Rancu antar esternya castor oil dan ester bahan oli sintetik bisa bikin salah paham kemampuan oli ester


Jadi bro Bobi Dwi Pratama menganggap bahwa ester itu bisa bikin kerak. Sumbernya berikut ini:

Padahal kalau menurut referensi, ester itu justru lebih tidak berkerak daripada PAO:

Kok bisa begitu?

Ini karena keduanya mengacu ke hal yang berbeda. Yang dimention bro Bobi itu adalah ester yang terbentuk dari castor oil, sementara yang dipakai di oli itu bahannya jelas bukan dari castor oil .

Yang jelas, ester untuk bikin oli saja ada dua macam yang sifatnya beda. Yang kebanyakan dipakai adalah diester (atau disebut double ester di Motul 300V ester atau United Oil). Ada juga yang pakai polyolester seperti misalnya Red Line High Performance.

Introduction To Synthetic Lubricants & Their Applications

Diester
Properti utama:
Titik tuang rendah
Volatilitas rendah
Stabilitas termal dan oksidatif yang baik
Solvabilitas dan kebersihan yang sangat baik
Sifat pembasahan logam yang baik, menghasilkan pelumasan yang baik
Biodegradabilitas yang baik
Kompatibilitas yang buruk dengan beberapa elastomer, plastik, dan cat
Hidrolisis dalam suhu tinggi, kondisi kelembaban tinggi

Poliolester
Properti utama:
Titik tuang rendah
Volatilitas rendah
Indeks viskositas yang baik
Stabilitas termal dan oksidatif yang sangat baik
Solvabilitas dan kebersihan yang sangat baik
Pelumasan yang sangat baik
Sangat biodegradable
Sedikit cenderung terhidrolisis dalam kondisi parah
Hampir 50% lebih mahal daripada diester

Juga ada kelemahan lain yaitu kompatinilitas terhadap aditif EP seperti penulis jelaskan sebelumnya, copas dari majalah LubeTech – 62.2:
Minyak goreng ternyata kelemahannya lebih sedikit dari ester, bila dipakai sebagai aditif oli mesin!

Bagaimana dengan sifat dari esternya castor oil? Selain yang dijelaskan di atas, berikut bisa jadi tambahan:

Hidrolisis minyak jarak dengan penambahan perlahan minyak jarak ke larutan kaustik 80% (natrium hidroksida) menghasilkan asam risinoleat dan gliserol. Setelah pemanasan pada 523 K dengan adanya NaOH, asam sebasik (asam dikarboksilat 10 karbon) dan kapril alkohol (2-oktanol) diproduksi (Skema 4).

Baik asam sebasik dan alkohol kapril memiliki banyak kegunaan. Alkohol menemukan kegunaannya sebagai plasticizer, sebagai pelarut, dehydrater, agen antibubbling dan juga sebagai agen floatation dalam industri batubara. Ester dari sebacic acid di sisi lain adalah plasticizer untuk vinil resin dan juga digunakan dalam pembuatan dioctyl sebacate (DOS), pelumas jet dan pelumas pada motor pembakaran berpendingin udara. asam sebacic digunakan sebagai monomer dimana ia bereaksi dengan hexamethylenediamine untuk menghasilkan nilon 6-10.

Thermal Stability and Lubrication Properties of Biodegradable Castor Oil on AISI 4140 Steel

Pada penelitian ini, penggunaan minyak jarak biodegradable sebagai pelumas terhadap kinerja tribologi PT Baja AISI 4140 vs WC pada suhu 25 dan 70 C diperiksa.

Secara umum, minyak jarak menunjukkan ketahanan gesekan dan oksidasi yang lebih baik pada suhu yang lebih tinggi daripada minyak komersial yang diformulasikan sepenuhnya. Namun, itu menunjukkan tingkat keausan yang lebih tinggi sehubungan dengan referensi minyak. Meskipun demikian, hasil ini menunjukkan bahwa minyak jarak dapat digunakan sebagai pelumas biologis secara mekanis elemen yang mengalami gesekan tinggi.

Kesimpulannya adalah sebagai berikut:
– Perilaku gesekan baja 4140 / WC dengan pelumasan Castor Oil pada dua temperatur adalah lebih baik daripada yang diperoleh dengan menggunakan pelumasan oli Referensi. Ada pengurangan 27% dan 76% pada suhu 25 dan 70 C.
– Dengan penggunaan minyak jarak sebagai pelumas, terjadi peningkatan keausan baja dibandingkan untuk yang dihasilkan di bawah pelumasan dengan minyak Referensi. Tingkat keausan hingga pesanan besarnya lebih besar.
– Perubahan penting dalam mikrostruktur baja diamati karena proses gesekan.
– Lapisan ferit (dibuat di permukaan sebagai akibat gaya gesekan) dapat menyebabkan pengurangan kekerasan, akibatnya menimbulkan keausan material yang lebih besar.
– Minyak jarak menunjukkan ketahanan oksidasi yang lebih baik daripada dasar minyak referensi.

Kalau pendapat dari dunia otomotif bisa disimak dari artikel sebelumnya:
Jangan hindari ester, oli racing itu jelek bukan karena esternya tapi karena castor oilnya
Walau castor oil itu dari bahan nabati, ternyata beda dari yang lain dan aslinya tidak boleh ditambahkan ke oli mesin biasa

Poin utamanya adalah sebaiknya hanya untuk bahan bakar methanol dan tidak boleh dicampur dengan oli mineral:

Nah itu jadi petunjuk lagi bedanya antar ester bahan oli dan ester dari castor oil. Ester yang dipakai untuk bahan oli itu BOLEH dicampurkan dengan bahan oli mineral.

Parhatikan juga bahwa di referensinya bro Bobi itu disarankan dicampur dengan PAG. PAG itu padahal nggak kompatibel dengan mineral, PAO atau ester yang dipakai untuk oli mesin.

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.