Mengatasi kelemahan oli mesin pakai aditif dengan mempelajari karakter motor saat dipakai


Ada cukup banyak orang yang sampai sekarang masih menggunakan aditif oli karena merasa oli yang dipakai kurang bagus:

Sebenarnya sih yang ideal adalah ganti merek olinya. Tapi kadang ada yang merasa berat kalau harus ganti merek. Entah karena dapat gratisan, murah, terkenal mereknya, bisa untuk pamer, dst. Padahal sebenarnya sudah jadi tugas pabrik oli untuk bikin oli yang bisa memuaskan penggunanya. Tapi ya memang kadang tidak bisa sempurna. Ada saja yang kurang. Nah berikut cara menyempurnakan oli berdasar pengetahuan penulis.

Kita lihat dari karakter oli mesinnya.

Warning, yang berikut ini butuh bisa membedakan suara mesin halus dan kasar. Member Bekakas dan LDIC menganggap ini di luar kemampuan manusia, sementara penulis menganggap semua orang bisa melakukannya.

Tiap oli mesin itu punya karakter yang beda beda. Tiap oli punya rasa sendiri sendiri. Mungkin ada kesamaan, tapi selalu ada perbedaan. Yang kekentalan beda pun perilakunya bisa beda walau merek sama, bukan sekedar dari karena kekentalan.

Oli di pasaran itu kebanyakan terlalu encer untuk dipakai di motor. Ingat bahwa teknologi motor itu nggak selevel dengan teknologi mobil. Banyak teknologi coating di mobil yang tidak diterapkan di motor. Oleh karena itu kita lebih sering dengar kasus piston baret di motor dan jarang kita dengar di mobil. Padahal mobil seringnya pakai oli encer 0W20 atau lebih encer lagi.

Untuk mengatasi oli terlalu encer ini bisa dengan aditif oli yang pamer aditif viscosity index improver. Contoh aditifnya adalah merek Liqui moly anti smoke, Bardahl power booster, top 1, Omega 909, Lucas Oil Motorcycle Oil Stabilizer, dst. Kata kuncinya adalah aditif tersebut bisa meningkatkan VI yang biasa disebut polymer. Dengan memakai aditif tersebut maka oli akan menjadi jauh lebih kental di suhu panas. Ini membuat mesin lebih senyap, FD atau vampir oli berkurang, dst.

Ada juga yang nggak sadar bahwa aditif oli yang mereka pakai itu sebenarnya membuat oli mesin mereka menjadi jauh lebih kental. Padahal harusnya, kalau memang butuhnya lebih kental, maka olinya ganti yang tipenya lebih kental. Tapi ya begitulah, kadang sudah kadung cinta sama olinya.

Kita bisa tahu aditif bakal bikin oli lebih kental dari product datasheet oli tersebut. Bisa dilihat dari data KV40 atau KV100 aditifnya. Kalau lebih kental dari oli normal, maka artinya aditif tersebut bakal bikin kental olinya.

 

Yang sekarang ini banyak berkurang adalah aditif anti wear. Perlu diketahui anti wear adalah klasifikasi khusus yang hanya mencakup sebagian kecil dari aditif anti aus. Aditif friction modifier, anti wear dan aditif EP semuanya adalah aditif anti aus, yang masing masing berkerja dengan cara berbeda. Aditif anti wear itu bekerja setelah gesekan terjadi walau gesekan masih termasuk ringan. Kalau gesekannya berat, maka yang kerja adalah aditif EP. Kalau yang friction modifier bekerjanya dengan mencegah gesekan.

Aditif anti wear biasanya adalah ZDDP. ZDDP sekarang ini diminta dikurangi demi untuk keawetan catalytic converter, seiring dengan permintaan low SAPS, permintaan untuk mengurangi kandungan sulfur dan phosphor pada oli. Pengurangan ini membuat oli jadi kurang bisa melindungi ketika sudah terjadi gesekan dan gesekan tersebut terlalu ringan untuk mengaktifasi aditif EP.

Menurut penulis, efek ini bisa dirasakan di motor ketika mesin berjalan di rpm rendah (1500 rpm) hingga menengah (5000 rpm). Suara mesin jadi kasar. Di oli yang mengandung cukup ZDDP, suara mesin bakal halus di kisaran rpm tersebut.

Penting: Kalau di mobil bisa beda ya, rpm rendah di 750 rpm, rpm tinggi di 6000 rpm. Perilaku aditif pasti beda dari di motor.

Kita pakai contoh saja. Mesran sebagai oli paling uzur formulanya, penulis rasakan suara mesin tidak begitu halus, mulai dari mesin dinyalakan sampai dijalankan konstan di kecepatan 55 kpj.

Prima XP sebagai oli yang paruh baya, sepertinya sudah mengandung banyak ZDDP, sehingga walau saat awal mesin nyala suara mesin kasar, dalam beberapa detik suara mesin akan menjadi halus. Hal yang sama terjadi setelah motor digeber top speed, setelah pelan suara mesin masih kasar, tapi beberapa detik kemudian jadi halus.

Oli API SN sebagai oli yang muda, sepertinya sudah tidak lagi mengandung banyak ZDDP, sehingga suara mesin bakal tetap kasar selama rpm mesin motor tidak lebih dari 5000 rpm. Tidak ada aditif yang bisa membuat suara mesin senyap. Ini termasuk Deltalube Adventure, Valvoline Champ, Repsol MXR 3, Enduro Racing, Yamalube Super Matic, AHM MPX2, Motul Scooter Expert LE, Shell Advance Ultra Scooter, Kixx Scooter, KGO, dst.

Di oli oli macam itu, sangat cocok sekali ditambahkan aditif oli yang mengandung ZDDP. Cuma sayangnya sekarang ini musim mengurangi emisi karbon, jadi aditif oli ZDDP makin sedikit. Ada juga sih alternatifnya, yaitu Boron atau C60. Contoh aditif yang tersedia di pasaran adalah STP Oil Treatment (ZDDP) dan XADO Verylube Turbo Mobil / Metal Conditioner (C60).

Aditif ini cocok untuk in reyen mesin juga karena biasanya inreyen dilakukan di rpm rendah. Oleh karena itu aditif ini biasa dikenal sebagai Break In Additive kalau di luar negeri.

 

Salah satu ciri oli mobil yang tidak penulis temukan di oli JASO MA atau oli JASO MB adalah suara mesin yang jadi makin halus ketika dipakai ngebut. Menurut penulis ini adalah ciri dari keberadaan aditif MoDTC. Kalau dipakai pelan terus, kurang dari 55 kpj, suara mesin nggak bakal halus walau dipakai cukup lama. Namun begitu dipakai di kecepatan 100 kpj, langsung suara mesin jadi halus. Ini penulis rasakan di Amsoil Signature Series dan Adnoc Bronze. Dua duanya PCMO.

Jadi bila oli yang dipakai sekarang ini tidak makin halus suara mesinnya setelah dipakai ngebut, maka bisa pertimbangkan aditif untuk meningkatkan ini. Yang termasuk adalah Liqui Moly Ceratec, Eco Racing Nano Oil (Adeka Sakura 515), dan WEPP 2111s. Kata kuncinya adalah extreme heat dan extreme pressure. Tahan panas, tahan tekanan tinggi.

 

Ada yang punya sifat lebih universal yaitu aditif friction modifier seperti contohnya Bimoli atau Mannol Ester. Aditif ini mencegah aus dengan mencegah terjadinya gesekan. Aditif ini biasanya punya film strength yang kuat sehingga bisa lebih mampu untuk tetap melapisi permukaan logam walau ada tekanan.

Walau penulis belum sempat coba Mannol Ester, penulis yakin Mannol Ester dan Bimoli bisa membuat mesin lebih halus di rpm rendah dan rpm tinggi. Khusus minyak goreng bisa mengurangi penyakit vampir oli dan bikin oli lebih tahan dikocok kocok juga. Dengan berkurangnya gesekan maka otomatis getaran juga berkurang.

Namun keduanya punya kelemahan juga. Yang minyak goreng bikin oli lebih encer (bakal keluar bunyi bunyi itrik itrik khas oli encer walau suara gesekan piston dan silinder berkurang). Yang Mannol Ester mestinya secara teori akan mengganggu kerjanya aditif EP. Ini tentu bakal penulis coba. Cobanya harus pakai oli mobil.

 

Namun tentu kalau nambah aditif sendiri pasti ada yang dikorbankan. Minim ruang bakar jadi lebih banyak keraknya karena makin besar kandungan aditif, makin besar resiko mesin dikotori. Tapi soal akselerasi ini, rasanya cuma penulis satu satunya yang perduli, sementara pemerhati oli yang lain tidak, seperti misalnya LDIC atau Bekakas. Minim kalau penulis bahas suatu oli itu bikin lambat, selalu ada yang mengetawain.

Versi video:

4 respons untuk ‘Mengatasi kelemahan oli mesin pakai aditif dengan mempelajari karakter motor saat dipakai

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.