Oli yang disebut sintetis sudah tidak lagi tahan panas


Orang Indonesia itu punya kebiasaan untuk percaya 100% pada iklan. Ini termasuk juga pada semua keterangan yang ada pada bungkus produk. Orang gampang saja percaya pada keterangan pada bungkus produk berikut ini (ini penjelasan produk eco racing):

Untuk produk oli pun nggak ada bedanya. Seperti contohnya untuk produk yang barusan penulis uji berikut ini:

Oli tersebut (Idemitsu 10W40 JASO MB) mengklaim olinya punya daya tahan yang baik pada suhu tinggi. Kesannya, oli ini punya kemampuan untuk menahan panas lebih tinggi dari rata rata, dari oli yang setara atau minim dari harga yang sama.

Penulis yakin banyak orang yang percaya dengan tulisan ini. Penulis yakin suatu saat bakal dikuliahi sama orang yang bakal mengawali pembicaraan dengan “wkwkwkwk, profesor Jepang kok diremehkan, sekolah mereka mahal, dst dst” lalu diteruskan oleh “itu olinya tahan panas kok dibilang nggak tahan panas, lucu orang ini. Padahal di bungkus sudah jelas jelas ditulis tahan panas!”

Sudah cukup banyak sih adalah orang yang mengkuliahi penulis bahwa oli mesran atau oli mineral itu nggak tahan panas, cepat rusak, dst. Kalau mau awet, ya harus pakai oli sintetik. Oli mineral katanya cuma tahan 1000 km, yang full sintetik bisa tahan 3000 km. Pendapat ini sangat melekat sehingga oli Castrol GPS yang synthetic based pun diremehkan. Disebut “itu kan cuma oli semi sintetik?”

Apalagi ketika penulis merekomendasikan mesran, wah diketawain habis habisan.

Ya memang tradisionalnya seperti itu. Tapi sekarang jaman sudah berubah. Sekarang banyak oli yang berani menulis full sintetik di bungkusnya padahal bahannya bukan masuk kategori oli sintetik. Contoh yang paling penulis sukai adalah oli yang kayaknya sih direkomendasikan di suatu grup oli karena ada kata kata “full synthetic” di namanya:

Di MSDS edisi 1 Juli 2021, bahan disebutkan kurang dari 100%nya adalah hydrotreated. Nggak berani sebut Decene (PAO) di data itu. Hydrotreated adalah oli mineral grup 2 yang kalau tidak salah teknologinya pertama dipakai tahun 1950 an.

Berani sebut full sintetik, tapi di MSDS atau keterangan produk nggak berani nyebut PAO. Yang ada justru bahan oli yang dibuat dengan teknologi 50 tahun yang lalu…

Aneh, tapi itu kenyataannya. Jadi jangan heran juga ketika di grup oli sekarang mendadak jadi sangat amat langka sekali orang yang posting MSDS, karena bakal ketahuan bahwa oli yang mereka rekomendasikan bukan oli full sintetik tulen.

Bukan berarti nggak ada. Masih ada. Cuma harganya sudah termasuk yang lebih dari mahal. Yang 250 ribu per liter malah ada yang masih termasuk semi sintetik. Nggak perlu heran sih karena ada saja oli yang 300 ribu per liter tapi bahannya dari teknologi 50 tahun yang lalu.
Satu LDIC / Bekakas nggak ada yang baca datasheet? oli mineral kok disebut full sintetik

Nah kembali lagi ke topik. Untuk soal awet, ini tinggal dicoba. Dan dari yang penulis sudah coba, oli yang sekarang ngaku ngaku full sintetik ternyata omong kosong. Tetap saja nggak awet. Yang semi sintetik pun sama saja. Keduanya nggak beda jauh dari oli mineral.

Dan oli Castrol GPS yang termasuk diremehkan pun sudah penulis buktikan memang beda kualitasnya dari oli “semi sintetik” jaman sekarang. Dari sisi keawetan oli, kehalusan mesin, performa motornya terbukti lebih unggul dari oli oli modern yang penulis coba. Ini termasuk Adnoc, PTT, Valvoline, Deltalube, Amsoil, Shell Ultra, dst.

Performa mesin tetap terjaga bahkan setelah 750 km pemakaian. 0-100kpj masih 17,5 detik, nggak beda jauh dari ketika awal pakai. Memang sekarang penulis pakai Xado Revitalizant yang membantu membuat mesin halus dan rapat. Tapi tetap oli Castrol GPS menunjukkan keunggulan dibanding ketika penulis pakai Xadonya dengan Prima XP 20W50. Bila tanpa menggunakan Xaro Revitalizant, maka bisa jadi 0-100 bakal lebih baik lagi. Yang jelas walau ini oli “semi sintetik”, performanya ok banget.

Bagaimana dengan ketahanan terhadap panas?

Di bungkus Castrol GPS nggak ada keterangan soal tahan panas:

Tapi biar deh, penulis tetap coba bandingkan Castrol GPS yang harganya 40 ribu untuk 800 ml dengan oli semi sintetik yang katanya tahan panas, Idemitsu 10W40 JASO MB, 50 ribu untuk 800 ml:

Sebagai pembanding penulis tambahkan juga Unil Opal 10W50 yang disebut 100% sintetique, 88 ribu untuk 1 liter harga diskon, 195 ribu harga resmi:

Untuk oli mineralnya, biasanya penulis menggunakan mesran SAE 40. Tapi ini oli terasa overpowered. Ya sudah, penulis gantikan dengan oli Win HDEO SAE 40 yang harganya 24 ribu untuk 1 liter:

Hasilnya bagaimana? Ternyata Idemitsu jadi hitam kelam lebih dulu:

Malah menghitamnya terjadi jauh sebelum oli 24 ribuannya rusak:

Kondisi awal padahal termasuk bening:

Sebelumnya penulis juga sudah coba Eneos yang hasilnya juga sama sama tidak bagus:

Dengan hasil seperti itu, sudah jelas bahwa kualitas oli semi sintetik jaman sekarang sudah beda dengan dulu. Jauuh. Dan ini kembali menguatkan niat penulis untuk tetap anti oli merek Jepang.

Walau nanti pasti bakal dicoba di motor juga. Walau dengan rasa ketakutan juga karena ada pemakai eneos molydenum yang mengeluh lexinya jadi susah menyala pagi pagi.

 

btw sebelumnya penulis juga sudah uji oli full sintetik jadul, amsoil signature dan redline. Kalah tuh sama mesran SAE 40:

hmm, padahal itu belinya oli full sintetik versi lama ya, yang ada PAOnya. Kok masih kalah juga ya? Kalau yang asli ada PAOnya saja kalah, apalagi kalau yang “full sintetik” sekarang yang sama sekali nggak ada PAOnya ya?

Intinya sih oli mineral sekarang belum tentu lebih jelek daripada oli sintetik. Bukan karena oli mineralnya jadi makin baik, tapi menunjukkan betapa drastisnya penurunan kualitas dari oli “sintetik” saat ini.

Dari dulu mesran ya begitu itu. oli sintetik sekarangnya aja yang nggak bisa dipuji lagi. Walau memang sih masih tetap ada saja pengecualian.

Iklan

20 respons untuk ‘Oli yang disebut sintetis sudah tidak lagi tahan panas

  1. oli di mesin LC4valve Yamaha itu tidak bisa awet apapun merek dan tipenya, lantaran karena memang dasarnya diakibatkan penggunaan piston forging nya itu, piston forge dari yg ane tau memang butuh gap clearence yg lebih besar daripada piston casting karena pemuaian forge lebih besar, kalo dibikin rapet maka rawan ngejim/ngancing saat puanas, lantaran gap yg lebar ini bikin potensi oli menyelinap ke ruang bakar (dan sebaliknya kabut bensin ke crankcase) jadi makin gede, makanya wajar jika timbul masalah vampir oli, fuel dilution, memag itu resikonya, masa drain oli jadinya harus dimajukan, ditambah rata2 motor yamaha 4 tak memakai rasio kruk as yg relatif rendah, bikin gesekan piston dan ring ke liner lebih besar karna sudut engkol juga besar.

    Suka

    • Terima kasih infonya. sepertinya begitu. Ironi sekali ya, sesuatu yang dibanggakan sebagai fitur tapi tidak memberi manfaat yang bisa dirasakan. Malah justru bikin kerugian.

      Suka

      • sayangnya penggunaan forged piston (dan diasil) sudah menjadi kebanggaan atau trademark bagi Yamaha sendiri, dimana menurut ane teknologi tersebut ane rasa biaya produksinya jelas lebih tinggi daripada type casting dan liner besi biasa, namun karna yg dijual produk masspro dan sebagian menyasar kalangan menengah kebawah ya harus ditekan lebih murah cost produksinya, Contoh nyata kualitas piston forging dan diasil Yamaha type bebek (jupiter Z1) dan meticnya, termasuk vixion series mx series dan metic 155VVA nya, tidak bisa disamakan bagusnya atau tidak sebaik kualitas forged piston dan diasil Yamaha R3/R25 dan X-Max 250/300.

        Oh iya om sudah ada info terbaru belum? apakah mesin Vario 160 terbaru juga muncul masalah coolant bocor kayak di type PCX 160? juga piston baret, mesin kasar, dlsb.

        Suka

        • Forged lebih mahal itu mitos pabrikan
          Biaya produksi forged piston justru lebih rendah atau hampir sama dengan casting,
          Yang mahal adalah investasi alat/mesin forgednya, yang harusnya sudah balik modal jika sudah jutaan item diproduksi

          Casting piston harus meleburkan aluminium sampai cair, dan harus merelakan molding setiap cetak nya, belum lagi perlakuan heat treatment, dan machining yang lebih lama karena hasil casting yang lebih kasar.

          Forged itu cukup dipanaskan ga perlu sampai cair, di press, trus machining dikit

          Suka

          • crigis!!!

            nih orang lama2 bikin emosi, yg bilang mahal itu siapa, yg ane tekankan disini adalah “Ke-forging-annya”, “forging beneran apa ngga”, kualitas grade material aluminium yg digunakan, kaitannya dengan hasil akhir dalam penerapan pada produk type motor yg dijual oleh pabrikan, dan mungkin juga ada satu dua proses produksi yg dikurangi/dihilangkan demi alasan efisiensi entah waktu dan energi yg kaitannya tentu ada sama cost produksi.
            Contoh nyata piston forging yg beneran “Ke-Forging-annya” misalnya piston X-Max yg kuat, handal buat mesin herex-an, kan ngga mungkin forging piston nya disama-baguskan kualitasnya dg katakanlah seperti punya Mio M3, mau dijual brapa nanti itu entry level product….!

            #SemogaPaham benang merahnya

            Suka

        • iya betul. Sudah kadung dikenal sebagai ciri. ngakunya biaya bisa murah. Tapi dari manfaat (mesin tahan panas) sepertinya terhalang oleh pemakaian coolant yangs alah.

          Untuk penyakit vario 160 belum dengar.

          Suka

    • Mesin old vixion dan mx135 (3C1) itu termasuk ramah oli lo, gak vampir, ga FD, ga ada masalah ngejim, dan lebih halus getaran dan suaranya.
      Jadi downgrade material jangan jadi alasan forged piston ga bisa bagus.

      Mesin 1pa (New Vixion) misalnya, cukup ganti ring piston dan blok 3C1 semua masalah selesai

      Suka

  2. Memang oli Kendall GT1 series jadi oli andalan di grup oli, bahkan menurut saya yang paling laris. Jadi kalau minta saran oli di rentang harga tsb, pasti banyak yang menyarankan oli tsb. Dulu juga sempat tertarik mau beli, tapi setelah baca MSDS jadi kurang tertarik juga karena kesannya klaim pabrikan & pemakai itu “bohong”.

    Suka

    • sip iya. Saya sendiri tidak tertarik karena tidak ada kekentalan xxW50. Ada yang membantah saya soal ini, tapi ironinya, rekomendasinya adalah Kendall 10W40 + schaeffer moly ep. Aneh kalau dia nggak tahu bahwa kalau pakai schaeffer moly ep itu bakal bikin oli 10W40 jadi minim 20W50. Karena saat dituangkan pun kelihatan kentalnya SME itu.

      Selain itu, kalau sampai bilang lebih enak dengan aditif, maka artinya kalau tanpa aditif itu nggak enak. Makin ragu cobanya.

      Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.