Dari hasil penelitian, banyak oli terbukti di 2000 km pun sudah tidak layak pakai


Salah satu yang penulis jadikan penentu kualitas oli mesin adalah daya tahan kekentalan selama dipakai tiap harinya. Kalau yang shear stability mungkin sudah pada paham karena penulis sering jelaskan, kalau di gas pol, motor dipakai di rpm tinggi terus olinya cepat encer maka shear stabilitynya jelek.

Nah kali ini penulis akan menunjukkan efek dari pemakaian motor terhadap kekentalan oli mesin. Alasan yang membuat penulis sekarang harus sering ganti olinya NMAX. Kebetulan ada beberapa penelitian lokal. Bukan di NMAX tapi, jadi mohon jangan disamakan dengan motor penulis yang maunya tiap 500 km ganti oli.

Untuk memahami hasil penelitian kita perlu lihat standar SAE dulu. Standar kekentalan oli mesin dideskripsikan di J300, versi terakhir 2015:
Widman International SRL – SAE J300

Yang jadi fokus adalah kekentalan kinematic viscosity cSt di suhu 100°C, angka belakang SAEnya:
20 = 6,9 – 9,3
30 = 9,3 – 12,5
40 = 12,5 – 16,3
50 = 16,3 – 21,9
60 = 21,9 – 26,1

Sayangnya beberapa penelitian menggunakan periode pengecekan 2 ribu km. Yang menurut penulis terlalu jauh. Hebatnya, ada yang sampai mengukur pemakaian hingga 10 ribu km.

Perhatikan bahwa di penelitian ini sepertinya oli diambil dari motor lalu diukur. Jadi oli tidak sedang mengalami shear. Sudah sempat dingin dulu.

Penelitian berikut menguji AHM MPX 2 SAE 10W 30 di Honda Beat:
TUGAS AKHIR–TM 145502
PENGARUH JARAK TEMPUH TERHADAP VISKOSITAS KINEMATIK DAN VISKOSITAS INDEX OLI AHM MPX 2 SAE 10W 30 PADA SEPEDA MOTOR HONDA BEAT
Agung Setia Budi KurniawanNRP : 10211400000037
DEPARTEMEN TEKNIK MESIN INDUSTRI – Fakultas Vokasi – Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Sayang banget diukurnya di 2200 km, jarak yang menurut penulis sangat tidak layak pakai untuk MPX2. Terbukti bahwa di awal KV100nya adalah 11 cSt. Ini di tengah tengahnya SAE 30. Setelah 2200 km, KC100nya jadi 8cSt. Ini sudah masuk ranahnya SAE 20. Padahal seperti kita tahu bahwa dari pabrikan pun merekomendasikan oli motor untuk Beat itu SAE 10W30 (rekomendasi penulis SAE 20W50). Artinya kalau olinya sudah jadi SAE 20, olinya tidak layak pakai.

Itu yang bikin menyayangkan. Karena kalau periode pengecekan lebih pendek, kita bisa tahu kapan oli MPX2 itu jadi tidak layak pakai. Tapi bisa disimpulkan bahwa periode penggantian oli 2200 km untuk MPX2 di Honda Beat itu kelewatan jauuuh banget.

Berikutnya SAE 10W-30, API SL JASO MB dari botol yang tulisannya mineral dengan yang sintetik. Di motor skuter. Keren ada uji logamnya juga:
PERBANDINGAN KINERJA PELUMAS MOTOR SKUTIK MINERAL DAN SINTETIK PADA UJI JALAN SAMPAI 6000 KM
Rini Siskayanti
Jurusan Teknik Kimia, Fakultas Teknik, Universitas Muhammadyah Jakarta


Nggak disebut merek, tapi penulis curiga itu AHM juga. Sepertinya MPX vs SPX. Lagi lagi kita jumpai kekentalan menurun drastis seelah 2000 km untuk KV100nya. Dari 10,4 ke 7,4 untuk mineral. Dari 10,8 ke 7,89 untuk sintetik. Itu sudah SAE 20 banget.

Lha kok penurunannya sama? katanya satunya sintetik?

Itu artinya sebenarnya sifat kedua oli tersebut sama walau diklaim di bungkusnya beda. Bisa jadi sintetiknya sebenarnya sama sama parafin base. Yang jangan diharap beda lah.

Berikut oli merk “X” Sintetis SAE 5W –40 di Vespa matic LX 150 2V ie 2011 dan Honda Vario 110 2014. Sayang tidak ditunjukkan angkanya, tapi terlihat KV100nya justru naik (warna oranye):
ANALYSIS SYNTETHIC LUBRICANTS “X” SAE 5W –40 ON DIFFERENT ENGINE TYPE
Aditya Ahmad Fauzie dan Setiyono
Jurusan Teknik Mesin, Fakultas Teknik, Universitas Pancasila

Di situ juga kadar besi di Vario meningkat 4 kali lipat dari di Vespa.

Yang berikut membandingkan Mesrain Super 20W-50, Fastron Synthetic Force SAE 20W-50 dan satu lagi oli sintetik yang nggak disebut namanya:
ANALISA PENGARUH BAHAN DASAR PELUMAS TERHADAP VISKOSITAS PELUMAS DAN KONSUMSI BAHAN BAKAR
M.arisandi,Darmanto,T.Priangkoso
Jurusan Teknik Mesin Fakultas Teknik Universitas Wahid Hasyim

Menarik karena semua oli penurunannya bisa dibilang setara. Bisa jadi bahannya sebenarnya masih sama sama parafin. Semua langsung jadi SAE 40 di km 500. Ada 2 yang jadi masuk ranah SAE 30 setelah 1000 km. Jelas bahwa oli mesin tidak layak pakai mulai 1000 km (kalau motor butuhnya beneran SAE 50). Ini rasanya motornya penyakitan fuel dilution.

Perlu diperhatikan juga bahwa ada 1 yang kekentalan tidak sesuai bungkus, tertulis belakangnya 50 padahal saat diukur masuk SAE 40.

Berikutnya AHM SPX 1 SAE 10W 30 pada Honda City Sport 1:
ANALISIS KELAYAKAN-PAKAI MINYAK PELUMAS SAE 10W-30 PADA SEPEDA MOTOR (4TAK) BERDASARKAN VISKOSITAS DENGAN METODE VISKOMETER BOLA JATUH
Ladrian Rohmi Abdi Syahdanni
Jurusan D3 Teknik Mesin, Fakultas Teknologi Industri Institut Teknologi Sepuluh Nopember – Surabaya

Ini rasanya salah pengukuran, karena kok KV100 nya gede banget. Tapi jelas bahwa dalam 2000 km oli sudah 25% lebih encer. Sudah tidak layak pakai lagi di 2000 km.

Berikut Federal Ultratec 20W50 di Honda Supra X 125:
TUGAS AKHIR –TM 145502 ANALISA KELAYAKAN UMUR PAKAI MINYAK PELUMAS FEDERAL OIL ULTRATEC SAE 20W-50 BERDASARKAN VISKOSITAS KINEMATIK DAN TOTAL BASE NUMBER PADA SEPEDA MOTOR HONDA SUPRA X 125
Gede Novantara Nugraha NRP. 10211500000019
PROGRAM STUDI DIPLOMA III DEPARTEMEN TEKNIK MESIN INDUSTRI Fakultas Vokasi Institut Teknologi Sepuluh Nopember

Terlihat bahwa oli SAE 50 menjadi oli SAE 40 setelah 2500 km. Jadi SAE 30 setelah 3000 km. Nggak layak pakai di 2500 km.

Hasil hasil penelitian tersebut menunjukkan bahwa oli mesin itu umurnya bisa sangat pendek. Kalau kita pakai rekomendasi pabrik sekalipun, terbukti bahwa oli oli di atas kurang memenuhi rekomendasi. Direkomendasikan untuk pakai oli 10W30 dengan periode ganti oli tiap 4 ribu km. Tapi nyatanya oli sudah berubah jadi 10W20 hanya dalam 2 ribu km saja. Yang oli kentalnya pun sama saja.

Memang apa sih pengaruhnya turunnya kekentalan? Kalau kekentalan turun maka film strength juga turun. Film strength itu juga terpengaruh dari kekentalan juga, nggak cuma dari bahan atau aditif saja. Kalau film strnegth olinya sudah turun, maka komponen logam akan langsung bergesekan. Memang aditif anti aus bisa mengurangi aus karena gesekan ini. Tapi namanya juga gesekan, penurunan performa juga tetap terasa. Apalagi aditif anti aus juga bisa habis. Kalau sudah habis ya aus dah.

Juga terlihat bahwa nggak begitu beda performa oli mineral dengan yang diklaim sebagai oli sintetis. Sama sama jebloknya.

Nah karena toh sama sama nggak awet, mengapa nggak sekalian pakai oli grup 1? yang bisa lebih baik film strengthnya. Terbukti mesin tetap halus walau oli jadi lebih encer kalau menurut pengalaman penulis.

Update, menemukan yang Yamalube dan memperlihatkan mulai berapa km tidak layak pakai:
Analisis Penurunan Kualitas Minyak Pelumas Pada Kendaraan Bermotor Berdasarkan Nilai Viskositas, Warna dan Banyaknya Bahan Pengotor

Pada penelitian ini digunakan dua motor 4tak,yaitu motor Vixontahun 2008 dan motor Vixontahun 2013 dan pelumas yang digunakan,yaitu Yamalube dengan SAE 10W-40.

Terlihat bahwa pada pertama saja oli tersebut sudah termasuk encer. Di range nya 10W-40 yang bawah. Di 2000 km, oli turun derajat jadi kelas SAE 20. Parah.

26 respons untuk ‘Dari hasil penelitian, banyak oli terbukti di 2000 km pun sudah tidak layak pakai

  1. Om kalo oli single grade macam Mesran B40 itu angka SAEnya apa SAE40? apakah ini berarti pada saat panas dan dingin kekentalan olinya tetap SAE40 gitu ane belom paham?

    atau berapakah batasan panas suhu lingkungan untuk oli Mesran B40? soalnya ini lagi tak pake di Jupiter Z 110 baru berjalan 100an Km.

    dan apakah oli kayak Mesran B40 (dibotolnya tertulis oli mesin diesel) kurang cocok untuk type mesin yg RPMnya naik-turun sering macam sepeda motor, tidak dominan hampir statis putaran mesinnya macam mesin Diesel?

    kalo iya nanti ane mau balik lagi aja ke Mesran Super “mesin bensin” SAE 20W-50 yg botol merah kemasan 1 Liter.

    Suka

    • Iya, di oli mesran B40 ada tulisan SAE 40. Berarti saat dingin pakai aturan SAE 40. Berikut contoh speknya:

      Entah mengapa, rasanya SAE 40 itu kebetulan maksimal suhu 40 derajat. Minimalnya nggak relevan untuk Indonesia.

      Untuk pemakaian, diesel itu bebannya berat karena jalan di rpm rendah. Sementara itu di motor oli cepat rusak karena rpm tinggi. dua duanya membutuhkan oli yang punya shear stability tinggi. Jadi menurut saya cocok saja. Saya suka dengan mesran b40. CUma pinginnya sih mesran SAE 50.

      Suka

  2. Setelah saya pelajari sendiri ternyata kontribusi akan jeleknya oli sangat dipengaruhi material logamnya disamping ada fuel dilution dll tentunya..
    Kalo ada duit nganggur coba sob beli unit jadul yg masih nos atau notabene masih prima, tuang oli yg sama setelah dikuras habis dan bandingkan dengan motor unit baru sekarang2 ini.. kebetulan saya dapet shogun tromol tahun 96 yg masih gress walau odonya mati diversuskan dengan pcx 2019 km 10000 an.. setelah dijalankan di 1500km saya drain itu oli.. sorry olinya pertamina enduro.. karena saya ngerasa di pcx dah ga enak sementara di shogun masih enak aja.. setelah saya cek si oli nah glitter gram mesin pcx lebih banyak sementara si shogun nyaris bersih dan oli lebih gelap pada pcx padahal koplingnya terpisah ga ada residu dari kampas kopling..

    Disukai oleh 1 orang

  3. Persis dengan kejadian di mobil saya. Pakai oli bawaan wkt pemakai 4000km (oli 10w40) pas di tap sdh encer banget spt oli 0w20. Padahal selama pakai oli lain (sy pakai mobil 1/ petronas syntium) yg sae 5w40/10w40 pemakaian 5000km lebih. wkt sy ganti oli, kekentalannya cenderung tdk berubah& tetap stabil…..👍

    Suka

  4. Om,Saya pakai motor beat esp tiap hari jarak tempuh skitar 60km, odo motor saya udah 60000km
    minta rekomendasinya dong bingung mau pakai oli apa
    Selama ini pakai oli mpx2 setiap 500km udah kasar bunyi mesinnya

    Suka

  5. […] Apalagi juga karena cara uji olinya grup oli itu unik. Cuma kirim oli baru dan oli setelah di drain. Data kekentalan juga tidak disharing. Padahal penurunan kekentalan permanen bisa di cek dengan melakukan uji dari sampling berkala. Seperti contohnya uji akademik berikut: Dari hasil penelitian, banyak oli terbukti di 2000 km pun sudah tidak layak pakai […]

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.