Tuh bener kan? Eneos Molydenum itu nggak awet. Aditif ok, bahan olinya tidak


Penulis akhirnya memutuskan untuk mengganti oli Win 20W50 karena feelingnya sudah mulai terhambat. Ketika awal mesin baru nyala masih halus, ketika habis dipakai ngebut agak kasar. Kondisi olinya sendiri terlihat cukup baik:

Dari hasil pengujian, penulis simpulkan bahwa oli Win itu di atas rata rata. Karena jelas dengan penggunaan yang sama, oli bisa bertahan lebih baik dari oli lain. Ketika oli yang penulis coba rata rata sudah mulai kasar di km 200, oli Win masih tetap halus walau di kml 400. Ini sudah lebih baik dari misal Motul Multipower, Adnoc, PTT, Mobil Super, Deltalube Adventure, dst.

Oli yang termasuk penulis rekomendasi, cocok jadi alternatif kalau mau cari oli 24 ribu per liter.

Untuk pengganti, penulis pilih Eneos Molybdenum:

Hasil coba BM1 membuat penulis sudah skeptis dari awal kemampuan oli ini. BM1 itu cepat sekali hitam ketika dipanggang, sama seperti oli Eneos Molybdenum. Penulis bahkan sempat khawatir bagaimana bila oli ini rusaknya cepat sekali sehingga di tengah jalan bakal pakai oli yang sudah rusak? Makin khawatir ketika kekentalannya 10W40 sementara yang BM1 adalah 20W50.

Tapi ya sudah, dijalani saja.

Di awal awal penulis cukup takjub juga karena kasar mesin tidak separah yang penulis perkirakan. Masih lebih halus dari amsoil signature malah. Cuma ya gitu, khas oli oli sekarang, dipakai jalan nyantai di bawah 50 kpj lama suara mesin tidak makin halus, tetap saja agak kasar.

Situasi berubah ketika motor dipakai ngebut. Di sini baru terasa MoDTCnya, mesin jadi halus ketika motor dipakai kecepatan lebih dari 80 km/jam. Mesin terasa licin dan halus. Walau sayangnya, ketika dipakai pelan pelan lagi efeknya agak luntur, sedikit beda dari Amsoil Signature yang lebih lengket efek halusnya.

Penulis kaget juga karena sebagai oli 10W40, penulis tidak merasakan penurunan kekentalan yang berarti setelah beberapa kali melakukan uji top speed dan akselerasi 0-100. Penulis simpulkan bahwa benar benar fungsi aditif MoDTC di Eneos Molybdenum. Aditif Vi improvernya juga ok, Karena kekentalan bisa tetap terjaga.

Karena penulis sedang pakai cleanoz, performa mesin sedang parah parahnya. Catatan 0-100 saat masih pakai oli Win adalah 19,6 detik. Setelah menggunakan oli Eneos Molybdenum, performa naik sedikit, catatan waktunya di pagi hari adalah 19 detik, 18,8 detik dan 18,9 detik (konsisten ya 🙂 ). Siang hari adalah 19,4 detik.

Dari catatan waktu sedikit membaik tapi penulis merasakan penurunan performa. Sepertinya performa di kecepatan rendah turun karena aditif bikin ruang bakar kotor, performa di kecepatan tinggi naik karena aditifnya bikin lebih licin. Tapi motor nggak bisa mencapai 113 km/jam, entah apa terpengaruh cleanoz.

Saat mau sampai kantor penulis merasa suara mesin menjadi agak kasar. Penulis jadi yakin setelah penulis pulang kerja. Suara mesin menjadi makin kasar. Suara kasar ini makin parah setelah mendekati rumah. Kasarnya bahkan sepertinya sudah lebih dari oli win yang terpakai hampir 700 km. Menurut penulis ini terjadi karena bahan olinya tidak bagus. Aditif untuk kencang bagus, tapi tidak didukung oleh bahan oli yang baik. Oli ini nggak pantas menyandang label full sintetik.

Penulis simpulkan bahwa oli Eneos Molybdenum ini tidak cocok untuk jangka panjang atau kalem kalem. Mungkin cocoknya untuk balapan rpm tinggi yang setelah itu langsung ganti oli, jadi oli balap bukan oli harian. Penulis sendiri drain oli tersebut di hari berikutnya. Praktis cuma kepakai sehari. Berikut kondisi olinya saat di drain di 54 km:

Lagi lagi oli yang di uji panggang oli sangat cepat jadi hitam, saat dicoba dipakai beneran umurnya pendek, nggak perduli walau ada tulisan full sintetik di botolnya:

Penulis tidak rekomendasi oli Eneos Molydenum. Kalau dicampuri Scaeffer Moly EP jadi sip, maka penulis anjurkan silahkan coba oli yang lebih kental atau yang VInya lebih rendah. HDEO itu contoh oli VI rendah. Oli single grade juga.

Videonya:

Sekarang penulis pakai oli Evalube 2T dengan campuran migor Kayumas dan Palmvita frying fat.

14 respons untuk ‘Tuh bener kan? Eneos Molydenum itu nggak awet. Aditif ok, bahan olinya tidak’

  1. Pak minta bahas motor listrik, motor baru dong..biar rame blog nya..kalau oli saja ga se ok bahas motor listrik..pada saat nya akan motor listrik semua pak..

    Suka

  2. Pak minta bahas motor listrik baru dong,..biar rame blog nya..kalau oli saja ga se ok bahas motor listrik..pada saat nya akan motor listrik semua pak..

    Suka

  3. Pak coba review oli SGO matic ataupun non matic. Kaget juga kemarin di grup bekakas ada yg upload foto daleman mesin pake oli SGO matic bersih banget

    Suka

Bagaimana menurut bro?

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.