Cerita panjang pengalaman pribadi (dari jaman dulu) komponen motor rusak walau sudah dirawat #2


Ini kelanjutan dari artikel sebelumnya:
Lagi soal spakbor NMAX, cacat desain itu tidak selalu bisa diselesaikan dengan perawatan bro!

Pengalaman panjang yang di share bro Bagas Aji membuat penulis jadi ingat bahwa banyak hal yang tidak bisa diselesaikan dengan perawatan atau malah bikin motor bermasalah dengan perawatan. Pengalaman yang terjadi sebelum mulai menulis di blog ini juga.

Kadang pendapat media itu berbeda. Seperti misalnya soal kiprok:

Dijelaskan bahwa lampu cepat mati itu akibat kiproknya rusak.

Kerusakan pada kiprok ini bisa dideteksi jika lampu sering mati saat digunakan. Terutama saat motor digas pada rpm tinggi lampu akan langsung mati.

Tapi apakah masalah selesai dengan ganti kiprok? Tidak. Karena ternyata ada kiprok yang memang dari asalnya tidak awet. Seperti contoh sharing berikut:

Penulis sendiri juga mengalami kejadian lampu jadi cepat mati (termasuk lampu speedo), di motor merek tertentu yang termasuk baru. Terjadi ketika motor dipakai di rpm tinggi.

Mungkin ada yang menyalahkan mengapa kok motor dipakai di rpm tinggi. Mohon dimaklumi karena penulis melakukan hal yang sama di motor dengan merek berbeda selama bertahun tahun, tiap minggu gas pol selama perjalanan 100 km dan tidak ada masalah seperti itu. Penulis juga pernah mengendarai motor merek lain lagi juga tidak masalah ketika dipakai di rpm tinggi. Dan ternyata salah satu perawatan yang dimaksud untuk khusus merek tersebut adalah dengan sama sekali tidak pernah menggunakan motor di rpm tinggi. Dan kalau tidak mengalami sendiri tidak akan tahu. Karena ini tidak dicantumkan di buku manual. Nggak ada larangan pakai di rpm tinggi.

Masalah sama juga bisa terjadi bila aki soak. Aki soak bisa bikin kiprok soak, yang berikutnya bisa merembet ke komponen lain. Tapi itu jelas salah pemiliknya.

Solusi adalah menggunakan kiprok yang terkenal awet, atau sekalian buat sendiri. Solusi yang lebih baik adalah bikin alternator tidak menyuplai listrik ketika aki sudah penuh. Tapi entah apa ada solusi seperti ini atau tidak. Karena barang seperti ini serba nggak jelas.

update:
Penulis lupa bahwa si Nex II juga bermasalah kiproknya pada saat motor masih nyis baru. Di bawa ke bengkel, malah cuma diganti akinya. Di datangi lagi, di suruh ke pusat. Di bawa ke pusat disuruh beli aki saja. Setelah nego cukup alot untuk mereka membuktikan bahwa kiprok tidak bermasalah, ketahuan bahwa ternyata kiproknya memang bermasalah. Sempat ribet, akhirnya diambilkan dari motor lain. Peristiwa ini jadi bikin makin meragukan kemampuan mekanik.

 

Berikutnya soal rantai. Salah satu kegiatan rutin penulis ketika punya motor dengan rantai terbuka adalah melumasi rantai motor. Penulis lakukan beberapa hari sekali bila tidak hujan. Tiap kali sehabis sampai ke tujuan (termasuk di kantor) bila kehujanan. Menurut penulis pun itu masih kurang. Penulis sering merasa oli di rantai hilang ketika dipakai di perjalanan.

Sekarang sadar bahwa masalah ini terjadi karena kesalahan mekanik bengkel resmi (Honda, Yamaha dan Suzuki sama semua) karena menyetel rantai dalam kondisi motor di sandar tengah. Ini membuat setelan rantai terlalu kencang yang sebagai akibatnya rantai dan gir baru nyis langsung jadi cacat begitu motor dinaiki dan dikendarai 100 meter saja. Kalau sudah kendor, maka seterusnya rantai

Masalah ini juga terjadi karena kesalahan desain pabrikan motor. Agar rantai bisa awet maka rantai harusnya ditutupi. Bila tidak ditutupi maka rantai harus menggunakan tipe yang pakai seal. Sayangnya pabrikan tidak menyediakan hal ini. Mau pasang tutup rantai harus usaha sendiri. Mau pasang rantai dengan seal harus usaha sendiri.

Jelas perawatan bukan solusi efektif. Penulis pernah punya motor dengan tutup rantai dan melumasi tidak perlu ribet. Bisa dilakukan tiap 6 bulan sekali. Penulis pernah juga tukar swing arm demi untuk bisa pakai penutup rantai.

Penulis juga pernah salah klaim. Menyalahkan suspensi karena motor jadi belok sendiri ketika dipakai boncengan lewat jalan bergelombang (walau sekarang juga sadar bahwa suspensinya memang dari aslinya jelek), padahal sebenarnya cuma karena mekanik pabrikan dan mekanik bengkel resmi salah fatal dalam melakukan penyetelan rantai. Masalah terjadi justru karena melakukan perawatan ke bengkel resmi.

 

Kalau soal oli mungkin sudah tahu. Jaman dulu oli itu bagus. Mengikuti rekomendasi pabrikan itu tidak bakalan bikin mesin bermasalah. Namun jaman sudah berubah. Oli dan rekomendasi pabrikan sekarang justru bisa bikin bermasalah bila dituruti. Nggak cuma Honda saja, Yamaha dan Suzuki juga sama saja, bila berdasar pengalaman buruk dari penulis. Honda Astrea Prima, Yamaha Crypton dan Suzuki Crystal sudah beda pengalamannya dari Honda Beat eSP, Suzuki Nex II dan Yamaha NMAX.

Di jaman dulu, ada oli yang dijamin bikin ngebul begitu dipakai. Yang penulis ingat sekali adalah Top 1. Lihat sendiri motor Smash yang dalamannya hitam banget setelah baru ganti oli 500 km dan motor Honda Supra yang jadi ngebul setelah kemarinnya ganti oli. Di jaman itu Top 1 itu terkenal oli sip. Jadi kalau ada yang jadi ngebul, yang disalahkan mekaniknya / bengkelnya. Kayaknya sekarang juga masih tetap begitu?

Anehnya, ada juga oli yang dulu buruk tapi sekarang baik. Seperti contohnya Mesran Super dan Repsol. Juga mengamati ada oli yang kualitasnya berubah, seperti misalnya enduro racing yang di peluncuran pertama kali sip tapi setelah beda sebulan jadi jelek, di tempat beli yang sama.

Walau oli resmi bagus, tapi nggak bagus bagus amat, terutama di pabrikan tertentu. Penulis saat itu sudah melakukan perawatan rutin ke bengkel resmi. Ganti oli resmi. Sesuai rekomendasi buku manual. Tapi kemudian tiba tiba starter motor jadi bunyi nguuuuk nguuuk. Di bawa ke bengkel resmi tetap nggak ada perubahan. Sampai akhirnya kemudian dinamo starternya mati baru bisa klaim garansi. Kedua kali sudah nggak bisa. Baru kemudian coba coba oli baru tahu, bahwa itu ternyata masalah oli. Begitu ganti merek oli, starter nggak jadi nguuuk nguuuk lagi. Sampai kaget saat itu.

Sepertinya penyakit pompa radiator di motor sekarang juga terjadi karena olinya jelek. Starter nggak masalah karena sudah terintegrasi dengan dinamo amper / alternatornya. Jadi kalau ada yang pompa radiator cepat rusak (di motor merek tertentu) silahkan coba ganti merek oli.

Bicara soal pelumasan membuat penulis teringat di motor matik penulis yang merek tertentu. Komponen speedometer yang di roda nggak awet. Umurnya mungkin 4 ribu atau 5 ribu km saja. Di motor lain itu biasanya kabel speedonya yang putus. Itupun umurnya lebih lama. Anehnya sih putusnya kok sering ketika dipakai pelan.

Motor penulis lain dengan merek yang sama juga ternyata ada komponen dalaman mesin yang harus diganti secara periodik yang nggak disebut di buku manual. Penulis lupa namanya, bentuknya roda plastik yang mudah aus dan berhubungan dengan tensioner kalau nggak salah. Kelihatan bener memang mudah aus. Penulis nggak paham mengapa kok dua duanya nggak diganti yang bahannya lebih kuat.

Motor ini juga pernah mengalami bearing rantainya oblak, sampai bikin bagian dalam kampas remnya aus. Penulis baru tahu bahwa ternyata rantai pun ada bearingnya sendiri.

Apa penulis salah karena tidak melakukan perawatan? Entahlah. Pada saat itu penulis masih servis rutin di bengkel. Yang motor matiknya pun masih dalam tahap servis wajib. Tapi ternyata melumasi bearing bukan termasuk bagian dari servis rutin. Tapi juga walaupun dilumasi pastinya bakal makin cepat rusak, seperti halnya rantai, dilumasinya pakai oli bekas. Gemuk atau stempet yang melumasi bearing bakal dilarutkan oleh oli bekas, digantikan oli yang sudah tidak licin lagi.

Kalau komplin ke bengkel mengapa kok pakai oli bekas, jawabannya (penulis beneran pernah tanya): ya memang seperti ini mas. Nggak apa apa kok. Di mana mana juga seperti ini. Mulai dari jaman bengkel buka ya seperti ini. Nggak akan rusak kok mas. Selama ini juga nggak ada keluhan.

Padahal penulis termasuk sering mengalami masalah karena kurang pelumasan ini.

Ini juga membuat penulis jadi ingat bahwa di bengkel resmi itu jarang ada yang menyediakan setel velg (jeruji, velg racing jelas nggak mampu). Tapi penulis juga ingat ketemu orang yang bawa motor yang velgnya baru di tempat setel velg. Ketika ditanya mengapa kok setel velg lagi, dijawab habis ganti velg di bengkel resmi, dan setelan velgnya ternyata nggak sip, jadi geal geol.

Penulis juga jadi ingat kasus velg racing yang ternyata jadi geal geol di motor matik merek satunya. Masa ya yang mengalami itu orang nggak bisa merawat motor. Apa salah orangnya bila harus lewat polisi tidur atau nggak sengaja melewati lubang?

Tapi rasanya pabrikan juga tidak mau disalahkan bila motor rusak karena lewat lubang. Rangka patah, swing arm patah karena lewat lubang atau tambalan jalan itu diluar garansi katanya.

Tapi rasanya terlalu banyak yang nggak digaransi. Seperti misalnya per kopling patah, per starter patah, cop busi mudah robek (walau robeknya ketika di servis di bengkel resmi) sehingga mesin mudah mati kalau hujan. Gigi starter mudah rompal (nggak ada recall untuk produk tertentu). Rangka karatan. Pijakan kaki aluminium patah. dst.

Penulis sendiri juga barusan mengalami sendiri bagaimana suspensi depan jadi hilang daya hambatnya. Kalau ini sih sudah diwanti wanti oleh bengkel nggak resmi, karena ternyata logam tabung bagian dalam suspensi depan berlubang karena karat. Saat itu umur motor 10 ribu km. Apa salah perawatan?

Penulis juga jadi ingat bahwa suspensi belakang selain satu merek itu nggak awet. 5 ribu km sudah seperti nggak ada hambatannya. Ini belum termasuk dengan yang di motor terbaru, yang walau ada tabungnya, dari mulai baru pun sudah kecil sekali hambatannya.

Masalah masalah di atas apa bisa baik dengan perawatan? Perawatan bagaimana? Karena kok sepertinya solusi ideal adalah ganti dengan merek lain yang lebih bagus.

Atau juga seperti spakbor kependekan yang bikin cipratan lumpur menyebar rata ke bagian dalam fairing, bikin karatan dan soket lampu atau sambungan listrik jadi kena air, kita harus cari solusinya sendiri.

 

Penulis jaman dulu itu termasuk sering servis rutin ke bengkel resmi. Tapi tiap kali habis servis, penulis selalu melakukan aktifitas tambahan sendiri. Yaitu setel rantai dan setel karbu. Penulis bisa tahu rantai baru bisa rusak hanya dalam pemakaian 100 meter setelah keluar bengkel ya dari itu juga. Parahnya si mekanik bengkel resmi itu selalu merasa benar. Susah diomongi. Nyetel karbu juga sama. Nyetel karbu itu pasti dilakukan dalam kondisi motor stasioner. Padahal salah, nyetel karbu harus dilakukan pada waktu motor jalan. Jadinya habis diservis pasti kemudian harus nyetel lagi. Dan tentunya sambil jalan.
Cara menyetel karburator serta mengatasi motor susah hidup saat mesin dingin

Parahnya juga, sama mekanik kadang disetel boros. Padahal motor penulis sudah pakai cemenite (jaman segitu, sekarang pasti pakai pro capacitor) sehingga motor itu lebih sip disetel irit. Kalau disetel boros jadinya malah nggak enak banget. Jadinya sering harus kembali ke bengkelnya (nggak punya tool bongkar karbu) dan harus berdebat sengit (karena warna busi kuning cerah dan jaman segitu warna wajar busi adalah hitam atau merah) dengan mekanik sebelum akhirnya disetel irit. Kalau pas yang menangani mekaniknya beda, harus mengulang kejadian yang sama lagi.

 

Hal lain yang penulis jengkel adalah mekanik bengkel resmi itu pakai oli bekas untuk melumasi. Karena jelas oli bekas itu seringnya sudah nggak licin lagi tapi daya pelarutnya masih ada, melunturkan gemuk / stempet. Sehingga habis diservis itu malah jadi lebih mudah oblak bearingnya.

Karena jengkel, lama lama malas servis di bengkel resmi. Juga karena sharingan dari tetangga dan teman kantor pengalaman buruk servis di bengkel resmi. Seperti misalnya harus turun mesin hanya gara gara jadi dol bautnya karena keseringan bongkar pasang karbu. Mesin rusak karena baut ketinggal di dalamnya. dst.

Penulis pun jadi nggak pernah servis ke bengkel. Dan di masa masa ini kerusakan yang terjadi karena tidak dirawat adalah CVT jadi oblak. Baru tahu bahwa CVT bisa oblak kalau nggak dilumasi tiap 10 ribu km sekali. Jadi begitu punya matik baru, servis berkala lagi. Tapi parahnya, pelumasan CVT tidak pernah dilakukan padahal sudah langganan servis di sebuah bengkel resmi. Akhirnya nggak beda kalau nggak servis rutin. Padahal servis bisa dibilang berlebihan. Busi selalu diganti. Filter udara selalu diganti. Carbon clean selalu dilakukan. dst. Bikin ongkos servis jadi mahal, selalu diatas 200 ribu.

Pernah komplin motor terasa getar di kecepatan 60 kpj bila boncengan, sama mekanik bengkel resmi beberapa bagian CVT diganti. Nggak gratis, dari biaya bongkar sampai komponennya dibebankan konsumen. Ganti busi dan filter juga padahal belum jadwalnya servis. Dan masalah tetap terjadi. Dan malah muncul masalah lagi, motor nggak sekencang sebelumnya.

Begitu saja dulu.

Intinya servis rutin itu bukan jaminan motor bakal ok. Kalau sudah karena cacat desain atau cacat produksi, motor kita masih tetap akan mengalami masalah walau sudah diservis ratusan ribu tiap kali servis sekalipun.

Pilih merek motor itu penting. Pilih merek oli itu penting. Pilih merek komponen motor itu penting. Tahu sendiri apa yang harus dirawat itu penting. Kadang harus lebih ekstrem dari rekomendasi pabrikan, kadang bisa kurang kalau terkendala dana.

25 respons untuk ‘Cerita panjang pengalaman pribadi (dari jaman dulu) komponen motor rusak walau sudah dirawat #2

  1. Saya pernah denger statement dr salah satu orang yakni: “Klo beli motor, pilih Honda aj. Bengkel resminya banyak dan harga jual kembalinya tinggi.”

    Point pertama. Mau sebanyak apapun bengkel resminya, klo kerjanya gak becus, yaa pasti useless lah. Saya jg penasaran sm orang yg ga mau pilih motor suzuki, apa karena bengkel resminya tutup atau part2 nya yg katanya mahal?

    Point kedua, harga jual tinggi. Slogan yg saya ingat dr iklan honda astrea. Utk ini saya cukup lihat di bursa motor bekas. Umur motor minimal 1 thn sudah nangkring disana. Mirip dengan teman sy yg rela jual motor vario 2015 demi bisa beli lg vario 150 di thn kemarin 😂

    Disukai oleh 1 orang

    • – Klo sya nggk peduli bengkel resmi pa nggk, krn sya nggk pernah service2 motor, part rusak/habis ya ganti gt aja, nyatanya mtr2 sya awet, ini ada spin 2007 msh oke. Sama motor2 baru nggk kalah nyaman
      – klo harga jual kmbali tinggi itu jg nggk mesti, klo mnrt sya krn harga belinya dah tinggi ya harga jualnya msh tinggi, yg jelas klo sya beli motor utk dipake bkn utk gonta-ganti dan dijual beli lagi

      Disukai oleh 1 orang

      • Ada konsumen yang tetap butuh harga jual tinggi
        Karena ga mau ribet merawat
        Jadi dipake, udah ga enak jual beli baru lagi dst

        Harga jual itu ditentukan dari favorit konsumen
        Makin disukai suatu model maka harganya akan tinggi, bukan dari harga jual
        Model favorit itu selain desainnya bagus (ini yang pertama) biasanya juga karena ga rewel

        Ga rewel itu belum tentu ga ada masalah
        Kriteria ga rewel itu, yang pertama dia ga mudah bermasalah, yang kedua walaupun bermasalah tapi penanganan dan sparepart nya gampang, yang ketiga walaupun bermasalah dan ga diperbaiki tetap bisa dipakai

        Harga jual NMAX itu tinggi, walaupun banyak masalahnya seperti ngebul kasar dll.
        Tapi walaupun ngebul kasar pun kalo dibiarin juga tetap bisa dikendarai dan ga mogok. Mau oli tinggal 100ml pun setau saya silinder ga mudah baret/macet

        Ada konsumen yang puas kalo pake motor enak yang dia rawat sendiri
        Ada juga konsumen yang hanya puas kalo naik motor baru tanpa ribet merawat

        Disukai oleh 1 orang

        • Konsumen yang memikirkan harga jual kembali itu biasanya karena sudah paham bahwa merek yang mereka beli itu nggak bakal tahan lama. Ada teman yang begitu. Yakin banget bahwa motor itu cuma enak beberapa tahun saja. Jadi sudah dijadwalkan sendiri mau beli tiap beberapa tahun sekali.

          Dulu sempat heran mengapa sampai ada yang punya pendapat begitu, tapi setelah punya sendiri baru paham. Ooo iya, memang benar ada motor yang enaknya cuma beberapa tahun saja. Setelah itu banyak masalahnya.

          Cuma kalau standar saya, ada sih yang dari baru pun sudah nggak enak dipakai. Untungnya pas kebetulan beli yang bisa dibenahi.

          Ada juga konsumen yang beli mementingkan modelnya. Nggak perduli bakal rewel atau tidak. Kalau masalah di bawa ke bengkel. Penyakit juga dibiarkan. Yang penting punya.

          Suka

          • Hehehe kasus harga jual tinggi ini menarik untuk disimak
            Ambil sebuah kasus :
            Seseorang kredit motor Vario 150 dengan UM rendah dan cicilan 3 tahun. Selisih harga ketika kredit lunas dengan nilai beli tunai saat itu bisa selisih 30%, itu masih dari segi selisih pembelian. Belum lagi ketika sudah lunas terus dijual kembali, berapa sih harga pasaran? Honda? paling tinggi diantara merek lain (cuma sekitar 10-20%).
            Kemudian dia beli motor lagi dengan rentang harga yang sama dengan sistem kredit yang sama…
            Apakah secara cash flow menguntungkan buat konsumen? wow…. ngeri kalau lihat selisih harganya (kwkwkwkwk)
            Dengan asumsi si konsumen melakukan perawatan dengan standar pabrikan, yah bisa mules kalau konsumen berhitung seperti ini

            Ini pemikiran ane pribadi ya… kalau orang lain tidak masalah ya woles aja (kan motor si dia kwkwkwkwk….)

            Suka

            • Wah iya, soal cicilan belum dihitung 🙂 . Dan rata rata kalau nggak hati hati, cicilan bisa lebih mahal.

              Kalau servisnya tiap bulan 250 ribu. Maka sudah nambah 150 ribu tiap bulan (anggap kompetitor maks 100 ribu). Dalam 3 tahun jadi 5,4 juta.

              Sementara lihat harga Vario 150 tahun 2017 di OLX paling mahal 18 juta, harga baru 24,1 juta. Sementara yang Aerox 2017 tipe paling rendah banyak yang 20 juta, harga baru 24,8 juta. Wah kok malah tekor ya?

              Suka

            • Ngitung nya bukan gitu

              Anggap dia beli motor tahun 2017, harga 20jt
              Trus dijual tahun 2020, harga 15jt
              Kalo beli lagi motor tahun 2020, harga naik 21jt, berarti cuma tombok 6jt

              Pertanyaanya simpel, apakah 6 juta cukup untuk membuat motornya yang tahun 2017, bisa senyaman motor baru tahun 2020? Apakah 6 juta cukup, untuk memperbaiki kerusakan yang mungkin terjadi selama 3 tahun berikutnya? Apakah 6 juta cukup, untuk menambah fitur motor lama agar sama seperti motor baru?

              Suka

            • wah, kalau yang begitu jadi makin dilema. Contoh motor Honda Beat. Sekarang jadi nggak nyaman. Untuk bikin nyaman butuh kira kira 1 juta. Sementara itu beli Beat baru masih harus keluar uang minim 500 ribu untuk bikin nyaman.

              Dari transisi Spin ke NMAX, masih harus keluar 500 ribu untuk bikin nyaman. Itupun motornya penyakitan fuel dilution sehingga oli jadi harus sering ganti. Dari biasanya tiap 5 ribu km sekali jadi tiap 500 km sekali.

              Suka

      • Setuju, Spin memang motor nyaman dan komponen awet asal tahu selanya.

        Soal beli bukan untuk dijual lagi tergantung motornya. Kalau motornya sering rusak atau dipakainya nggak enak, maka pasti memilih jual lagi. Tapi sayangnya jarang banget yang bahas kelemahan motor 😦 Jadi banyak yang akhirnya setelah beli baru tahu jeleknya motor.

        Suka

    • Harga jual tinggi itu ga bisa hanya karena merk. Karena ada model merk honda yang harga jualnya jatuh

      Bahkan 1 model aja harga jualnya bisa berubah tergantung pengalaman konsumen
      Contoh suzuki ertiga, awal2 dulu harga second nya drop ( karena pengaruh sparepart india)
      Namun karena banyak testimoni bandel dan sparepart murah, sekarang second nya tinggi dan banyak yang cari
      Contoh lagi mio smile, dulu awal2 secondnya tinggi karena model nya menarik, namun setelah itu drop karena banyak yang bermasalah dan boros bensin

      Suka

    • Iya, itu juga yang bikin jengkel. Mentang mentang bengkelnya ramai, banyak prosedur servis yang dilewatkan. Dibilang part murah, tapi faktanya biaya servisnya selalu mahal banget. Begitu pun disuruh servis tiap 2 ribu km. Belum lagi sekarang ini banyak mekanik senior yang memilih buka bengkel sendiri, sehingga di bengkel resmi adanya junior semua.

      Untuk harga jual, lambat laun konsumen akan sadar kualitas motor Honda dan di saat itu harga pasti jatuh.

      Suka

  2. saya udah bosen memperbaiki Sistem Pendinginan di Vixion, baik itu area waterpump & paking silinder sehingga kerap kali coolant masuk menerobos mesin & bercampur oli.. dari kejadian spele itu bisa berakibat fatal contoh yg saya alami kerusakan terjadi berurutan setelah konsleting spul(mungkin diakibatkan spul yg terendam oli malah tercampur coolant/air), lalu kerusakan selanjutnya di area transmisi tepatnya rumah kopling, selanjutnya kruk as-stang seher(sudah pasti krn area yg harusnya terlumasi oli tercampur dgn air coolant), diasyl cilinder & forged piston mungkin bertahan agak lama tp lama kelamaan mereka menyerah & ngebul sudah…
    kalau Yamaha belum bisa membuat mesin dgn sistem berpendingin cair lbh baik hentikan project vixion series.

    Suka

  3. Saya kendaraan ga pernah ada yg dirawat (berlebihan maksudnya).. bukan pelit.. perhitungan ekonominya ga masuk.. rugi waktu juga.. kalo mulai nyusahin ya jual aja.. melatih biar ga terikat duniawi banget (ceile, padahal mah labil)

    Suka

  4. Pengalaman pribadi service cvt di beres, keluhannya gredeg. Abis di service memang hilang, tapi selisih seminggu kembali lagi. Akhirnya service di luar beres, malah selesai. Permasalahannya adalah pemasangan per kampas kopling yang nggak kenceng. Masak beres nggak ngecek. Aneh.

    Suka

  5. kl saya saat ini msh butuh ke bengkel resmi ymh utk kerusakan tertentu. Tp dgn catatan sy udh akrab dan tahu mekaniknya pengalaman.. ke bengkel umum jg sy harus pilih2 krn kl ga “kompeten” pasti malah problem lain muncul..
    Keheranan sy muncul lg, motor dg mesin + kelistrikan yg sesimpel ini masa ga bs benerin, gmn suruh benerin mobil yg teknologinya makin ribet..

    Suka

    • Iya, setuju. Cari harus yang kompeten. Karena bisa kena masalah walau di bengkel resmi sekalipun bila mekaniknya awam.

      Justru karena simpel itu jadi sulit, karena ECUnya juga primitif. Informasi dari sistem minim. Contohnya error #12 Aerox. Satu kode error, penyebabnya buanyak. Keterangan dari kode errornya jelas ngaco.

      Suka

      • hmm. iya jg sih.. tp yg saya heran contoh dlu jup z1 sy bongkar kopling ganti kampas sm mangkok di bngkel umum ( salah sy jg sih milihnya acak ). habis pasang kok bunyinya kasar bgt.. katanya sih normal, tp bagi sy bunyi aneh itu udh masalah,, akhirnya sy males balik situ, dan bongkar di bgkel lain,, trnyt benar, ada kesalahan pasang yg mnyebabkan sdikit keausan.. parah emg.. pdhl kan kopling trmsk bag yg sering bgt dibongkar, knp ga becus.. aplgi mslh yg rumit2 mnyangkut ecu dll.. hdeh..

        Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.