Asli butuh yang bisa jawab, apa alasan motor matik Jepang menggunakan suspensi single action?


Jadi pabrikan motor Jepang itu sampai sekarang selalu menggunakan desain yang dari puluhan tahun yang lalu, dengan desain kuno dan model single action:

Single action artinya gerakan suspensi dihambat hanya dari satu sisi saja, biasanya dihambat di kembalinya atau disebut tahap rebound. Hambatan compressionnya nol.

Penulis jadi heran ketika ada yang protes seperti berikut di bahasan soal suspensi NMAX yang single action, hambatan kayak suspensi soak, dan nggak ada tekanan gasnya:

Sebagai konsumen, penulis itu merasakan betapa tidak enaknya pakai suspensi yang single action. Ini sudah penulis perhatikan mulai dari pertama kaget ketika naik Honda Beat bisa kayak ngerem ketika melewati jalan yang ok ok saja dilewati pakai Suzuki Spin. Juga ketika keblondrok servis suspensi di motor Beat juga, diganti dalamannya. Bukannya makin nyaman, tapi makin kecewa berat. Dalaman jelas single action parah dari reaksi suspensi yang jadi makin lama makin pendek ketika jalan tidak rata.

Mau nyaman bagaimana? Lha wong suspensi cuma menghambat reboundnya saja, cuma menghambat ke arah baliknya saja. Ya pasti makin pendek dong? Dan ini terjadi juga di NMAX.

Jadi penulis betul betul nggak paham mengapa ada yang memuji suspensi seperti itu.

Penulis berharap barangkali ada yang bisa menjelaskan apa gunanya suspensi single action seperti itu. Karena penulsi yakin yang komentar di atas itu nggak bakalan balik lagi.

Sebagai informasi, dibanding suspensi orinya Beat atau suspensi orinya NMAX, suspensi aftermarket double action (ketika sudah pas per dan hambatannya) itu terasa sangat sangat nyaman.

14 respons untuk ‘Asli butuh yang bisa jawab, apa alasan motor matik Jepang menggunakan suspensi single action?

    • artikel itu cuma bahas apa itu single action. Yang sekarang ini ingin tahu apa alasan pabrikan tetap mempertahankan teknologi kuno itu. Lha wong orang luar negeri saja bilang dead teknology, teknologi tahun 1920 an!:

      Some of these early shocks were “single-acting” designs that only worked on rebound, while others were “double-acting” shocks that dampened the suspension during jounce and rebound. Though these designs were used on many cars in the 1920s, they proved to be an evolutionary dead end.

      YSS pun bilang jeleknya:

      Sok belakang ada jenis single action. “Pada tipe ini, gaya redam hanya ada pada langkah memanjang (rebound stroke) yang terjadi saat roda melewati lubang. Peredam kejut ini terasa lebih empuk ketika melewati gundukan. Tapi, di jalan menikung yang bergelombang cenderung kurang stabil,” papar Benny Rachmawan, Research and Development TDR Technology Canter produsen sokbreker merek YSS.

      Teknologi sudah mati, dipakai di tikungan nggak stabil, terus untuk apa pabrikan matik Jepang memaksa pakai teknologi single action?

      Suka

      • Sisi ekonomis ga bisa dipungkiri lagi tapi kita kesampingkan dulu hal itu..
        Motor adalah sebuah kebutuhan yg sekarang ini primer buat sebagian besar orang.. kalo terlalu kritis dan objektif masyarakat ga akan cepat punya kendaraan, hal ini terlihat dari lambannya inovasi pabrikan sehingga konsumen ‘mengupgrade’ sendiri motornya yg penuh keminusan entah itu sektor mesin, transmisi atau suspensi..
        Nah di lini penyerap getaran pabrikan merasa telah cukup mewakili semuanya lewat unit shock ini.. bagi yg bawa beban hayuk, buat sendirian okey, dan tentunya lebih aman dari defect atau cacat fungsi karena single action.. dan ya untuk harian cukup terobati lah meskipun ga sembuh benar dengan profil Progressive Spring meski ga semua unit pake model ini.. ini subjektif menurut analisis pribadi.

        Suka

        • Rasanya bukan soal ekonomis, karena modif jadi double action itu mudah. Tinggal soal ganti mekanisme saja. Tukang skok juga bisa melakukannya. Nggak butuh nambah barang mahal. Malah bisa jadi lebih murah karena untuk bikin single action butuh per (di dalam). Sementara yang double action mahal malah nggak ada pernya.

          Iya, lambatnya perkembangan atau malah mundurnya teknologi yang dipakai memang ada hubungannya dengan penerimaan masyarakat.

          Namun tidak setuju bila disebut bawa beban hayuk dan sendirian ok. Karena konstruksi single action mengharuskan per yang keras kalau ingin nggak mentok. Malah jadi sangat terbatas kemampuannya. Justru karena single action maka bawa barang jadi mentok dan dipakai sendirian jadi terlalu keras.

          desain single action juga tidak membuatnya lebih bebas cacat atau defect. Bikin suspensi cepat mentok karena cuma dihambat searah adalah suatu defect.

          Suka

  1. ntah bener atau gk, tapi info yang pernah ane dapet..RnD perusahaan2 otomotif jepun kalah ngotot sama bagian accounting ( mau nya irit terus ). Mau inovasi tapi dana terbatas,,

    Jadi selama di Indonesia belum ada produk saingan yang sama, maka bagi mereka aman. Kalaupun nanti ada produk yang lebih baik, pasti mereka akan menggunakan teknologi itu, gk usah buat, tinggal beli aja ke rekanan. beres masalah..

    Poko e harus modal dikit untung banyak…

    Disukai oleh 1 orang

    • Iya, memang sepertinya ada kesan begitu juga. Selama produk masih laku, untuk apa bodi dicat? untuk apa sistem suplai bahan bakar diperbaharui? untuk apa teknologi mesin ditingkatkan? Untuk apa part dicoating? dst.

      Cuma yang bikin saya bingung itu adalah, untuk merubah single action ke double action itu mestinya tidak butuh biaya. Hanya butuh merubah sedikit saja. Buktinya juga suspensi double action dengan kualitas jauh diatasnya buatan pabrikan harganya jauh lebih murah. Yang dibutuhkan cuma kebijakan saja.

      terbukti bisa punya ide 3 tingkat kekerasan, pakai tabung, mengapa masih ngotot single action?

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.