Mempraktekkan ajaran JDDC / RDL ngerem pakai dikocok, asli ngeri, ajaran ngawur pol


Selama ini penulis sudah sering bahas betapa ngawurnya ajaran JDDC (Jakarta Defensive Driving Consultant, Jusri Pulubuhu) atau RDL (Rifat Drive Lab, Herry Wahyudi). Yang jadi pertanyaan besar adalah teknik squeeze yang oleh mereka itu diterjemahkan sebagai teknik rem dikocok:
Safety riding: JDDC dan RDL ngawur banget, teknik pengereman squeeze kok diterjemahkan jadi rem dikocok

Tidak jelas sumber ilmunya darimana. Tidak jelas yang jadi dasar apa. Penulis sama sekali tidak bisa menemukan kesamaan di pelatihan keselamatan untuk motor manapun. Sesuatu yang memilukan karena mereka lembaga profesional:

Sebelumnya penulis belum ngevlog sehingga nggak bisa demo. Cuma bisa cerita saja:
Safety riding motor itu beda dari mobil, jadi keampuhan dan keamanan teknik mengerem pakai tekan lepas atau mengocok rem perlu dipertanyakan .

Karena sekarang sudah ngevlog, penulis pun memutuskan untuk melakukan demo. Praktek langsung pakai NMAX.

Dari JDDC ataupun RDLNYa juga sama sekali tidak ada demonstrasinya. Rasanya mustahil bisa menemukan video ketika instruktur mereka mendemonstrasikan teknik tersebut. Toh pelatihan pengeremannya juga paling kencang di kecepatan 40 km/jam. Dan teknik pengereman mereka di kecepatan itu beda dari di kecepatan 80 km/jam (ini teknik misterius juga yang sepertinya satu satunya di dunia).

Penulis sama sekali tidak menemukan penjelasan teknik ala JDDC dan RDL ini di youtube. Ada penjelasan squeeze, versi internasional, tapi BEDAAAA banget, skip menit 5:30:

Nemu video penjelasan lokal, tapi tentu saja dilakukan dalam keadaan berhenti dan tanpa demo nyata:

Detil instruksi cara mengocok nggak ada. Ya sudah, penulis coba yang penting dikocok. Katanya Jusri Pulubuhu dan Herry Wahyudi kan intinya dikocok.

Penulis lakukan di kecepatan sekitar 50 km/jam. Harusnya sih di kecepatan di atas 80 km/jam, tapi penulis sangat meragukan keamanan cara pengereman ini.

Hasilnya bagaimana?

Mengerikan bro. Beberapa kali ban depan sempat selip. Dan parahnya, waktu berhentinya kalah cepat dan jarak pengeremannya kalah pendek dibanding kalau pakai pengereman yang biasa penulis lakukan (pakai depan belakang, belakang duluan, dominasi depan).

Bisa dilihat hasilnya berikut ini. Silahkan skip sampai nemu ujinya:

Sempat selip itu mengerikan. Nggak kebayang kalau ini pas terjadi di kecepatan tinggi. Memang di videonya motorplus disuruh nekannya jangan kencang kencang. Tapi itu juga sebuah kesalahan juga, lha wong ngerem dikocok itu bikin motor nggak berhenti berhenti, apalagi kalau nekan remnya ala sentuhan lembut? Kalau sudah panik banget karena motor nggak berhenti, apa nggak bakalan digenggam erat remnya (musibah juga)

Penulis merasa lebih aman menggunakan cara penulis sendiri. Penulis juga sering diselamatkan oleh metode pengereman ini.

Penulis pernah merekam yang kecepatan lebih tinggi, tapi lupa di video yang mana.

Cara penulis: Rem belakang dulu, begitu bobot motor sudah pindah ke depan, baru rem depan. Rem belakang dikurangi dan rem depan ditambah sesuai dengan seberapa banyak perpindahan bobotnya. Kekuatan rem divariasi sesuai dengan kemampuan grip ban (penulis pakai acuan suara dari ban juga). Nggak beda dengan metode berikut ini kecuali cara mengawalinya, skip menit 3:00, nyalakan caption terjemahan bila perlu:

Barangkali ada yang merasa ajaran JDDC atau RDL lebih benar, penulis tunggu video demonya. Penulis ingin lihat sendiri gimana sih ngerem dikocok pakai caranya JDDC dan RDL kalau di kecepatan tinggi.

Lepas dari itu banyak yang ngaku ngaku ajaran JDDC dan RDL itu yang paling benar tapi dalam kenyataan mereka sendiri nggak mempraktekkan. Padahal dianya nggak pakai, tapi memuji muji. Asli nggak paham. Maksudnya apaan sih?

20 respons untuk ‘Mempraktekkan ajaran JDDC / RDL ngerem pakai dikocok, asli ngeri, ajaran ngawur pol

  1. Ga usah dihiraukan.. maksudnya mungkin meniru perilaku on off rem Abs.. lah motor balap aja ga pake Abs2 an lagian mana ada waktu ngocok2 rem yg ada lampu rem ngeblitz dan itu bilin kagok pengendara dibelakangnya..
    ngerem yg baik adalah lembut dan terencana..

    Disukai oleh 1 orang

  2. Entahlah, tp kalo maksudnya tekan habis sampe ban hampir selip trus lepas dikit, tekan lagi sampe hampir selip dst

    Pernah sih, cukup efektif kalo jalan licin banget
    Misal jalan aspal mulus berpasir halus atau aspal kena tanah basah (yang kita gak tahu harus ngerem seberapa pakem, dan dituntut mendadak)
    Kalo rem super mendadak (kucing/ayam lewat/ada yang jatuh di depan), kadang kan ga kepikiran ngerem squeeze, langsung hardbrake, nah biasanya ban kan agak selip, nah itu dilepas dikit smpe ga selip trus dilanjut squeeze

    Kalo ngerem sehari2 yang kita tahu harus ngerem seberapa pakem, dan sudah jelas dimana mau ngerem,
    Ya ngapain pake cara gituan

    Jadi hanya efektif untuk kondisi jalan yang
    1. belum pernah dilewati, dan
    2. Kerasa licin jalannya, dan
    3. Kondisi rem mendadak

    Suka

    • kalau di ban berpasir mestinya aman karena pastinya tidak sedang melaju kencang. Di motor laki atau bebek juga biasanya ban depan selip lebih aman.

      pilihan ada dua:
      – dikocok lembut tapi berhentinya lama sekali
      – dikocok keras resikonya bisa jatuh

      Pengereman maksimal itu adalah treshold braking. Dan ini yang diajarkan di sekolah safety luar negeri.

      Suka

      • Dalam case tertentu, yang tadi saya sebutkan,
        Sulit untuk menentukan treshold nya,

        Misal,
        Ada motor didepan jatuh mendadak, lalu sy mengerem belakang dulu, aman, lalu lanjut mengerem depan, eh baru di pencet dikit ban depan dah ngelock, yang ternyata ada pasir tipis gak terlihat

        Nah dalam posisi darurat seperti ini, treshold braking ga bisa instan karena, 1. Kondisi tidak biasa, 2. Ban sudah ngelock padahal belum setengah tekanan pengereman biasa

        Treshold harus dicari dalam kondisi mendesak, kalo sy, lepaskan rem, trus tekan rem lebih lembut lagi, kalo masih ngelock, lepaskan lagi, dst sampe ketemu treshold

        Banyak kasus karena initial braking yang terlalu kuat (sebenarnya masih lemah, tapi kondisi jalan yang lebih licin dari yang diperkirakan), ban ngunci, dan karena ga menguasai teknik mengocok, rem tetap ditekan dan akhirnya jatuh

        Suka

        • Terus terang, kalau untuk saya sendiri, nggak kebayang bisa melakukan itu (” kalo sy, lepaskan rem, trus tekan rem lebih lembut lagi, kalo masih ngelock, lepaskan lagi, dst sampe ketemu treshold”) dalam keadaan darurat. Pengereman biasanya terjadi dalam 1-2 detik saja, walau di kecepatan tinggi. Kurang dari 1 detik di contoh di atas.

          Itulah untungnya kalau mengerem belakang dulu, bisa deteksi kondisi jalan juga. Contohnya beberapa hari kemarin ada motor mendadak motong saya ngerem, ternyata ban belakang langsung ngelock karena motor saya pas di bagian aspal basah (motor dianya tidak). Karena tahu jalan licin, saya pakai rem depannya hati hati banget (rem belakang dibiarin).

          Rasanya sangat jarang terjadi kondisi aspal di ban depan beda dari ban belakang. Seandainya beda sekalipun, maka dengan mengerem belakang dulu akan membuat grip ban depan lebih pakem. Jadi lewat jalan semi semi basah pun bisa dipakai ngerem lebih kuat daripada kalau mengawali dengan rem depan saja.

          Suka

        • tambahan, treshold braking itu tidak dicapai langsung. Jadi waktu nekan nggak langsung 80% kalau butuhnya 80%. Tapi bertahap, dari misal diawali 30, lalu 40, 50, 60, 70, sampai akhirnya 80%.

          Seperti saya jelaskan sebelumnya, saya tidak tekan tuas rem konstan kekuatannya, tapi bervariasi.

          Suka

          • Ada kondisi jalan tertentu, dimana ngelock ban itu lebih cepat berhenti dibanding treshold

            Gravel (tanah berkerikil), lumpur dalam, konblock/aspal berpasir
            Tapi kalo ban di lock terus2an, motor jadi tidak terkendali

            Suka

          • Sy latihan lock-unlock dst untuk melatih kesiapan dalam segala kondisi jalan, karena ada kemungkinan ketika rem belakang dulu ban belum menginjak pasir/bagian licin, tapi begitu rem depan setelahnya ban pas dibagian jalan yang licin, karena pasti ada selisih jarak beberapa meter antara rem belakang dan rem depan, selisih 1 detik saja kalo kecepatan 40kpj bisa 10 meter lebih

            Suka

            • ok. itu berapa kocokan per detik? 2? 1,5? 1?

              Saya merasa mustahil. Pikiran sudah keforsir dengan melakukan kocokan saja. Untuk menyesuaikan kekuatan sambil tetap mengocok dengan sangat kencang itu sulit sekali.

              Suka

    • Metode itu yang saya tau namanya Threshold.. dan buat non ABS ay lebih cocok metode ini daripada kocok.. selama ini kalau ngerem mendadak di kendaraan non ABS ya Threshold..

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.