Lagi soal spakbor NMAX, cacat desain itu tidak selalu bisa diselesaikan dengan perawatan bro!


Lumayan jengkel juga ketika lagi lagi ada yang mengatakan dengan perawatan bisa beres segalanya. Spakbor dibilang cuma soal kotor. Perawatan ada seninya. Jengkel juga karena penulis sering dibilang jangan beropini, jangan menggeneralisir.

Padahal ada kasus dimana perawatan itu tidak akan bisa jadi solusinya cacat desain. Dan khusus untuk spakbor kependekan, perawatan itu jelas bukan solusinya. Contohnya kalau lampu jadi berkabut seperti berikut ini, ini kemarin pas habis kehujanan:

Apa bakal hilang kalau penulis semprot soket lampunya untuk “membersihkan” air yang lari ke soket? Ya jelas makin parah lah bro.

Penulis juga teringat ketika bahas soal mbulaknya plastik belakangnya ADV. ada yang menyalahkan pemiliknya, dibilang pemiliknya malas merawat (padahal motornya termasuk kinclong), bilang kalau dirawat pasti awet. Ia pakai contoh Vario. Disebut plastiknya tetap bagus sampai sekarang karena perawatan dilakukan dengan baik. Nggak sadar bahwa baik dashboard dan bodi belakangnya Vario itu dicat total. Ya jelas lebih awet to bro, lha wong di cat. Membandingkan keawetan kok dicat lawan dengan yang nggak di cat. Jelas beda bro.

Juga fuel dilutionnya NMAX penulis. Mau dirawat seperti apapun ya nggak akan lebih baik. Dan padahal saat itu penulis (yang penulis sesalkan sampai sekarang) sudah merawat sesuai dengan rekomendasi buku manual, rekomendasi pabrikan, rekomendasi bengkel resmi. Semua sudah rekomendasi tapi tetap saja kena penyakit fuel dilution.

Jangan menggeneralisasi bahwa semua bisa dipukul rata dengan perawatan. Jangan menggeneralisasi bahwa suatu motor bisa bagus dengan perawatan, maka motor lain bakal bagus juga dengan perawatan. Tiap motor itu beda.

12 respons untuk ‘Lagi soal spakbor NMAX, cacat desain itu tidak selalu bisa diselesaikan dengan perawatan bro!

  1. Tampaknya memang semua mesin yamaha (sekarang) yang berbasis forget bla bla bla, memang punya penyakit yang sama dari lini matic dan sportnya
    Entah kalau di merk lain, bahkan temen yang maticnya entry level pun (yamaha tentunya) sama semua, ini memang disengaja gitu atau gimana ya 🤔 miris aja gitu, sebagai pengguna vega lawas alhamdulillah belum pernah sampai gitu

    Disukai oleh 1 orang

  2. Vario 150 punya sendiri sih parah, geter abis, stang skrg udh mulai mlintir2 sendiri padahal dipakai normal bukan ngehajar poldur dsb nya.

    Std tengah keras klo gak di lumasi, step boncenger, mika speedo skrg udh mulai retak2, padahal MX King yg lebih tua msh joss dan aman.

    Dan spakbor depan nyiprat kemana2 sampe ke segitiga pulak kek NMax lu punya.

    Suka

    • terima kasih infonya. Baru tahu bahwa vario 150 pun bisa geter parah. Soal setang memang dilang bearing setang Honda memang lemah. Sama ya, di Beat juga sudah retak semenjak 10 ribu km. Baru tahu juga spakbor bikin segitiga kotor juga. Parah memang.

      Tapi jadi ingat cerita bahwa jalan di Jepang itu sama sekali nggak ada lumpurnya.

      Suka

  3. Saya merasa bahwa ini merujuk ke pernyataan saya di komentar sebelumnya. Apabila dirasa pernyataan saya kemarin menyinggung perasaan, ataupun memicu reaksi kekesalan, saya memohon maaf sebesar-besarnya. Tidak aka maksud untuk menggurui ataupun memojokkan. Murni sebagai pendapat dan opini pribadi, yang mungkin bisa bertentangan dan tidak sesuai dengan pengalaman om cahyo. Sebab apa yang saya sampaikan adalah murni sebagai sharing mengenai pengalaman saya pribadi. Saya juga tidak berniat untuk memaksakan pendapat saya, apabila memang berseberangan dengan pendapat dan keyakinan om, monggo silahkan.

    Kebetulan saya tidak punya nmax dan saya memang tidak mendalami nmax. Mungkin pendapat saya kurang tepat sewaktu menyebutkan perawatan spakbor nmax, karena memang saya tidak memiliki dan sudah saya koreksi, tetapi sekali lagi saya mohon maaf apabila ada kata-kata yang menyinggung. Semuanya bukanlah hal yang disengaja, murni sebagai sharing sebagai sesama pecinta otomotif.

    Saya sharing tentang perawatan tentu merujuk pada pengalaman pribadi. Sekali lagi bila memang bertentangan dan tidak sesuai dengan pengalaman om, monggo ditanggapi sebagai sharing saja.

    Soal ADV dsb. sekali lagi karena saya tidak punya, saya sangat mungkin salah. Apa yang saya sharingkan hanyalah pengalaman saya melihat dijalan dan pengalaman milik teman. Alhamdulilah ADV teman tidak ada yang bermasalah cat mbulak, gredek ataupun lainnya. Keduanya aman setelah 1 tahun lebih pemakaian, tanpa dimodif di cvt, ataupun body. Hanya di knalpot, fender dan beberapa aksesoris. Mumpung kemarin minggu bisa bertemu diacara kopdar sehingga bisa bertanya lebih detail dan melihat lebih jelas.

    Saya sharing mengenai perawatan, karena pengalaman saya demikian. Apabila berbeda, baik secara opini maupun pengalaman om, maka tidak masalah. Disesuaikan masing-masing saja, toh kita yang menggunakan motor kita. Saya bisa menyimpulkan seperti itu, karena memang riwayat pengalaman saya merawat motor-motor berikut:
    1. Suzuki Smash Titan (2011). Motor pertama saya sewaktu masih smp. Barang baru. Awalnya nyaman, namun pengalaman kemudian kurang menyenangkan. Body getar, mesin kasar, kiprok sering mati, bahkan pernah mogok. Perawatan yang kurang saya perhatikan sewaktu smp, ganti oli tiap 3 bulan. Saya lupa berapa kilo tetapi mungkin tidak lebih dari 3000km, ingat betul juga selalu mesran super merah, berbagi dengan mobil kijang tua yang ganti olinya menyisakan 1 literan (ganti oli tetap 800ml). Jarang servis hingga kemudian akhirnya dijual karena terlalu banyak “mbengkel”

    2. Honda Supra X 125 (2009). Beli bekas milik kawan bapak. Kondisi nya lumayan, tapi tidak terlalu bagus jeroannya. Ada indikasi ngebul tipis dan suara keteng. Body sama getarnya, tapi setidaknya kelistrikan aman dan tidak pernah mogok. Saya mulai rutin merawat motor. Saya perhatikan betul. Setiap kehujanan saya cuci, rantai selalu lumasi, oli ganti 1000km sekali, setiap bulan selalu bawa ke bengkel untuk cek dan servis rutin. Alhamdulilah motor ini masih ada sampai sekarang dan masih nyaman walau dengan kondisi ngebul tipis, jauh lebih tipis dari awalnya. Suara keteng berangsur membaik, karena sering minta disetel bersamaan dengan klep dan sekarang masih aman tidak terasa tanpa turun mesin. Perawatan seperti ini juga terus saya jaga kesemua motor dirumah sampai sekarang. Berkat bengkel tersebut juga saya paham seluk beluk mesin, slalu diberi arahan yang bagus, kalo dulu kurang dana, mengakali juga jadi jalan, dan aman. Salah satu AHASS di Kota Solo.

    3. Yamaha NVL (2014). Motor kesayangan dulu sewaktu SMA. Beli baru tapi ramai masalah ngebul tipis. Kebiasaan saya merawat supra sebelumnya yang juga ngebul tipis membuat ini jadi bukan masalah besar bagi saya. Kebetulan milik saya aman tidak ngebul. Oli Yamaha Supersport selalu baru di 1500km. Rajin servis ke yamaha tiap 2 kali ganti oli. filter oli, filter udara, filter fuelpump, kampas, dan part lain selalu ganti sesuai anjuran dan servis injeksi tiap 6 bulan sekali. Motor aman dan sehat sampai KM 75.000 an tanpa ada masalah seperti komstir, seal waterpump, atau masalah lain yang sering jadi masalah NVL waktu itu hingga akhirnya dijual.

    4. Yamaha R15V3 (2019). Motor kesayangan saya sekarang. Dipakai harian. Modif knalpot, ecu, shock yss, quickshifter dan baru saja rem depan dengan bremboo rcs corsa corta serta bbrp aksesoris body. Tapi perawatan saya utamakan, sama seperti sebelumnya. Ganti oli 1500km sekali dengan fastron techno hijau. Ke beres tiap 2 kali ganti oli. Servis injeksi 6 bulan sekali. Ganti part fast moving sesuai anjuran. Cuci motor setelah kehujanan menggunakan sampo khusus motor. Alhamdulilah sampai sekarang aman dan nyaman. Sempat kaget Oli sempat hijau karena FD, kemudian ganti oli serta bensin diganti dari pertamax menjadi pertalite saja, aman. (kejadian ini ada dan terselesaikan sebelum ganti ECU). Bau bensin di oli hilang dan tidak ada ciri oli jadi tambah encer. Mesin juga halus dan tidak pernah rewel. Dan saya modif bukan karena tidak nyaman atau bermasalah, tapi karena ingin meningkatkan performa dan tampilan saja.

    5. Honda Supra X 125 (2015). Motor milik adik. Perawatan diserahkan kepada saya sehingga sama seperti motor-motor saya. Rutin saya bawa ke beres dan oli sama pakai fastron. Bodi sempat bunyi tapi kemudian teratasi di AHASS juga. Aman sekarang tidak ada bodi longgar atau bunyi. Tanpa penggantian hanya memperbaiki baut saja.

    6. Honda Vario 110 ( 2018). Motor ibu. Aman dan sudah saya jelaskan di komen sebelumnya

    7. Yamaha Jupiter Z Burhan (2008). Motor bapak. Jelas kurang perawatan sampai akhirnya turun mesin. Oli juga sama mesran merah 20-50. Tapi memang jarang ganti dan jarang kebengkel. Sekarang sudah aman dengan perawatan yang sering saya ingatkan ke bapak.

    8. Honda Karisma X 125. (2005) Milik om. Beli bekas 2014 lalu. Tahun 2017 lalu Mesin kasar dan akhirnya turun mesin. Piston blok lecet, klep njeber dan keteng aus. Kata om saya ganti oli jarang, 3 bulan sekali dengan sehari bisa 20km an. Oli juga sama mesran. Ke bengkel pun hanya kalau ada masalah yang kelihatan. Setelah turun mesin, saya ingatkan perawatan rutin dan kebengkel. Sampai saat ini aman dan tidak pernah mengeluh mengenai masalah di motornya.

    9. Mio Soul (2010) Milik Tante beli bekas 2017. Sampai saat ini aman sehat dengan penggantian part fast moving berkala saja. Pernah sekali selang hawa pecah, kemudian diganti di beres dan aman sampai saat ini. Perawatan sama seperti yang lainnya, bahkan seringnya saya yang membawa ke beres. Oli yamalube matic tiap 1500km

    Dari pengalaman tersebut menurut saya perawatan adalah kuncinya. dan itulah mengapa saya menggeneralisir mengenai perawatan, walau tidak semua motor jenis perawatan nya persis plek ketiplek sama, harus disesuaikan dengan masalahnya juga. Semua motor tersebut yang masih ada saat ini fit dan tidak ada masalah. Juga tidak ada kekurangan atau kelemahan berarti bagi kami yang menggunakannya selama dirawat dengan baik. Ini adalah pengalaman saya dan hanya sebagai sharing saja. Tidak berniat mendebat kembali baik secara sengaja maupun tidak. Bila memang pengalaman kita berbeda, saya mohon maaf apabila sebelumnya perkataan saya menyinggung perasaan om cahyo. Saya hanya berniat berbagi pengalaman dan memberikan masukan terhadap permasalahan om cahyo, yang mungkin berbeda dan mengalami pengalaman negatif.

    Maaf saya selalu komen panjang. Ini untuk menghindari anggapan pendapat yang tak beralasan dan berdasar, yang kadang cukup sering saya lihat di blog ini. Semua yang saya share adalah pengalaman pribadi dan bisa saja berbeda tiap orang. Memang banyak kasus motor, termasuk motor yang saya miliki, yang rentan mengalami masalah tertentu. Tapi sudah jadi hal yang umum mengenai perawatan yang baik akan menjadikan motor juga baik. Setidaknya itu yang jadi kepercayaan dan anggapan keluarga saya, serta banyak dari teman-teman saya terutama di komunitas motor. Dan sekali lagi, ini bisa saja berbeda karena ini adalah pengalaman pribadi dan ini hanya bersifat sharing saja

    Semoga kedepannya blog ini bisa terus memberikan edukasi mengenai motor, yang mungkin sulit ditemukan di blog lain. Saya hanya kembali berpesan untuk bisa menggunakan bahasa yang lebih rapi dan santun, agar setiap tulisan enak dibaca. Sebaiknya juga jangan terbawa emosi ketika menulis. Jangan kemudian mendebat orang-orang yang mungkin berbeda pandangan. Apa yang mencadi opini om cahyo silahkan disampaikan dan dipost, apakah para pembaca menerima atau tidak, atau bahkan menghujat, biarkan saja. Cukup share pandangan dan pendapat, sebab perbadaan pendapat itu wajar. Dalam dunia otomotif sharing itu penting. Tetapi implementasi selalu kembali ke pribadi masing-masing. Sebaiknya juga jangan kemudian kerap menyebut ini benar ini salah, bodoh atau pintar atau perkataan lain yang mungkin saja bisa menyebabkan orang bereaksi secara berlebihan. Keep peaceful, keep positive

    Disukai oleh 1 orang

    • Terima kasih banyak sharingnya. Tidak masalah memberikan komentar yang panjang. Silahkan.

      Tidak, saya tidak tersinggung dengan jawaban mas Bagas Aji. Saya juga paham bahwa tujuannya adalah memberikan masukan. Walau memang ada beberapa hal yang tidak sependapat, tapi saya bisa maklumi bila pengalamannya berbeda. Saya buat artikel karena tersinggung dengan komentar bro Priyo. Tapi alasan membuat artikel bukan karena bro Priyo saja, saya juga ingin memberitahukan yang lain bahwa ada hal yang tidak bisa diselesaikan dengan perawatan. Saya berharap jangan ada lagi yang berpikir bahwa perawatan adalah kunci segalanya. Ada hal yang tidak bisa diselesaikan dengan perawatan. Dan mekanik bengkel resmi ataupun pabrikan punya kelemahan.

      Saya akui bahwa perawatan itu penting, namun tetap banyak masalah yang tidak bisa diatasi dengan perawatan. Ada beberapa pengalaman jaman dulu yang belum saya share. Pengalaman mas membuat saya jadi teringat pengalaman saya sebelumnya. Untuk pengalaman ini saya tuangkan di artikel khusus saja. Biar bisa jadi pengalaman yang lain juga.

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.