Klarifikasi cara rem penulis, rem belakang MotoGP kepake untuk ngerem dan modifnya bukan dibuat makin pakem!!!


Bro Kobayogas komentar berikut ini:
Modif rem sampai sangat sangat pakem = bodoh

Rem belakang yang dipake cuma saat macet macetan Nyimak aja ah…

Jadi mikir, kalau segitu hebatnya rem belakang dan sangat bisa diandalkan, kenapa motor2 kenceng (sebut saja moge lah) gak setting rem belakang lebih hebat aja dari depan, kenapa selalu depan yang dual cakram, monoblock, radial kaliper, 4-6 kaliper dlsb..

Kenapa MotoGP gak bikin rem belakang yg pakem/lebih jos dari depan?? Kan ngerem belakang duluan itu hebat dan aman, jadi harus menjadi andalan utama dong…

Kasih tau para insinyur motor terutama motor balap kaya WSBK/MotoGP dong prof… Kalau mereka itu salah dan ngawur selama ini…

Kamsud ay kan prof selalu bilang rem belakang duluan lebih baik, rem belakang itu oke, dlsb…
Nah daripada pabrikan ngawur mendingan sekalian aja rem belakang dibikin lebih yahud dari depan kan?

Jadi semuanya nanti akan sesuai keinginan prof

Makanya ay bilang proposal aja ke Dorna prof biar para pembalap mengandalkan rem belakang daripada depan…

Kalau perlu gak usah pake rem depan prof, atau rem depan dibikin minimalis…
Biar rem belakang yang jadi rem utama… Kan lebih cihuy ngerem pake belakang, itu intinya..

Jadi nanti para pebalap MotoGP ngeremnya andelin belakang, gak depan lagi, gitu prof ..

Ke depannya, moge² jg gitu, rem belakang lebih utama dari depan, yang di belakang pake double cakram, monoblock, radial kaliper.. depan satu cakram diameter kecil 1 piston cukup… yekan…

Inti komentar tersebut:
1. untuk bikin rem belakang yahud adalah dengan pakai dual cakram, 4-6 caliper, monoblok, radial caliper, dst. Dan dikesankan penulis maunya seperti itu.
2. pembalap MotoGP dan timnya sekarang ini nggak mengandalkan rem belakang.
3. Dikesankan penulis maunya sekalian nggak usah pakai rem depan.

Semua itu salah, dan penulis akan jelaskan di artikel ini. Komentar dibuat menggunakan gaya bicara menyindir seakan akan penulis mengajurkan seperti itu, padahal sebenarnya tidak. Sebuah fitnah. Sampai penulis pikir itu bro Kobayogas adalah bro Vision (yang di blok), yang berani bohong pakai gaya 😂. Apalagi timing postingnya kebetulan segera setelah bro Vision di blok. Apalagi komen pertama pakai gaya menyindir, yang isinya beda dari maksud penulis. Komen kedua gayanya juga sama, padahal sudah coba penulis jelaskan. Penulis juga nggak yakin bahwa di komenan berikutnya bro Kobayogas beneran ngerti maksud penulis.

Sesuatu yang sangat penulis sayangkan. Tapi bisa jadi karena bro Kobayogas ini tahunya dari dari orang lain dan bukan dari baca sendiri. Sudah otomatis lebih percaya sama omongan orang lain itu. Perlu tahu bahwa di grup blogger dulu penulis pernah ditantang untuk adu turun tebing, dengan penulis disuruh nggak boleh pakai rem depan. Entah mengapa mereka gagal paham bahwa maksud penulis bukan seperti itu. Tantangan serupa terus diberikan walau sudah diberikan penjelasan. Dan komentar bro Kobayogas jadi contoh nyata bahwa gagal paham itu kebawa sampai sekarang. Dan bisa jadi masih akan terus terjadi.

Penulis merasa harus membuat artikel penjelasan khusus. Bukan untuk bro Kobayogas, tapi untuk yang lain.

Yang disayangkan adalah komentar itu dibuat pada artikel yang intinya adalah kalau mau bikin rem yahud caranya bukan dengan bikin rem makin pakem kalau remnya sudah pakem, berlawanan sekali dengan yang dikomentar itu. Cara seharusnya adalah dengan membuat rem makin mudah dikendalikan. Pasang rem belakang double cakram, kaliper dibuat banyak itu salah kalau ini membuat rem jadi sulit dikendalikan.

Yang beneran serius baca artikel pengereman penulis pasti tahu bahwa penulis pakai juga pakai rem depan. Penulis bukan anti rem depan. Penulis juga tidak melarang pakai rem depan. Menyesuaikan dengan grip ban atau perpindahan berat itu artinya otomatis rem depan bakal dipakai lebih banyak ketika bodi motor condong ke depan.

Kalau distribusi berat SAAT pengereman mencapai 70 depan dan 30 belakang, maka rem depan terpakai 70%.

Yang menjadi masalah adalah SEBELUM pengereman, distribusi berat tidak seperti itu. Bila melihat referensi kerasnya per ohlins, depan kalau tidak salah 8 Nm, belakang 16 Nm untuk NMAX, maka di NMAX itu distribusi berat ketika TIDAK mengerem adalah sekitar 35 depan, 65 belakang. Kalau saat boncengan tentu beban belakang bakal meningkat lebih banyak lagi.

Artinya saat belum ngerem, grip di ban depan bisa jadi kurang dari separuh selagi ngerem.

Itu yang membuat penulis menganjurkan untuk tidak praktek ngerem cuma pakai rem depan saja. Apalagi karena cara ngeremnya lokalan itu kekuatan pengereman tidak pernah divariasikan sesuai grip ban. Mulai dari awal pengereman ya tenaganya segitu terus. Konstan.

Kita pakai contoh NMAX saja. Diasumsikan distribusi berat 35:65 saat normal, dan 70:30 saat pengereman. Si bro ngeremnya pakai depan saja. Kalau nggak ingin jatuh, maka ia harus menyesuaikan tenaga dengan grip ban ketika grip ban masih 35%.

Ini bisa digambarkan sebagai berikut, biru adalah perubahan distribusi berat di ban depan, merah adalah kekuatan pengereman yang di pakai si bronya, hijau adalah kekuatan pengereman yang seharusnya:

Akibatnya apa? Kesannya mungkin ngeremnya mantap, padahal aslinya payah. Daya pengereman tidak maksimal. Kalau si bronya lupa dan ngerem seperti yang 70, maka bisa dipastikan si bro bakal ndelosor. Dan itu bedanya ajaran pengereman lokal dengan yang di Inggris (menganut rem depan juga). Kalau di inggris itu disuruh biar seperti yang hijau. Latihannya pun serius beneran di kecepatan 100 km/jam. Nggak kayak lokalan yang kayak mainan.

Ingat ya. Penulis cuma melarang ngerem pakai rem depan saja. Ngerem pakai depan belakang berbarengan seperti resminya Honda itu no problem. Namun penulis tetap anjurkan pakai rem belakang saja untuk menjamin bahwa jangan sampai rem depan duluan yang aktif. Karena kan kalau rem depan cakram dan belakang tromol, bisa terjadi ditekan barengan tapi depan yang duluan ngerem.

Perhatikan juga kalau kita menimbang dari kemampuan rem belakang, maka si rider membuang sia sia kemampuan menghentikan motor pakai ban. Apalagi di motor matik itu engine brake sangat minim. Padahal di saat sebelum pengereman distribusi ada sekitar 65% di belakang.

Yang sering dilupakan itu adalah di grip ban belakang itu makin berkurang seiring meningkatkan kekuatan pengereman. Dan kembali lagi praktek lokalan yang ngeremnya kekuatannya tidak berubah jadi sumber penyakit. Bila digambarkan sebagai berikut untuk ban dan rem belakang:

Si bro ini takut kalau ngerem belakang karena kalau pakai rem belakang selip terus. Ya jelas selip karena ia pakai patokan grip awal saja dan tidak menyesuaikan kekuatan. Kalau kekuatan pengereman tidak dikurangi ya bakal selip karena grip ban belakang akan makin berkurang seiring berkurangnya pembebanan di ban belakang. Cara yang benar adalah dengan mengurangi kekuatan pengereman sesuai dengan distribusi berat.

Kalau ingin lebih mudah, tidak masalah sih bila kekuatan pengereman di samakan dengan kalau grip di ban belakang sudah berkurang. Karena toh tujuannya untuk awalan saja, biar bobot motor bisa segera ke depan dan grip ban depan makin bertambah. Warna biru:

Ada yang menyebut teknik mengerem menyesuaikan dengan distribusi berat sebagai threshold braking. Yang artinya mengerem mendekati limitnya grip ban. Karena grip ban bisa berubah, threshold braking juga menuntut perubahan kekuatan pengereman.

Ini tidak mudah ya. Karena pengereman ini berlangsung 1 detikan saja (pengalaman penulis ketika ngerem dari sekitar 100 km/jam turun ke sekitar 50 km/jam). Dan bagi penulis sama sekali tidak ada waktu untuk mengocok rem ala JDDC / RDL. Lagipula penulis lihat yang praktek ngerem begitu lambat banget ngeremnya, berdetik detik detik.

Sekolah safety riding lokal juga masih tidak memperhitungkan transisi yang terjadi selama masa pengereman.

Lalu bagaimana di MotoGP? Apa pembalapnya tidak mengandalkan rem belakang?

Seperti sudah sering penulis jelaskan, pembalap MotoGP itu pakai rem belakang lebih banyak sekarang. Sudah lewat masa dimana pembalap bisa kencang terus tanpa rem belakang. Itu masa lalu. Sudah ketinggalan jaman.

Lorenzo merupakan salah satu contoh yang melakukan transisi itu. Tapi karena sudah pensiun penulis pakai pembalap yang “aktif” saja, Marc Marquez:
Pujian Alex terhadap kemampuan Takaaki Nakagami salah sasaran, sebenarnya tiru trik Marc ngerem pakai ban belakang

Saya mencoba [gaya] mengendarai Marquez. Saya tidak dapat sepenuhnya menyalinnya, tetapi saya mencoba [meniru] cara dia mengelola motor ini.

“Dia tahu betul bagaimana menggunakan ban belakang pada pengereman dan bagaimana dia mengatur, bagaimana menghentikan Honda. Ini jelas, saya bisa lihat di datanya. Dia banyak menggunakan rem belakang, dia mencoba menghentikan motornya tidak hanya dengan ban depan, dia juga mencoba menghentikan motornya dengan [menggunakan] bagian belakang.

Pakai rem belakang disebut bisa membantu pembalap berhenti lebih cepat:
Fabio’s rear-brake trick

Baik Maverick Viñales dan Valentino Rossi memberi tahu kami bahwa keunggulan penting Fabio Quartararo adalah bagaimana dia menggunakan rem belakang untuk membantunya berhenti lebih cepat daripada orang lain.

Lalu bagaimana cara tim dan pembalap MotoGP mengupgrade performa rem belakang? Apa pakai kaliper banyak dan double disc brake?

Justru tidak. Upgrade dilakukan dengan membuat pengendalian lebih mudah. Contohnya adalah tuas rem yang dulunya pakai jempol disarankan ganti pakai model rem matik:
Rem belakang di MotoGP bakal meniru motor matik, perlu ditiru di motor sport jalanan juga?

contoh lokal:
Millennial Road Safety Festival #2 : Atraksi Polisi POLRES SALATIGA Naik NMax ZIG ZAG

Rem belakang juga tidak dibuat makin pakem. Rem belakangnya Alex Rins, kecil, single disc, banyak lubangnya:
www.suzuki-motogp.com

Rem depan:

Remnya Joan Mir:

Trik lain bisa dilihat berikut ini:
Takut pakai rem belakang di motor sport bisa jadi karena pabriknya mendesain rem belakang terlalu ngawur pakemnya, berikut ini trik ala pembalap

Jadi modifikasi yang dilakukan tidak dengan membuat rem makin pakem tapi jadi makin mudah dipergunakan.

Update: Vision komen begini:

Gua itu banyak , pastinya bukan mang kobay ( orang lain jangan dibawa2 )
Gua itu :
Vision
Joki
Gepeng
Soundwave
Mentega
Kimaki
Dan banyak lainnya, lu mau yang mana ? Gua hadir buat penyeimbang saja biar gak semua Fby ngumpul saling Jilat Sesama 😂

Bikin tread kaya bener sendiri om 😂
Tread orang gamblang dibilang Salah , bodoh, tidak benar .
Gua hadir buat buat nyalahin lu eh dikarungin 😂 paling gak debat dulu kitanya. Berarti lu gak sanggup debat sama gua Fbh om ? Berarti lu gak siap dikritik om ? 😂

Cara bahas dan cara mencerna eluu ribet om 😂
Kadang orang lebih mengarah pada dominannya yang mana , tapi lu udah langsung bilang ini Salah itu salah , artikel orang salah semua buat lu om. Lu merasa bener sendiri ya coba lakuin sendiri om 😂
Miring2 kek d Sentul .

Yah seperti biasa, ia kalau ada baca bisa otomatis ada yang dilewatkan.

Yang penulis jelaskan adalah sesuatu yang penulis praktekkan. Kebetulan tadi pagi ada kesempatan praktek. Nanti penulis buat artikel khusus.

Penulis sudah diemail orang yang intruktur JDDC atau RDL. Pasti klise jawabannya, disuruh ikutan latihannya. Minim diajak ketemuan minum kopi. Masalahnya adalah, mereka nggak bisa kasih jawaban lewat email pertanyaan pertanyaan seperti misalnya, sumber ilmunya dari mana, sudah diuji coba sendiri belum. Dan tahu sendiri demo mereka melakukan pengereman cara mereka di kecepatan 100 km/jam tidak ada sama sekali.

Penulis juga kadang usaha untuk minta informasi langsung misalnya dari Rifat Sungkar berikut ini. Tinggal ditunggu dijawab:

Di youtube juga ada yang ngaku anaknya Jusri Pulubuhu, sering makan bareng malah, tapi ya tetap nggak ada info. Cuma ngomong ilmunya pasti bener, mustahil salah, tapi nggak ada sumber info atau hasil percobaannya. Semua sumbernya dari asumsi.

Penulis terus terang malas debat dengan Vision karena dia nggak sungkan untuk bohong. Lha wong dari komen di atas saja ketahuan fitnahnya. Ngomongnya seakan akan penulis tidak mempraktekkan apa yang penulis jelaskan. Padahal nyatanya itu penulis praktekkan tiap hari. Ia juga nggak menyinggung soal JDDC dan RDL yang sama sekali TIDAK PERNAH mempraktekkan ajaran mereka sendiri. Ngajari thok, nggak berani praktek. Ketemu intruktur lewat email atau komenan youtube, penulis minta video demo, langsung kabur.

Dibilang jangan bawa bawa bro Kobayogas, tapi kan nyatanya bro Kobayogas juga begitu, ngomong seakan akan penulis nyuruh upgrade rem belakang biar sama kayak rem depan, padahal di artikel tersebut penulis justru MELARANG. Style nya sama. Dan penulis buat artikel ini bukan merespon Vision, tapi merespon bro Kobayogas.

Soal intruktur safety riding lokal bahasnya cuma di dominan mana, penulis juga sudah tahu dan itu juga yang penulis permasalahkan. Kok cuma itu thok? Kurang. Di Inggris beda. Nanti dibahas kalau sudah upload videonya.

Oh iya, untuk komenter baru, untuk sementara nggak bakalan di approve. Lain hari saja. Tapi penulis baca semua kok.

21 respons untuk ‘Klarifikasi cara rem penulis, rem belakang MotoGP kepake untuk ngerem dan modifnya bukan dibuat makin pakem!!!

  1. Ya mgkn mereka blm pernah slip ban depan di jalan berpasir atau licin. Gw pernah nyalip tronton di jalan licin, alhasil pake belakang, bukan berarti di hard brake cukup di tekan kaki sampai terasa mengerem.

    Ada jg BeAT jadul yg ngerem pake rem depan di Meikarta yg notabene wkt itu msh pembangunan sehingga jalan berpasir lngs jatuh. Gw kebalikannya pk rem belakang cm melintir dikit tp msh bisa di kontrol.

    Gw tw krn gw yg bantu bangunin ybs, BeAT FI warna putih dgn stripping merah jatuh pas di puteran balik Meikarta

    Suka

    • iya, itu juga pernah saya alami.

      Yang paling berkesan untuk saya itu waktu ada truk box depan berhenti mendadak sampai cekit. padahal itu jalan rintik rintik dan jalan agak basah. Sama sekali nggak menyangka bisa berhenti cepat dan tanpa roboh, cuma korban lampu belok pecah saja.

      Suka

  2. Saya termasuk kalo ngerem pake rem belakang duluan kemudian rem depan, kadang juga berbarengan depan belakang. Cuma berani pake rem depan doang kalo jalan aspal mulus kering ga berpasir, kecuali kecepatan rendang kadang rem depan doang kadang rem belakang doang

    Suka

  3. Saya pernah nonton YT dashcam owner Indonesia, Video nya Emak2 naik motor supra injeksi di jalan basah, lalu hardbraking pke rem depan, alhasil setang motor belak belok ga karuan. Untung motornya ga nyungsep. Lain lg klo cmn rem belakang saja, masih bisa dikendalikan macam ngedrift. Lebih baik jangan dilakukan

    Ternyata msh ada yg gagal paham dgn artikel kemarin

    Suka

  4. mending ternak kambing ah.. seru kyk pabrikan besar tu ternak byk blog wkwk..
    Asli ga paham kok suruh tanpa rem depan.. kelihatan kl sdh emotional, makin ngawur.. kok ga suruh lepas rem smuanya, rem pke sandal / sepatu…

    Disukai oleh 1 orang

  5. Bagi orang awam (terutama emak2) lebih selamat pakai rem belakang terlebih dahulu lalu di susul (sepersekian detik) rem depan

    Suka

  6. Kalau saya lagi seruntulan di jalan, pakai rem depan baru disusul (sepersekian mili detik) rem belakang,
    baru kalau panik brake, ai rem belakang depan bersamaan

    Suka

  7. sebelumnya ane Mohon Maaf🙏🙏

    ane rasa Om Cahyo ini terlihat di bodohi sekali dg kalimat2 ini :

    “Jadi mikir, kalau segitu hebatnya rem belakang dan sangat bisa diandalkan, kenapa motor2 kenceng (sebut saja moge lah) gak setting rem belakang lebih hebat aja dari depan, kenapa selalu depan yang dual cakram, monoblock, radial kaliper, 4-6 kaliper dlsb..

    Kenapa MotoGP gak bikin rem belakang yg pakem/lebih jos dari depan?? Kan ngerem belakang duluan itu hebat dan aman, jadi harus menjadi andalan utama dong…

    Kasih tau para insinyur motor terutama motor balap kaya WSBK/MotoGP dong prof… Kalau mereka itu salah dan ngawur selama ini…

    Kamsud ay kan prof selalu bilang rem belakang duluan lebih baik, rem belakang itu oke, dlsb…
    Nah daripada pabrikan ngawur mendingan sekalian aja rem belakang dibikin lebih yahud dari depan kan?

    Jadi semuanya nanti akan sesuai keinginan prof…

    Makanya ay bilang proposal aja ke Dorna prof biar para pembalap mengandalkan rem belakang daripada depan…

    Kalau perlu gak usah pake rem depan prof, atau rem depan dibikin minimalis…
    Biar rem belakang yang jadi rem utama… Kan lebih cihuy ngerem pake belakang, itu intinya..

    Jadi nanti para pebalap MotoGP ngeremnya andelin belakang, gak depan lagi, gitu prof ..

    Ke depannya, moge² jg gitu, rem belakang lebih utama dari depan, yang di belakang pake double cakram, monoblock, radial kaliper.. depan satu cakram diameter kecil 1 piston cukup… yekan…”

    Om Cahyo malah nampak seperti ikan lele yg terpancing umpan t**(maaf).

    tinggal jawab aja emangnya Motor MotoGP/WSBK dipake buat di jalan raya atau harian, dah selesai, simple🤣.

    Suka

  8. mungkin krn kurang teliti bacanya atau blum dibaca smua artikel ttg pengereman pak, maksud penulis rem belakang dlu supaya beban berpindah ke depan jd ban depan lebih ngegrip.

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.