Untuk berkendara irit di motor matik itu ada triknya, di gas dulu


Sebelumnya penulis posting soal mendapatkan angka konsumsi bahan bakar 53,5 km/liter di grup NMAX. Dari banyak komentar, banyak yang menganggap itu hanya bisa dicapai di jalna lowong panjang. Ada yang mencontohkan juga mencapainya malam hari sejauh 100 km.

Sebenarnya tidak perlu sejauh itu. Meraih angka tersebut mudah bila kondisi jalan lowong. Dan jarak juga nggak perlu panjang. Hanya butuh beberapa km atau beberapa menit. Kemarin sore juga penulis coba bisa dapat angka 56 km/liter:

Untuk bisa mencapai itu, penulis pakai trik. Triknya adalah dengan meninggikan kecepatan sebelum kita menjalankan di suatu kecepatan. Misal kita mau jalan konstan di kecepatan 50 km/jam, maka kita larikan motor di kecepatan 55 km/jam. Lalu kita kurangi perlahan dan dikonstankan di 50 km/jam.

Logikanya adalah ketika motor dijalankan di kecepatan lebih tinggi, maka rasionya transmisi pulley depan akan ikutan naik juga. Dengan gas diturunkan pelan pelan, diharapkan rasio dari pulley depan tidak ikutan turun, sehingga dengan kecepatan yang sama, kita akan menggunakan rasio tinggi. Selain itu dengan menurunkan gas, kita bisa mendapatkan semprotan bensin yang efisien untuk kecepatan tersebut.

Mungkin ada metode lebih baik, tapi paling tidak, dengan cara itu penulis bisa mendapatkan angka AVG di MID hanya dalam beberapa menit saja, walau reset AVGnya dalam kondisi berhenti.

Berikut demonstrasinya:

Penulis tidak tahu apakah cara ini bisa diterapkan di motor yang sudah pakai pulley depan modif karena katanya pulley modif itu lebih licin slidernya. Yang jelas cara ini mestinya bisa diterapkan bahkan untuk kecepatan tinggi sekalipun.

56 km/liter itu sudah cukup baik karena NMAX 2018 itu termasuk matik yang paling boros dikelasnya. Kalau dicobanya di Aerox, PCX atau Vario, harusnya angkanya bisa lebih baik lagi. Harusnya bisa lebih dari 60 km/liter.

9 respons untuk ‘Untuk berkendara irit di motor matik itu ada triknya, di gas dulu

  1. agk susah ya kl mtor.. kl mobil matik cvt pun gas dikurangi, rasio langsung jd berat, rpm turunnya lumayan banyak.. kl digas dalem rasio jd ringan lagi

    Suka

  2. Ane punya Scoopy K16 yang ESP ban ring 14, Jika menggunakan bensin pertalite, tarikan terasa berat dan sering brebet. Konsumsi bahan bakar sekitar 51 km per liter. Jika menggunakan pertamax atau shell super tarikan terasa enak dan konsumsi sekitar 55 km per liter. Jika menggunakan Shell V Power sekitar 56 km per liter. Itu dengan catatan menggunakan setingan CVT standar dan hanya upgrade koil TK Racing dan Accent Wire.

    Setelah pasang puli depan ( rumah roller 13,5 derajat ) dan kipasnya serta papas sirip dan kerok jalur roller, dipadu dengan roller 15 gram. Efeknya tarikan awal ngerung ( RPM meninggi ) seperti pakai roller 11 gram, tarikan awal ketika dibuka halus cenderung lembut ( beda dengan rumah roller dan kipas standar ), tapi lebih enak dibuat nanjak2 dan tidak perlu tarik gas dalam seperti kondisi standar. Kondisi ini agak ngga enak kalau harus melewati kemacetan yang padat di kecepatan sekitar 0-10 km, mesin ngerung… seperti pakai gir depan lebih kecil di motor manual. Begitu masuk kecepatan 30 km keatas sampai 80 km, tarikan cukup enak dan enteng dengan minim lag daripada kondisi standar. Efek dari rumah roller dan kipas 13,5 derajat ini, menghabiskan bensin sekitar 57 km per liter untuk Pertamax, catatan berat selain motor sekitar 120 kg ( pengemudi dan pembonceng ) serta kondisi lalu lintas yang padat merayap di kota Sidoarjo

    Suka

    • Terima kasih sharingnya. Wah itu sepertinya pertanda oktan pertalite terlalu rendah untuk Scoopy, bisa jadi karena coilnya juga, karena kalau tidak salah kalau pakai coil racing wajib dibuat lebih boros.

      Lumayan banget bisa dapat 57 km/liter di kemacetan. Unik juga menggerung bisa lebih irit. Mantap juga modifnya.

      Suka

      • Ngerung bisa irit karena pada dasarnya ane kalau ngegas ngurut dan gaya berkendara turing. Memang motor CVT kalau lari kudu naik RPM dulu, disini ane mempelajari respon bukaan gas dengan naiknya RPM serta lajunya roda. Akhirnya paham juga karakter CVT si Scoopy ini, ane ngga maksa kalau memang delivery power belum waktunya ( lag lama ). Awal pake si Scoopy memang boros, dapet 40 km doang efek kebiasaan naik motor bebek yang responsif. Setelah sekian lama belajar, akhirnya cukup irit untuk motor perang. Murah bensinnya, murah sparepartnya dan murah lainnya

        Tapi kalau bukaan gas sradak sruduk di CVT Scoopy malah sering ngga bisa lari, beda lagi kalau di Soul GT 110 ( tokcer abis ). Setahu ane CVT Yamaha malah tokcer distribusi tenaganya, ratanya itu loh ngga nahan…

        Suka

        • Terima kasih sharingnya. Iya, memang untuk gas matik itu caranya ada sendiri. Iya, memang karakter matik Honda itu keluar tenaganya nggak langsung, beda dengan matik Yamaha. Tetap hebat juga bisa dapat 57 km/liter dalam kondisi jalan Sidoarjo.

          btw, apakah beltnya masih pakai yang ori atau sudah pakai belt aftermarket? Barangkali karena pengaruh belt juga.

          Suka

          • Roller masih 15 gram standar dan V Belt juga masih standar, inti dari modifikasinya cuma menajamkan saja serta nafas panjang untuk turing jauh ( pernah coba roller 13 gram dengan rumah roller standar, cuma enak awalan dan tengah, atasnya teriak… maklum kuping ane sensitif sama desahan mesin -> alasan untuk coba modifikasi puli depan ). Bukan kejar akselerasi atau top speed berlebih, lebih ke arah menikmati pemandangan dan sosial masyarakat

            Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.