4 problem yang bakal menghantui tim MotoGP Honda saat ini, jelas nggak punya peluang juara


Nggak bahas Yamaha karena rasanya masih sama saja dari dulu sampai sekarang, tenaga lemah. Ducati juga masih nggak jelas. Akan menarik bagaimana melihat bagaimana cara pembalap Honda mengatasi kelemahan motor versi 2020.

motornya bro Firdaus

Mungkin sudah lupa, maka penulis coba kumpulkan jadi satu.

Masalah sepertinya datang terutama dari perubahan mesin versi 2020, yang bikin inersia makin bertambah:
Mengapa motor V4 MotoGP lebih baik dalam pertempuran

“Inersia membuat kami terdorong sepanjang waktu,” kata pembalap LCR Honda, Cal Crutchlow. “Rasanya kami punya banyak inersia, yaitu mendorong motor keluar tikungan, sehingga jadi harus menahan rem depan dalam waktu lama, yang membuat ban belakang kehilangan kontak penuh dengan jalan.

Inersia ini mempengaruhi banyak hal:

“Semuanya dalam fase perlambatan, lalu saat Anda memutar motor dan membuka throttle, Anda berada di bagian aspal yang salah, karena Anda belum berhenti cukup baik dan Anda belum melakukan tikungan dengan cara yang baik. Jadi itu lingkaran setan dengan pengereman, berbelok dan keluar dari tikungan.

Termasuk juga adu pengereman yang sebelumnya menjadi andalan dari Honda:

“Dengan Honda biasanya kami bisa mendapatkan waktu untuk pengereman, tapi ketika kami harus mengerem lebih awal, kami kehilangan satu lap kedua, karena membuat waktu di zona pengereman adalah satu-satunya cara untuk melaju kencang dengan motor kami.

Parahnya, ini bikin motor jadi sulit menyalip juga:
WHY CRUTCHLOW’S FINAL HONDA SEASON IS GOING SO BADLY

“Masalahnya adalah kami tidak bisa menyalip siapa pun, kami hanya bisa kesalip. Saya bisa mendapatkan kembali beberapa tempat di zona pengereman, tapi kemudian Anda terjebak di satu posisi. Anda mendapatkan pengereman, Anda kalah saat keluar dari tikungan, dan Anda tetap di tempat Anda berada. Saat ini, sepertinya kami tidak bisa menyalip sama sekali dengan Honda 2020.”

Masalah ini disebut sempat hilang di versi 2019:

“We sort of solved that last year with the 2019 bike, so maybe Taka [Nakagami, who rides 2019-spec Hondas] isn’t having the same problems we are having now.

Dan tentunya, dengan masih menggunakan ECU Magneti Marelli, motor Honda masih tidak lepas dari penyakit engine brake yang angin anginan, yang penulis curigai jadi penyebab Marc mengalami kecelakaan berat sehingga absen berbulan bulan:
Crutchlow: 2019 toughest Honda season by far

“Our problem is the turning, but then when you try and make the corner in and out, we brake hard, we lose the rear with the engine brake, with the instability of the engine brake.

Belok susah dan resiko ban belakang hilang grip mendadak karena engine brake yang angin anginan.

Berikut keluhan tahun 2016:
MotoGP Qatar: Crutchlow chasing cure for engine-braking woes

“Saya jatuh karena merasa throttlenya masih terbuka” – Cal Crutchlow. “Tidak ada perasaan dengan bagian depan motor. Tidak bisa masuk tikungan, kami mengalami masalah dengan rem mesin yang sama seperti kemarin. Saya yakin kami bisa memperbaiki masalah, tapi kami tidak melakukannya. Ada sesuatu yang sangat aneh dengannya. Satu tikungan sempurna, tikungan berikutnya adalah bencana, dan lap berikutnya tikungan yang sempurna adalah bencana, dan seterusnya. Anda tidak tahu apa yang terjadi dengannya.

“Saya menabrak karena merasa gasnya masih terbuka. Saya menginjak rem, dan saya pikir pada satu titik, saya akan berbelok, dan kemudian tiba-tiba, Anda merasa tidak akan melakukan tikungan. , tanpa alasan. Dan menurut saya itu ada hubungannya dengan rem mesin.

Jadi kadang engine brake ok, kadang tidak. Ketika tidak terjadi, seakan masih ngegas. Tentu ngeri.

Disebut juga tidak bisa merasakan ban depan. Ini juga sudah penyakit dari dulu yang sampai sekarang masih terjadi. Disebut jadi penyebab banyaknya kecelakaan yang dialami Cal Crutchlow:
Crutchlow: It is like a broken record with front feeling

“It is like a broken record, we lose the front and that is it,” Crutchlow said. “With regards to how many crashes I had last year all of them were with the front except for one. So you can imagine my feeling this year is not great with it.

Jadi mungkin Puig bilang “shut up and ride it”. Tapi tetap saja terbukti penyakit penyakit motor Honda lah yang bikin Honda gagal jadi juara di tahun lalu dan mungkin tahun ini juga. Honda tidak bisa lagi meremehkan penyakit yang bikin motornya bisa crash tanpa ridernya sadar apa yang salah.

Parahnya juga ban Michelin sekarang lebih ngegrip bagian belakang, sehingga membuat beda grip depan dan belakang makin tidak seimbang. Sebelumnya saja, ban Michelin sudah memaksa
Honda pakai menikung metode V kata Marc:
MotoGP: Marquez: Fast corner, slow crash – tyre, engine priority

“Memang benar jika Anda menggunakan lebih banyak jalur ‘normal’ [garis menikung], jika Anda memiliki lebih banyak cengkeraman, Anda memiliki lebih banyak keuntungan. Mengendarai sendiri dan terutama untuk satu putaran mereka sangat cepat, ”katanya. “Tapi kemudian jarak balapan kita perlu naik lebih seperti ‘V’ di tikungan: masuk, berhenti dan naik.

Rasanya bakal sulit kalau Marc tidak segera balik. Tahun ini rasanya nggak ada peluang Honda bisa juara. Karena untuk tim Honda:
1. Motor 2020 bikin sulit adu pengereman dan sulit menyalip
2. Motor masih gampang crash ketika dikendarai mendekati limit tanpa ridernya tahu penyebabnya
3. update ban michelin bikin motornya makin parah
4. nggak ada marc marquez

Pembalap unggulan Honda tahun ini rasanya adalah Takaaki Nakagami.

9 respons untuk ‘4 problem yang bakal menghantui tim MotoGP Honda saat ini, jelas nggak punya peluang juara

    • Honda tetap punya dinamik paling besar. Terutama karena kepedeannya Pol dan bagaimana Stefan Bradl bisa makin cepat.

      Tim lain sepertinya lebih ke pembalapnya, bukan dari motornya. Pembalap Suzuki termasuk konsisten asal nggak crash. Pembalap KTM nggak konsisten, bisa jadi pabriknya lagi eksperimen. Vinales angin anginan. Quartararo tergantung hoki. Di tim Yamaha nggak ada rider ahli tuning lagi (rossi). Duet Petronas mungkin bisa lebih konsisten dari Vinales. Aprilia terkendala sama kebijakan pabrikannya.

      Mungkin tim Ducati saja yang terpengaruh motor, tapi lebih ke kekacauan apa lagi yang bakal dipakai Ducati. Kalau pas kencang bisa kencang banget, tapi bisa saja malah pelan. Kencangnya kedua pembalap utamanya bakal bergantung oleh teknisi Ducati. Perubahan nggak bisa ditebak.

      Tentu balapan nanti juga bergantung pada siapa yang lebih jago pilih pemakaian ban yang tepat. Dalam hal ini tim pabrikan pada rookie semua ya?

      Suka

        • Tidak bisa prediksi. Motor Honda bisa kencang banget akselerasinya, bisa mengejar lawan depan hanya dalam 1 straight. Tapi sering crash. Quartararo bergantung pada reliabilitas motornya Yamaha. Vinales bergantung pada perbaikan crowd phobianya. Mir bergantung pada pemilihan ban. Alex Rins bergantung pada kestabilan mental, biar nggak crash. Bagnaia dan Miller tergantung reliabilitas teknisi Ducati. Pembalap KTM, masih meraba raba setelan.

          Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.