Yamaha dan Honda mulai mencueki konsumen Indonesia, kapan Wulingnya motor datang?


Yang namanya bahasan itu memang sering pada satu pikiran semua. Sudah cukup lama sebenarnya penulis membatin soal makin menurunnya minat pabrikan Jepang (terutama Yamaha dan Honda) untuk bisa menuruti kemauan konsumen Indonesia.

Apa PCX 160 sudah?

Ya belum lah. Walau ada yang bilang motor itu adalah personal comfort saloon tapi minim ada 2 vlogger pemilik PCX 160 yang bilang bahwa kalau lewat jalan nggak enak terasa sangat menyakitkan pinggang. Hal yang juga disetujui oleh yang komentar. Jok mungkin nyaman, tapi disebut comfort saloon jelas nggak pantas. Konsep dasar personal comfort saloon itu jelas munculnya saat motor mau dijual dan bukan saat motor sedang di desain.

NMAX 2020 juga sama saja. Walau ngakunya suspensi sudah dibuat lebih empuk, tapi jelas bahwa nggak sedikit yang menyebut masih sakit pinggang. Sebenarnya matik Jepang akhir akhir ini penyakitnya sama seperti itu semua sih.

Hal ini sumbernya adalah karena dari desainer pabrikan Jepangnya cuek dengan kebutuhan konsumen Indonesia yang tiap hari harus lewat jalan yang tidak ideal. Hal yang menurut penulis juga terjadi pada mobil juga. Sering sekali terjadi mobil Jepang itu underdamped.

Banyak yang mungkin tidak merasa, tapi ketika naik tahunya jadi merasa mual, merasa tidak enak badan, dipakai kencang tidak stabil, dst, terutama untuk kelas MPV murah. Sesuatu yang sudah cukup dikenal oleh pengendara motor matik merek Jepang juga. Mobil MPV murah dan motor matik murah .

Mungkin tidak bisa disebut penyakit. Mungkin lebih cocok disebut karakter atau ideologi. Karena dari dulu sampai sekarang ya seperti itulah yang bisa kita harapkan dari mobil atau matik Jepang. Biarpun disebut sangat nyaman, pasti kenyamanan itu arahnya ke jok atau suasana dalam kabin. Sementara dari suspensi tidak.

Mungkin kalau di mobil tidak ada sakit pinggang, tapi kalau untuk penumpang belakang lebih cocok disebut kebanting atau di benturkan ke atas. Di mobil itu ada guncangan kiri kanan yang hebat karena stabilizer yang terlalu banyak, padahal damping kurang.

Lalu muncul Wuling. Karena ada Wuling orang jadi tahu bahwa MPV murah (terima kasih koreksi bro Kobaogas) pun bisa nyaman. Fitur yang lebih baik dengan harga yang kompetitif. Dan lambat laun Wuling pun makin populer.

Di dunia motor jelas butuh munculnya motor semacam Wuling ini. Dan tidak seperti di dunia mobil, untuk motor tidak hanya masalah suspensi saja. Akhir akhir ini kalau di motor Honda muncul banyak penyakit yang dirasa cukup parah seperti misalnya motor jadi macet tidak bisa jalan, baik karena masalah dari CVT ataupun piston. Setang miring, suspensi bunyi, kebutuhan oktan bensin terlalu tinggi, dst.

Yang NMAX beda lagi masalahnya. Memang tombol key bisa dol, spakbor kurang panjang, tapi tampilan yang jadi kritikan. Ada yang nggak srek.

Soal suara mesin, dua duanya bermasalah. Keawetan mesin juga makin meragukan. Tapi yang ini lebih ke kesalahan rekomendasi oli.

Ergonomi juga banyak kurangnya. Apalagi kalau kenyamanan penumpang juga diperhitungkan.

Yang matik kelas tingginya saja seperti itu, apalagi yang kelas bawah. Makin hancur di satu atau lain hal. Ergonomi lebih parah, jok lebih keras, suspensi lebih nggak nyaman, mesin lebih getar, dst. Tapi ada unggulnya juga di banding matik maxi, yaitu gantungan barang di depan. Suatu hal yang termasuk kebutuhan utama pemakai motor di Indonesia.

Aslinya juga nggak butuh yang bisa dilipat, yang penting bisa kuat untuk menggantung barang. Tapi pabrikan Jepang punya ide (yang kayaknya cuma cocok untuk Jepang), bikin gantungan bisa dilipat tapi makin ringkih.

Dari sisi motornya seperti itu. Konsumen jadi makin banyak keluhan terhadap motor. Dari sisi aftersales juga begitu. Banyak yang kecewa terhadap jaminan garansi. Memang ada yang bisa dapat garansi, tapi tidak semua hal masuk di garansi. Suara mesin kasar adalah contoh yang tidak. Juga soal suspensi, dst. Belum lagi soal ketidakpuasan konsumen terhadap hasil ataupun biaya servis.

Bila ada alternatif, maka rasanya orang tidak segan untuk coba merek lain. Namun sayangnya tidak ada.

Motor India itu sebenarnya bagus. Tapi sayangnya mereka fokus ke motor laki. Padahal motor laki di sini mulai ditinggalkan, termasuk bebeknya juga. Sementara itu model skuternya juga kurang sesuai dengan selera Indonesia.

Cina juga sama. Fokus ke motor laki dan motor matik kecilnya kurang sesuai. Yang mungkin bisa pas adalah model Maxi. Cuma sayangnya banyak yang kegedean ccnya. Dari sisi harga juga tidak bisa bersaing dengan buatan lokal. Kadang kemahalan.

Indonesia jelas butuh yang macam GPX. Merakit model Cina dengan beberapa kandungan lokal. Dan lihat GPX. Dengan mengetahui benar selera konsumen, mereka sukses bisa meraih pasar.

Memang ada Viar. Tapi kepercayaan masyarakat terhadap Viar sudah terlanjur hancur. Dan justru motor matiknya yang paling terkenal mudah rusak. Bukan dari sisi mesin, tapi dari kelistrikan dan bodi luarnya. Tentu akan beda ceritanya bila Viar itu merek yang reliable.

Bukan berarti yang seperti ini tidak akan berubah.

Posisi akan berubah drastis bila Indonesia sudah dipaksa Eropa untuk migrasi ke kendaraan listrik. Di kendaraan listrik pabrikan motor Jepang justru ketinggalan. Ketinggalan tidak hanya dari sisi teknologi tapi juga reliabilitas ataupun portabilitas. Sehingga pabrikan masih belum pede menjual, cuma masih dalam taraf pembelajaran. Entah yang jadi gojek masih jalan atau tidak sekarang.

Merek Jepang pastinya bakal kualahan melawan skuter listrik mapan buatan Cina atau India.

Cuma masalahnya sekarang ini sepertinya skuter listrik bakal kena bea masuk yang mahal. Termasuk barang yang mewahnya melebihi PCX 160 kalau tidak salah.

Memang ada aturan keringanan pajak lokal. Tapi lha wong GESITS saja nggak termasuk, apalagi yang buatan impor?

Sebenarnya sih rider Indonesia itu nggak butuh matik yang neko neko, yang penting tenaga gede, bisa pakai pertalite, praktis dan yang paling penting adalah nyaman. Tapi rasanya standar motor matik di Indonesia itu makin lama makin turun. Bukannya makin nyaman, tapi tetap saja nggak nyaman walau harganya mahal.

Matik Jepang masih belum bisa memberikan kenyamanan total. Cuma separuh separuh. Tapi cuma itu pilihan yang ada. Untungnya masih ada pilihan modif aftermarket.

22 respons untuk ‘Yamaha dan Honda mulai mencueki konsumen Indonesia, kapan Wulingnya motor datang?

  1. “Lalu muncul Wuling. Karena ada Wuling orang jadi tahu bahwa MPV pun bisa nyaman”..

    Ini gak mau dirubah prof? Atau ditambah MPV murah pun bisa nyaman…

    Soalnya MPV kelas Alphard, Elgrand, Odyssey itu nyaman loh..

    Btw kalau cari tau banyak soal Wuling (di sini), bakal ketauan reliabilitynya prof..

    Tar dikasih skutik nyaman, eh ngeluh reliabilitas nya kurang..

    Kalau baca artikelnya, skutik dibatasi di bawah 160cc ya?

    Padahal mau ngomong Kymco 200 up itu nyaman, gak cuma jok tapi kaki kakinya..
    Forza juga enak, XMAx enak, TMax enak… Semua yg ay sebut itu nyaman..

    Suka

    • Reliabilitas itu jangka panjang, Vario 150 pun gagal disini. Klo diadu ketahanan TVS lebih baik. Tp klo mobil Wuling msh OK lah, udh 3 tahun meluncur Almaz msh OK2 aja cm keluhannya msh sama tarikan bawah kurang dimana bisa di atasi dgn TC.

      Suka

        • Tau Confero dan Cortez gak? Basis nya sama itu. Di coba aja mang. Enak gak 2 tuh mobil dibandingin Ertiga dkk.

          Klo udh nyobain coba komentar lg kemari. Di Kali Malang ada Wuling Arista, coba aja disana. Deket rumah mang Kobay kan.

          Suka

          • Gak sebut Almaz yang jelas, sebutnya MPV bukan SUV, poin gw ke situ…

            Kalau confero/formo dan Cortez jelas MPV, tapi kan Lo bilang awalnya jelas jelas Almaz 🤣🤣

            Suka

          • Cuma salah ketik mang 🤣🤣

            Tp bisa di adu kok klo kenyamanan, reliabilitas ya umumnya mobil lah. Setidaknya gak serewel motor china dulu.

            Almaz kekx masuk Urban SUV alias SUV2an bukan pure SUV kek Terios or Fortuner.

            Suka

    • Soal nyaman yang kelas atas, tadi pagi kebetulan ada dibelakang Toyota Alphard yang lewat jalan paving ada polisi tidurnya, kelihatan underdamped juga. Mungkin sudah tradisi. Empuk iya (per dan stabilizernya), tapi tetap under damped.

      Suka

  2. Masalahnya, selera matik kecil indo (dan asean) seleranya eksklusif, cina-india enggak, eropa enggak… Tetaapiii indo ga bisa bikin (desain) kendaraan sendiri, nurut merk jepang (yg disono ga pake matik kecil, adanya 50cc atau sekalian maxi)
    Dan juga, jaman globalisasi gini merk bikin 1 motor untuk semua negara, dgn preferensi negara pembuatnya, ya tambah jauhlah sama indo
    Btw wuling sebetulnya agak masuk aja selera indo, tapi blm banget, yg pasti masih by desain kebutuhan negara asli, walau kalah 1-2 (kayak transmisi dll) tapi menang banyak dibanding jepangan
    Tapi balik lagi, karena ga bisa bikin sendiri, indo harusnya (diluar desain) ikut preferensi motor dari china atau india, karena kondisi insfrastrukturnya masih mirip

    Suka

    • Iya betul, untuk matik kelas di bawah 150 cc, selera Indonesia memang beda.

      Iya, Wuling juga belum 100% selera Indonesia modelnya.

      Harusnya kalau pasar Indonesia dianggap penting, bikin motor yang khusus Indonesia. Nyaman bukan hanya di Jepang saja, tapi di Indonesia.

      Dan mestinya jangan malu malu melakukan pengujian di Indonesia.

      Suka

      • Almaz itu selera org Indonesia banget kok dr sisi model. Klo Cortez n Confero mungkin kurang menarik. Tp fitur, kenyamanan dan reliabilitas 2 itu sudah cukup baik. Almaz yg terbakar pun krn ada modifikasi, tp jika bawaan pabrik akan di cover full oleh mereka.

        Suka

        • Setuju, Almaz sesuai selera Indonesia. Waktu menyebut soal kelemahan, ternyata cuma soal lampu berkabut untuk mobil lebih dari 20 ribu km. Sama tuh dengan daihatsu di rumah.

          Baru tahu soal ada yang terbakar. Sip bila garansinya seperti itu.

          Suka

  3. Orang bisa bilang nyaman itu klo dah pernah naik motor yg lebih nyaman, contoh kakak ane kmrn pulang kesolo, biasanya naik pakrio, dirumah pinjam motor Address ane, turun dr motor langsung bilang motornya anteng, nyaman. lha klo yg dinaiki nggk nyaman semua ya nggk bisa bilang nyaman/nggk nyaman, malah akhirnya terbiasa pake yg nggak nyaman

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.