Minyak goreng disebut mengandung FAME dan gliserin? bro/sis, FAME itu biosolar! Cara mudah cek oksidasi oli


Maaf yang berikut ini ternyata salah paham. Seharusnya bukan FAME tapi fatty acid.
Ternyata bro Adhie aktif banget menjelek jelekkan penggunaan minyak goreng sebagai aditif oli mesin

Ida Minyak goreng mengandung senyawa ester ” fatty acid methyl ester” pasti oxidationya tinggi kalau yang dipakai baca sebagai base line FTIR adalah general lubes non ester, mengapa?

Yang jelas minyak goreng tidak mengandung FAME Berikut keterangannya:
Cara Kerja: Produksi Biodiesel

Biodiesel adalah bahan bakar terbarukan berbahan baku lemak hewani, maupun nabati berupa, metil ester asam lemak (Fatty Acid Methyl Ester/ FAME) yang telah lama disebut sebagai pengganti minyak bumi (Petroleum Diesel).

Kini, biodiesel dapat dibuat dari berbagai bahan baku, menggunakan bermacam-macam teknik, termasuk esterifikasi dan trans-esterifikasi. Salah satu minyak nabati penghasil bahan bakar biodiesel adalah minyak kelapa sawit. Sebagai sumber minyak nabati yang paling produktif, 1 hektar tanaman kelapa sawit mampu menghasilkan 3,5 ton minyak nabati.

Sudah jelas bahwa FAME itu dibuat dari minyak kelapa sawit. Jadi minyak kelapa sawit tidak mengandung FAME.

Makin jelas bila kita lihat cara produksinya:

Kita lihat minyak kelapa sawit yang sudah diproses harus dicampur dulu dengan zat zat berikut. Minyak kelapa sawit dicampur dengan methanol dan sodium methylate akan menghasilkan FAME dan gliserin.

Perhatikan kata kata gliserin. Ini sering dijadikan senjata untuk menyerang pemakai minyak goreng, seperti contohnya
Oplos Minyak Goreng ke Oli Mesin, Ademnya Bisa Jadi Cuma Sebentar

Oplos minyak goreng ke oli mesin ramai di dunia maya dan disebut-sebut bikin mesin jadi adem. Begitu juga efeknya ke suara mesin, katanya campuran itu bikin jadi lebih halus. Benarkah demikian? Sebenarnya, pencampuran ini berbahaya karena minyak goreng merupakan bahan nabati yang rentan mengandung gliserin.

Juga oleh si orang Maspi yang jualan aditif oli, disebut gliserol tapi:
Campur Oli Mesin dan Minyak Goreng, Bahaya Nggak Sih?

Juergen Gunawan, pengurus organisasi Masyarakat Pelumas Indonesia (Maspi), yang didirikan untuk membangun pengetahuan masyarakat tentang pelumas dan bahan bakar, mengatakan kalau komponen minyak goreng berbeda dengan kimia karbon pada pelumas mesin dan bahan bakar minyak. “Pencampuran (oli mesin dan minyak goreng) tersebut sangat berbahaya karena kita akan tidak dapat mengendalikan dan tidak tahu berapa kandungan gliserol dalam minyak goreng tersebut,” kata dia.

Jadi kalau ada orang LDIC ngomong minyak goreng mengandung gliserin, gliserol, methanol atau sodium methylate, sudah tahu sendiri sumbernya dari mana. Asli heran juga mengapa cuma minyak goreng dipakai di oli mesin saja sampai menciptakan banyak penipu.

Update: Untuk yang berikut ternyata salah paham. Ternyata sih Ida mencoba menjelaskan mengapa di hasil turboman hasilnya parah:
Selain soal FAME, itu sis persoalkan soal oksidasi.

Karena oxidation di pelumas itu mengukur senyawa asam hasil oksidasi, biasanya berbentuk asam lemah seperti karboksilat, gugus ini mempunyai serapan di panjang gelombang ~ 1750/cm, nah panjang gelombang ini sama dengan panjang gelombang senyawa ester.

Ketika membaca oxidation by FTIR, maka lab akan menggunakan base line (seharusnya adalah fresh oil dari pelumas yang digunakan) sebagai data awal, kemudian membaca sample ex. monitoring untuk kemudian di extract seberapa besar kenaikan oxidasinya pada respective lambda, kalau base line yang digunakan adalah senyawa non ester untuk pelumas yang mengandung ester ya pasti oxidationnya tinggi, gak perlu ditest pada used oil .. coba saja dicek oxidation pada fresh minyak goreng..sudah pasti tinggi.

Mudah2an cukup mudah dipahami..

Akan tetapi dalam membaca used oil monitoring sebaiknya tidak melihat hanya pada satu parameter tertentu, harus holistik pada kombinasi beberapa parameter untuk menarik kesimpulan yang benar terkaik kondisi oli dan engine

Entah mengapa disebut oksidasi minyak goreng baru itu sudah pasti tinggi. Pakai acuan standar apa dibilang tinggi?

FTIR itu bukan cara satu satunya mengukur oksidasi. Ada juga cara lain misalnya dengan visual. Kalau warna olinya gelap, ada varnish atau sludge bro/sis, maka itu olinya sudah teroksidasi atau ada kontaminasi:
Mengelola oksidasi dalam oli hidrolik

Cara yang kedua adalah dengan uji oli diteteskan kertas / tisu. Kalau lingkaran keduanya sudah coklat gelap bro/sis, itu olinya sudah teroksidasi parah, waktunya diganti:
Engine Oil CheckUp

Update:
Intinya uji FTIR itu harus membandingkan dari kondisi freshnya campuran minyak goreng dan oli, bukannya dibandingkan dengan oli. Kalau dibandingkan dengan oli, maka hasilnya pasti tinggi.

Keterangan Noria:
Lubricant Oxidation and Remaining Useful Life Testing

Secara konvensional, analisis oli bekas berfokus pada pengukuran produk sampingan oksidasi oli dasar, seperti asam yang terbentuk sebagai akibat oksidasi, bukan pada kemampuan oli untuk menahan oksidasi. Misalnya, uji AN menggunakan reagen kalium hidroksida (KOH) untuk menetralkan asam dalam minyak. Volume reagen basa yang dibutuhkan untuk mencapai titik netralisasi merupakan fungsi dari konsentrasi asam dalam minyak.

Premisnya adalah ketika minyak teroksidasi, asam organik diproduksi dan terkumpul dalam minyak, menyebabkan AN naik. Teknik lain yang digunakan untuk mendeteksi oksidasi base oil adalah analisis FTIR. Analisis FTIR secara efektif mengukur konsentrasi berbagai bahan organik atau metalo-organik yang ada dalam minyak. Ketika minyak dioksidasi, molekul minyak hidrokarbon dapat menjadi produk sampingan oksidasi yang larut dan tidak larut. FTIR mengukur akumulasi produk sampingan ini.

Perubahan viskositas biasanya merupakan indikator tertinggal dari oksidasi. Saat minyak terdegradasi, berat molekul rata-rata meningkat, menghasilkan peningkatan viskositas. Terlepas dari validitas semua pengukuran ini, faktanya tetap bahwa mereka semua mengungkapkan kerusakan pada base oil setelah itu terjadi, yang tidak ideal karena pemeliharaan terkait harus, menurut definisi, responsif. Skenario yang lebih baik adalah mengukur dan mengevaluasi kemampuan oli untuk menahan oksidasi, RUL-nya, yang memfasilitasi perawatan pelumas proaktif.

Bro Turboman melakukan kesalahan fatal dengan tidak mengirim contoh campuran ketika masih dalam keadaan fresh.

7 respons untuk ‘Minyak goreng disebut mengandung FAME dan gliserin? bro/sis, FAME itu biosolar! Cara mudah cek oksidasi oli

  1. Sy pernah baca di kemasan migor, mengandung antioksidan, apa itu jg berpengaruh terhadap kinerja migor saat dicampur oli?

    Suka

  2. My mistake pak, seharusnya saya menyebut fatty acid..seperti komen saya sebelumnya kalau yg bapak bahas adalah oksidasi menggunakan FTIR, diluar FTIR metode standard banyak sekali untuk uji oksidasi, tergantung kita mau lihat dari sudut apa (mau lihat ketahanan antioksidan, tendency pembentukan varnish, sludge, etc) dan tipe pelumasnya apa.. ada RPVOT, TOST, microoxidatio, macrooxidatio, ISOT Test, RULE, etc, tetapi kalau di used oil monitoring, standard yang digunakan adalah FTIR mungkin dengan pertimbangan cepat, sample sedikit dan bisa dikuantifikasi.

    Metode blotter test diatas juga bisa digunakan, tetapi lebih banyak untuk melihat kemampuan dispersancy pelumas, semakin dia center dan gelap berarti pelumas sudah kehilangan dispersancy nya, ..makanya jadi mengumpul atau tidak terdisperese, karena metode ini kualitatif makanya lebih banyak digunakan FTIR untuk used oil monitoring yang bisa di kuantifikasi, tetapi kalau mau lihat oksidasi by blotter tes ya bisa saja dengan lihat warnanya..tetapi metode ini adalah kualitatif jadi tidak digunakan sebagai standard used oil monitoring.

    Minyak goreng pasti tinggi karena bapak checking by FTIR, ini phenomena yg sama dengan yang terjadi di pelumas diesel yang memakai bahan bakar biosolar, karena FAME yg polar, tendency untuk terjadi fuel dilution tinggi, dan ketika dicek used oilnya menggnakan FTIR maka akan terbaca oxidation tinggi, walaupun baru dipakai beberapa RH karena Fatty acid maupun ester dibaca pada bilangan gelombang yang sama dengan oxidation.. jadi tingginya oxidation bukan karena pelumas sudah teroksidasi, tetapi karena adanya FAME yg mengkontaminasi pelumas, kecuali digunakan base line yang sama dengan fresh oil nya baru tidak terbaca false reading..Test pelumas satu data tidak akan bicara banyak, makanya pada used oil monitoring dibaca banyak data agar kesimpulan terkait kondisi engine atau oli lebih mendekati.
    Jadi data tunggal FTIR oxidation tinggi, belum bisa disimpulkan kalau memang oxidation tinggi, dicek dulu sejalan tidak increse viscosity nya, sejalan tidak kenaikan AN nya..

    Kalau bapak baca baik-baik pernyataan saya, saya tidak mempermasalahkan tetapi mencoba menjelaskan basic teorinya mengapa FTIR akan membaca oxidation tinggi..

    Salam..

    Suka

    • Ok. Paham. Maaf sudah salah paham. artikel sudah saya edit.

      Jadi niatnya untuk menjelaskan mengapa di hasil tes uji oli OXI itu adalah 67. Penyebabnya karena yang menguji tidak membandingkan dengan minyak goreng fresh tapi dengan bahan oli lain? Hasilnya parah karena yang kirim sample ceroboh tidak mengirimkan yang fresh untuk pembandingkan yang sudah dipanggang?

      ok

      btw, nggak semua biodiesel itu FAME. Sekarang ada HVO.

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.