PT Kubota pun berani bohong soal pemakaian minyak goreng sebagai oli mesin


Maaf agak lama tidak posting artikel karena ternyata sekarang wordpressnya nggak lagi kompatibel dengan browser yang bisa diinstall di Windows XP. Jadi sulit untuk tulis artikel. Komentar saja harus pakai cara muter muter.

Topik kali ini adalah kengawuran seputar penggunaan minyak goreng sebagai campuran oli mesin. Pernyataan berikut salah:

Penulis tahu ini bermulai dari komentar bro via berikut ini:

Saya kurang paham mengapa bapack-bapack disini mencampur oli motor dengan minyak goreng. Padahal minyak goreng itu kan kena panas dikit aja langsung mendidih. Coba bapack-bapack experiment sekali-sekali bantuin istri menggoreng ikan atau jeroan ayam, terus bayangin kalau jeroan motornya seperti kampas kopling atau gear dll yang digoreng dalam minyak goreng tadi? Kebayang gak? Hiii…

Ada beberapa problem di pernyataan tersebut (yang pastinya tanpa bukti). Menariknya, bro via ini juga mengutip artikel dari website PT Kubota yang tidak kalah ngawurnya:
STOP! MENCAMPUR OLI DENGAN MINYAK GORENG

Di awal tahun 2019 publik sempat diramaikan oleh issue oli mesin yang dicampur oleh minyak goreng / minyak kelapa, issue yang bergulir di sosial media tersebut mengundang banyak kontroversi. Sejumlah pihak yang mengklaim telah melakukan uji coba tersebut mengaku bahwa performa mesin meningkat setelah oli dicampurkan minyak goreng, tarikan mesin semakin mantap, ringan getaran dan suara menjadi lebih halus. Secara teoritis pencampuran minyak goreng dengan oli pelumas mesin akan menurunkan titik nyala pelumas, karena minyak yang bertindak sebagai katalis menyebabkan pelumas lebih mudah terbakar dan meningkatkan frekuensi top – up.

Namun minyak goreng tidak dilengkapi dengan bahan aditif seperti detergent, anti-wear, anti-korosi dll. Penggunaan minyak goreng sebagai campuran oli pelumas tidak memberikan proteksi pada mesin selama digunakan. Justru pencampuran ini berbahaya bagi performa dan lifetime mesin, karena bahan aditif yang ada pada oli pelumas menjadi hilang fungsi saat dicampurkan oleh minyak goreng. Hasil pencampuran oli dan minyak juga akan menciptakan lingkungan yang ideal untuk tumbuh kembang bakteri, bakteri ini selanjutnya dapat menimbulkan korosi pada mesin. Alih-alih hemat biaya pelumas yang digantikan oleh minyak malah sebaliknya, konsumen harus merogoh kocek lebih dalam untuk memperbaiki mesin yang aus / rusak akibat pelumas yang tidak berkualitas.

Awalnya penggunaan minyak pada oli marak dilakukan di mesin bensin untuk motor namun saat ini pengguna traktor juga banyak yang mencampurkan minyak pada oli mesin diesel. PT Kubota Indonesia menghimbau kepada semua konsumen pengguna mesin diesel Kubota, jangan mencampurkan minyak goreng pada oli mesin diesel Kubota karena dapat menurunkan performa mesin diesel dan menghilangkan garansi mesin akibat perubahan standar. Gunakan selalu oli pelumas yang disarankan untuk mesin diesel seperti Kubota Genuine Oil.

Bro via ini jelas tidak pernah mendampingi istri menggoreng. Karena minyak goreng itu bila ditaruh di wajan dan dipanaskan, ya nggak akan mendidih. Minyak akan menghitam dan berasap. Ini pengalaman pribadi beberapa kali mau menggoreng kelupaan ditinggal terlalu lama (dan kemudian pastinya diomeli istri).

Klaim dari PT Kubota juga ngawur, contohnya disebut minyak goreng membuat oli lebih mudah terbakar. Titik bakar suatu benda itu bahasa inggrisnya adalah flash point. Berapa flash pointnya oli mesin sih? Penulis pakai contoh oli yang konon katanya sip banget, sudah full sintetik (yang menurut penulis mahal tapi jelek), Shell Advance ultra scooter 5W-40:

Flash pointnya 215 derajat celcius, perhatikan ya, 215 °C. Minyak goreng (minyak kelapa sawit) berapa?

Ternyata 314 derajat celcius, catat ya, 314 °C. Ini artinya minyak goreng itu lebih sulit terbakar daripada oli scooter paling mahalnya Shell yang katanya sudah fully synthetic.

Dan kebetulan sudah ada yang mempraktekkan uji bakar, bro Nunu Nur Odeadz Dono. Apa yang terjadi? Ternyata justru oli makin tahan bakar kalau dicampuri minyak goreng!
Hasil percobaan bakar oli mesin: HDEO dan PCMO kalah dengan yang ditambah minyak goreng

Tapi perlu ingat juga bahwa beda merek minyak goreng bisa beda kemampuan:
Maaf, ternyata Sania itu minyak goreng yang kurang bagus jadi aditif oli mesin!

Klaim ngawur berikutnya adalah soal tidak adanya aditif anti wear pada minyak goreng. Itu salah. Berikut kandungan dari minyak goreng:
Minyak goreng ternyata kelemahannya lebih sedikit dari ester, bila dipakai sebagai aditif oli mesin!

Stearic acid dan oleic acid diakui sebagai zat yang bisa membuat mesin lebih licin:

Bahkan sudah ada penelitian yang menunjukkan bahwa dengan mencampurkan minyak kelapa sawit ke oli mesin bisa membuat oli lebih licin:

Untuk soal bakteri, rasanya yang posting itu rancu dengan bahan bakar (alias bukan oli mesin) bio diesel generasi pertama yang memang terkenal mudah rusak.

Soal korosi, coba lihat wajannya istri. Bagian yang kena minyak apa ya karatan? Yang bisa bikin karatan itu bila oli mesin dicampuri ATF, seperti yang dialami bro AriefTC Ghorib ketika menambahkan ATF 10%:

Soal merogok kocek lebih dalam, faktanya motor penulis itu dirusaknya lebih sering karena salah merek oli mesin atau salah kekentalan. Pakai minyak goreng justru bisa mengurangi.

Sayang sekali PT Kubota itu sampai mengeluarkan pernyataan ngawur. Dan bro via ini jadi contoh kebanyakan warga +62 yang sering terima pernyataan tanpa cek sendiri faktanya. Dan berani ngomong tanpa coba sendiri (soal minyak goreng mendidih)

6 respons untuk ‘PT Kubota pun berani bohong soal pemakaian minyak goreng sebagai oli mesin

  1. sabar sabar Kang jgn ambil hati , bs bahaya , anggap aja sbg opini debat yg sehat 😋karna dilapangan smua merk oli yg bagus hy 1 dibanding 10 merk , 10 dibanding 100 merk oli dan cocok atau tidak tergantung feel dr pengendara atau mala dr orang lain yg kebetulan pinjam motor teman sbg pembanding😋

    Disukai oleh 1 orang

    • sip iya. Repotnya itu bila mengungkapkan pendapat itu tanpa dasar. Mengajari padahal sendirinya nggak pernah melakukan. Kasih statement padahal nggak ada sumbernya.

      Memang bagus atau tidak itu tergantung pengalaman juga. Kalau berkutatnya di oli oli jelek, nggak akan tahu oli bagus bagaimana. Sama seperti kerasnya suspensi, getarnya mesin, dst.

      Suka

  2. Jadi nostalgia.. dulu waktu buka bengkel las demi membiayai kuliah mesin dongfeng aye tambahin minyak goreng curah kalo olinya mulai tiris.. kocaknya solarnya aye tambahin jelantah, maklum beli solar itu agak repot.. Tapi tu mesin gpp malah jadi ga terlalu glodak2 khas diesel ditambah ada aroma2 aneh kalo mesin dihidupin.. seru dah..

    Suka

    • mantap 👍. Iya, lha wong lebih murah dan lebih baik, mengapa di halang halangi ya. Uniknya yang pakai minyak goreng untuk gantinya solar keluhannya justru lebih sedikit daripada pemakai bio solar (minyak goreng yang diproses khusus jadi solar) ya?

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.