealer lagi. Motor diutak utek sampai berjam jam bahkan disambung ke hari berikutnya. Tapi ternyata masalah tetap saja ada.

Kemudian kepala mekanik turun. Sebelum memeriksa, sang kepala mekanik menyebut bahwa semua produk yang diberikan ke konsumen sudah diperiksa sesuai prosedur, tidak mungkin barang rusak dijual. Setelah diperiksa didiagnosa oleh sang kepala mekanik bahwa itu adalah hal yang normal. Disebut lama lama akan hilang. Sesuatu yang sangat tidak disetujui mas boen. Setelah debat, akhirnya diakui itu cacat pabrik.

Tapi masalah tidak selesai. Walau diakui cacat pabrik, dealer tidak mau mengganti. Sampai akhirnya manajer turun. Manajer mengatakan bisa membantu klaim ke pabrik. Tapi dikatakan bahwa harus menunggu 12 bulan. Dan itupun tidak dijamin bisa disetujui. Ada juga omongan bahwa menerima motor rusak adalah resiko pembeli.

 

Memang sepertinya sudah budaya dari pabrikan Jepang melakukan seperti itu. Selain suka bohong, kemampuan dari mekanik yang menangani kadang kurang mampu untuk bisa menangani masalah cacat produksi. Ini juga tidak termasuk cacat desain.

Heran kok orang pada bilang insinyurnya pabrikan Jepang itu pinter.

Pengalaman penulis untuk soal klaim dimulai dari ketika pertama beli motor Honda Supra Fit X New baru. Sebelumnya punya Supra Fit yang belakang jadi sangat getar ketika jalan di atas 70 km/jam, tapi itu motor bekas. Beli motor baru sebelumnya juga Suzuki semua, yang nggak ada komplin dari sisi finishingnya. Jok licin dan ban licin sudah by design. Ngeri juga naik bebek tune yang bisa meraih 135 km/jam di spedo dengan ban licin.

Yang penulis komplinkan pertama adalah soal borosnya. Karena konsumsi bahan bakar 30 km/liter terasa tidak masuk akal mengingat saat itu Honda itu sedang koar koar motor 4 tak lebih irit. Motor Honda itu yang paling irit. Angka itu setara dengan motor Suzuki 2 tak yang penulis miliki sebelum beli motor itu. Setara dengan ninja 150R. Lebih boros dari NMAX yang dikendarai seenaknya.

Cuma belakangan penulis tahu bahwa itu adalah cacat by desain. Di saat itu motor Honda masih pakai teknologi karbu yang sangat ketinggalan jaman, sehingga pilihan cuma ada dua, tenaga payah dan nggak begitu irit, atau boros dan tenaga agak terasa. Nggak bisa dibandingkan dengan misalnya dengan Astrea Star yang selain sangat irit, tarikan mesin juga enak dan haluus banget.

Keluhan kedua adalah soal suspensi. Sangat mengagetkan ketika penulis boncengan dengan istri bisa membuat motor belok belok sendiri saat melewati jalan beton yang juga merupakan tantangan berat bagi suspensi Honda Beat eSP dan Yamaha NMAX. Padahal naik motor Suzuki, baik crystal ataupun spin lancar lancar saja. Sempat diganti setelah berulang kali mengeluhkan ke bengkel, karena kebetulan oli bisa bocor dalam beberapa bulan pemakaian. Tapi setelah diganti tetap sama saja.

Baru belakangan tahu bahwa itu cacat desain dikombinasikan dengan kebodohan mekanik yang servis. Motor didesain oleh insinyur Jepang yang katanya pintar itu sehingga saat disandar tengah rantai berada pada kondisi yang paling kendor. Mekanik yang bodoh menyetel rantai dalam kondisi di sandar tengah. Sebagai akibatnya, ketika motor dikendarai, apalagi ketika dipakai boncengan, rantai ada pada kondisi yang paling merentang. Saking parahnya sampai membuat swing arm bengkok ke kiri dan membuat arah melaju motor berubah.

Sayangnya penulis tidak pernah berhasil menyampaikan ini ke mekanik yang salah tapi tetap ngotot. Dan selama memiliki motor, penulis dua kali ganti suspensi dalam kondisi suspensi bengkok / patah. Saat itu masih nggak ngerti soal suspensi single action vs double action.

Motor berikutnya yang perlu komplin garansi adalah saat beli motor baru merek Honda lagi, Honda Beat eSP. Soal motor yang jadi kayak ngerem ketika melewati jalan beton tidak penulis keluhkan, karena penulis anggap itu adalah cirinya motor Honda (walau sekarang jadi sadar bahwa itu sebenarnya cirinya suspensi merek Jepang buatan lokal, walau yang harganya di atas 1 juta). Soal CBS juga nggak penulis keluhkan, penulis langsung minta CBS dibuat nggak fungsi karena sudah bikin istri penulis jatuh. Getar mesin jelas cacat pabrik by design. Yang penulis keluhkan adalah soal gret gret dan reaksi ala karet dari CVT saat dipakai jalan konstan kecepatan 40-60 km/jam dan suara trik trik trik yang tidak penulis jumpai di motor Honda Beat lain.

Suara trik trik trik dijelaskan sebagai suara yang normal. Nggak beda dari yang dialami mas boen, masalah dianggap sebagai kenormalan. Sementara itu untuk mengatasi gret gret, sama sekali tidak ada garansi, penulis harus bayar untuk ganti roller dan karet yang ternyata tidak menyelesaikan masalah. Sampai sekarang bila motor dipakai boncengan dan penulis gas pol dari posisi pelan, langsung seketika itu juga terjadi gret gret. Untungnya itu balik lagi normal di pagi hari. Sejak itu boncengan malas pakai Beat lagi.

Mungkin jarang yang mengalami ini karena masalah itu sepertinya terjadi karena penulis pakai pro capacitor yang membuat tarikan di rpm bawah meningkat. Sementara itu kebanyakan modif fokus ke rpm atas atau sudah modif banyak di bagian CVTnya.

Yang berikutnya adalah saat beli motor Suzuki Nex II. Ternyata bagian kiprok sepertinya bermasalah sehingga aki tidak keisi. Yang ini jelas sekali ketahuan ada masalah. Penulis bawa motor untuk komplin ke dealer dalam kondisi setengah nyala. Motor bisa dibawa jalan namun tidak bisa lebih dari 40 km/jam. Mekanik mengakui bahwa ada masalah. Namun sayangnya mereka memutuskan hanya mengganti akinya saja. Padahal saat penulis cek pakai avometer, jelas aki tidak terisi. Saat didatangi lagi karena memang aki masih tidak terisi, malah disuruh ke pusatnya.

Dan setelah di pusatnya pun mekanik sempat menolak dan menyuruh penulis pulang setelah meminta penulis bayar biaya aki baru, karena penulis sebelumnya sudah pernah klaim aki baru. Yang salah diagnosa mekanik, tapi penulis yang harus menanggung. Namun penulis ngotot dan meminta mereka membuktikan di depan penulis bagaimana mereka yakin bahwa kiprok tidak masalah. Membuktikannya sederhana, cukup avometer saja. Dan dengan yakinnya, dengan sok pintarnya mereka menjelaskan cara kerja avometer kepada penulis. Mereka yakin sekali bahwa aki bekerja normal. Namun setelah dicoba agak lama ternyata terlihat dengan jelas bahwa aki tidak ngisi. Dan akhirnya mereka pun mengakui bahwa memang bermasalah. Untungnya tidak lagi ditarik biaya. Tapi penulis cukup jengkel juga harus beli aki lagi.

Yang Yamaha bisa dibilang lebih hebat karena penulis tidak keluar biaya sama sekali. Tapi yang penulis keluhkan sama sekali tidak ada yang ditanggapi. Setang getar? Normal mas. Suspensi terlalu keras? Itu ada yang bilang terlalu empuk mas. Oli jadi hijau dalam 600 km? normal mas.

Jadi sepertinya mekanik tidak mampu memperbaiki itu. Bahkan insinyur Yamaha di Jepang juga tidak mampu memperbaiki itu. Semua sudah by design, atau cacat desain.

Versi narasi:

20 respons untuk ‘Garansi, bukan hal yang mudah didapat, malah jadi ajang bohong pabrikan

  1. Pengalaman positif di yamaha xabre sy
    Di bulan ke-12 (biasanya setahun garansi elektrik) kiprok bermasalah, baru pada tahap lampu kode enjin sering nyala di dashboard
    Sempat dimasalahkan krn saya pasang 1 foglamp mobil, tapi akhirnya tetap diganti gratis dan sehat sampe sekarang

    Suka

  2. Om, masalah servis resmi kenapa tiap ganti oli kebanyakan berpatokan pada tiap bulan, bukan perkilometer? Padahal motor saya bukan motor harian yg suka jalan jauh seperti ojek online. Terima kasih 🙏

    Suka

    • Iya, saya sendiri heran dengan patokan ganti oli yang pakai bulan. Karena selama oli tidak dipakai, ya tidak akan banyak berubah. Secara oksidasi juga tidak karena toh mesin termasuk kedap udara.

      Rasanya itu bermula dari patokan ganti oli di negara 4 musim yang wajib ganti tiap tahun, karena setelah musim salju, oli sering sudah rusak. Lalu sama pabrikan makin lama makin dipendekkan karena tahu sendiri oli rekomendasi mereka tidak awet.

      Suka

      • Iya om, gr2 pake patokan bulanan, servis gratis (dan saya waktu itu sudah pakai oli federal) periode keempat/terakhir yg saya inginkan jadi lenyap. Padahal waktu itu km belum sampai 12 ribuan.

        Lalu ada juga petunjuk bertuliskan misalnya “Garansi mesin 3 tahun/30.000 km”. Mungkin tetep patokan nya pakai tahunan meskipun cmn motor emak2

        Suka

  3. Masalah spt ini sbnrnya banyak, baik dengar dr teman, tetangga, grup, tp ya konsumen biasanya nggk mau ribet, buang2 waktu & adu argumen.
    Tapi dulu prnah tetangga beli Shogun 110 ktika dihidupkan olinya pd bocor, akhirnya bdiganti 1 paket mesin utuh

    Suka

  4. beli motor baru skrg juga perlu dana tambahan kl ada yg ga beres.. garansi anggep aja ga ada.. sbnernya sy jg heran, mekanik bgkel resmi skrg byk yg ga pintar, semua masalah dianggap normal.. pernah tanya masalah di mesin tp dianggap normal2 saja, jelas buat jengkel.. klo motor yg mesinnya simpel + kelistrikannya ga rumit2 amat aja mekanik beres pada ga mudengan, gmn kl garap kerusakan mesin / kelistrikan mobil yg lebih ruwet.. hadehh..

    Suka

    • Iya, sekarang mesin makin maju dan makin rumit, memang pengetahuan butuh tambah. Yang Suzuki itu pernah bilang cuma bisa menangani motor injeksi saja, tapi begitu bawa motor injeksi yang jelas yang rusak kiproknya, masih saja ngawur analisanya.

      Suka

      • kalo pengalaman saya di th 2009-2012 an, sy masih mengandalkan bengkel resmi. saat itu motor saya cs1 yg notabene beres msh pada bingung cara bongkar nya, sy dah langganan di beres honda A dan sy kenal mekanik andalan yg selalu melayani dgn baik & pandai betul mslh motor.. prnah suatu saat sy servis di beres honda B, hasil servisnya jelek, motor mati2 di lampu merah & mesin panas bgt.. sy bawa ke beres A trnyata salah setel klep 😀 .. kejadian terulang saat sy beli supra helm in, sy servis di beres C, salah setel klep lagi, ketahuan ktika sy ngeluh ke beres A.. herannya apa gak ditraining dlu tuh mekanik waktu launching produk baru..
        mslh spele tp bner2 buat jengkel & buang waktu

        Suka

        • Iya, memang kadang ilmu antar bengkel itu timpang. Mungkin ada pendidikan, tapi rasanya cuma pendidikan macam kursus sebentar saja dan nggak menyeluruh. Kalau menyeluruh kan ibarat sekolah lagi. Memang mungkin barangkali pendidikan diberikan setelah produk rilis.

          Tapi aneh juga dua tempat bisa salah setel klep. Apa memang standarnya beda ya?

          Suka

          • mnurut sy krn belum ditraining / memang ga perhatikan materi ketika training, haha..
            Yg motor cs1 udh 1th an motor launching, aneh… trus yg motor supra helm in memang msh baru, mgkin trainingnya blm nyampe.. soalnya stelan klep nya beda sm supra 125 karbu..
            Lagian mekanik senior andalan sy sdh resign, mgkin pada buka bengkel sndiri.. nah yg beres pd diisi mekanik junior smua.. ini mslhnya..

            Suka

            • Iya aneh. Apa Honda nggak pernah rilis buku panduan untuk servis ya? Masa nggak pakai referensi?

              Iya, sekarang ini mekanik banyak yang muda muda. Nggak ada yang senior lagi.

              Suka

  5. Mungkin saya termasuk beruntung yak? Shock depan gsx bocor kiri di KM. 4000an dan kanan di KM. 11ribuan, niatnya cuma komplain ke dealer malah diganti baru semua

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.