Oli apa yang terbaik untuk break in / inreyen motor? tips memilih oli bagus


Penulis merasa bahwa mesin motor sekarang itu kualitas / rekomendasinya termasuk rendah sehingga ketika olinya jelek sedikit saja, ausnya berlebih lebihan:
https://www.facebook.com/groups/3768925359869852/posts/4570395349722845/

https://www.facebook.com/groups/3768925359869852/posts/4261590197270030/

Sebenarnya tidak hanya khusus untuk break in saja, tapi untuk pemakaian seterusnya motor kualitas sekarang ini juga butuh oli mesin yang bagus. Karena penulis termasuk salah satu yang mengalami hal ini juga.

Bukan soal Yamaha NMAX yang sering penulis keluhkan jadi FD karena break in nya pakai oli Yamalube. Tapi Suzuki Nex2 yang jadi FD setelah sempat pakai Enduro Matik V. Jadi sebenarnya ausnya motor itu bukan karena salah break in, tapi karena sempat pernah diberi oli yang tidak layak pakai. Jadi mungkin judul yang cocok adalah oli apa yang terbaik untuk dipakai mulai dari break in sampai motor dijual. Karena yang dibutuhkan bukan perlindungan di saat break in saja tapi sepanjang masa pemakaian.

Lalu oli apa yang bagus?

Yang jelas bagus itu tidak berarti harus oli mahal. Penulis termasuk penganut aliran “kalau mau tahu olinya bagus atau jelek wajib dicoba dulu”. Dari coba coba banyak oli, penulis sudah yakin banget bahwa mahal bukan jaminan bagus. Banyak oli yang katanya bagus ternyata terbukti tidak bagus.

Menjadi rumit ketika yang bikin oli licin dan anti aus itu bisa dipengaruhi banyak hal. Ada yang karena kekentalan oli. Ada yang karena film strength oli. Ada yang karena aditif anti wear (gesekan “ringan”). Ada yang karena aditif extreme pressure (gesekan “berat”).

Bedanya lebih detil bisa dibaca di:
Beda antara aditif anti wear dengan film strength oli itu ibarat hydroplanning
Mengapa kok aditif oli mesin untuk mengurangi friksi / anti aus saja sampai dibagi tiga?

Pendapat penulis juga berbeda dari suhu suhu dari grup oli soal pengaruh sifat polar dari bahan oli terhadap kemampuan lubricitynya. Menurut penulis justru oli yang disebut kastanya lebih tinggi itu yang tidak licin. Yang sering penulis kutip terutama dari Noria / machinerylubrication.com. Berikut contoh soal sifat oli PAO:
Sama orang bengkel dan grup oli, PAO dibilang licin, sama lembaga oli tidak

Lubricity alami lebih payah daripada oli mineral oil. Oli bahan PAO nggak berarti bakal lebih tidak aus daripada oli bahan mineral (tergantung aditif juga).

Masalah oli bahan PAO = sangat tidak polar (rendah di sisi daya pelarutan alami, daya larut aditif, pelicin dan film strength )

Bacaan lainnya:
Orang tahu oli sintetik itu daya pelumasannya baik tapi tidak tahu itu kecuali PAO yang justru jelek
Apa sih sebenarnya beda oli mineral, semi sintetik dan sintetik? Sintetik seringnya bukan PAO

Perbedaan pendapat tersebut yang membuat penulis berani mencoba oli yang menurut penulis adalah oli grup 1, yaitu mesran. Dan dari pengalaman penulis, justru oli mesan ini terasa lebih unggul daripada oli yang ngakunya full sintetik atau bahkan yang beneran di MSDS berani menuliskan ada decenenya.

Apalagi karena sekarang ini banyak oli yang ngakunya full sintetik padahal bahannya bukan full sintetik
Satu LDIC / Bekakas nggak ada yang baca datasheet? oli mineral kok disebut full sintetik

Lalu oli apa yang bagus?

Yang paling penting adalah dari sisi kekentalan. Sayangnya ini harus eksperimen karena kebutuhan orang beda beda. Oli yang terlalu kental akan membuat performa motor terasa berat sekali, bahkan sampai membuat getaran motor meningkat. Oli yang terlalu encer akan membuat suara mesin jauh lebih kasar, performa mesin berkurang dan bergetar juga. Kekentalan ini terutama dipengaruhi oleh lokasi pemakaian motor. Kalau dingin ala di Jepang maka silahkan pakai kekentalan seperti rekomendasi Jepang. Namun bila tidak sedingin Jepang, ya rekomendasi ahli Jepang jangan dipakai.

Setelah kekentalan adalah pemilihan bahan oli. Ini juga tergantung keperluan. Kalau bukan mesin modif maka yang dari bahan grup 1 pun sudah cukup. Tapi kalau mesin modif dengan suhu mesin yang jauh di atas normal, maka butuhnya oli yang tahan suhu tinggi namun harus rela menanggung segala efek sampingnya juga.

Pilihan penulis untuk oli yang bisa memberikan perlindungan baik dan performa motor yang baik adalah Mesran SAE 40 dengan campuran minyak goreng Bimoli sesuai dengan kebutuhan kekentalan hingga maks 50%. Masa pemakaian bisa 6 ribu km untuk pemakaian di motor yang sesekali ngebut dalam kondisi mesin SEHAT. Kondisi mesin sehat jadi faktor penting. Nggak boleh kena fuel dilution, vampir oli, dst.

Kalau tidak sehat, maka cuma tahan 500 km pun bisa. Oleh karena itu wajib tahu kondisi mesin masing masin. Perbedaan penggunaan, bahan oli atau kesehatan mesin membuat masa pakai oli jadi berbeda beda. Tidak bisa menggunakan acuan km lagi.

Bila fokus utamanya adalah untuk perlindungan saja, tidak perduli performa, maka pilihan oli Fastron Techno 15W50, Bardahl dan Repsol. Bila kondisi mesin bagus dan menggunakan campuran minyak goreng bisa untuk pemakaian 8 ribu km atau lebih. Tapi tentu tetap harus perhatikan kondisi sebenarnya.

Maaf, pemilihan oli tersebut terutama berdasarkan feeling. Ini karena yang menjadi patokan utama penulis dalam menentukan kualitas oli adalah kemampuan menahan shear, yang bila jelek maka implikasinya adalah pengurangan kekentalan secara drastis di saat dipakai ngebut, juga pengurangan kekentalan drastis ketika motor diyalakan di pagi hari berikutnya. Bisa didata, tapi jarang sekali yang menampilkan / mengujikan.

36 respons untuk ‘Oli apa yang terbaik untuk break in / inreyen motor? tips memilih oli bagus

  1. kalau sdh kena piston dan blok pasti kena ke rocker arm, noken as, setang piston dll yg bergerak pasti de karna oli kasusnya aplg lihat foto sperti itu kayanya pemilik geber aja ni tdk pakai feel motornya dr suara kasar, lemot larinya asal bawa motor maksud saya🤔

    Suka

  2. Inreyen dari buku manual Suzuki,
    1. keadaan baru turun dari dealer 800Km maksimal 1/2 putaran gas
    2. 1600KM maksimal 3/4 putaran gas
    3. 1600KM++ bisa maksimal namun disarankan 2 bulan atau 1000Km sejak tanggal pembelian (sekitar 980-990Km) ke bengkel resmi biar di cek baut pipa knalpot/pipa gas buang maupun baut/mur pada rangka, sama di cek setelan klep-nya.

    Ada yg bilang inreyen = Jgn dibawa jauh. Menurut saya itu nggak masuk akal motor dibawa jauh atau deket nggak masalah asal oli-nya pakai yang cocok buat jalan jauh dan di cek ketinggian oli (via dipstik oli) setiap beberapa ratus kilometer apakah perlu di tambah (Jika menguap) atau tidak.

    *Info buat konsumen awam, terkadang konsumen mengira motor saya diservice kok nggak diapa-apain (Maksudnya nggak di bongkar).
    1. Begini masbro/lur motor sampeyan masih sehat buat apa juga di bongkar? Motor keseringan di bongkar itu nggak baik, baut bisa gampang dol, baut pada patah atau saat pemasangan bisa jadi posisi AS(Kruk As) nggak center (presisi) bisa mengakibatkan menceng-menceng/bengkok, emang sampeyan mau motornya kek begitu?

    2. Jadi amannya nggak usah di bongkar ya? Ya enggak juga, motor ketika tau udah ga enak kelamaan ga di bongkar khususnya matic daleman bisa berkarat kalau apes jadi susah di buka paling parah as harus di panasin (bakar) getok pakai palu atau velg harus di rusakin (ganti velg & satu set komponen biaya-nya nggak murah). Khusus emak-emak/wanita/perempuan biasanya enggak peka sama motor-nya, Suami/saudara laki-laki-nya.harus rutin nge-cek kondisi motor biar ga bengkak tuh biaya. Bagi yg suka trabas banjir mendingan jangan nanti oli mesin bisa kecampur air, blok CVT (Matic) bisa pada karatan jika air masuk.

    3. Ketika service motor dibongkar-pun hanya ketika kondisi motor sudah enggak enak, performa menurun, sudah ada part yg aus nah ini yg bener.

    Kalau dari info yg penulis tulis beli PCX ambrol bisa jadi ada 3 kemungkinan
    1. Orangnya langsung dibawa jauh tapi oli-nya masih pake oli Ngahaem
    2. Berkendara di kecepatan tinggi tapi oli-nya masih standar Ngahaem
    3. Berkendara di daerah perbukitan sering main RPM tinggi
    Yang salah siapa?
    1. Ya jelas AHM karena pukul rata nyuruh semua orang rekomendasi pake oli encer biar awet kata-nya.
    2. Si pengguna karena motor baru harusnya inreyen tapi entahlah, aneh lho 900Km udah turun mesin soalnya di buku manual AHM Honda ada juga panduan inreyen disitu.
    Kondisinya sama seperti kita habis turun mesin pasti harus inreyen dan ke bengkel lagi buat di setel ulang klep dan Carbu/Trothle Body.

    Kalau ada yg bilang “motor sekarang sudah presisi dari pabriknya, nggak perlu inreyen-inreyenan segala.” (Pendapat dari salah satu montir/mekanik dari brand antara H, S, Y). Jangan langsung percaya emangnya dia berani ngasi jaminan? padahal yg ngasi jaminan itu pabrikan dan tertulis di buku manual, kalau memang pendapat montir/mekanik tsb benar kenapa inreyen masih saja di cetak, nggak sekalian aja dihilangin?

    Suka

    • Motor di servis itu paling di setel yang bisa di setel (klep, kopling, karbu), itu aja

      Pcx ambrol di 900km kemungkinan dah digeber2 maksimal tapi belum servis pertama (rekomendasi kan di 1000km) bisa dibilang belum ganti oli pertama.(apalagi masih 2 minggu tambah yakin belum pernah ganti oli)
      Salah siapa kasih rekomendasi ganti oli pertama di 1000km

      Rekomendasi servis di 4000km ya memang ga salah, ga perlu sering2 di servis juga kalo injeksi, 8000 atau 10000km sekali ga masalah
      Tapi kalo ganti oli di 4000km apalagi masih pake oli “rekomendasi”, siap2 aja mesin bermasalah

      Suka

      • Honda Vario gw service pertama lngs ganti oli dan memang di pakai normal bukan kebut2an. Masalah nya cm 1 nih Vario, gredek nya bikin kesel dan kadang kayak loss power harus gas agak tinggi agar jalan.

        Yg diatas kekx lngs digeber gak ada inreyen lg atau menunggu minimal 500km.

        Suka

      • Bisa jadi karena geber-geber, dan kondisi oli udah ga layak masih bablas aja terus mumpung belum 1000Km gitu.
        Dan sepertinya memang ada penurunan kualitas bro, soalnya motor bebek dulu orang yg jorok make-nya sering geber-geber biasanya 3 bulanan atau kisaran 4000Km asal nggak kering oli itu motor baru mulai ngasep.
        Nah ini 900Km dah ngasep gw rasa oli-nya yg kemungkinan nguap atau memang kondisi olinya udah rusak, viskositasnya udah nggak layak lagi ketika kena suhu dan gesekan ekstrim.

        makannya nih buat motor yg masih inreyen/baru turun dari dealer misal baru jalan 500Km/600Km suara mesin udah kasar sebaiknya ganti oli meski harus beli sendiri, Kalau memang mau beli oli di beres tapi beresnya ngotot harus ngisi buku service alasan prosedur padahal belum 1000Km atau 2 bulan ajak debat aja tuh mekanik/admin.
        “Ini oli udah nggak enak suara mesin jadi kasar, masa iya lu berani bilang aman-aman aja?, Lu bilang emang begitu dari sono-nya? Kalau motor saya kena FD (Fuel Dilution) Gimana? Motor saya ngasep gimana? ada yg rusak gimana? Emangnya beres mau accept laporan komplain kerusakan motor pelanggan-nya yg jadi makin banyak? ya pasti enggak mau kan? Kalau sampai kejadian emangnya Owners dealer/beres seneng bengkelnya kena seleksi/audit di datengin tim dari Honda Pusat? ya pasti enggak mau dong, nanti dikira manajemennya disangka bobrok, apalagi kalau sampai viral, pasti tercoreng tuh nama dealer/beres-nya.”

        Suka

    • Wah, terima kasih banyak sharingnya 👍. Banyak pengalaman berharga. Iya, sampai turun mesin itu kesalahan konsumen dan pabriknya juga. Yang konsumen kepedean, yang pabriknya kurang ahli. Servis tidak perlu terlalu optimal yang penting bisa bikin awet.

      Suka

  3. Dulu saat beli motor baru, pario125 (2019)sm beatdeluxe(2021), sy termasuk nurut sm buku panduan tentang inreyen, termasuk pake oli sesuai rekomendasi beres, tp skrg 2 motor itu FD semua.
    Ditambah lg 2 beat fi lainnya (2013) jg sudah FD, tp 2 beat itu ga sy perhatikan saat masa inreyennya.
    Komplit dah, 4 matic onda sy FD smua.
    Kenal mesran dan migor jg blm lama, dari blog ini 👍

    Suka

    • Bensinnya apa? kalau beat saya pakai pertamax fd, kalo pakai shell super engga fd. tapi gara2 harga shell super mahal, saya tetep pake pertamax heehehe

      Suka

      • motor sy semua pake nya pertamax, di tempat sy ga ada shell, adanya bensin pertamina,
        o ya, pario125 saya sedang rutin pake margarin bluben utk campuran bensin pertamax, seminggu sekali saat isi 4-5 liter bensin, sudah skitar 3 bulan ini, aman2 saja, tidak ada penurunan performa, tp masih belum cek kondisi filter bensinnya gimana, saat ini rata2 pake nya skitar setengah sendok teh bluben

        Suka

        • Itulah mas/om inreyen percuma kalau oli-nya yg dipake jelek cepet rusak, Baru jalan bentar beberapa ratus kilo udah agak ngelitik kek air di obok-obok, kemracak, emang harus dari diri konsumen sendiri sih feelingnya perlu peka terhadap mesinnya, Mungkin biar gampang beda’in bisa di rekam pake ponsel
          1. Wajib pakai ponsel yg mic-nya ga sember
          2. Nyalakan mesin
          3. Tutup lubang knalpot pake sendal
          4. Dengerin suara iddle mesin terutama di bagian head, + tes sedikit di geber nggak usah sampe full.
          5. Bandingkan suara saat baru ganti Oli dengan suara ketika sudah dipake jalan beberapa Kilometer
          6. Buat matic mungkin agak susah kalau terlalu deket dengan CVT (Ada V-Belt muter) + sebelah kanan ada Kipas muter. Mungkin perlu buka cover atau mumpung jika kebetulan lagi bongkar CVT (V-belt & roller bisa di copot) + kipas di lepas jadi pure suara mesin doang.

          *CMIIW

          Suka

  4. Tadi udah pakai margarin merek minyak samin onta sesuai takaran. Karena dilihat komposisinya hanya minyak nabati, perisa, dan pewarna. Apa boleh pake margarin minyak samin atau margarin merek apa yang direkomendasikan ?

    Suka

    • Kalau saya kurang paham si bang, tapi setau saya TIDAK SEMUA JENIS MINYAK NABATI BISA MASUK KE MESIN.
      Ane pernah liat orang luar negri pakai Castor Oil dicampur oli samping motor 2 tak, Nggak paham yg dimaksud dia Castor Oil itu minyak jarak atau cuma mereknya saja Castor.
      Hasilnya setelah dipakai agak lama bulanan komponen yang terbuat dari baja (non stainless/ non alumunium/ nggak ada campuran metal lainnya) menimbulkan karat, ketahuan setelah dirasa motornya agak ngempos setelah dibuka turun mesin ada beberapa bagian yg kropos.

      Menurut ane yg aman buat semua mesin bisa pake Palm Oil atau Vegetable Oil.

      Suka

    • Belum pernah coba merek lain sih. Saya hanya coba blueband saja. Yang ingin coba sih RBD palm stearin, tapi nggak ada yang jual. margarin putih sepertinya sudah banyak campurannya.

      Suka

  5. Berdasarkan pengalaman Pak Cahyo, apakah ada oli yg sensasinya seperti Mesran 40 + mi goreng?
    Saya newbie. Saya juga selalu ganti oli di bengkel. Meski begitu, saya ingin mesin motor saya terlindungi dan berperforma baik.

    Suka

  6. tetap yaaa….masih saja ada yg terindikasi gak terima saat ada fakta produk honda type atas pcx 160 yg belom 1000 km ambrol mesin, ngoahahahaha…., nyalahin konsumen malah, gak terima dibilang material kerupuk atau olinya jelek, ngoahahaha…, FAKTA lho itu FAKTA, jadi jangan merasa ga terima kalo ada yg “MENGHUJAT”🤣

    Suka

    • Wkwkwk iya bang biasanya FBH (Fans Boy Honda) tau-nya harga murah sampe muntah, Build quality di pangkas tetep aja masih ga terima katanya Hoax, memang kebanyakan FBH abal-abal sulit terima kenyataan.

      Kecuali FBH yg bener mereka sekarang nyari CBU Honda AP Thailand.
      Kabarnya dari info yg ane baca desain CBR-250RR (Diminati negara luar) tapi CBR-250RR produksi ngAHaem Indo di tolak sama Thailand karena kualitasnya tidak sesuai ekspetasi mereka, malah mereka minta import CBU 250RR dari Jepang aja misalkan memang nggak bisa produksi di Thailand.

      Suka

  7. Lagi bingung cari oli yg bagus buat shogun SP FD, setelah bore up piston 62mm, klep 31 / 26, kompresi 11 an. Suhu mesin naik drastis ampe lubang hawa oli dipertambah di tutup klep, awalnya cuma di krengkes std dan di tutup noken as. Dilema juga lubang hawa oli ada 3 malah bikin oli menguap drastis juga. Kemarin di cek oli berkurang banyak padahal mesin ga ngebul apalagi ga ada rembesan oli. Maklum motor jarak jauh terus masa pakainya bisa 80km per hari. Rada susah juga milih oli dimesin bore up ekstrim pemakaian harian. Ditambah suhu di pontianak khatulistiwa panasnya warbiasya. Mungkin besok mau coba lagi PFD biar tau ada perubahan apa engga. Mungkin Pak Prof ada reverensi atau saran oli yg bagus buat mesin modifikasi

    Suka

    • Mungki perlu ditambah kipas + Oil Cooler bang, tapi nggak bisa asal pasang, terlalu tinggi oli-nya lama naik-nya kasian head-nya kering oli saat baru di nyalain.
      1. Posisi Oil cooler nggak boleh terlalu tinggi dari mesin, harus sejajar atau kalau perlu dibawah mesin tujuannya biar oli ceper ngalir
      2. Kalau-pun harus pasang lebih tinggi perlu bikin tambahan penampung oli + pompa oli di bagian diatas oil cooler-nya, supaya ketika mesin baru nyala dari keadaan dingin, karena ada tekanan oli-nya langsung ikut muter melumasi head, nggak perlu nunggu oli dari bawah mesin.

      Memang ribetnya disitu bang motor yg awalnya kompresi kecil di rubah ke kompresi tinggi tapi pendingingan-nya masih standaran. Pulser/Spull juga sepertinya harus upgrade pake lilitan tembaga yg lebih tebal karena memang lebih panas, Kiprok/CDI juga mungkin perlu ganti karena Pulser/Spull-nya upgrade atau pakai Kiprok/CDI double biar nggak kepanasan.

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.